
Akhirnya Maya memutuskan untuk berbicara serius dengan Sam, ia tidak bisa terus menerus terusik dengan perubahan yang ditunjukan oleh Samuel.
Baru saja ia melangkah menyusuri koridor kantor, saat itulah pandangannya tertumbuk pada sosok pria yang selalu ia rindukan tengah berdiri di hadapan seorang gadis yang luar biasa cantik.
Rambut panjang bergelombang dan berwarna kemerahan, ia biarkan tergerai. Netra coklat yang memandang Sam penuh cinta terlihat berkilauan.
"Kenapa kamu kesini lagi?" Sam sedikit menahan suaranya.
"Aku kan kerja di sini, mulai saat ini aku sekretaris kamu Sam."
"Siapa yang nyuruh? aku tidak pernah mencari sekretaris baru," ketus Samuel.
Freya hanya tersenyum kecil menanggapi. "And i miss you too, Sam," lanjut Freya. Ia bergerak dan langsung mendaratkan kecupan di bibir Samuel, tanpa bisa pria itu menghindari.
Maya merasakan tusukan yang menghujam jantungnya. Wajahnya terasa panas dan ia pun berbalik berlari menjauh. Membiarkan bulir air mata melayang jatuh seiring langkahnya yang semakin tergesa.
Dia terlihat bodoh.
Maya tahu hal itu, tapi tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Matanya buram dan pikirannya hanya satu, kembali ke ruangannya secepat mungkin.
Demi Tuhan, baru beberapa hari yang lalu, Sam melamarnya. Memberikan janjinya untuk selalu menjaga dan membahagiakan dia. Tapi hari ini, Maya melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa semua yang diucapkan Samuel adalah kebohongan.
Lalu untuk apa pertunangan itu terjadi? dan gaun pengantin yang sudah hampir selesai sebelum pernikahan mereka?
Untuk saat ini Maya merasa semua itu menjadi hancur berkeping-keping.
Kepercayaannya kini tumbang tak bersisa. Inilah yang ia takutkan, apa yang selama ini selalu mengganggu pikiran Maya akhirnya terjadi.
Baru saja Maya melangkahkan kaki jauh-jauh, tiba-tiba tubuh gadis itu dirasa seperti menabrak sesuatu yang kokoh. "Ma..aaf..." ucap Maya cepat-cepat dengan wajah tertunduk, cairan hangat kini sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Maya? Kamu kenapa?" tanya seseorang yang membuat wajah Maya terangkat.
Dia mengenali suara itu.
"Astaga, May. Apa yang terjadi?" tanya Elano mengambil langkah mendekati Maya dan langsung menggenggam pundak rapuh Maya sebelum gadis itu sempat melarikan diri.
Kepala Maya menggeleng pelan, tapi Elano tidak percaya pengakuannya. Dengan lembut pria bertubuh atletis itu membuka pintu ruangannya dan menuntun Maya memasuki ruangan Elano. Menghindari tatapan selidik dari beberapa orang yang hilir mudik dan tembok yang bertelinga.
Didudukkan Maya di atas sofa sebelum ia menyodorkan kotak tissue ke arah Maya.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya El tetap tenang, walau dalam hati, dia menetapkan hatinya untuk menghajar siapa
pun yang membuat gadis di hadapannya menangis.
Maya tidak menjawab, malah air matanya yang kini semakin deras mengalir jatuh membasahi pipi. Setiap denyut jantungnya terasa nyeri, seperti ada ribuan mata pisau yang menghujam. Elano yang melihat itu tidak menyiakan kesempatan dan menarik Maya ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan kesedihan di pelukannya.
Didekapnya tubuh Maya dalam hangat pelukan kedua lengannya.
Sepuluh menit. Tangis itu akhirnya reda dan cerita keluar dari bibir Maya, membuat rahang El mengeras dan matanya menyipit penuh kemarahan. Ingin sekali El menghajar Samuel, pria yang menyebabkan gadis yang saat ini berdiri di hadapannya menangis. Dan lagi, Elano merasa penasaran ingin tahu siapa perempuan di kantor ini yang berani-beraninya memeluk dan mencium CEO arogan itu.
"It's okay, May," ucap El membelai bahu Maya hangat. "Jangan terlalu kamu pikirkan. Aku memastikan jika Sam tidak akan bisa mendekati kamu lagi." Elano mencoba membuat hati gadis itu membaik namun, disisi lain. Ada perasaan diuntungkan kini menyelimuti hati Elano.
El mengusap sisa air mata Maya dengan tissue yang tadi belum sempat Maya ambil, menenangkan Maya dengan tepukan lembut di punggung.
"Jika kamu ingin beristirahat, aku bisa mengantar kamu kembali ke rumah."
Maya menggelengkan kepalanya yang masih bersandar pada dada bidang milik El. Dia tidak boleh izin lagi. Selain karena masih banyak pekerjaan yang tertunda, sebelum ini dia sudah izin beberapa hari karena Sam yang menyuruh sewaktu tubuhnya melemah kemarin.
Sam....
Kembali air mata Maya menggenang, mengingat pria itu lalu sekelebat bayangan Sam mencium gadis lain kembali menggelitik perasaannya.
"Aku akan menemani kamu di ruangan kamu bila perlu. kebetulan pekerjaanku yang urgent sudah selesai. Bila kamu ingin kembali ke ruangan kamu, aku bisa mengantarmu."
Senyum Elano membuat luka di hatinya seakan dibalut kehangatan. Tapi Maya tidak ingin merepotkan siapapun, saat ini yang ia butuhkan hanyalah sedikit waktu untuk menenangkan diri.
"Aku bisa berjalan sendiri, El. Terima kasih," jawab Maya pelan. Senyuman kecilnya ia tarik sedikit. Hanya sepintas menghiasi sudut bibir peach Maya.
"Tidak, mana boleh kamu berjalan seorang diri ke lantai atas. Biar aku yang menemani kamu sampai ruang kerja kamu." El sedikit mendesak.
___
Sam mengumpat berkali-kali dalam hati. Sementara kaki panjangnya melangkah kembali ke kantornya.
Apa-apaan Freya itu, berani menciumnya di koridor perusahaan. Apa dia tidak berfikir jika mungkin saja ada karyawan lain yang melihat mereka?! Dan yang paling Sam takutkan adalah bagaimana jika Maya mengetahui kejadian tadi?
Masalah ini pelik, Sam membanting pintu kantornya. Lagi pula siapa yang menyuruh Freya menjadi sekretarisnya? Seingatnya ia tidak pernah mencari atau meminta sekretaris baru, sepeninggal sekretaris lamanya yang cuti melahirkan.
"Brengsek!" umpat Sam sekali lagi. Kali ini ia daratkan kepalan tangannya ke atas meja kerja, sehingga menimbulkan suara bergemuruh dari sana.
Dia harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Meyakinkan dirinya sendiri jika sosok Freya tidak penting buat Sam saat ini.
Hanya Maya yang selalu ada di hati dan pikirannya. Dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Maya, jika perempuan di masa lalu Sam kini kembali hadir. Ia juga harus berterus terang tentang pertemuannya dengan Freya di mansion miliknya.
Sam segera mengeluarkan ponsel miliknya yang berlapis emas dan menekan fast dial nomor satu. Terdengar nada dering namun dialihkan. Siapapun di seberang menolak panggilannya. Beberapa kali pun Sam mencoba, hal yang sama terjadi. Membuat pria itu bertanya-tanya, ada apa dengan Maya?
Rasa khawatir menggelayuti benak, membuatnya merasa harus menemui Maya, segera setelah dia menyelesaikan presentasi untuk calon investor kenalan Samuel dari Hongkong. Sam segera menyalakan laptopnya dengan perasaan was-was.
___
Samuel mengernyit heran melihat Elano tidak menampakkan batang hidungnya pagi ini. Harusnya CEO itu juga ikut presentasi dalam pertemuan dengan klien pagi ini. Maya pun yang sebagai manager pemasaran di Wijaya Property seharusnya saat ini berada dalam satu ruangan dengannya.
Dengan terpaksa Sam memimpin presentasi jarak jauh seorang diri yang hanya dibantu beberapa arsitek serta orang kepercayaan Samuel lainnya.
Belum pernah hari terasa sepanjang ini. Rapat jarak jauh dengan penanam modal sudah selesai dan waktu menunjukkan pukul satu siang, Sam segera membereskan meja dan menolak panggilan dari Freya yang entah keberapa. Sam menghela napas lega setelah kejadian pagi tadi, Freya tak lagi menampakkan diri di kantor Wijaya Property.
Nanti saja dia membereskan nenek sihir pengacau itu, setelah urusannya dengan Maya selesai.
Dengan langkah tegap Samuel berjalan menuju ke ruangan Maya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Elano keluar dari ruangan Maya yang kemudian disusul oleh gadis itu berjalan mengekori di samping El.
Tanpa ragu-ragu Elano merangkul pundak Maya dan membawakan tas kerja pink pucat milik Maya.
Berjalan membelakangi Samuel yang saat itu merasakan darahnya mendidih dan naik sampai ke ubun-ubun.
Dalam sekejap, Sam berada di depan mereka. Membuat baik Elano dan Maya tersentak kaget dengan sikap kasar Samuel terhadap Elano.
Sam melepas rangkulan tangan El di pundak Maya, mendekatkan tubuh atletisnya tepat di hadapan Elano. Sepasang mata coklat Sam menatap El tajam, rahangnya mengeras dan kepalan tangannya terkepal hanya beberapa senti hampir menyentuh wajah Elano.
"Udah gue bilang, lo jauh-jauh dari Maya," geram Samuel, iris coklat itu bagai petir seolah siap menyambar siapa saja yang berada di dekatnya.
"Lo belum ada hak melarang gue dekat dengan Maya!" Balas Elano dengan ekspresi yang tak kalah mengeras.
"Dear, aku mau ngomong sama kamu. Please..." Sam melemahkan nada bicaranya, menatap wajah Maya dengan ekspresi memohon.
Maya membuang muka, sama sekali tidak melihat ke arah Sam membuat pria itu tertegun. Dadanya terasa sesak dengan bahasa tubuh yang Maya tunjukkan.
"Aku mau sendiri dulu, Sam." Maya melirik Sam sebentar, lalu kembali merotasikan kedua netranya ke arah lain.
"Apa maksud kamu, sayang?"
tanya Samuel tidak terima.
"May..."
Sam berusaha mendekati Maya, tapi cengkeraman tangan El semakin kuat di lengan Samuel. Sam mengibaskan tangan El, membuat pria yang juga bertubuh atletis itu mundur selangkah tapi dengan cepat El memasang ancang-ancang untuk melayangkan tinju ke arah Samuel. Dia bahkan tidak keberatan dan ingin sekali melayangkan pukulannya ke arah pria arogan di hadapannya sekarang.
"Ayo El," gumam Maya pelan sebelum ia membalikkan badan.
"Gue pasti akan menghajarmu saat ini bila tak ingat kalau kita masih ada di lingkungan Wijaya Property dan Maya lebih membutuhkan gue saat ini," ancam Elano. "Jangan pernah lo sekalipun bicara dengan Maya." lanjutnya sebelum ia berbalik dan merangkul pundak Maya sekali lagi.
Meninggalkan Sam yang tertegun, tidak mengerti akan sikap Maya saat ini.
Ada sesuatu yang hilang di hati Sam, meninggalkan lubang yang sangat besar di jiwa Samuel. Sesuatu yang terpenting telah lepas dari genggamannya.
Tapi bukan Sam namanya jika ia dengan mudah begitu saja menyerah.
to be continue....