
Sam memasuki ruangan luas yang lengkap dengan pendingin udara serta televisi LED yang menempel pada dinding bercat putih bersih. Wajahnya kini memanas, melihat sosok pria lain yang saat itu tengah berdiri di samping tempat tidur Samudra.
Maya memang berdiri di ujung lain ruangan dan bisa dibilang masih banyak jarak antara dirinya dengan Dean Sanjaya. Namun dalam kejadian-kejadian sebelumnya sudah terlanjur membuat Samuel merasa cemburu dengan sosok pria tampan pemilik banyak perusahaan besar itu.
Sam mendekati Maya dan memeluknya, kecupan hangat di bibir Maya pun dengan sengaja ia pertontonkan. Berharap Dean menyadari jika perempuan yang ada di dalam ruangan itu adalah miliknya, begitupun dengan calon bayi yang mempunyai kehidupan di dalam rahim Maya. Seolah Samuel ingin menegaskan akan kepemilikannya atas Maya.
"Maaf aku terlambat," ucap Samuel sesaat setelah mendaratkan kecupannya di bibir Maya.
Maya mengangguk pelan. "Hm, gak terlambat kok."
"Apa kabar Dean?" ucap Samuel kali ini. Ia mendekat ke arah Dean Sanjaya dan memandang lekat pria itu. Sam berdiri tepat di hadapan Dean dengan kedua tangan yang ia lipat di atas dada.
"Saya baik. Oh-iya kamu jangan salah sangka dulu Sam, kedatanganku kesini hanya ingin melihat keadaan putra kalian."
Sam hanya tersenyum kecil, kemudian perhatian Sam beralih pada Samudra.
"Hai jagoan, gimana keadaan Am? masih sakit kepalanya?" tanya Samuel sembari membelai rambut lebat bocah itu.
Samudra menggeleng pelan menjawabnya.
"Daddy.... liat deh, Am dikasih lego cama(sama) Om Dean." Samudra memamerkan lego pemberian Dean dihadapan Samuel.
"Oh ya?"
Sam berusaha menyembunyikan kekesalannya di depan Samudra dn juga Maya.
"Am suka?" tanya Sam lagi.
Lagi-lagi Samudra mengangguk cepat. "Suka, Am kan belum punya kalaktel (karakter) ini."
Jawaban Samudra membuat Samuel kembali menahan kekesalannya.
"Daddy....daddy...." ucap Samudra lagi.
"Ya?"
"Om Dean uga(juga) mo ngajak Am ke Dufan."
Sam spontan membolakan netranya.
"Mommy uga (juga) diajak, tapi mommy gak mau," lanjut Samudra lagi.
Membuat Maya pun membolakan kedua netranya, ia melirik sekilas ke arah Samuel.
Kali ini sudah cukup kesabaran Samuel.
"Maaf Dean, bisa kita bicara di luar?"
Suara Samuel sedikit tertahan, mungkin mencoba meredam kekesalan terhadap pria yang menjadi kliennya.
Dean mengangguk dengan ekspresi yang begitu tenang.
....
"Sebenarnya apa maksud lo, dengan semua ini?" tanya Samuel bernada sinis.
Dean menanggapi dengan senyum simpul, untuk sesaat tidak ada jawaban dari Dean. Hingga pria itu menyandarkan bahunya pada dinding di lorong rumah sakit.
"Yang jelas--- gue gak ada maksud jahat, Sam." Dean akhirnya menjawab dengan sikap tenang.
"Gak ada maksud jahat?" Sam mengulangi ucapan Dean. Sekilas terlihat seringai kecil Samuel yang terkesan tidak percaya akan ucapan laki-laki berpostur tubuh atletis di hadapannya.
"Jauhi keluarga gue!" ancam Samuel. Sorot tajam kini seolah mengintimidasi sosok yang sama-sama terlihat kuat dan dominan itu.
"Gue bisa menebak apa yang ingin lo rencanakan, Dean."
"Lantas apa yang gue rencanakan, hah?!"
Dean Sanjaya kini berbalik memberikan tekanan. Membuat Samuel kembali berseringai kecil.
"Dean Sanjaya...." Sam menjeda sejenak kalimatnya, ia kini berjalan mendekat ke arah Dean dengan berdecak kesal.
Sam kini berdiri tepat di hadapan Dean dengan tatapan mata nyalang.
"Asal lo tau aja, apapun yang akan lo rencanakan untuk menghancurkan keluarga gue...." Sam kembali menjeda.
"Lo gak akan pernah berhasil. Gue gak peduli jika lo memutuskan kerjasama kita. Karena yang terpenting buat gue adalah istri dan Samudra, anak gue," tegas Samuel yang kini beradu sorot mata tajam dengan Dean Sanjaya.
"Gue tau lo suka kan sama Maya?" tandas Samuel langsung.
"Lo tau Sam? Sifat kekanakan lo itu---suatu saat akan membuat Maya menjauh dari lo," balas Dean sinis.
"Gue emang suka sama istri lo," kembali Dean menjeda ucapannya. Kali ini giliran Dean yang berjalan mengitari Samuel dengan sorot mata tajam.
"Biasanya jika gue suka sama sesuatu, gue harus mendapatkannya. Lo tau itu, hah?!" kelakar Dean.
"Lo...!!" bentak Samuel. Tangan kanan Samuel bersiap melayangkan tinjunya ke arah wajah tampan Dean Sanjaya.
"Apa? Lo mau pukul gue? Silahkan pukul...! Pukul gue....! dan Maya akan melihat kembali sikap kasar lo itu," lanjut Dean dengan ekspresi penuh kemenangan.
"Sam.....!!" Panggil Maya.
Maya pun ikut terkesikap dengan posisi tubuh Samuel yang terlihat hampir saja menghajar pria tampan dengan segala kekuasaan super power itu.
"Sialan....!" batin Samuel ketika Maya mendapatinya sedang tersulut emosi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Maya bernada getir. Dari dulu Maya tidak pernah menyukai sikap kasar Samuel terhadap orang lain. Dan kali ini Maya kembali memergoki nya.
Meski sikap kasar Samuel tidak pernah tertuju kepadanya, namun Maya selalu tidak menyukai jika Samuel terus saja berkelahi yang menurut Maya hanya gara-gara masalah sepele.
Tangan Samuel kini mengepal erat, berusaha menetralkan emosinya.
Sementara Dean, ia terlihat tersenyum menyeringai. Merasa jika ia telah menang kali ini.
"Dokter Chen meminta kita ke ruangannya," ucap Maya lirih.
Sam pun hanya mengangguk lalu mendekat ke arah Maya, meninggalkan baku hantam yang hampir saja terjadi di lorong rumah sakit milik Dean Sanjaya.
"Tuan Sanjaya, saya berterima kasih atas bantuan anda. Dan juga hadiah untuk Samudra. Tapi saya mohon, anda tidak lagi menemui Samudra." Maya menegaskan.
Dia hanya ingin membuat segalanya menjadi jelas. Maya tidak ingin membuat Samuel semakin kesal dengan kehadiran Dean Sanjaya dalam kehidupan dia bersama Samuel.
Samuel tersenyum ketika mendengar apa yang istrinya ucapkan barusan.
Dean tidak merespon, dia hanya mematung tanpa ucapan meng-iya-kan atau pun menolaknya.
"Maaf kami harus pergi," ujar Maya lagi.
Maya meraih lengan Samuel dan menggandengnya. Ia membawa Sam untuk menjauh dari Dean. Selain untuk bertemu dengan dokter Chen, Maya pun berusaha menjauhkan Samuel dengan pria yang mempunyai kharisma di hadapannya. Agar perkelahian yang mungkin saja saat itu bisa meledak bisa ia hindari.
Di sela-sela langkah kaki keduanya, Maya melirik ke arah Samuel. Sorot mata lembut Maya sepenuhnya membuat Samuel merasa takut akan kehilangan.
"Aku gak suka kamu membuat masalah sama dia," lirih Maya di sela-sela langkahnya.
"Bagaimana jika dia dendam ke kamu dan melakukan hal buruk? Seperti saat perkelahian kamu dengan Elano dulu?" Maya kembali melanjutkan.
Samuel berjalan dengan membisu, genggamannya ia eratkan pada punggung tangan Maya.
"Maafkan aku, sayang." Hanya kalimat itu yang akhirnya terlontar dari mulut Samuel.
"Aku cuma takut kehilangan kamu, Sam."
Sam menghentikan langkahnya lalu membawa Maya ke tepi lorong rumah sakit.
"Aku takut kalian terlibat pertengkaran dan dia akan melakukan segala cara untuk menyakiti kamu." Maya melanjutkan.
Maya selama ini tidak buta, ia tahu akan kekuatan yang Dean miliki. Pengaruh Dean yang besar dalam dunia bisnis dan dunia kelam persaingan tersebut. Dan dia takut jika Dean yang biasa menghalalkan segala cara akan menyerang Samuel, seperti saat perkelahian Sam dengan Elano beberapa waktu silam.
"Kamu tenang aja, sayang. Aku ajan baik-baik aja, dan aku akan gak akan tinggal diam jika dia atau siapapun mengganggu apa yang telah aku miliki."
Sam meraih pipi chubby Maya dan mengelusnya lembut.
"Bayi kembar kita baik-baik saja kan di dalam sini, hhmm...?" Kali ini Samuel beralih mengelus perut Maya.
"Hm, mereka gak pernah rewel." Maya terkekeh pelan.
"Kita temui dokter Chen, jika keadaan Samudra membaik, aku akan mengeluarkan dia dari rumah sakit ini." Sam melanjutkan.
Maya mengangguk merespon. Keduanya lalu kembali berjalan ke arah ruangan dokter setengah baya dengan wajah oriental.
Maya semakin mengeratkan pegangan tangannya pada seluruh sela-sela jemari Samuel.
Sesekali ia pun menggelayut manja di lengan yang selama ini memberikan pelukan hangatnya.
to be continue...