MySam

MySam
I Miss You Dear



"Maafin aku May, pernikahan ini terjadi diluar kehendak ku." Sam mendekat ke arah Maya, berusaha memangkas jarak diantara keduanya.


Meraih pundak Maya sembari menatap lekat kedua iris Maya, ingin rasanya Sam membawa tubuh kecil Maya kedalam pelukannya, menenggelamkan tubuh gadis itu kedalam dada bidang milik nya.


Maya masih mematung, membuang muka jauh, menyilangkan kedua lengan tepat di pinggang rampingnya.


"May, please say something. Kamu mau kan maafin aku?" Sam mencoba lebih keras lagi, membujuk gadis bersurai sebahu itu. Memandang lekat manik mata Maya, dengan kedua telapak tangan yang kini menempel di kedua pipi chubby Maya.


"Iya Sam, aku maafin kamu." lirih Maya, Sam kini bisa tersenyum lega. Menciumi wajah putih Maya kemudian meraih pinggang ramping gadis itu dan membawanya kedalam pelukan hangat Sam.


"I love you dear, please don't leave me anymore." bisik Samuel, kini ia menenggelamkan kepalanya kedalam surai hitam Maya.


Maya mengangguk pelan.


"Sam.... !!"


Masih tak ada reaksi dari Samuel.


"Bos... bangun, gue ada berita penting buat lo, Sam...."


Bayangan Maya mendadak memudar, beralih dengan sesuatu yang kini mengguncang tubuhnya. Sam memicingkan sedikit kedua netra, memposisikan kembali duduk nya di sofa sudut ruang kerjanya. Sebentar memijit pelipis yang kini terasa sedikit pusing.


Ternyata semua tadi hanyalah mimpi Samuel....


Damned...!! batin Sam kesal.


Menoleh ke arah Bayu dan mendengus kesal. "Sialan lo Bay, gangguin aja lo!!" Samuel terlihat sedikit geram, kini mengusap kasar wajah tampan nya.


"Lagian lo, di kantor malah molor."


jawab Bayu, yang lalu meletakkan beberapa berkas ke meja kerja Samuel.


"Ini beberapa berkas tanda kepemilikan lima puluh persen saham Wijaya Property." Bayu memperlihatkan beberapa map ke arah Sam lalu kembali meletakkan semua berkas tersebut di atas meja kerja Samuel.


"Semua udah beres, lo resmi dan sah jadi pemilik Saham di Wijaya Property. Lo tinggal tanda tangan aja." ucap Bayu lagi.


Sam mengangguk, masih memasang wajah masam. "Thanks, sekarang please lo keluar dulu dari ruangan gue."


"Apa yang lo pikirin bro? Gue tau lo masih mencintai Maya tapi please lah jangan kayak anak kecil ."


"Gue tau lo beli saham itu untuk bisa dekat lagi sama Maya kan?"


Sam melirik ke arah Bayu, sedikit mendengus kesal dan kembali mengusap kasar rambut ikal miliknya.


"Ingat Sam, lo udah nikah dan Maya juga berhak move on dari lo."


Sam membolakan tajam kedua matanya, "Urusan lo apa ikut campur hidup gue Bay? kita emang sahabatan ya dan lo orang kepercayaan gue di perusahaan tapi lo gak berhak ikut campur urusan gue!!"


"Sam gue cuma ingetin lo untuk bisa bahagia."


"Tanpa Maya? gue gak bisa bahagia Bay!!" dengan sedikit berteriak Samuel menjawab ucapan Bayu. "Keluar lo dari sini!!" perintah Samuel, kali ini Bayu hanya menurut, keluar dari ruang kerja Samuel. Mendekati Sam sebentar, menepuk pelan bahu Sam kemudian kembali melangkah keluar meninggalkan sang CEO itu sendirian.


_____


Hujan deras masih mendera seluruh bagian kota Jakarta sejak tiga jam yang lalu.


Selimut tebal, mie instan yang mengepul, hingga tayangan drama korea di layar laptop Maya menjadi kombinasi yang sempurna untuknya menikmati sisa akhir pekan sore ini.


Pekerjaan di perusahaan milik El membuatnya sedikit menyita seluruh pikiran Maya. Rintik hujan masih dengan konsisten membasahi kota Jakarta.


Rintik nya yang terus menerus menghujam bumi hingga mendarat di kaca jendela kamar Maya, membuat sebuah suara bising dan menyeramkan.


Masih fokus pada tayangan yang ia lihat saat ini, Maya membiarkan mie nya mengembang. Rambutnya yang hitam sebahu dia kuncir asal-asalan, kaus kaki bergambar beruang coklat belum ia ganti dari pagi. Maya merebahkan tubuhnya di atas buntalan boneka beruang besar berwarna pink, boneka dari Samuel dulu.


Membenamkan kepalanya di perut boneka raksasa itu, kini Maya mengabaikan sejenak mie instan dan tayangan serial favoritnya.


Hujan kali ini entah kenapa tiba-tiba mengingatkan ia akan Samuel, aargghhh... !! desis Maya pelan.


Maya kini bangkit, meluangkan waktu sejenak untuk menghabiskan makanannya. Matanya beralih kembali ke layar laptop miliknya. Ssrrruuupppttt.... suara sruputan mie instan Maya, sengaja ia keraskan volumenya. Bagi Maya seperti ada sensasi tersendiri saat menikmati mie instan hangat dengan cara makan seperti itu.


Dulu Sam pun tidak pernah mempermasalahkan dengan cara makan mie instan Maya. Sam hanya tertawa kecil lalu mengacak-acak puncak kepala Maya.


Deru mobil yang samar-samar terdengar berhasil mengalihkan perhatian Maya, gadis itu bergegas menuju pintu depan. Berdiri di ujung tirai, berharap itu Samuel.


ting tong... ting tong...


Hampir melangkah kembali ke dalam kamar, kini Maya menghentikan langkahnya. Berbalik badan kembali mendekati arah pintu kayu kokoh.


Membuka pintu perlahan, dan bukan Sam seperti yang Maya harapkan. Elano lah yang berdiri di hadapannya kini, mengibaskan sebentar rambut yang basah terkena rintik air hujan.


"Sore May..." El tersenyum kecil, melambaikan tangan dan kini mengeratkan hoodie hitam yang melekat di tubuh sempurna El.


"El... ada apa kesini? masalah kerjaan?" tanya Maya.


"Bukan..." jawab El cepat.


"Tadi aku habis dari rumah temen di daerah sini, trus aku inget rumah kamu juga di daerah sini dan gak ada salahnya dong aku mampir." Jawab El, terlihat kedinginan kini laki-laki itu menempelkan kedua telapak tangannya lalu mengosokkan kedua telapak tangan itu, seolah mencoba menghangatkan diri.


"Masuk El." tawar Maya, ia merasa tidak enak hati melihat tubuh El yang sedikit basah dan terlihat kedinginan.


"Aku buatin minuman hangat ya, kamu mau apa?"


"Apa aja May, asal gak ngerepotin."


Maya tersenyum sebentar lalu berjalan menuju dapur, menuang beberapa sendok kopi dan beberapa tetes creamer serta susu cair. Menyeduhnya hingga tercipta secangkir latte hangat.


"Ini diminum dulu mumpung masih panas. Kamu pasti kedinginan, kehujanan pas jalan sampe pintu rumah ku."


El hanya tersenyum sebentar lalu meraih cangkir latte, menghirup nya perlahan untuk merasakan aroma manis latte buatan Maya lalu mulai menyesap latte hangat itu.


"Oh ya, tante gak ada di rumah? kok sepi?"


Maya mengangguk pelan, "Mama ada urusan ke rumah tante aku."


"Oh..." jawab El, kembali ia sesap cangkir latte buatan Maya.


"Malam ini kamu ada acara?" tanya El kini.


Terdiam sebentar dan sedikit berfikir, mencoba mencerna apa maksud El tadi. "Eee.... sebenarnya.... gue ada jan...ji... sih sama Airin." Jawab Maya akhirnya, sedikit berbohong.


"Padahal aku berharap kamu mau nemenin aku ke taman kota." lirih El. "Aku inget dulu kita selalu menikmati sore disana hingga menjelang senja." lanjut El lagi, Maya masih terdiam.


'Dulu aku dan Sam juga sering ke taman kota menanti senja', batin Maya.


Bukannya El, saat ini dalam benak Maya hanya ada Samuel. Laki-laki beriris kecoklatan dan berambut ikal, Samuel yang telah memberikan warna warni dalam hidup Maya.


"May...." El membangunkan lamunan Maya.


"Eh... iya... ada apa El?" Sedikit gugup, Maya kini memfokuskan diri ke arah Elano.


"Gimana? kamu mau ya?"


Merasa tidak enak hati, akhirnya Maya mengangguk pelan. "Sebentar aja kan El?" tanya Maya memastikan. Elano meng-iya-kan pertanyaan Maya, walau dengan hati terpaksa. El tiba-tiba merasakan cintanya yang dulu, entah kenapa.


Freya....? Saat ini bayangan gadis dengan surai bergelombang itu mendadak menjauh dari benak dan hati El, walau Elano merasa masih menyayangi Freya.


"Aku ganti baju dulu ya, sebentar aja kok." Maya berdiri kemudian berjalan memasuki ruang dalam rumahnya.


_____


Akhirnya Maya kembali berjalan ke arah Elano, tersenyum sebentar sebelum kembali membangunkan lamunan El.


"Berangkat sekarang?" tanya Maya, sedikit gugup El mengangguk. Berdiri lalu berjalan keluar dari rumah Maya, ada Maya juga disamping El. Berjalan mengikuti langkah Elano lalu menutup pintu rumah rapat.


Hujan kali ini sedikit reda, menyisakan kesejukan yang bercampur hawa dingin sore hari.


Elano membuka pintu mobilnya untuk Maya. Lengkungan senyum jelas tertarik di kedua sudut El, menutup kembali pintu mobil lalu berjalan ke arah pengemudi.


Dari kejauhan nampak sebuah sedan hitam mengkilat yang terparkir tepat menghadap rumah Maya. Iris kecoklatan itu memandang tajam keduanya, kedua tangannya ia kepalkan. Memukul keras kemudi mobil dengan kepalan tangannya.


Sorot mata itu terlihat sangat marah dan terluka. I miss you dear.... batin Samuel.


to be continue....