MySam

MySam
Praduga



"Sudah aku bilang, Sam--- kami hanya berbincang soal-soal yang gak begitu penting dan beberapa perbincangan tentang kerjasama kalian, gak lebih."


Sam tetap memasang wajah masamnya, bibir tebal merah mudanya bahkan tidak menarik senyuman manis yang biasa ia lakukan jika berhadapan dengan Maya.


"Sam, kamu gak percaya sama aku?"


Maya mendekat, berusaha memangkas jarak keduanya. Jemari lentiknya meraih lengan Sam dan melingkarkannya di sana.


"Gak ada yang perlu kamu curigai, Sam."


"Bagaimana aku gak curiga, hah? Jika kalian terlihat begitu akrab dan sorot matanya seolah menganggap kamu adalah mangsa empuknya!" Sam menarik lengannya kasar.


Membuat Maya kembali membuang napas panjang.


"Aku gak mungkin berbuat macam-macam di rumahku sendiri, Sam. Lagipula---"


"Oh-jadi jika kalian gak sedang ada di rumah, kalian bisa macam-macam? Begitu maksud kamu May?!"


Sam menghardik Maya, mata kecoklatan itu menyorot tajam ke arah Maya.


Sam kembali hilang kendali, membiarkan emosi menguasainya lagi.


"Aku gak mau bicara lagi, saat ini kamu sedang emosi," ucap Maya pelan.


Dia pun pergi meninggalkan Samuel yang saat ini masih mematung di tengah-tengah ruangan luas dengan perabot mahal.


Mungkin menyesali apa yang telah ia lakukan barusan. Menghardik Maya dengan suara keras sehingga perempuan yang tengah hamil besar itu terlihat sedikit mengedikkan bahu kecilnya.


Ia melakukannya lagi, membiarkan emosi menguasainya.


"Sialan....!!" umpat Samuel kasar.


.....


Maya bahkan tidak menyangka jika ada pikiran Samuel yang begitu picik tentangnya. Tentu saja dia tidak akan pernah mencoba macam-macam dengan Dean atau dengan pria manapun.


Ia terlalu mencintai Samuel, cinta itu masih sama seperti beberapa tahun silam. Masih seperti ketika dia hanya seorang asisten magang di perusahaan Samuel.


Apa yang ia lakukan kepada Dean, itu semata-mata hanya ingin mencari tahu kebenaran tentang praduga, sesuatu yang berkaitan antara Samuel dengan Dean di masa lalu.


Dan Maya tidak bisa mengatakannya langsung pada Samuel. Tidak sekarang, batin Maya.


Ia usap cairan bening yang saat ini jatuh mengalir begitu saja di kedua pipi chubbynya.


Bukan karena bentakan keras dari Samuel yang membuatnya menangis. Namun apa yang ada dipikiran pria itu yang membuat Maya merasakan sakit.


"I'm sorry---" ucap Samuel lemah, begitu ia mendekat ke arah Maya yang berbaring membelakanginya.


"Aku gak bermaksud membentak kamu, sayang."


Sam kali ini mendekat, duduk pada tepi ranjang dan mengelus punggung Maya yang masih membelakangi dirinya.


"Aku menyesal, i'm sorry...." lirih Samuel.


Setelah beberapa detik tidak ada respon dari Maya, Sam semakin mendekat. Mengelus puncak kepala istrinya dan berusaha membuat Maya melihat padanya.


"Honey--- please say something-- anything--" ucap Samuel lagi.


Maya kembali terisak, ia bahkan tidak bisa menahan luapan emosi tangisnya.


"Bukan karena bentakan kamu, Sam," ucap Maya akhirnya.


"Tapi karena apa yang ada di dalam pikiran kamu tentang aku," jawabnya dengan suara sedikit bergetar.


"Aku minta maaf, May."


Masih belum ada tanggapan apapun dari Maya. Perempuan itu bahkan masih tidur membelakanginya.


"May-kamu gak mau maafin aku?" Sam kembali berusaha merajuk.


Hingga beberapa detik kemudian Maya memutar tubuhnya dan merubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang, menyorot wajah Samuel dengan tatapan cemberut.


"Kalau aku maafin kamu, janji kamu gak akan mengulangi lagi?"


Sam menganguk yakin.


"Promise...."


Sam mengangkat dua jari sebatas bahu, membuat sumpah.


"Aku gak mungkin menyukai pria lain selain kamu, sayang. Suamiku dan ayah dari anak-anakku," cicit Maya.


Sam langsung meraih tubuh Maya, dibawanya ke dalam dekapan bahu kekarnya.


"Thank's honey...." lirih Samuel.


....


"Sam, sabtu ini kita jadi ke pernikahan Airin kan?"


Tanya Maya sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya. Samuel yang baru saja turun dari lantai atas langsung mencium puncak kepala Maya dan duduk di balik meja makan, dekat dengan istrinya.


"Iya dong May, kita gak mungkin melewatkan pernikahan Bayu dan Airin."


Sam mulai menyendok nasi bercampur omlet dengan potongan daging kecil-kecil lalu dengan lahap ia masukan ke mulutnya.


"Oh-ya suami, siang nanti aku jemput Am dari rumah mamah ya?"


"Am minta dijemput?"


"He-em, waktu kamu masih di kamar, Am nelpon katanya dia kangen sama kamu," kekeh Maya.


"Iya kah?" Sam membolakan kedua matanya.


"Iya, lucu ya Sam."


Sam tersenyum kecil.


"Anak itu memang selalu bikin gemas." Sam pun ikut terkekeh.


"Hm, rumah juga sepi gak ada Am." Maya menimpali.


"Tapi kamu hati-hati."


Maya mengangguk pelan.


"Iya suami, aku juga gak bawa mobil sendiri kok, Diantar pak Kardi."


Sam mengangguk pelan sembari terus memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Mau minum lagi?" tawar Maya dan tentu saja dibalas anggukan kepala dari Samuel.


...


Maya keluar dari mobil setelah pintu dibukakan oleh seorang laki-laki setengah baya berseragam safari serba hitam.


"Makasih pak Kardi, bapak tunggu di dalam aja gak papa."


Laki-laki setengah baya tersebut mengangguk sopan lalu kembali menutup pintu mobil.


"Mommy......"


Suara nyaring Samudra langsung saja menyambut kedatangannya, bocah kecil itu pun berlari menuju ke arah Maya dan langsung memeluk pinggangnya dengan sangat hati-hati.


Membuat baik Maya maupun Anita yang berada di belakang Samudra pun tersenyum kecil sembari menahan kekhawatiran akan pelukan Samudra di perut Maya yang semakin besar.


"Am kangen sama mommy...." ucap Samudra begitu ia menarik wajahnya dari perut Maya.


"Benarkah? Katanya Am kangennya sama daddy....?" goda Maya.


Samudra menggeleng. "Am juga kangen sama mommy dan dedek baby...."


Cup...


Samudra spontan mendaratkan ciuman kecilnya di perut besar Maya.


"Hehehehe iya-iya.... mommy dan dedek juga kangen sama kakak Am." Maya terkekeh kecil melihat tingkah lucu anak angkat nya itu.


"Eh kita masuk dulu yuk, ketemu sama Oma."


Samudra mengangguk pelan lalu berjalan dengan menggandeng tangan Maya. Seolah dia berperan sebagai penjaga Maya yang sigap agar ibu angkat nya itu selalu aman.


"Ma...."


Maya mencium punggung tangan Anita lalu mendaratkan cipika-cipiki ke pipi wanita setengah abad yang masih terlihat sangat kencang.


"Makasih ya Ma, udah jagain Am."


"Makasih buat apa? Am kan juga cucu Mama." Anita tersenyum sembari mengelus-elus perut buncit Maya.


"Oh-iya gimana cucu Mama yang masih dalam kandungan ini? Sehat kan?"


Maya mengangguk pelan. "Alhamdulillah sehat Ma, May dan Sam minta doa dari Mama ya."


"Pasti, Mama selalu doain kalian semua," angguk Anita.


"Kamu masuk dulu gih, Mama udah siapin cemilan kesukaan kamu."


Anita menggandeng salah satu lengan Maya dan membawanya masuk ke dalam rumah, sementara lengan yang satunya lagi tentu saja ada Samudra yang menggelayut manja di sana.


...


"Ma--- boleh Maya tanya sesuatu?"


Anita yang duduk di depan Maya pun mengangguk pelan sembari menyesap teh hangat dalam cangkir keramik di sela jemarinya.


"Tentu saja, sayang. Apa yang mau kamu tanyakan ke Mama?"


"Emm--- ini soal--Daniel--"


Sekilas kening Anita berkerut heran.


"Emm-- Mama inget gak waktu Sam terkunci di gudang dulu?"


Anita mengangguk merespon.


"Kan dulu pintu gudang nya terkunci dari luar," Maya menjeda kalimatnya.


"Apa kunci itu sampai sekarang udah ketemu atau masih hilang Ma?" Maya melanjutkan.


Anita terlihat sedikit mengingat-ingat, lalu kembali menggeleng pelan.


"Seingat Mama kunci itu tidak ditemukan sampai sekarang."


Kembali Maya merasakan angin segar akan praduga nya.


"Mungkin kunci itu Daniel buang di sembarang tempat atau jatuh, Mama juga gak tau." Anita melanjutkan.


Maya kembali membulatkan bibirnya ber-oh-ria.


"Emang kenapa, Maya?"


"Oh-enggak, May hanya penasaran aja-hehehe," jawabnya gugup.


"Oh....." Anita pun sekilas memasang wajah sedih ketika mengingat kembali kejadian tersebut.


"Ma---"


"Iya May, ada apa?"


"Apakah warna mata Daniel berwarna kebiruan?" tanya Maya lagi.


"Bukan," lagi-lagi Anita menggeleng.


"Daniel bermata coklat seperti Sam."


"Oh-benarkah?"


"Iya, Mama ingat betul. Anak Mama bermata coklat semua, mirip dengan ayahnya."


"Ow--oke--"


Maya kembali ber-oh-ria sembari manggut-manggut kecil.


"Kenapa sih sayang?" tanya Anita heran.


"Oh-enggak kok Ma, hehehe."


Anita pun ikut tersenyum kecil dan kembali mengangkat cangkir keramik dan menyesap teh hangatnya.


Sementara Maya, terlihat seperti memikirkan warna mata coklat milik Daniel.


Hampir saja ia menemukan titik terang namun soal warna lensa mata Sam dan Daniel....


Huufftt....


Perlahan Maya membuang napas berat.


to be continue....