
Malam ini sesuai permintaan makan malam oleh kliennya, Sam bersiap-siap menghadiri acara tersebut. Dia hanya tinggal menunggu Maya saja, sementara Samudra malam ini masih bermalam di rumah Anita. Samuel membiarkan Maya menata dirinya di dalam kamar, sedangkan dia memilih untuk menunggu istrinya di luar kamar sembari duduk pada sebuah kursi empuk yang berada di sudut lorong lantai dua rumahnya.
Sembari menggulir-gulir layar ponsel tipis pintarnya serta menyesap sedikit demi sedikit air mineral yang ada di tangan kirinya.
"Aku udah siap, suami." Suara Maya membuat Sam mengangkat wajahnya.
Senyuman kagum sekilas tertarik begitu saja dari kedua sudut bibirnya.
Bagaimana ia tidak terpesona melihat aura kecantikan wanita yang meski saat ini tengah mengandung, namun pesona Maya bahkan masih terpancar kuat menonjolkan kecantikannya.
Malam itu Maya mengenakan gaun yang sangat simpel, masih berbahan chifon bunga-bunga kecil yang menjadi favoritnya, begitu lembut dan ringan sehingga membuat seluruh gerakan tubuh istrinya terlihat begitu anggun.
Gaun selutut tanpa lengan yang dipadukan blazer lengan panjang berbahan rajut. Rambut sebahunya kali ini ia buat curly sehingga terlihat lebih bervolume, Maya pun membiarkan rambut hitamnya tergerai, hanya berhias penjepit kecil berbentuk bunga daisy. Oh ya jangan lupakan flat shoes kesukaannya berwarna maroon. Sungguh membuatnya terlihat simple namun sangat elegant.
Maya sepertinya tahu memposisikan dirinya sebagai seorang istri Ceo yang mempunyai banyak colega kelas atas. Meski Sam tidak pernah menuntut lebih atas penampilan dia selama ini, namun Maya selalu berusaha membuat sang suami tidak merasa malu ketika dirinya diminta mendampingi Samuel makan malam bersama klien, seperti saat sekarang ini.
"Suami---kenapa bengong gitu? Kita berangkat sekarang atau nanti?"
Pertanyaan Maya membuat Sam tersadar dari pengaruh hipnotis pesona Maya.
"Eh-i-ya kita berangkat sekarang," gagap Samuel. Bahkan Sam tidak bisa menyembunyikan kegugupan dirinya dihadapan sang istri.
"Heee.... kamu kenapa sih, suami?"
Sam tersenyum sebentar, lengan kanannya kemudian ia tekuk dan seolah menyuruh Maya untuk mengaitkan lengannya di dalam sana.
"Kamu selalu bisa membuat aku terpesona melihat kecantikan kamu," bisik Samuel tepat di telinga Maya.
"Sam ih--ngegombal aja kerjaannya." Maya tersenyum tersipu, bahkan kini kedua pipi chubbynya menyembul warna merah muda dan itu bukan efek dari blass on yang ia pakai.
"Aku serius, sayang."
"Hm--makasih suami...." Maya mengangguk pelan. Kini keduanya saling memandang satu sama lain, tatapan mata yang sama-sama memancarkan rasa cinta dari keduanya.
....
Sebelum memasuki restoran hotel bintang lima milik Dean Sanjaya, Sam semakin mengeratkan jemari tangannya di sela-sela jemari Maya.
Memandang sekali lagi ke arah Maya, semakin meyakinkan dirinya jika wanita di sampingnya kini adalah harta paling berharga yang ia miliki dan ia tak akan membiarkan seorang pun merenggut dia dari tangannya.
"Kamu baik-baik aja kan, Sam?"
Samuel mengangguk pelan sembari tersenyum ke arah Maya.
"Kita masuk---"
Sam menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya, memasuki restoran hotel berbintang. Pertama kali mereka disuguhi dengan pernak pernik aksesori hotel yang menghiasi restoran luas tersebut.
Salah satunya lampu kristal gantung yang begitu mewah, dengan beberapa hiasan bunga hidup di beberapa sudut resto.
Meja bundar lengkap dengan peralatan makan perak tertata rapi dengan dilengkapi beberapa kursi yang melingkarinya.
Dan disana seorang pria berusia sekitar dua puluh sembilan tahunan, namun terlihat masih sangat good looking dan mampu membuat wanita mana pun akan bertekuk lutut padanya.
Tubuh tinggi atletis dengan dada bidang dan sepasang iris mata kebiruan yang begitu jernih dan selalu menatap lawan bicaranya dengan sangat tajam dan berwibawa. Hidung mancung menjulang begitu angkuh bertengger dan tentu saja dilengkapi dengan sepasang alis tebal bak kepak sayap camar.
Sam mendekat ke arah laki-laki yang telah menunggu mereka, dengan Maya yang selalu dalam gandengan tangganya.
"Selamat malam tuan Sanjaya." Sam kali ini melepas pegangan tangannya dari Maya dan berganti mengulurkan tangannya ke arah Dean Sanjaya.
"Panggil saja Dean, anda tidak perlu sungkan. Anggap saja kita dua sahabat yang telah lama kenal." Dean Sanjaya menyambut uluran tangan Samuel.
"Oh-dan apakah ini istri anda? Yang mampu membuat anda lebih mementingkan janji anda kepadanya daripada urusan pekerjaan?" tanya laki-laki tampan itu.
Dengan sedikit sunggutan di wajahnya, yang tentu saja Samuel berusaha sembunyikan. Sam mengangguk pelan lalu seolah menyuruh Maya untuk memperkenalkan diri pada klien pentingnya itu.
"Ini Maya, istri saya." Sam menekankan kalimat terakhirnya dengan sangat tegas.
"Selamat malam tuan Sanjaya, saya Maya."
Dean Sanjaya menerima uluran tangan Maya, memandang wanita yang ada di hadapannya itu dengan seksama.
Membuat Maya sedikit merasa sungkan ketika kedua iris kebiruan itu memandangi dirinya dengan lekat.
"Ehemmmm....!!"
Samuel sengaja berdehem, mencoba memutus pandangan Dean dari sosok istrinya.
Dan tanpa Sam duga, deheman nya tadi cukup berhasil membuat Dean Sanjaya terkejut.
"Oh-iya-siii-lahkan duduk--"
Dean tergagap dengan apa yang Samuel lakukan barusan, dan Dean tahu jika Samuel sengaja melakukannya.
Keduanya kemudian duduk setelah sang tuan rumah mempersilahkan mereka. Jika dahulu Maya sering merasa canggung ketika dirinya dibawa oleh Samuel menghadiri perjamuan makan malam dengan klien perusahaan Sam, namun hal itu tidak berlaku untuk saat ini. Seolah Maya telah terbiasa dengan jamuan makan malam bersama klien-klien perusahaan suaminya. Maya pun sesekali ikut angkat bicara ketika klien suaminya itu menanyakan beberapa pertanyaan padanya dan tanpa rasa canggung ataupun grogi sedikitpun.
"Oh ya, kalian sudah lama menikah?" tanya Dean sembari mengangkat gelas panjang yang berisi wine dan mendekatkan ke mulutnya.
"Hampir lima tahun," jawab Samuel.
Dean melanjutkan sesapan wine sebelum ia memulai memasukan potongan daging panggang ke mulutnya.
"Anda tidak akan pernah menyesal jika perusahaan anda memilih bekerjasama dengan perusahaan suami saya." Maya menjeda sebentar kalimatnya. Ia tersenyum sebentar lalu beralih memandang ke arah Samuel.
"Oh ya? Kenapa bisa begitu?"
"Karena saya tahu profesionalisme dari suami saya dan suami saya---tuan Samuel Perdana adalah sosok pemimpin perusahaan yang bekerja se-perfect mungkin dalam menangani klien-klien beliau." Maya melanjutkan.
Dean sedikit mengangguk mengerti.
"Sepertinya anda sangat mengerti pekerjaan suami anda?"
"Maksud anda, nyonya?" Dean seolah benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Maya barusan.
"Saya dulu pernah magang di perusahaan suami saya dan saya menjadi asisten beliau," terang Maya.
Dean hanya bisa mengangguk sembari ber-oh-ria.
"Anda beruntung Sam," ucap Dean dengan pandangan tajam ke arah Samuel.
"Maksud anda?"
"Iya-Anda beruntung memiliki istri cantik, pintar dan mempesona seperti istri anda ini," puji Dean Sanjaya.
Sam hanya tersenyum sekilas, tanpa ekspresi apapun. Bagi Sam ketika ia mendengar pria lain memuji Maya, rasanya membuat emosinya meluap-luap.
"Terima kasih atas pujian anda," balas Samuel akhirnya. Sam berusaha menjaga emosinya.
"Tentu saja saya pria yang paling beruntung di dunia ini." Samuel kali ini bergantian yang meraih tangan Maya dan mengusapnya lembut.
Pandangan mata keduanya pun saling bertaut lembut.
Dean melihat itu dengan sedikit rasa cemburu di hatinya. Memang sebelumnya Dean tidak mengenal istri dari kliennya, namun entah kenapa melihat sosok wanita cantik yang meski tengah berbadan dua di hadapannya saat itu, membuatnya membayangkan jika saja dia yang terlebih dahulu bertemu dengan Maya. Sebelum wanita itu bertemu Samuel.
"Oh ya bagaimana dengan anda? Anda belum menikah atau---"
"Hahaha...!!"
Dean memotong ucapan Samuel, gelak tawa ringannya menggema hingga membuat Samuel mengernyit heran.
"Saya belum menikah--tapi bukan berarti saya tidak laku, hahahaha...!" tawa Dean lagi.
"Saya percaya, bagaimana mungkin seorang pebisnis muda, pemilik beberapa perusahaan seperti anda tidak memiliki wanita dalam hidup anda."
Dean menyesap kembali wine yang saat itu hampir habis, sembari berseringai kecil.
"Bagi saya, wanita itu seperti sebuah sepatu yang dengan mudahnya akan saya ganti jika saya merasa bosan," jawab Ceo tampan itu dengan ekspresi datar.
Samuel tidak membalas ucapan kliennya, dia hanya berseringai sebentar.
"Dan jika saya harus menikah nantinya--- saya berharap suatu hari nanti menemukan sosok perempuan seperti istri anda." Dean melanjutkan.
Sam spontan menghentikan gerakan bibirnya yang saat itu sedang mengunyah potongan steak miliknya.
Tangan Samuel yang saat itu memegang pisau tiba-tiba mengepal erat.
"Sam---" lirih Maya.
Maya berusaha menenangkan Samuel yang ia tahu jika emosi suaminya tengah naik. Maya meraih tangan Samuel yang berada di dekatnya.
Ia tersenyum lembut ke arah Samuel sembari sedikit menggeleng kecil.
"Anda tenang saja, Sam."
Dean Sanjaya masih dengan santainya menikmati makanan di hadapannya saat itu.
"Saya tidak se-brengsek itu." Dean melanjutkan. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Samuel saat ini.
....
Dean Sanjaya kembali menerima uluran jabatan tangan Sam dan membalasnya.
"Terima kasih atas undangan makan malamnya tuan Sanjaya." Ucap Samuel yang dengan mati-matian masih menahan emosinya.
"Jangan pernah merasa sungkan, harusnya saya yang berterima kasih kalian bersedia hadir."
Kali ini giliran tangan Dean yang menjulur tepat dihadapan Maya, mencoba berusaha sekali lagi menggenggam tangan halus Maya dengan sedikit modus.
Dengan ragu-ragu Maya menerima uluran tangan Dean, namun dengan cepat ia melepas jabatan tangan pria tampan itu.
"Terima kasih tuan Sanjaya," ucap Maya sopan, dengan posisi bahu yang sedikit membungkuk kecil.
"Jangan pernah sungkan, dan panggil saja saya Dean," jawab Dean dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
Sam sedikit mendesis kecil ketika melihat usaha kliennya itu yang terlihat tengah mencari muka di hadapan istrinya.
"Baiklah-- kami permisi dulu. Dan saya senang dengan kerjasama kita."
Ah rasanya Samuel ingin cepat-cepat keluar dari sana, ia sudah sangat jengah melihat pria tampan yang saat ini tengah fokus memandangi istrinya.
"Kami permisi, selamat malam!"
Samuel berjalan keluar dengan menggandeng tangan Maya erat.
Dengan cepat Sam membawa Maya untuk keluar dari restoran tersebut.
"Aku gak suka cara dia melihat kamu seperti tadi." Ucap Samuel datar sembari berjalan menuju lobi hotel.
"Sam---jangan bilang kamu cemburu," senyum Maya.
Samuel hanya bersungut kecil menanggapi. Bagaimana bisa Maya menertawai kecemburuan nya saat ini, batin Samuel kesal.
Selama perjalan keduanya menuju ujung pintu lobi hotel, Maya menggelayut manja di lengan Samuel. Ia tahu jika saat ini Sam tengah cemburu.
"Aku gak akan pernah berpaling dari kamu, Sam."
Bisik Maya perlahan di tengah-tengah langkah kakinya.
to be continue....