
Setelah tamu pelayat tidak lagi terlalu ramai, Samuel, Maya dan juga lima orang keluarga dari Harris, mereka terlihat duduk di sebuah sofa panjang menunggu sang pengacara untuk menuturkan apa yang menjadi wasiat atau pesan terakhir almarhum.
Maya duduk bersanding bersama Samuel, dengan salah satu tangan yang melingkar ke lengan Samuel dan mengaitkan kelima jemarinya ke dalam jemari Samuel.
Sementara orang-orang yang lainnya hanya duduk bersanding tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka, meskipun hanya sekedar basa basi.
"Baiklah, saya akan memulai membacakan wasiat terakhir dari klien saya, yaitu dokter Harris Pratama dan juga nyonya Martha Anindia Baskoro Pratama," ucap sang pengacara dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Tak kalah dengan sang pengacara, beberapa orang yang duduk dalam satu sofa besar itu pun kini mengambil sikap yang sama seriusnya, termasuk Maya dan juga Samuel.
Sang pengacara lalu membuka satu map berwarna coklat yang masih ber-segel rapat.
"Ehem...!!" sang pengacara berdehem sejenak dan menjeda sebentar kalimatnya. Lalu sang pengacara bersiap untuk membacakan tulisan yang masih bersegel tadi.
"Kami yang bertanda tangan di bawah ini, atas nama Harris Pratama dan juga istri saya Martha Anindia Baskoro Pratama ingin menyampaikan wasiat untuk sahabat kami yang sudah kami anggap seperti keluarga kami, yaitu-- saudari Maya Aulia Perdana dan juga suaminya Samuel Perdana untuk menjadi orang tua asuh anak kami yang bernama Samudra Baskoro Pratama. Kami mempercayakan putra kami kepada mereka berdua dan kami harap tidak ada seorang pun yang menghalanginya---"
Sang pengacara menjeda kembali ucapannya, kini pandangannya berrotasi ke semua orang yang duduk di hadapannya. Dibalik kaca mata beningnya, sang pengacara mengamati satu persatu keluarga dari Harris yang saat itu saling berbisik satu sama lain. Menatap terkejut ke arah Maya dan juga Samuel. Hingga menimbulkan sedikit keributan kecil.
Sementara Maya dan juga Samuel saling menatap satu sama lain, binar kebahagiaan terlihat jelas di dalam manik mata hitam milik Maya.
"Tolong kalian tenang dulu, saya akan bacakan wasiat selanjutnya," lanjut sang pengacara dengan sikap tegasnya.
"Kami mewariskan tabungan dan juga deposito sebesar tiga milyar rupiah untuk putra kami Samudra Baskoro Pratama yang bisa dicairkan jika ia sudah berusia tujuh belas tahun nanti. Untuk rumah, villa dan juga beberapa tanah seluas seratus hektar yang berada di Bogor, pun kami wariskan untuk Samudra, putra kami."
Kembali sang pengacara menjeda kalimatnya ketika suara-suara dan bisik-bisik ribut terdengar dari pihak keluarga Harris.
"Pengacara, apa isi dari wasiat Harris kakak kami ini benar-benar asli dari dia?" tanya salah satu anggota keluarga Harris.
"Maaf nyonya, surat wasiat ini ditulis sendiri oleh klien saya, dokter Harris Pratama dan dengan sepengetahuan nyonya Martha, istri beliau."
"Kami hanya takut jika wasiat itu disabotase orang lain," ucap salah seorang keluarga Harris yang lainnya.
"Surat wasiat ini asli tulisan tangan dan ketika ditandatangani oleh kedua almarhum disaksikan langsung oleh pihak notaris." Pengacara itu menjawab dengan tegas dan juga ekspresi yang sangat serius.
"Bisa saya lanjutkan kembali?" tanya sang pengacara lagi. Seluruh yang hadir pada saat itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa lagi membantah.
"Saya dan istri saya juga mewariskan biaya pendidikan anak kami sebesar dua milyar rupiah dan seluruhnya saya minta saudara Maya serta Samuel yang mengatur keuangannya. Dan untuk bibik, kami siapkan uang seratus juta rupiah karena bibik dengan setia melayani keluarga kami selama bertahun-tahun. Kami juga berharap bibik bisa mengikuti keluarga saudara Samuel dan Maya untuk mengurus anak kami, Samudra.
Demikian surat wasiat kami. Surat wasiat ini kami buat dalam keadaan sadar dan tanpa ada pemaksaan dari pihak manapun." Ucap sang pengacara yang melanjutkan kembali bacaan dari surat wasiat Harris dan Martha, kemudian meletakkan kembali kertas dokumen wasiat tersebut di atas meja kayu berukir kokoh itu.
Si bibik yang juga ikut mendengar pembacaan wasiat dari kedua majikannya pun tersentak kaget tatkala mendengar namanya disebut dalam surat wasiat itu.
"Demikian surat wasiat klien saya, dan saya harap bisa diterima oleh semua pihak. Saya tegaskan lagi, tidak ada kecurangan atau kesalahan dalam dokumen surat ini. Karena klien saya sendiri yang membuatnya dengan tulisan tangan beliau sendiri. Jika kalian ingin melihat silahkan." Pengacara berpenampilan rapi tersebut kemudian menyodorkan beberapa lembar kertas wasiat ke keluarga Harris, karena yang terlihat tidak puas dengan keputusan wasiat Harris adalah mereka.
Bergantian mereka membacanya seksama, dan memang benar tulisan tersebut adalah tulisan tangan Harris, tanda tangannya pun asli tanda tangan Harris.
"Maaf pengacara kalau boleh saya tau, kapan mereka membuat surat wasiat ini?" tanya Samuel heran.
"Tuan Harris dan nyonya Martha mendatangi kantor saya sekitar dua bulan yang lalu. Dan beliau berdua memutuskan membuat surat wasiat tersebut," jawab pengacara Andi.
"Saya pun tidak menyangka, mungkin mereka sudah bisa merasakan tragedi yang akan mereka alami," lanjutnya lagi.
Maya masih tidak percaya dengan isi wasiat Martha dan juga Harris. Yang ia pedulikan hanyalah keputusan almarhum yang mempercayakan hak asuh Samudra pada dirinya dan Samuel. Bagi Maya tak ada yang dapat mengganti kegembiraan tersebut dengan apapun.
"Sayang, aku seneng hak asuh Samudra ada di kita," ucap Maya dengan binar mata berkaca-kaca.
"Iya, sayang dan semoga tidak ada pihak lain yang protes akan keputusan wasiat Martha dan juga Harris."
"Hm." Maya mengangguk senang.
"Iya kami siap tuan pengacara. Kami akan merawat Samudra Baskoro Pratama dengan baik layaknya putra kami sendiri." Ucap Samuel tegas dan berwibawa. Maya pun mengangguk membenarkan ucapan Samuel, suaminya.
"Baiklah kalau begitu, saya anggap semua yang ada disini setuju dan menerima wasiat almarhum."
"Tapi pengacara, kenapa kami yang keluarga dari Harris tidak mendapat apapun atas harta kakak kami? kenapa malah pembantu tua renta itu yang mendapat sebagian harta kakak kami?" tanya seorang wanita anggun dengan pakaian dan perhiasan mewah. Ekspresi yang wanita itu tunjukkan pun sangat sombong.
"Maaf saya juga tidak tahu menahu masalah itu. Ini keputusan wasiat tuan Harris dan saya tidak bisa menjawab ucapan Anda. Sekarang saya permisi. Untuk tuan Samuel dan nyonya Maya, saya tunggu anda di kantor saya besok pukul sembilan pagi dan untuk bibik--" sang pengacara menjeda sejenak ucapannya dan melihat ke arah bibik yang dari tadi pun ikut mendengar pembacaan wasiat majikannya.
"Saya juga menunggu anda besok di kantor saya pukul sembilan pagi, akan saya siapkan uang yang tuan Harris berikan untuk Anda," lanjut sang pengacara Harris.
"B-bbaik Tuan...." jawab si bibik tanpa bisa berucap lebih banyak lagi.
Pengacara yang terlihat maskulin itu pun kini berdiri setelah merapikan berkas-berkas dokumen dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.
"Saya permisi dulu."
Sam menyambut uluran jabat tangan pengacara itu lalu berjalan mengantarkan sang pengacara hingga pintu utama mansion milik almarhum Harris.
"Terima kasih, pengacara Andi." Samuel kembali menjabat tangan pengacara itu erat sebelum laki-laki berjas dan berdasi rapi itu meninggalkan mansion besar tersebut.
Pengacara Andi pun menyambut jabat tangan Samuel lalu melangkah keluar dari pintu utama.
Ada kelegaan di sorot mata Samuel dengan keputusan Martha dan Harris mengenai hak asuh Samudra.
Sam berjanji akan merawat anak itu sebaik-baiknya dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri.
"Sayang."
"Hm?"
Samuel menoleh ke arah Maya yang kini berjalan mendekatinya, menyambut gadis itu dengan lengkungan senyuman lebar.
"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Aku mau melihat keadaan, Am."
"Iya, kita ke rumah sakit sekarang." Sam mengangguk sembari mencium kening Maya.
Baru saja beberapa langkah dari keduanya, si bibik tiba-tiba memanggil.
"Non Maya...!"
Spontan langkah Maya dan juga Samuel terhenti dan menoleh ke arah bibik.
"Iya bik?"
"Bibik boleh kan ikut non Maya dan aden Sam untuk menjenguk tuan muda Samudra?" pinta bibik.
Maya tersenyum sejenak, "Boleh dong bik, ya udah kita berangkat sekarang?" tanya Maya sembari melirik ke arah suaminya. Anggukan kepala Samuel pun merespon, lalu ketiganya kini berjalan meninggalkan rumah Harris.
"Rumahnya gak apa-apa ditinggal bik?"
"Sebentar saja kok non, bibik tadi sudah minta ijin sama mang Diman dan Iyem untuk gantiin bibik jaga rumah."
"Oh-bagus kalo gitu," jawab Maya sambil manggut-manggut.
to be continue...