
"Seratus juta, sesuai yang kamu butuhkan." Elano berdiri di samping ranjang, bertelanjang dada dan terlihat hanya memakai boxer pendeknya. Menyodorkan selembar cek dengan nominal seratus juta kepada Freya. Yang dengan cepat Freya meraihnya dari tangan El lalu tersenyum puas. Gadis itu masih terbaring di atas kasur Elano, dengan tubuh yang hanya terbalut selimut tebal berwarna coklat tua. Seringai kecil tertarik dari sudut bibir merahnya. Mengamati dengan seksama selembar cek yang baru saja Elano berikan. "Ini bukan cek kosong kan, El?" Freya mengibas-ngibaskan kertas tersebut ke arah Elano.
"Kamu pikir aku orang miskin, hah?" dengus El. Pria itu kini berjalan ke arah balkon apartemen. Mengeluarkan sebatang rokok dan mematiknya.
Dia menghisap dalam-dalam rokok yang telah terbakar ujungnya, merasakan nikotin yang bisa membuatnya melupakan permasalahannya sendiri. Hingga bibirnya mengeluarkan hembusan napas panjang yang diikuti oleh kepulan asap putih tipis. Berulang kali ia melakukannya, menghisap dalam rokok yang terselip di sela jemarinya lalu mengeluarkan semua asap putih dari mulutnya.
Freya berjalan ke arah Elano masih dengan selimut yang membalut tubuh polosnya, mendekap tubuh El dari belakang dan membungkus punggung Elano dengan selimut tebal berwarna coklat tua. Kini tubuh mereka sama-sama terbungkus dalam satu selimut tebal milik Elano.
"Kamu mikirin apa, El?" tanya Freya, menempelkan pipinya pada punggung Elano yang telanjang. Elano membuang napas sebentar, masih menghisap dalam-dalam rokok yang berada dalam sela jemarinya. "Aku menikam Samuel di bar," ucap Elano tanpa ekspresi. Membuat wajah Freya seketika berubah.
"Apa kamu gila, El! Kamu bisa di tuntut gara-gara kegilaan kamu itu." Kini Freya melepaskan pelukannya, memandang lekat wajah Elano.
Elano mendecih sinis, "Kamu pikir aku gak bisa menyelesaikan masalah ini?!"
Pria itu kini berjalan kembali menuju dalam apartemen.
"Terus bagaimana keadaan Sam? Apa dia masih hidup?" tanya Freya dengan nada ingin tahunya.
"Kenapa? Kamu khawatir sama dia, hah?!" ketus Elano.
Hanya dengusan kecil yang keluar dari mulut Freya, sesudahnya ia melangkah kembali mendekati Elano.
....
"Tolong urus semuanya, saya ingin dia mendapat hukuman atas perbuatannya."
"Baiklah, saya akan melayangkan tuntutan kepada saudara Elano Wijaya. Saya yakin semua bukti yang sudah jelas akan memberatkan Elano." Jawab pengacara Rudi dengan raut wajah yakin.
"Semuanya saya serahkan kepada anda, pengacara Rudi," ucap Samuel, menerima jabatan tangan dari pengacara pribadinya sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang rumah sakit.
"Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Secepatnya akan saya usahakan kasus ini cepat naik ke pengadilan tinggi." Ucap sang pengacara berpenampilan rapi itu lagi, sebelum ia pamit keluar dari ruang rawat inap Samuel.
"Sam... bagaimana keadaan kamu, nak? Itu tadi pengacara Rudi? Kamu mau buat tuntutan kepada pria yang menyerang kamu dan Maya?" Anita langsung saja melayangkan berbagai pertanyaan pada Sam. Wanita itu mendekat ke arah Sam dan mencium lembut kening anak semata wayangnya itu.
"Sam baik, Ma. Iya Sam akan mengajukan tuntutan terhadap Elano. Sam tidak bisa tinggal diam melihat pria itu melukai Maya." Samuel perlahan berusaha bangkit dari tempat tidur, ia terlihat sedikit tidak nyaman karena seharian tubuhnya di atas ranjang rumah sakit.
"Semoga semuanya lancar, Mama doain kalian."
"Thanks, Mom..." Sam meraih punggung tangan Anita dan menciumnya lembut.
"Oh ya Papa masih belum bisa pulang ke Indo. Papa titip salam buat kamu," ucap Anita lagi, sambil mencuci berbagai macam buah kesukaan Sam lalu menaruhnya ke dalam kulkas kecil yang ada di sudut ruangan kamar rawat Sam.
"It's ok, Mom. Lagi pula Sam gak apa-apa kok. Oh ya mama kesini gak bareng Maya tadi?" Tanya Sam sambil menerima potongan apel hijau dari Anita, lalu memasukan ke mulutnya dengan lahap.
"Enggak tuh, mungkin sebentar lagi Maya kesini. Kamu tunggu aja." Anita tersenyum kecil melihat ekspresi Samuel yang gelisah.
"Kamu tenang aja, Sam. Tunangan kamu itu pasti ke sini. Tadi Maya bilang ia masih sibuk membuatkan kamu bubur ayam spesial." Goda Anita, tertawa kecil dan mengusap kening anaknya.
"Mama seneng kamu bertemu Maya, Sam. Bukan gadis lain." Anita memotong sebentar ucapannya, kembali membelai lembut rambut ikal Sam.
"Mama minta maaf, dulu pernah tidak menyetujui kalian," lanjut Anita.
"Ma, kejadian yang lalu gak usah diungkit lagi. Yang terpenting Sam dan Maya bisa selalu bersama."
"Aamiin...." jawab Anita, tersenyum bahagia bersama Samuel, seperti saat dulu. Ketika Sam masih kanak-kanak.
"Pernikahan kalian lebih baik dipercepat, Sam."
"Kasihan Maya, kalau kalian sudah menikah kan kamu bisa lebih menjaga dia." Anita melanjutkan lagi kalimatnya, membuat Sam mengangguk pelan. Dia memang berencana seperti itu. Menikah dengan Maya dan akan selalu melindungi gadis itu tanpa harus membatasi pergaulannya.
Kemarin pun rencana pernikahan itu Sam majukan, namun setelah Maya yang tiba-tiba pingsan saat di boutique milik Vivian. Ditambah lagi dengan masalah Freya yang tiba-tiba berusaha menyerang Maya dan terakhir hari ini, ketika Sam mendapat luka tikaman dari El.
Dan sepertinya rencana pernikahan itu harus tertunda hingga Sam benar-benar sembuh dan permasalahan mereka dengan Elano selesai.
"Setelah semua selesai, kami akan menikah, Mama doain aja ya."
Anita mengangguk pelan, tersenyum dan mengusap pundak Samuel.
.....
Knop pintu kamar rawat Samuel terbuka tiba-tiba, membuat Sam yang tadinya tertidur selepas kepulangan Anita, kini spontan menoleh ke arah ujung pintu. Berharap Maya yang berdiri di sana.
"Hai Sam..."
Seketika Samuel mendegus kesal, merotasikan kedua netranya ke arah lain begitu melihat sosok gadis yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
"Ngapain kamu kesini, Fe?" decih Sam kesal.
"Aku denger kamu terluka dan aku khawatir sama kamu, Sam..." Freya mendekat, berusaha meraih pundak Samuel.
"Aku baik-baik saja, Fe." Samuel berusaha menghindari jemari lentik Freya yang hampir saja menyentuh pundaknya.
Membuat Freya sedikit terlihat kecewa, kesedihan nampak di wajah cantiknya.
"Aduhh Sam... kamu kok belum makan sih? sini aku suapin ya..." Freya langsung meraih mangkuk bubur yang terletak di atas nakas samping tempat tidur Sam.
"Buka mulut kamu, Sam.... ayo..." Freya mengangkat satu suapan dan mendekatkan ke mulut Sam. Sambil gadis itu duduk di pinggir ranjang Samuel.
"Udah deh Fe, sekarang kamu keluar dari sini. Aku pengen sendiri!" Sam mengelak, menolak suapan dari Freya.
"Samuel.... aku tuh masih peduli sama kamu. Ayolah, aku suapin kamu. Sekali aja...." Freya tetap mengarahkan satu suapan ke mulut Sam.
"Ayo Sam buka mulutmu... dulu juga kamu sering minta aku suapin kalo lagi sakit. Kamu ingat kan Sam....?" Freya merajuk, semakin mendekat ke arah pria itu. Masih memegang mangkuk bubur dan dengan sendok yang masih ia arahkan ke mulut Samuel.
Membuat Samuel kesal. Pikir Sam, mungkin satu suapan dari Freya tak apa lah. Biar gadis itu cepat-cepat pergi dari kamarnya.
.....
Maya dengan langkah tergesa berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berkali-kali ia menengok jam tangan Rolex miliknya, wajah paniknya terlihat nyata. Sambil menenteng dua buah kotak bekal makanan yang ia jadikan satu.
Maya menekan tombol lift menuju ke lantai lima dan buru-buru keluar dari lift begitu pintu lift terbuka. Hari ini Maya tidak sabar ingin menemui Sam, tiap hari kini rasa rindu itu selalu menyeruak untuk Sam.
"Maaf Sam, aku terlambat," buru Maya begitu ia membuka knop pintu kamar rawat Samuel.
"Ma__ ya__" ucap Sam terbata-bata. Terkejut melihat gadis bersurai hitam tersebut.
Sementara Freya tersenyum smirk ketika Maya melihat semua adegan dia dengan Sam.
Netra Maya membola penuh melihat Samuel menerima suapan dari tangan Freya. Ekspresi Maya berubah, sedikit kecewa. Namun buru-buru ia sembunyikan perasaan itu. Maya berusaha tenang, berfikir dan bersikap dengan kepala dingin.
"Sayang..." dengan tertatih Samuel berusaha mendekat ke arah Maya.
"Sam hati-hati, luka kamu belum sembuh benar," dengan cepat Maya mencegah Samuel yang ingin berjalan turun dari kasur. Memegang lengan Sam untuk kembali duduk di atas kasur rumah sakit.
"Maafkan aku, sayang... ini..."
Samuel mencoba menjelaskan semuanya namun dengan cepat Maya memotong ucapan pria itu.
"Sam, aku gak marah kok. Aku percaya sama kamu," Maya kembali memegang tubuh Sam, membantu pria itu untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Thanks, baby...." ucap Sam lega.
"Fe, thanks kamu udah kesini tapi aku mohon, sekarang kamu keluar dari sini."
"Tapi Sam..." Freya mengerucut kesal, melirik sebal ke arah Maya lalu beralih memandang Samuel.
Freya mendecih kesal, menghentakkan kakinya kasar sebelum berlalu dari hadapan Samuel dan Maya. Membuka knop pintu kamar dan menutupnya dengan kasar hingga terdengar suara bergemuruh di ujung pintu.
Meninggalkan Sam dan Maya yang kemudian tersenyum kecil melihat kelakuan Freya.
to be continue....