
Samuel masih memandang tidak percaya gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah yang terlihat sedikit berisi, rambut ikal panjang yang dulu selalu berwarna kemerahan kini berganti berwarna hitam kelam meski masih sedikit ikal bergelombang.
"Sam...." Freya menyadarkan lamunan Samuel.
"Eh... eemm... k-a-mu sendiri kenapa berada di sini?" Sam bertanya dengan sedikit tergagap.
Freya tersenyum kecil, "Aku biasa makan di sini, dan lagi tempat kerja ku deket dari sini."
Samuel hanya ber-oh-ria sambil manggut-manggut, kemudian kembali tersenyum kecil ke arah Freya.
"Benarkah? kenapa kemarin-kemarin aku gak pernah ketemu kamu? Aku juga biasa makan siang di sini." Sam menjeda sejenak kalimatnya.
"Cafe ini milik Maya, istriku." Sam melanjutkan.
Nampak terlihat ekspresi terkejut Freya. "Oh... aku gak tau kalau cafe ini milik Maya."
Sam hanya tersenyum tipis, kali ini pandangannya tanpa sengaja beralih ke perut gadis itu yang sedikit membuncit.
"Kamu sudah nikah?" tanya Samuel dengan alis yang sedikit ia tarik ke atas.
Freya hanya menggeleng pelan, kali ini sorot lensa mata gadis itu mulai meredup.
"Ini anak Elano..." cicit Freya.
"El tidak mau bertanggung jawab dan tidak mengakui anak ini." Freya melanjutkan, kini manik matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
Sam yang melihat hal itu hanya bisa menatap iba ke arah Freya, melihat airmata yang mulai menetes di pipi gadis itu membuat Samuel salah tingkah. Apa harus ia menghapus jejak airmata Freya? pikiran itu yang sekelebat sempat terbersit di benaknya. Bagaimana pun juga Freya pernah menjadi masa lalu Samuel, pernah menjadi gadis yang sangat ia pedulikan.
"Heee aku gak apa-apa kok, Sam." Freya mengusap jejak airmata yang mengalir ke pipinya sambil berusaha tersenyum kecil. "Makanya saat ini aku berusaha sendirian untuk bayi yang ada dalam kandungan ku tanpa sosok suami," cicit Freya.
"Elano sudah keluar dari penjara?" tanya Samuel.
Freya hanya menggeleng pelan, sedikit tersenyum tipis ke arah Sam.
"Belum, Sam. Lagi pula aku tidak bisa terlalu berharap sama El," kembali Freya menjeda sebentar.
"Elano tidak pernah mengakui anak ini, dan aku tidak mau mengemis sama dia," lanjutnya lagi.
"Brengsek Elano....!! Harusnya dia bertanggung jawab atas perbuatannya ke kamu Fe," geram Sam, ia tidak bisa tinggal diam jika melihat seorang pria yang dengan tega menyiakan gadis dengan keadaan seperti Freya saat ini. Meskipun sebelumnya Freya telah berusaha mengganggu hubungannya dengan Maya, namun Sam tidak pernah bisa melihat penderitaan seseorang. Apalagi dia adalah orang yang pernah dekat dengannya.
"It's ok, Sam." Freya kembali tersenyum kecil, mencoba membuktikan ke Samuel jika ia benar baik-baik saja.
"Oh ya, aku permisi dulu."
Dengan cepat Samuel menahan lengan Freya yang mencoba menghindar dari nya.
Membuat ada sedikit kecanggungan di antara keduanya.
"Eee __ ka-mu__ tidak jadi makan Fe?"
Freya menggeleng pelan, "Aku lupa jika aku ada urusan pekerjaan. Aku tinggal dulu Sam," Freya menatap Sam sekilas, ada penyesalan dalam manik mata gadis itu.
"Sampaikan salam ku buat Maya," cicit Freya sebelum ia berlalu dari hadapan Samuel.
Dan Sam hanya menatap kepergian Freya, punggung anggun gadis itu masih seperti dahulu. Punggung yang dulu selalu ia usap lembut.
Bagaimana pun masa lalu itu adalah bagian dari perjalanan hidup Sam, ia tidak bisa merubahnya.
"Sayang, kamu tadi ngobrol sama siapa?" tanya Maya yang datang dengan hot plate tenderloin steak panas lengkap dengan kentang panggang dan saus barbecue kesukaan Samuel.
"Oh.... kok langsung pulang? kenapa gak diajak makan siang bareng tadi, Sam?" Maya perlahan meletakkan hot plate ke hadapan Samuel dan berganti dengan segelas lemon tea hangat untuk mereka.
"Katanya dia masih ada urusan lain." Sam menjeda kalimatnya, tersenyum sebentar ketika Maya meletakkan makan siang favoritnya. "Ini kamu sendiri kan yang masak, honey?" tanya Samuel.
"Iya dong, mana boleh tangan perempuan lain yang masak makanan buat suamiku tercinta, hhmm....?" Maya terkekeh kecil.
"Thanks, baby..."
"Sama-sama suamiku, sekarang kita makan. Aku udah laper nungguin kamu dari tadi." kekeh Maya. Sam mengangguk, mulai memotong kecil daging panggang dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sesekali terlihat tawa mereka di sela-sela obrolan ringan saat makan siang. Dan Sam sangat menyukai saat-saat dimana Maya selalu bisa membuat lelucon yang tak jarang terdengar sangat garing bagi Sam. Tapi hal itu yang membuat Sam semakin merasa nyaman dengan istrinya.
Sementara itu dari luar jendela cafe, nampak Freya yang mengamati segala gerak-gerik Samuel dan Maya. Netra berlensa biru miliknya terlihat jelas menahan cairan bening yang hendak keluar dari kedua sudut matanya.
Jika saja di masa lalu ia tidak melakukan kesalahan terhadap Samuel, saat ini pastilah dirinya yang berada di sana, di samping Samuel.
....
Flash back masa lalu....
"Sam, kamu serius sama hubungan kita?" tanya Freya manja, tubuhnya ia jatuhkan dalam dekapan dada bidang milik Sam. Memandang ke arah biru laut yang bergulung ombak.
Samuel membelai lembut rambut bergelombang kemerahan yang selalu nampak bersinar ditempa sinar mentari.
"Aku tidak pernah main-main dengan seorang gadis, Fe." Sam membelai rambut panjang bergelombang Freya, sesekali mencium aroma kiwi yang selalu mencumbu indra penciuman Samuel.
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai aku, Sam? Bagaimana jika nanti ada gadis lain?" Freya semakin mengeratkan lingkaran tangan Samuel di pinggang kecilnya.
"You know me, baby.... Jika aku sudah mencintai satu gadis, hanya akan ada gadis yang aku cintai," balas Sam lembut.
Sam mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi begitu Freya berbalik dan menatapnya lekat. Sam memiringkan sedikit kepalanya, mencoba mendekat ke arah bibir pink Freya, hingga ia melakukan pergerakan di sana. Mencium lembut Freya di depan matahari terbenam dan juga deburan ombak yang selalu bermain di sepanjang bibir pantai.
--
Dulu bagi Samuel hanya ada Freya, gadis yang telah menaklukkan hatinya. Bahkan Samuel sangat mencintai Freya jika dibandingkan dengan mantan-mantan kekasihnya yang lain. Dahulu hanya dengan Freya lah Samuel menjatuhkan pilihannya, sangat serius dengan hubungan mereka. Bahkan pertunangan keduanya pun telah mereka rencanakan dengan sangat matang. Hingga kesalahan fatal yang dilakukan Freya. Membuat Sam sangat membencinya dan sempat menutup hati untuk yang namanya cinta dan mulai membiarkan dirinya dalam pengaruh alkohol serta sering main perempuan.
"Sam....." cicit Freya ketika melihat Samuel menemukan dirinya tengah berdua di dalam sebuah kamar hotel bersama dengan salah satu sahabat dekat Samuel. CEO itu menemukan keduanya dalam keadaan telanjang dan tubuh keduanya hanya tertutup dengan selimut tebal kamar hotel.
"Sam.... aku bisa jelaskan," lirih Freya dengan wajah pucat pasi.
"Gak perlu lagi penjelasan untuk ini, Fe. Lo emang perempuan murahan, brengsek kalian berdua!" geram Sam.
"Bro tenang dulu, gue ngaku salah tapi cewe lo duluan yang goda in gue," Jodi berusaha membela diri. Satu pukulan keras dari Samuel ke rahang pria itu yang menjadi jawaban.
"Bullshit Lo Jod," satu lagi pukulan keras dari Sam yang kali ini beralih ke arah perut sixpack Jodi. Membuat pria itu mengerang kesakitan, hingga ia mencoba melayangkan pukulan balasan ke arah Samuel namun dengan cepat CEO itu menghindar hingga membuat Jodi limbung dan dengan mudahnya Sam kembali mendaratkan satu lagi bogem mentahnya.
"Orang brengsek macam kalian memang pantas bersanding. Dan Lo Freya.... gue gak nyangka Lo memang gadis murahan!!"
"Sam.... maafkan aku, sayang... kita bisa bicarakan ini baik-baik?" Freya masih berusaha mencegah kepergian Samuel. Hanya dengan melilitkan selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya Freya masih mencoba mencegah kepergian Samuel.
"Sam.... please dengar dulu. Aku cinta sama kamu, Sam...."
"Cinta Lo omong kosong Fe! jauh-jauh Lo dari gue." Sam mengacungkan telunjuknya tepat di hadapan wajah Freya, ekspresi Samuel mengeras, sorot mata coklatnya tajam, menyiratkan luka yang teramat dalam.
Freya menangis sesegukan, melihat wajah terluka Samuel membuat ia menyesali kebodohannya. "Maafkan aku Sam...." cicit Freya dengan air mata membasahi seluruh wajahnya.
to be continue....