MySam

MySam
Seandainya....



Dengan setelan kantornya, Sam berjalan menuruni anak tangga menuju dapur dan melihat Maya yang tengah sibuk di sana. Sam menuju rak dan membuatkan susu untuk Maya, ia terdiam sadar ketika melihat kotak susu kehamilan milik Maya. Sejurus kemudian Samuel melepas kembali pegangan tangannya pada kotak susu kehamilan merk terkenal itu. Beralih Sam meraih susu kental manis plus madu yang kemudian ia tuang ke dalam gelas kaca.


Meskipun mereka berada di tempat yang sama, tidak ada pembicaraan dan interaksi hangat mereka seperti biasanya. Mereka berdiri yang hanya saling membelakangi, terlebih Maya yang hanya diam. Tidak menyapa ataupun memeluknya dan berperilaku manja pada Sam seperti biasa. Hal yang sangat mengganggu Samuel, ia tidak pernah betah setiap kali berada di situasi seperti ini.


Sam menoleh menatap punggung Maya yang melangkah pergi dan membawa dua piring sandwich di tangannya. Sam menghela napas lagi lalu berjalan menyusul.


***


Suasana hening menyelimuti kegiatan sarapan mereka, tidak ada pembicaraan hangat dan gelak tawa lucu dari Maya. Hanya ada suara dentingan alat makan yang mengisi kekosongan pagi itu.


"Aku mau ke taman," ucap Maya tiba-tiba. Membuat Samuel lantas menoleh menatapnya.


"Setelah itu aku mau ke cafe," Maya melanjutkan kembali ucapannya. Tanpa sedikitpun memandang ke arah Samuel, wajahnya tertunduk sembari memotong sandwich dengan pisau dan garpu, lalu memasukan potongan roti isi selada, saus sambal dan juga daging asap ke mulutnya.


"Sama siapa?"


"Sendiri."


"Gak boleh, kamu kan belum lama pulang dari rumah sakit. Nanti kalo ada apa-apa sama kamu gimana?"


"Aku bisa jaga diri," balas Maya cuek tanpa menatap Samuel.


"Kalo kamu bisa jaga diri, kecelakaan itu gak akan terjadi!" Ucap Samuel dengan penekanan, membuat Maya sontak terkejut. Kedua netranya kini sedikit basah dan terasa sangat pedih.


"Kamu nyalahin aku?" cicit Maya seraya mengurungkan suapan sandwich ke mulutnya.


"Maaf hanya saja---"


"Benarkan kamu nyalahin aku sama kecelakaan ini? Aku kehilangan anakku, kamu juga nyalahin aku kan Sam?" teriak Maya dengan isak tangis pilunya.


"Bukan gitu-- denger dulu May."


"Apa yang mesti aku denger Sam? Aku yang kehilangan anakku d-an....."


"Dan dia juga anakku, May!" Samuel memotong pembicaraan Maya dengan nada tinggi. Entah apa yang ada dalam benak Samuel kali ini.


"Yang kehilangan bukan cuma kamu, May! Aku juga kehilangan dia! Kamu gak tau kan bagaimana perasaanku saat ini?!" Sam melanjutkan, entah mengapa pagi itu, Sam merasa kehilangan kontrol emosinya yang selama ini selalu ia jaga buat Maya.


Baru kali ini terjadi pertengkaran keduanya, selama ini tidak pernah terdengar nada bicara Samuel yang begitu tinggi di hadapan Maya. Hingga membuat si bibik dan juga mbak Pur yang kali itu berada di dapur saling berpandang terkejut, dan mengkhawatirkan keadaan kedua majikannya.


"Jadi kumohon berhenti bersikap seolah hanya kamu yang kehilangan dia." Sam melanjutkan ucapannya, namun kali ini dengan intonasi yang sedikit melembut.


"Aku mau ke taman pagi ini, terserah kamu membolehkan atau gak."


Sekali lagi, sikap diam yang menjadi pilihan Maya. Ia urung menghabiskan sarapannya. Maya berdiri dan mendorong kursi yang ia tempati sehingga terdengar suara derit dari kaki-kaki kursi yang menyentuh lantai.


Maya berjalan naik menuju ke kamarnya, meninggalkan Samuel yang masih duduk mematung di ruang makan.


"Sial....!! Damn.....!!" umpat Sam kasar dan bersamaan terdengar suara denting pisau dan garpu yang membentur piring bundar berbahan keramik.


.....


Di bawah pohon rindang yang berada di sudut taman, Maya duduk pada salah satu kursi taman lengkap dengan meja bundar kecil di hadapannya. Pikiran Maya melayang kini, kembali ke masa lalu, taman ini adalah tempat pertemuan pertama kalinya dengan Samuel. Di taman ini juga beberapa bulan lalu Maya memberikan kejutan tentang kehamilannya pada Sam.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Kehilangan seorang bayi yang masih berada dalam kandungan merupakan kenyataan terpahit dalam kehidupannya bersama Samuel.


Dari kejauhan kedua netra Maya memperhatikan secara seksama seorang bocah kecil yang berumur sekitar empat tahunan sedang bermain seorang diri tanpa pengawasan dari siapapun.


Maya mengernyit sebentar, kepalanya berputar sembari mengedarkan pandangannya mengitari seluruh sudut taman kota. Dan memang benar saja, anak laki-laki yang dari kejauhan terlihat sangat tampan itu sedang asik nya memainkan satu benda kecil di tangannya.


Maya semakin terkejut ketika menyadari siapa sosok anak kecil berwajah tampan tersebut. Samudra--? pikir Maya heran.


"Am....!" seru Maya sembari mendekat ke arah Samudra.


"Onty Aya.....!" seru Samudra seraya melambaikan kedua tangannya, tak lama kemudian terlihat anak kecil itu berlari menuju ke dalam pelukan Maya.


"Mommy kamu mana, Am?"


Samudra hanya menggeleng kecil merespon apa yang Maya tanyakan.


"Kamu tadi kesini sama siapa?"


"Sustel...."


"Sekarang suster nya kemana?" tanya Maya sembari menoleh kanan-kiri seluruh sudut taman kota dan hasilnya nihil.


"Onty..... main ama Am, yuk...." rengek anak itu, tangan mungilnya meraih jemari Maya dan menggeretnya ke salah satu kursi taman yang lain.


"Onty.... onty.... Am mau itu.... itu... beli onty...." tunjuk Samudra ke arah bapak penjual gelembung sabun. Maya tersenyum kecil lalu menggandeng lengan mungil Samudra.


"Nah, Am mo yang warna apa?"


"Bilu....bilu.... Am mau itu...." rengek Samudra sembari menunjukkan telunjuknya mengarah pada cairan berwarna biru dalam wadah sederhana itu.


"Iya-iya sebentar biar bapak yang ambilkan ya Am." Maya berujar dengan senyuman ceria ke arah anak mungil itu.


"Pak, minta yang warna biru dong. Kasih dua ya." Ucap Maya sopan, kini ia raih tubuh mungil Samudra dan membawanya ke dalam gendongannya.


Si bapak penjual mainan itu pun tersenyum senang, mungkin dalam pikirannya ia gembira karena akhirnya ada juga yang membeli barang dagangannya.


Samudra meraih bungkusan plastik bening dari uluran tangan si bapak tua penjual gelembung sabun tadi, yang diikuti uluran tangan Maya menyerahkan selembar uang berwarna merah ke arah si bapak penjual sabun tersebut. "Kembalian nya buat bapak aja ya," ucap Maya tulus.


"Makasih neng...." jawab si bapak sembari mengangguk sopan.


☆☆


"Nah.... Am sekarang onty anter ke cafe ya, kita ketemu mommy nya Am."


Samudra menggeleng pelan.


"Am mo main cama onty Aya.... onty iup ini.... iup.... iup...." rengek Samudra kembali, ia ulurkan botol gelembung sabun berwarna biru tadi ke arah Maya.


Maya tersenyum sejenak dan menggeleng-geleng kepala pelan. "Oke, tapi udah itu kita ke cafe ya..." Samudra akhirnya mengangguk setuju dan tak lama terdengar gelak tawa keduanya, beserta gelembung-gelembung sabun yang terbang di udara ketika Maya dan Samudra meniupnya bersamaan.


Membuat beban kesedihan Maya kini berangsur membaik. Dahulu ia bersama Samuel tertawa bersama di taman ini, dan kini ia kembali tertawa bersama dengan seorang anak kecil yang juga bernama Sam dan berhasil menghapus kesedihannya saat ini.


....


Cafe


Raut wajah Martha terlihat sangat khawatir ketika sang suster yang menjaga Samudra tiba-tiba saja menelepon dan memberitahukan bahwa anak itu menghilang. Pagi itu Samudra berucap ingin bermain di taman kota, karena Martha masih sangat disibukkan oleh urusan cafe ia pun menyuruh suster pribadi Samudra untuk menjaganya bermain-main di taman.


Namun kini, ia begitu panik saat sang suster mengatakan jika Samudra menghilang. Suster itu mengaku bersalah karena lengah dalam menjaga Samudra.


Berkali-kali ia melakukan panggilan seluler ke ponsel Harris, namun selalu dijawab oleh mesin penjawab. "Oh c'mon mas Harris.... jawab...." Martha bermonolog sembari terus mencoba melakukan panggilan seluler ke nomor Harris.


Hingga tiba-tiba....


"Mommy...." teriakan Samudra yang disusul dengan larinya anak itu kedalam pelukan Martha.


Membuat Maya tersenyum kecil melihatnya, lalu kesedihan itu muncul kembali.


Seandainya saja.....


Batin Maya nanar melihat Samudra memeluk Martha dengan sangat hangat.


to be continue.....