MySam

MySam
Rindu



Maya menutup mata erat, mencoba mengusir ilusi bahwa Sam kembali seperti Sam yang dulu, hanya miliknya bukan milik perempuan lain. Demi Tuhan!


Getaran gairah langsung menjalar ketika Maya membayangkan dirinya bersama dengan Samuel, saling menatap dan memeluk. Ketika hasrat mengambil alih akal sehat dan pengendalian diri terlepas.


Membiarkan nafsu mereka untuk bercumbu, tubuh saling bertaut dan desah-an berlomba...


Mata Maya mengerjap, mengetukan pensil yang ia pegang ke arah kening mulusnya, oh my God Jangan gila deh lo May..... rutuk Maya pelan.


Tubuh Maya meremang, Sam memang memiliki aura yang membuat wanita siapa pun ingin melemparkan diri dalam pelukan tubuh kokohnya, menyerahkan tubuh seutuhnya pada pria itu, meski ia sudah beristri.


Mengabaikan sebentar pekerjaan,


Maya kembali membuang napas panjang, berfikir kenapa sepanjang hari ini ia selalu memikirkan Sam. Rindu? ah.... rasanya setiap hari pun Maya selalu merasakan rindu terhadap pria itu.


Maya mengingat dalam hati, mati-matian dia harus menahan hasratnya agar tidak lemah dan mudah diserang rindu terhadap Sam.


Beberapa hari ini Maya tidak melihat penampakan Samuel di kantor Advertising milik Sam dan El. Setelah kejadian di lift bersama pria itu, Sam menjauhi dia? mungkin ia marah terhadapnya? Selalu pertanyaan itu yang sekelebat terlintas di benaknya.


"May, kamu ada waktu sebentar?"


El kini menjulurkan kepalanya di ambang pintu ruangan Maya.


Memasuki ruangan tersebut ketika sudah mendapat izin dari gadis itu.


"Ada apa?"


"Bagaimana penjualan beberapa property kita yang ada di daerah Jakarta Barat?" tanya El, memandang lurus ke arah Maya.


"Bagus kok, selalu ada permintaan disana. Oh ya ada beberapa surat yang harus kalian tanda tangani." Menyodorkan beberapa lembar kertas ke arah El yang seketika itu juga langsung diberi tanda tangan oleh El.


"Sam? ia juga harus tanda tangan?" El mengajukan pertanyaan, kembali memandangi wajah Maya. El melihat ada raut kerinduan di manik hitam gadis itu.


"Iya, dia harus tanda tangan juga tapi beberapa hari ini aku gak liat dia kesini." lirih Maya, sedikit terlihat berfikir.


"Oh atau aku aja yang menemui dia di perusahaan Advertising dia?" ucap Maya kemudian, membuat El sedikit kesal dengan usul itu.


"Gimana El?"


Masih diam, sedikit berfikir dan membuang napas berat. "Ya udah, tapi jangan lama-lama May karena akan ada meeting semua karyawan setelah jam makan siang nanti." Ucap El akhirnya, Maya mengangguk tersenyum sebentar, bersiap diri pergi ke kantor Sam.


Bisa Elano lihat raut wajah girang Maya, binar kerinduan jelas terlihat di manik mata hitam gadis itu. El bisa merasakannya, ruang rindu Maya untuk Sam yang kini mungkin tidak ada untuknya.


Bersiap diri, menenteng tas kerja dan beberapa map di tangannya, kini Maya kembali tersenyum ke arah El, "Aku berangkat sekarang ya."


Hanya anggukan kecil El yang menjawabnya, memandang tubuh Maya yang kini hendak melangkah keluar dari ruang kerja gadis itu, "Kamu bawa mobil kamu aja May," usul El sebelum Maya benar-benar melangkah keluar. Gelengan kepala Maya sekilas tercipta menjawab El, "Gak usah, aku bawa motor kok, biar lebih cepet juga kan. Jam segini Jakarta udah mulai macet," jawab Maya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu kini benar-benar melangkah keluar dari ruangannya. Menyisakan Elano yang hanya memandang kosong tubuh Maya yang kini benar-benar menghilang dari balik pintu.


Menolak usulan Elano, fakta sebenarnya adalah Maya enggan melihat kemarahan Samuel. Mengira ia nyaman dengan pemberian Elano, karena kenyataannya Maya memang tidak terlalu menyukai apa yang Elano berikan. Beda dengan semua pemberian dari Sam dulu, sekecil apapun itu.


____


Maya melangkahkan kaki jenjangnya, mendekat ke arah pintu utama perusahaan Advertising milik Sam. Mengingatkan ia beberapa waktu silam ketika masih magang di kantor itu.


Memasuki lobi kantor dan menyapa resepsionis disana, masih dengan gadis yang sama. "Maya... lama gak ketemu, apa kabar?" sapa sang gadis penjaga meja lobi, Maya tersenyum ke arah gadis itu, mengulurkan tangannya lalu saling cipika cipiki, "Baik kak Al, kakak gimana kabarnya?"


Kembali tersenyum ke arah Maya, gadis yang ia panggil Al tersebut kembali tersenyum ramah, "Baik juga, oh ya mau ketemu siapa nih? Airin atau..." Sedikit menggantungkan kalimatnya kini raut wajah Al sedikit mengernyit tak enak ke arah Maya.


"Oh mau ketemu bapak Samuel, ini nih ada beberapa berkas yang harus beliau tanda tangani," jawab Maya ramah, masih dengan senyumnya. Berusaha menanggapi biasa ketidak nyamanan sang resepsionis itu atas pertanyaan tadi.


"Oh gitu, ya udah langsung aja ke atas, sepertinya tadi sih pak Sam udah datang pagi-pagi."


Mengangguk sebentar lalu kembali tersenyum, "Iya deh, aku ke atas dulu ya kak." Ucap Maya, kini ia melanjutkan langkahnya ke arah pintu lift, menekan tombol lift untuk membawanya ke lantai ruangan CEO disana.


Ting...


Pintu lift kini terbuka, memajukan langkah kakinya dan melihat sekeliling ruangan di lantai tersebut. Masih seperti dulu dengan pegawai yang sama, Maya menarik napas panjang, entah kenapa ada perasaan grogi yang tiba-tiba saja menyeruak di hati Maya. Melanjutkan langkah kakinya, sesekali terlihat tersenyum ke arah orang-orang di dalam ruangan. Pandangan mata mereka nampak heran dan bertanya-tanya ketika melihat Maya kembali berada di perusahaan milik Sam, saling berbisik satu sama lain dan tentu saja itu semua mereka lakukan di belakang Maya.


"Maya..." sebuah suara yang tak asing, sekilas Maya memutar kepalanya ke arah sumber suara tadi. "Bay, apa kabar?" tanya Maya ramah. "Gue baik, eh tumben lo kesini? ada apa?" selidik Bayu, lekat memandangi penampilan Maya saat ini. Sedikit berubah, semakin cantik dan terlihat lebih dewasa.


"Mau ketemu pak Samuel," jawab Maya singkat, Bayu hanya ber-oh-ria. "Masuk aja, dia ada di dalam kok." jawab Bayu mempersilahkan.


"Makasih ya, gue masuk dulu," Kembali Bayu mengangguk, memandang sebentar ke arah Maya setelah gadis itu berlalu dari hadapannya.


___


Tok...tok...tok...


Mengetuk pintu itu beberapa kali, hingga mendengar sebuah suara lembut itu menjawab, "Masuk..." membuat jantung Maya semakin berpacu, berlomba dengan hatinya.


Membuka knop lalu menjulurkan kepalanya, melihat ke arah Samuel.


Masih sibuk berkutat dengan kerjanya, tanpa melihat siapa yang tadi mengetuk pintu. Kepala Sam menunduk sibuk dengan beberapa lembar kertas yang penuh dengan ketikan huruf-huruf kecil di sana.


Maya masuk dari balik pintu sambil membawa beberapa map. Mendekat lalu mengernyit sebentar. "Sam..." ucap Maya, berhasil membuat Sam mendongak ke arahnya.


Kini kedua netra Sam memandang wajah Maya penuh kerinduan, senyuman bahagia berhasil tertarik di kedua sudut bibirnya. Masih memandangi wajah Maya tanpa berkedip, ia tidak percaya gadis yang selalu bertahta dalam benaknya saat ini berdiri tepat di hadapannya. "Aku cuma mampir sebentar untuk meminta tanda tangan kamu," ucap Maya berhasil membuat Sam tergagap kaget.


"Oh... e... duduk dulu May, silahkan," tawar Sam.


Maya mengangguk lalu mendekat ke kursi yang ada di depan meja Samuel, memposisikan duduknya dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Tanda tangan buat apa?"


"Pembelian beberapa rumah dan ruko yang ada di kawasan Jakarta Barat. Beberapa hari ini kamu gak keliatan di kantor jadi aku mampir kesini sebentar." Jawab Maya.


Samuel meminta dokumen dari tangan Maya, memeriksa lalu mencoretkan tinta hitamnya di sana.


Setelah selesai, kembali Sam fokus memandang Maya. Seketika rasa penat yang membelenggu sirna begitu saja ketika mencium harum aroma parfum white lily Maya dan melihat kembali bibir peach yang selalu tersenyum manis ke arahnya.


"Kamu sibuk ya? aku ganggu kamu?" tanya Maya, dengan cepat Sam menggeleng. "Gak kok kamu gak ganggu, lagi ada masalah kecil aja di sini jadi aku gak bisa ke kantor property untuk sementara waktu." Jawab Samuel.


Maya menarik keningnya heran, "Masalah kerjaan?" tanya Maya, kekhawatiran jelas terlihat di wajah gadis itu. "Iya." Sam menjawab dengan anggukan kepala pelan. Sedikit membuang napas berat lalu melanjutkan ucapannya, "Dan juga masalah..." tidak meneruskan ucapannya, Sam kini berdiri mendekat ke arah Maya.


"Masalah apa lagi Sam?" Seolah tidak sabar ingin mengetahui apa yang mendera Samuel, Maya menatap Sam lekat, menunggu jawaban dari pria itu.


"May, aku minta maaf sama ucapan ku tempo hari." lirih Sam, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Maya tersenyum sebentar, "Iya aku maafin, tapi jangan kamu ulangi lagi ya. Aku gak seperti yang kamu pikir Sam," jelas Maya dengan manik mata sayu memandang ke arah Sam.


Lagi-lagi Sam mengangguk menjawab Maya, kini mencoba lebih dekat lagi dengan gadis itu. Memberanikan menyentuh pipi Maya, sangat lembut. "May... apa kamu sudah benar-benar melupakan aku?" lirih Samuel.


Berhasil membuat Maya mendongak ke arah Sam dan menggeleng pelan.


Tangan lembut Samuel masih mengelus pipi chubby Maya yang kali itu terlihat bersemu merah merona. Maya sangat menikmati sentuhan Sam, menggerakkan kepalanya pelan mengikuti alunan gerakan tangan Sam di pipinya.


Kini Sam mencondongkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Maya, membelai tepi kepala Maya dengan lembut. Menyusuri rambut hitam Maya yang sengaja ia gerai bebas.


Sam memiringkan kepalanya sedikit, sesaat kedua netra mereka kembali bertemu, saling beradu pandang. Netra kecoklatan milik Sam selalu berhasil membuat Maya salah tingkah.


Sam kini mendekatkan bibirnya, menempelkan ke bibir Maya, mata mereka saling memejam. Merasakan kembali perasaan itu, bibir mereka masih menempel dan belum ada pergerakan.


Membawa tubuh Maya untuk berdiri dari kursi, dan mendekap erat pinggang kecil Maya. Bibir mereka masih saling menempel. Baik Sam maupun Maya masih nyaman dengan keadaan saat ini, hingga beberapa detik kemudian Sam memulai terlebih dahulu pergerakan itu.


Menautkan kan erat bibir tebalnya ke atas bibir Maya, memulai pergerakan lembut kedua bibir mereka. Maya membalas ciuman Sam, tangan Maya kini meremas rambut ikal Samuel, lenguhan demi lenguhan berhasil keluar dari bibir Maya. Dan ciuman itu berselang beberapa menit hingga akhirnya akal sehat Maya kembali menguasainya.


Melepaskan tautan bibir Sam, menahan napas ketika Samuel masih menyentuh garis wajahnya, menenangkan jantung yang sudah melompat liar. Aroma musk maskulin yang masuk tanpa permisi ke indra penciuman Maya membuat kaki Maya lemas dan jantungnya bergemuruh hebat.


"Kenapa May?" Tanya Sam kini, sedikit tidak bisa menerima lepasan bibir Maya dari pautannya. "Aku gak bisa Sam," dengan suara sedikit tercekat Maya mencoba mengatur kembali napasnya.


"Kamu udah gak cinta sama aku lagi May? itu alasan kamu mendiamkan aku selama ini?" lirih Samuel, kini kedua kening mereka kembali saling menempel lalu kedua hidung mancung mereka pun ikut saling menempel satu dengan lainnya. Deru napas keduanya saling berpacu, bergemuruh merajai hati mereka.


"Kenapa sayang? apa karena El?" kembali Sam melontarkan pertanyaan. Maya menggeleng cepat menjawab pertanyaan yang sangat bodoh dari Sam.


"Karena kamu sudah menikah Sam. Aku gak mau merusak pernikahan kamu."


Kini Maya mendongak menatap manik mata Samuel.


Tanpa Maya duga, Sam tersenyum hingga terdengar tawa kecil dari bibir Samuel. "Kenapa kamu tertawa? It's not funny Sam."


"Aku sebentar lagi akan bercerai dengan Martha."


Maya membola mendengar ucapan Sam, "Anak kamu...." sebuah pertanyaan dari Maya.


"Bayi itu bukan anak ku, itu anak Harris," bisik Samuel, dengan cepat Sam kembali meraih pinggang Maya dan mendekapnya erat, mengabaikan ekspresi kaget di wajah Maya. Sam masih mendekap erat tubuh Maya, membenamkan wajahnya dalam geraian rambut hitam Maya.


"I love you dear...." bisik Sam lembut.


to be continue.....