
Samudra melambai kecil ke arah Maya dan Sam yang tengah duduk di atas pasir putih, memandangi tingkah laku Samudra yang sangat gembira bermain air di bibir pantai.
Air pantai yang jernih serta pasir putih menghampar luas membuat bocah itu terlihat begitu menikmati keindahannya. Bisa dibilang jika ini kali pertama Samudra benar-benar bermain di tepi pantai, dahulu Martha dan juga Harris sangat jarang membawanya berlibur ke pantai. Sejak dulu Martha tidak pernah menyukai yang namanya pantai karena ada trauma masa kecilnya disana dan Harris pun mengetahuinya sehingga ia selalu menjauhi tempat dengan deburan ombak yang selalu menghantam batu karang.
Dan sekarang, bersama Maya dan juga Samuel--- Samudra pertama kali bisa merasakan hembusan angin yang diciptakan oleh deburan air laut. Melihat ombak yang berlari kecil berkejaran hingga bibir pantai. Bocah itu bahkan dengan bebas bermain pasir dan membentuk sesuatu disana. Teriakan Samudra terkadang meledak ketika tubuhnya yang duduk di bibir pantai tiba-tiba tersapu oleh ombak kecil hingga cipratan air asin itu membasahi wajah dan masuk ke mulutnya.
Maya dan juga Sam melengkungkan senyumnya melihat kebahagiaan yang Samudra rasakan. Dari kejauhan keduanya ikut merasakan kebahagian saat bocah itu tertawa lepas.
Keranjang piknik yang penuh berisi makanan kecil dan juga air mineral serta minuman bersoda menjadi pemandangan lain di antara mereka. Dan di samping Sam, Maya menyandarkan kepalanya pada bahu Sam. Ia bahkan tidak peduli dengan sinar matahari yang mulai tinggi dan mengenai tubuhnya yang saat itu hanya mengenakan celana pendek serta tanktop dan sebuah slayer panjang yang menutupi.
"Liat deh Sam, dia begitu bahagia."
Sam tersenyum sekilas sembari terus memandang ke arah Samudra. "Hm, setau aku baru pertama kali ini Am ke pantai dan bermain air serta pasir."
"Iya, dia sangat menyukainya," balas Maya dengan senyuman merekahnya.
"Makasih ya suami," lanjut Maya lagi, kali ini perempuan itu memandang ke arah Sam sambil tersenyum lembut.
"Makasih buat apa?"
"Udah bawa kami ke pantai." Maya menjeda sebentar kalimatnya. Maya meraih keripik kentang kesukaannya lalu membukanya.
"Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu sama kamu dan juga sama Am."
Maya menyuapkan beberapa keping kripik kentang ke arah Sam.
"Aku seneng jika kalian seneng. May." Jawab Sam sembari mengunyah kripik kentang suapan dari Maya.
Namun tiba-tiba....
"Huek....! Huek....!"
Perut Maya tiba-tiba merasa mual serta kepalanya berdenyut. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya.
"Sayang--- Kamu kenapa? Sakit?" Sam panik melihat sang istri yang tiba-tiba saja memuntahkan isi perutnya. Padahal tadinya Maya tidak kenapa-napa, perempuan itu bahkan bersemangat bermain ombak dengan Samudra sebelum akhirnya mereka duduk mengawasi anak itu di tepi pantai.
"Kamu pucat May, kita kembali ke hotel?" Sam mengusap sudut bibir Maya setelah perempuan itu sudah lebih membaik.
Maya menggeleng perlahan. "Gak apa-apa kok, Sam."
"Gak apa-apa gimana, kamu muntah gitu. Wajah kamu juga pucat. Kamu masuk angin? Tadi belum sarapan?"
Maya kembali menggeleng. "Aku tadi belum laper," cengir Maya lucu.
"Kita kembali ke hotel." Samuel membopong tubuh Maya.
"Tapi Sam---"
"Gak ada bantahan! Kamu nurut aja," jawab Samuel tegas. Dengan hati-hati Sam membopong tubuh istrinya menggedongnya sembari berjalan mendekat ke arah Samudra yang masih asik bermain di bibir pantai.
"Am, mainnya udahan dulu ya. Onty Aya lagi sakit."
"Iya, Om." Angguk Samudra. Bocah itu pun mengekori langkah tergesa Samuel.
"Onty atit(sakit) apa Om?" tanya Samudra disela-sela langkah mereka.
"Om juga gak tau sayang, Am doain aja ya semoga Onty cepet sembuh."
"Hm," angguk Samudra kembali.
Sementara kepanikan terlihat jelas di wajah Samuel. Pikirannya kini benar-benar ketakutan.
Jika sesuatu yang buruk akan menimpa istrinya. Ah--memikirkan itu saja sudah membuat Sam khawatir.
Maya mengalungkan lengannya ke leher Sam, memandang wajah panik suaminya. Dia merasa bersalah telah membuat Sam begitu khawatir dan menghentikan keasyikan Samudra bermain ombak serta pasir di pantai.
...
Samuel berjalan cepat menuju hotel yang tak jauh dari pantai. Ketika memasuki lobi hotel, Sam juga dengan langkah terburu-buru menuju pintu lift. Masih dengan Maya dalam gendongannya serta Am yang mengikuti langkah Samuel.
Beruntung saat itu didalam lift hanya ada mereka bertiga.
"Onty sabal (sabar) ya. Bental (bentar) lagi sampe kok ke kamal (kamar)" ucap Samudra yang masih berdiri di sisi kanan tubuh Samuel saat di dalam lift.
Maya mengangguk pelan lalu menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Samuel.
"Sam--" Ucap Maya setelah beberapa detik ia membuat sedikit jarak kepalanya dari dada kekar Samuel.
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri kok," cicitnya lemah.
"Mana bisa aku membiarkan kamu jalan dalam keadaan seperti ini? Kamu tenang aja bentar lagi liftnya sampe ke lantai kamar kita."
Ekspresi wajah Samuel begitu tegang dan kaku. Berbagai macam pertanyaan kekhawatiran muncul di benaknya.
ting.....
Suara denting pintu lift terdengar dan diikuti terbukanya pintu lift. Dengan cepat Sam keluar dan diikuti dengan Samudra yang masih mengekor di belakang Samuel.
Sam meminta tolong Samudra merogoh saku celana pendeknya, untuk mengambil kartu kunci kamar hotel mereka.
"Ini ya Om?" Tanya Samudra, sebuah kartu yang menyerupai lempengan logam ia tunjukkan ke arah Sam.
"Hm iya, Am." Angguk Samuel.
"Sekarang tolong Am tempel ke magnet yang ada di bawah knop pintu," titah Samuel.
Samudra mengangguk pelan dan melaksanakan titah Samuel. Hingga pintu kamar akhirnya terbuka.
Sam dengan cepat berjalan ke kasur, meletakkan perlahan tubuh Maya ke atas ranjang.
"Kamu masih mual? Aku keluar beli obat dulu ya?"
"Gak usah Sam," geleng Maya cepat.
"Jangan bantah aku, May! Tunggu disini sama Am. Aku keluar sebentar beliin kamu obat." Suara Sam terdengar berat. Sebenarnya ia tidak ingin membentak Maya.
"Maaf, sayang--Aku gak bermaksud membentak kamu. Aku hanya khawatir sama keadaan kamu." Kali ini suara Sam melembut seperti biasa.
"Hm, kamu hati-hati ya."
"Pasti." Sam mengangguk pelan. Ia lalu keluar dari kamar hotel mereka setelah memberikan kecupan di kening Maya.
"Am jagain Onty ya." Samuel mengusap puncak kepala Samudra sebelum ia beranjak pergi.
....
Satu jam berlalu sejak kepergian Samuel mencari obat untuknya, sosok tegap suaminya pun hingga detik ini belum menampakkan diri.
Maya memandangi wajah Samudra yang saat ini telah tertidur pulas di atas kasur. Ia pun berjalan perlahan menuju sofa yang menghadap langsung ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan pantai, sungguh terlihat sangat indah dari dalam kamarnya.
Berkali-kali ia membuang napas berat, ponsel yang ada dalam genggamannya saat ini pun senantiasa membuatnya takut. Berharap tidak ada panggilan telepon ataupun pesan yang masuk, setidaknya jangan sampai ada kabar buruk atau sesuatu yang buruk terjadi.
Hingga tiba-tiba suara knop pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Samuel dengan beberapa paper bag di tangannya.
"Sam---!!" ucap Maya lega, ia mencoba berdiri dari tidurnya namun lagi-lagi sakit kepala itu datang kembali hingga hampir membuatnya tersungkur di lantai.
"Awas, May!"
Untung Sam dengan sigap menangkap tubuh Maya dan kembali membopongnya ke arah sofa.
Sam meletakkan tubuh istrinya, membuatnya nyaman untuk tidur bersandar disana.
"Maaf, jarak apotik dari hotel sangatlah jauh. Dan aku harus putar-putar mencarinya menggunakan Google Map." Ucap Samuel menjelaskan.
"Iya, gak apa-apa kok."
"Sekarang, kamu makan ini dulu. Aku beli di cafe hotel tadi."
Sam mengeluarkan sebuah box makanan dari paper bag.
"Makan dulu, setelah itu minum obatnya."
Sam menyuapkan beberapa suapan nasi ayam teriaki ke mulut Maya.
Maya pun menerima suapan Samuel dengan begitu lahapnya.
"Maaf aku mengacaukan liburan kita," lirih Maya sembari mengunyah perlahan makanan yang Sam suapkan tadi.
"Gak apa-apa, masih ada banyak waktu buat kita. Yang terpenting kesehatan kamu, May."
Sam dengan telaten masih saja menyuapkan makanan ke arah Maya, sesekali pria itu mengusap sudut bibir istrinya ketika ada saus dari ayam teriaki yang tertinggal disana.
"Udah Sam, Aku udah kenyang." Tolak Maya ketika suapan terakhir dari Samuel mendekat.
"Tapi ini terakhir, sayang. Ayolah gak baik membuang-buang makanan."
Maya menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Nah gitu dong, sekarang aku siapin obatnya dulu." Samuel berdiri guna mengambil satu lagi paper bag yang ia letakkan di atas nakas. Meraih beberapa strip obat lalu membukanya dan memberikannya ke Maya.
Dengan lemah Maya masukan satu persatu butiran obat tersebut ke dalam mulutnya.
"Sekarang kamu istirahat, tidurlah."
"Hm," angguk Maya.
Sam menuntun tubuh Maya, memeganginya hingga sampai pada kasur yang telah berisi Samudra disana. Anak itu telah tertidur pulas setelah seharian bermain air dan pasir.
"Good sleep, baby." Sam mengecup kening Maya sebelum akhirnya wanita itu ikut terlelap bersama Samudra.
....
"Huek....!! Huek...!!"
Maya tiba-tiba saja terbangun dengan keadaan perut mual, ia pun dengan bergegas lari ke arah kamar mandi. Membangunkan Sam yang saat itu tengah tertidur di atas sofa dengan kedua lengan yang ia lipat di atas dada.
"Huek....!! Huek.....!!!"
Suara muntahan Maya masih terdengar, membuat Samuel begitu khawatir dengan keadaan sang istri.
Sam mengetuk pintu kamar mandi, karena saat itu tanpa sadar Maya menguncinya dari dalam.
"Maya....! Kamu kenapa? Buka pintunya, please...."
Wajah pria itu begitu terlihat khawatir, ketukan-ketukan kerasnya menggema ketika Maya tidak merespon apa yang ia pinta. Sementara dari luar masih saja terdengar suara muntahan Maya, begitu mengiris hati Samuel.
Demi Tuhan--- Sam sungguh mengkhawatirkan keadaan sang istri di dalam sana.
"May...!! Buka pintunya, please...." ucap Sam lagi, sembari mengetuk pintu keras-keras.
Setelah beberapa menit tidak ada respon dari Maya, pria itu hampir saja mendobrak pintu kamar mandi hotel.
Beruntung Maya membukanya diwaktu yang tepat. Maya keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah memucat, keringat dingin sebesar biji jagung dengan cepat meluncur bebas di keningnya.
"Kamu kenapa sih? Kenapa obat itu tidak bekerja dengan baik," ucap Sam khawatir. Ia pun menuntun tubuh Maya menuju sofa.
Sam menempatkan telapak tangannya menempel di atas kening Maya. "Badan kamu gak demam, tapi wajah kamu pucat sekali," ucap Samuel khawatir.
Sedangkan Maya hanya terdiam lemah, ia menyandarkan kepalanya yang masih terasa berdenyut di atas sandaran sofa panjang itu.
"Kita ke dokter sekarang." Sam berujar cepat tanpa pikir panjang lagi. Pria itu meraih hoodie maroon milik Maya, hendak mengenakannya pada tubuh istrinya.
"A-ku gak kuat kalo ke dokter Sam, perutku terasa-- mual-- huek...!! huek....!!"
Maya kembali mencoba menahan mualnya, namun tidak berhasil. Ia pun berlari kembali ke arah kamar mandi dan menumpahkan seluruh isi perut, namun yang keluar hanyalah cairan bening berwarna kuning.
"Sayang....!!" pekik Sam kembali khawatir, ia pun mengikuti Maya menuju kamar mandi. Beruntung, kali ini Maya tidak mengunci pintu tersebut.
Sam memijit perlahan tengkuk Maya, berharap sentuhannya mampu memberikan ketenangan buat wanitanya itu.
"Aku panggilkan dokter ya?" tanya Sam khawatir.
"Iya lebih baik begitu, Sam." Angguk Maya.
Sam berlalu keluar dari kamar mandi dan melakukan panggilan fast dial nomor satu, yang terhubung langsung dengan manager hotel bintang lima tempat ia menginap.
"Hallo-- tolong panggilkan dokter kemari secepatnya___ Iya kamar nomor 146___ Oke terima kasih, saya tunggu secepatnya."
Klik.
Sam menutup telepon hotel dan segera ia kembali kedalam kamar mandi.
"Masih merasa mual?" tanya Sam begitu dilihatnya Maya membersihkan sisa muntahan yang masih menempel di mulutnya.
Maya menggeleng pelan sembari memegang erat perut ratanya.
"Kamu istirahat dulu."
"Sam---" cicit Maya lemah.
"Hm?"
"Aku pengen tidur dalam pangkuan kamu...." rajuk Maya.
Samuel tersenyum lembut. Tiba-tiba Sam membungkukkan sedikit badannya guna membopong tubuh Maya. Menggendongnya ala bridal style hingga ia duduk dalam sofa dan menempatkan Maya dalam pangkuan hangatnya.
"Sekarang tidurlah," titah Samuel. Ciuman kecilnya ia daratkan di kening sang istri, sementara kedua lengan kekar Samuel memeluk erat tubuh Maya, agar istrinya itu merasa nyaman.
to be continue...