
Dean tersenyum simpul begitu membaca pesan singkat yang tiba-tiba masuk ke ponsel pintar miliknya.
Sam dan Maya mengundangnya dinner malam ini.
Meski ada sedikit rasa heran, namun Dean tidak mempermasalahkan. Dean bahkan merasa senang karena malam ini ia bisa melihat Maya lagi.
Tiba-tiba ditengah rasa senangnya atas undangan dari Samuel, ponsel pintar itu pun kembali berdering.
Kali ini pesan dari orang utusannya yang menyelidiki soal keluarga Permana. orang-orang bayaran Dean akhirnya mendapat informasi jika kejadian masa silam di keluarga Permana adalah ulah dari beberapa patner bisnis Permana. Dean mendapatkan nama salah satu pelaku yang melakukan penculikan salah satu anak dari Permana.
Belum sampai dia membaca keseluruhan tentang informasi yang ia dapat, dengan segera Dean mematikan ponselnya.
Informasi ini bisa menunggu, pikir Dean. Lagi pula ia sudah tidak sabar untuk pulang. Sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul lima sore.
Dean harus pulang dan bersiap-siap menghadiri undangan makan malam dari Maya.
Dia bahkan sudah tidak sabar ingin segera melihat sosok perempuan yang akhir-akhir ini selalu mengusiknya.
....
Sam bersiap diri, memakai celana jeans model skinny berwana abu dengan dipadukan Tshirt putih berlengan pendek tanpa kerah. Terlihat simple, kali ini dengan rambut tanpa pomade yang sedikit ia kuncir bergaya ponytail.
Sementara Maya bersiap mengenakan gaun pink pucat berbahan viscose cotton premium yang lentur. Dengan potongan leher V pendek dan Menonjolkan bentuk perut yang semakin membulat. Gaun di bawah lutut yang sangat elegant dan begitu simple.
"Ish-ganteng nya suamiku ini...." goda Maya begitu ia melihat Sam dari pantulan kaca besar di kamar mereka.
Sam tersenyum dan mendekat ke arah Maya, melingkarkan kedua lengannya ke pinggang sang istri yang kini tidak lagi terlihat ramping.
Namun Sam tetap menyukai untuk memeluknya.
"Kamu juga cantik, sayang." Sam mencium pipi kanan Maya lalu berangsur menciumi leher istrinya. Aroma parfum bubble gum milik Maya yang menguar dari leher dan seluruh tubuhnya memberikan sensasi segar dan begitu menenangkan.
"Tapi aku sekarang terlihat gendut," rengek Maya dengan bibir mengerucut lucu.
"No-you not, you still looks so pretty, honey.... like always." Sam berbisik lembut.
Maya tersenyum dan menggeliat geli ketika bibir Sam mendaratkan ribuan kecupan kecil ke cuping telinga lalu semakin turun ke leher putihnya.
"Suami.... geli ih...." kekeh Maya.
tok....tok...tok....
"Maaf tuan muda, tamunya sudah ada di bawah." Suara mbak Pur terdengar dari luar pintu kamar keduanya.
Membuat Sam menghentikan aktivitas nya barusan.
"Iya mbak, persilahkan dia masuk dan duduk dulu," jawab Samuel dari dalam kamar tanpa membuka knop pintu kamarnya.
"Baik tuan muda."
Selepas jawaban dari mbak Pur, wanita gempal itu pun meninggalkan pintu kamar Sam dan Maya.
"Tuh kan..... rambut aku jadi acak-acakan lagi deh..." cicit Maya.
Sam hanya tersenyum kecil sembari kembali mengecup kedua pipi istrinya. Lalu ia pun keluar dari kamar dan bersiap menemui Dean.
.....
Samuel menuruni anak tangga dan melihat pria tampan dengan tubuh atletisnya sedang berdiri mengamati beberapa buah bingkai foto yang terpajang rapi di atas nakas kayu berukir.
Beberapa bingkai foto Sam dan Maya, beberapa foto itu diambil saat keduanya masih berpacaran. Dean bisa melihat senyum keduanya mengembang penuh kebahagiaan, meskipun hanya gambaran dalam sebuah potret namun Dean bisa merasakan kebahagian keduanya.
Tangan Dean kini meraih satu foto Sam dan Maya yang memeluk Samudra di tengah-tengah mereka. Keduanya pun mencium kedua pipi gembul bocah itu. Lagi-lagi ekspresi wajah bahagia ketiganya membuat Dean iri.
Hingga kini mata Dean beralih ke sebuah foto pernikahan. Foto dengan posisi saling memandang dan dicetak dalam kertas hitam putih.
Sorot mata Maya dan Samuel pun terlihat jika keduanya memiliki cinta yang luar biasa besar. Seolah keduanya memang ditakdirkan untuk bersama. Dean bisa melihat itu.
Senyuman kecut Dean kembali mengembang samar melihat keseluruhan potret keluarga milik Sam.
"Selamat datang di rumah kami Dean," ucap Samuel yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Dean.
Pria tampan itu menoleh ke belakang dan lalu tersenyum kecil. Juluran tangan Dean pun terulur ke arah Sam.
"Terima kasih sudah mengundang saya di rumah kalian Sam." Dean menerima jabatan tangan Sam dengan tulus.
Sam mengangguk pelan lalu mempersilahkan sang tamu duduk pada sofa di ruang utama mansion.
"Silahkan duduk dulu." Sam mempersilahkan.
"Oh ya dimana Samudra? dari tadi aku tidak melihatnya." Dean bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan luas dengan banyak pernak-pernik mahal yang menghiasi.
"Samudra beberapa hari ini menginap di rumah kedua orang tuaku." Jawab Samuel.
Sam mengamati sosok pria bertubuh atletis dengan wajah yang sangat tampan di hadapannya malam ini.
"Jadi.... kalian sudah lama menikahnya?" Dean membuka percakapan.
"Kurang lebih hampir lima tahun," jawab Sam.
"Oh-pastilah kalian telah melewati beberapa macam peristiwa dalam rumah tangga kalian."
"Itu benar, kami telah melewati segala permasalahan dalam pernikahan kami." Sam menjeda kalimatnya.
"Dan saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menghancurkan apa yang sudah kami bangun." Sam melanjutkan kembali kalimatnya.
Dean sedikit menyeringai.
"Gue paham maksud lo Sam."
"Kita tidak sedang ada di perusahaan ataupun dalam situasi formal. Jadi berhenti saling memanggil dengan kata saya ataupun anda. Bisakan, Sam?"
Sam mengedikkan sedikit bahunya menjawab apa yang Dean ucapkan.
"Why not?" balas Samuel singkat.
Hingga beberapa menit saat keduanya saling berbincang, datanglah sosok perempuan cantik bergaun pink pucat berjalan ke arah keduanya. Sepatu flat tanpa heels pun menyamarkan kedatangannya.
Membuat Dean seketika itu juga membulatkan kedua matanya melihat kedatangan Maya.
"Selamat datang tuan Sanjaya," sapa perempuan yang tengah berbadan dua itu.
Maya pun menjulurkan tangan kanannya ke arah Dean dan secepat kilat Dean merespon.
"Panggil saja Dean," jawab Dean dengan penekanan.
"Oh-baiklah. Selamat datang di rumah kami Dean." Maya mengulang lagi ucapannya, dan direspon oleh anggukan kepala Dean.
Malam itu Dean mengenakan celana jeans dengan model yang sama persis milik Samuel. Hanya saja Dean lebih memilih kemeja berlengan panjang. Dan itu membuat Maya sedikit kecewa.
Ketiganya melewati makan malam dengan beberapa obrolan, mulai dari obrolan Samuel dengan Dean yang membicarakan masalah bisnis hingga obrolan ringan soal beberapa percakapan receh tentang apa saja. Tentu saja obrolan receh tersebut Maya duluan yang memulainya.
Dean pun beberapa kali memuji masakan Maya malam ini, baginya sangat jarang sekali ia merasakan masakan rumah seperti saat ini.
Kehidupan pribadi Dean yang tertutup dan selama ini tinggal sendirian di apartemen memang membuatnya sangat jarang makan dalam satu meja bersama orang lain meskipun itu dengan keluarganya sendiri.
....
Hingga akhirnya keduanya duduk bersama dalam satu sofa besar berwarna maroon. Begitu dekat jarak Dean dengan Maya, sehingga ia bisa melihat sorot bening iris hitam pekat berpadu dengan alis mata tebal melengkung.
Dean pun dapat melihat senyuman tulus Maya yang tanpa ia buat-buat, seperti beberapa wanita yang selama ini dekat dengannya.
"Terima kasih sudah mengundang ku dalam makan malam ini," ucap Dean.
"Terima kasih kembali Dean, saya dan Sam pun berterima kasih atas hadiah dari kamu."
Dean perlahan tertawa kecil sembari memandang wajah perempuan yang tengah berbadan dua di hadapannya.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu kah?"
"Gak-aku seneng aja kamu akhirnya tidak memanggil ku dengan sebutan tuan-anda ataupun sebutan formal lainnya seperti kemarin-kemarin." Dean terkekeh kecil, melihat kedua netra hitam jernih di hadapannya yang juga mulai menyipit akibat senyuman lebarnya.
"Hehehe--- kemarin aku hanya ingin bersikap sopan terhadap klien suamiku."
Maya terkesikap melihatnya, entah kenapa iris kebiruan itu seakan memang mengisyaratkan jika laki-laki tampan dan mapan di hadapannya saat ini memang ada hati untuknya.
Ah tidak.... tidak boleh seperti ini, batin Maya.
"Oh ya jika boleh tau, kamu ada berapa bersaudara Dean?" Maya mencoba mengalihkan tatapan mata itu.
Dean tersenyum sebentar.
"Aku mempunyai dua saudara laki-laki yang tiga tahun lebih muda."
Maya membulatkan bibirnya untuk ber-oh-ria.
"Pasti mereka juga seorang pengusaha seperti kamu dan ayah kamu."
"Ya begitulah, dari kecil kami sudah diajarkan bagaimana mengurus perusahaan."
Lagi-lagi Maya membulatkan bibirnya sembari manggut-manggut.
"Lalu ayah dan ibu kamu--- apakah kamu dekat dengan mereka?"
Dean sekilas mengangkat satu alis tebalnya mendengar pertanyaan dari Maya.
"Eh-eemm-maksud aku pastilah kalian sangat jarang bertemu ya? Karena kamu sibuk dan ayah kamu juga pastinya sibuk dengan bisnis-bisnis besar kalian." Maya menjelaskan dengan sedikit canggung.
"Dari kecil orang tua ku mendidik aku dengan sangat keras, terutama ayahku." Ekspresi wajah Dean kini terlihat sedikit kaku.
"Bahkan dulu aku merasa jika aku bukanlah anak mereka," lanjut Dean.
Maya kembali mengerjap.
"Kenapa bisa begitu?"
"Perlakuan mereka terhadap ku sangat berbeda dengan kedua saudaraku yang lain. Mereka bahkan mengirimku ke London sejak aku berumur kurang lebih sepuluh tahun hingga aku berusia dua puluh tahun." Dean menjeda sejenak ucapannya.
"Tanpa memberiku ijin pulang ke Indonesia." Dean melanjutkan.
Maya bisa melihat ada luka masa lalu dari sorot mata Dean.
"Oh maaf-aku gak bermaksud---"
"It's okay--- lagipula itu masa lalu." Dean menyela ucapan Maya.
Dean terlihat membuka kancing lengan kemejanya dan melipat lengan kemeja hingga batas siku.
Maya membulatkan kedua matanya ketika kembali melihat satu tanda bekas luka di lengan kanan Dean.
"Eh-eemm-boleh saya tau bekas luka di lengan kamu, bagaimana ceritanya?"
Perhatian Dean beralih sebentar pada bekas luka di lengan kanannya lalu menatap kembali wajah Maya. Sembari sedikit mengedikkan bahu lebarnya.
"Entahlah, aku sendiri tidak pernah mengingat bagaimana aku bisa memiliki bekas luka ini."
Maya mengerutkan keningnya.
"Benarkah?" tanya nya heran.
Dean mengangguk, sedetik kemudian Dean pun meraih sesuatu di leher dari balik kemejanya.
"Ini pun aku gak tau kunci apa, berulang kali aku mencoba mengingat-ingat namun selalu saja aku menemui jalan buntu." Dean bercerita tentang kalung dengan sebuah kunci kecil yang tergantung di leher kokohnya.
"Apakah kamu tidak mengingat nya sama sekali? Bagaimana dengan orang tua kamu? Kenapa gak bertanya ke mereka?"
Dean menggeleng.
"Aku pernah mencoba bertanya ke mereka, namun mereka bilang jika kunci ini tidak berharga dan menyuruh ku untuk membuang nya."
Dari cerita Dean, Maya merasa aneh. Bekas luka? Kunci? apakah benar apa yang mengganggu pikirannya selama ini? batin Maya.
"Boleh aku bertanya?"
Dean mengangguk kali ini. "Tentu saja boleh May."
"Kamu tadi bilang kalau kamu kadang merasa jika kamu bukan anak kedua orang tua kamu--- tapi kenapa mereka mempercayakan beberapa perusahaan mereka ke kamu?"
"Entahlah, mungkin mereka berfikir jika aku mesin uang buat mereka."
"Maksud nya?"
"Sejak perusahaan mereka aku handel semua bisnis keluarga ku semakin berkembang. Dan kakek ku lah yang memerintahkan jika sebagian perusahaan milik nya di wariskan pada ku."
"Kakek kamu? Kamu mengenal beliau?"
Dean tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Maya.
"Of course i know him...." kekeh Dean.
Oh.... senyuman itu mengingatkan Maya akan senyum Samuel. Sam pun memiliki senyuman seindah itu, seolah ada ribuan gemintang bersinar di kedua lensa kebiruan itu.
"Namun ingatan ku hanya berawal ketika aku berumur sekitar sepuluh tahunan. Sebelum itu aku bahkan tidak mengingat apa-apa soal kakek ku," jawab Dean.
Maya masih tertegun dengan cerita yang Dean ucapkan, ia bahkan tidak menyangka jika Dean dengan begitu saja menceritakan tentang pribadinya.
"Eemm.... apa tidak ada---"
Tiba-tiba saja Sam mendekat.
"Kalian terlihat seru, membicarakan apa hm?"
Samuel datang ke arah keduanya, dan menghentikan pertanyaan yang baru saja akan Maya ajukan kepada Dean Sanjaya.
"Sam--- oh-enggak kita hanya mengobrol hal-hal kecil aja kok." Jawab Maya menyembunyikan kegugupannya.
Sam duduk di dekat Maya dan merangkulkan lengannya pada pundak perempuan itu. Satu kecupan pun mendarat pada puncak kepala Maya.
"Tapi kalian terlihat seru saat berbicara berdua."
"Benarkah?" tanya Maya.
"Sam, lo tidak perlu cemburu ke gue. Jujur, gue memang menyukai Maya tapi lo gak perlu khawatir karena gue bukan Elano." Dean menyeringai sebentar.
Membuat Samuel kembali memasang wajah berang nya.
Sedangkan Maya terlihat membulatkan kedua netra hitamnya, mendengar penuturan Dean barusan membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Oke, sudah malam dan mungkin sebaiknya gue pamit."
Dean berdiri dari duduknya.
"Oh-ya terima kasih undangan makan malam nya, Maya."
Maya mengangguk spontan, senyum kecil pun ia tarik di kedua sudut bibirnya.
Lagi-lagi darah Sam mendidih. Mendengar Dean kembali menyebutkan nama Maya dengan nada lembut.
"Sam-senang bisa mengenal lo dan istri lo lebih dekat lagi. Gue yakin kalo kerjasama bisnis kita tidak akan ada masalah." Dean menjulurkan tangannya ke arah Sam, yang tidak langsung Sam respon.
"Sam---" ucap Maya dengan memberi isyarat jika ia harus menerima uluran tangan Dean.
Sam akhirnya merespon, menerima jabatan tangan Dean dengan sedikit ekspresi yang ia paksakan.
"Ok-good night Maya. Senang kita bisa ngobrol malam ini." Dean meraih pundak Maya dengan jemari yang terlihat samar mengelus pundak putih Maya yang tidak terbungkus gaun.
Dean berjalan meninggalkan Samuel yang masih terlihat sangat kesal.
"Kalian ngomongin apa aja tadi?" ketus Sam.
Sementara Maya menghembuskan napas berat, pandangannya kini beralih ke arah Samuel.
to be continue....