MySam

MySam
Kedatangan Freya ke Kantor



Sam masih sibuk berkutat di depan laptop pipihnya. Berkutat dengan angka-angka laporan keuangan, pemasukan serta pengeluaran perusahaannya sungguh membuat kepala Sam seakan mau pecah, belum lagi soal tender kerjasama dengan perusahaan produsen yang menyewa jasanya untuk pemasaran produk mereka, benar-benar membuat kepala Samuel merasakan denyut yang teramat sangat.


Terlebih lagi saat ini ia tidak memilik seorang sekretaris yang membantu segala kebutuhan pekerjaan kantornya. Haruskah Rina, sekretaris di perusahaan property ia suruh pindah ke perusahaan advertising miliknya? pikir Sam. Namun dengan cepat pria itu terlihat menggeleng pelan. Perusahaan property membutuhkan gadis itu disana. Sepeninggal Elano yang di bui dalam jeruji besi, Samuel harus pontang panting sendirian mengurus perusahaan tersebut. Ah.... harusnya gue jual aja saham disana, batin Sam lagi. Lagipula dulu Sam membeli saham di perusahaan tersebut hanya bertujuan supaya lebih dekat lagi dengan Maya dan ia rasa saat ini tujuan awalnya sudah tidak lagi menjadi masalah penting untuknya. Iya, Maya sekarang sudah sepenuhnya menjadi milik Sam.


Maya? Ah.... gadis itu selalu saja bisa membuat mood Samuel menjadi membaik, meskipun hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Samuel kembali bersemangat dengan pekerjaannya.


tok...tok...tok...


Suara ketukan dari luar pintu yang tiba-tiba terdengar begitu saja, membuat lamunan Sam tentang Maya terhenti.


"Masuk," ucap Sam memberikan izin pada si pengetuk untuk masuk ke ruangan kerjanya.


"Maaf Pak, ada tamu yang ingin bertemu anda," jawab Airin begitu mendapat izin masuk dari Sam.


"Siapa?"


"Nona Freya, Pak." Airin menjawab dengan ekspresi wajah ragu.


Sekilas wajah terkejut Sam begitu saja terlihat jelas, untuk apa dia kesini? batin Samuel.


"Maaf, Pak. Anda bersedia menemui beliau atau___?"


"Suruh dia masuk." Samuel memotong ucapan Airin, hingga sebuah anggukan kecil menjadi jawaban gadis itu.


Beberapa menit kemudian selang keluarnya Airin dari ruangan Sam, muncul sosok gadis cantik dengan surai panjang sebahu yang sedikit bergelombang.


"Hey, Sam."


"Ada apa Fe? Kalau kamu mau ganggu aku, sebaiknya___"


"Sam, dengar dulu." Freya memotong ucapan Samuel dan menjeda sejenak kalimatnya barusan.


"Maaf, Sam. Aku gak bermaksud jahat ke kamu. Hanya saja___ Aku___" kembali Freya menghentikan kalimatnya, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Air mata perlahan jatuh menetes membasahi kedua pipi mulusnya, sementara seluruh jemarinya selalu saling bertaut satu sama lain, sesekali terlihat meremas tissue yang ada dalam genggamannya.


"Hey, kamu kenapa Fe?" Sam kini bangkit dari duduknya, mencoba mendekat ke arah Freya, Tapi Sam tidak se-naif itu, yang begitu saja mendekati Freya dan mengambil kesempatan dari situasi tersebut.


"A-aku__ butuh bantuan kamu, Sam," cicit Freya. Kini gadis itu sudah tidak lagi menunduk dalam, ia memandang dalam manik mata Samuel. Iris kecoklatan itu dari dulu selalu mampu membuat Freya jatuh hati.


"Bantuan apa yang kamu butuhkan, Fe?"


"Kamu mau bantu aku, Sam?"


Samuel membuang napas berat, masih berdiri di samping Freya dengan kedua lengan yang ia lipat di atas dada bidangnya.


"Jika aku bisa bantu kamu, aku akan bantu," ujar Sam datar.


"Tolong, kamu ngomong sama Elano...." Freya menjeda kalimatnya, kembali mengusap kasar air mata dengan jemari lentiknya.


"Soal kehamilan aku, Sam. Tolong kamu bujuk El untuk mau bertanggung jawab sama anak ini," Freya melanjutkan.


"Tapi Fe, itu masalah kalian. Dan aku rasa aku tidak ada hak mencampuri urusan kalian."


"Aku mohon, Sam. A-ak-u gak tau lagi harus minta bantuan pada siapa."


"Aku takut, Sam. Aku takut anak ini dicap anak haram nantinya. Aku gak bisa membiarkan hal itu terjadi."


Freya kini berdiri dari duduknya, mendekat ke arah Samuel. Berdiri tepat di hadapan Sam yang masih melipat kedua lengan kekarnya.


"Please, Sam..." rajuk Freya.


Setelah terlihat sedikit berfikir, akhirnya Samuel mengangguk pelan.


"Oke, aku coba." Ucap Samuel pelan, kini ia memandang iba ke arah gadis yang masih menunduk dalam, tangis Freya kini sedikit bisa mereda.


"Sam...."


"Ada apa lagi?"


"A-ku ... ak-u... butuh pekerjaan," cicit Freya kembali.


"Bukankah kamu sudah memiliki pekerjaan? Waktu itu kamu bilang____"


"Mereka memecat aku, Sam. Mereka tidak mengizinkan karyawan wanita disana hamil."


Samuel terdiam sejenak dan berfikir, apakah ini hanya akal-akalan Freya saja?


"Kehamilan ku, tiap hari makin terlihat. Dan sejak kehamilan ini, aku tidak lagi mendapat endorse dari merk-merk produk yang dulu selalu meng-endorse aku." Freya kini menatap dalam wajah Samuel.


"Sam.... kamu bisa kan bantu aku? Pekerjaan apa aja, aku mau. Jadi....jadi office girl pun aku mau." Freya sedikit melemahkan suaranya.


"Aku gak mungkin kasih kamu kerjaan jadi OG, Fe. Kamu kan lagi hamil." Samuel sejenak menghentikan ucapannya.


"Sebenarnya aku sedang mencari sekretaris baru. Tapi kamu kan lagi hamil Fe."


"Emang kenapa Sam? Aku bisa kok." Freya menjawab semangat.


"Aku gak mau nanti kalo kamu melahirkan trus aku kebingungan cari sekretaris baru lagi."


"Sam, aku janji setelah melahirkan gak akan ambil cuti panjang. Lagipula kehamilan ku baru memasuki bulan ke empat," desak Freya.


Lagi-lagi Sam membuang napas berat, menyeka kasar rambut ikalnya. Untuk sesaat hanya ada keheningan disana.


"Aku harus mempertimbangkan ini dulu Fe. Dan soal Elano, sebisanya aku usahakan menemui dia," ucap Sam akhirnya.


"Makasih, Sam." Freya mendekat ke arah Samuel dan meraih lengan pria itu. Sam hanya melirik kecil tanpa membalas usapan Freya yang begitu lembut menempel di salah satu lengannya.


"Aku pamit dulu. Ini nomor baru aku. Kalau ada kabar tentang El atau pekerjaan ini kamu bisa menghubungi aku disini."


Sam hanya mengangguk pelan menjawab ucapan Freya. Ia sandarkan tubuhnya pada meja kerjanya sambil kedua lengan yang masih ia lipat di batas dada.


"Sam, aku mohon. Aku butuh pekerjaan itu saat ini," cicit Freya lagi sebelum melangkah pergi dari ruangan Samuel.


Aarrgghh... apa yang harus gue lakukan? batin Samuel. Haruskah dia menerima Freya bekerja menjadi sekretarisnya? Bagaimana jika Maya tahu? Tidak, gue harus membicarakan ini dengan Maya.


Batin Sam lagi.


....


Maya memang selalu membuat sendiri menu tertentu pesanan pelanggan. Bukan apa-apa ia hanya tidak ingin membuat pelanggan kecewa dan mengeluh soal rasa yang tidak sama dengan yang biasanya.


ddrrttt....drrrttt....


Ponsel Maya tiba-tiba saja bergetar dan diselingi dering panggilan dari seberang.


"Tari, tolong ambil alih steak ini, tunggu dua menit lagi lalu sajikan."


"Baik, bu Maya." Jawab Tari gadis manis yang Maya maksudkan tadi.


"Oh ya jangan lupa kentang panggangnya di oles mentega lagi." Maya melanjutkan dan dijawab anggukan kepala patuh sang pegawai cafe.


ddrrttt...ddrrttt...


Kembali ponsel pipih Maya bergetar, dengan cepat ia raih ponsel pipih berwarna putih di atas meja panjang pantry.


^^^Airin... hey... apa kabar Lo?___ gue lagi di cafe, eh Lo nanti mampir ya___ iya beres gue traktir____ Hhmm... Sam?___ Benarkah...?___ Lo serius?___ Oke-oke thanks ya____ Hhmm, gua gapapa kok___ oke bye...^^^


Klik....!!


Maya mematung sejenak begitu sambungan telepon terputus.


"May...! lagi ngelamunin apaan?"


Sebuah tepukan pelan di pundaknya membuat Maya terkejut.


"Eum... gak ada, gak ngelamunin apa-apa," jawabnya gugup.


Martha terkekeh sebentar, melihat kegugupan Maya membuat kening Martha sedikit tertarik kemudian.


"Kamu ada masalah?"


Maya menggeleng pelan, "Gak ada. I'm fine...." jawab Maya sembari tersenyum.


"Beneran?"


"Hhmm..."


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita ke aku, okey...?" Martha meraih pundak Maya.


"Hhmm... pasti!" Maya mengangguk dan sedikit mengembangkan senyuman manisnya.


"Ya udah, tuh temuin pelanggan setia kamu." Martha lalu berjalan menuju pantry, melihat kinerja dari beberapa chef yang bekerja di cafe mereka.


"Hhmm, aku keluar dulu." Jawab Maya bernada lemah. Martha hanya memandangi patner kerjanya dengan dahi yang mengerut dalam.


....


Maya berjalan keluar menuju meja yang biasa Sam tempati jika sedang berada di cafe miliknya. Pelanggan setia yang dimaksudkan Martha tadi, tentu saja Samuel. Maya melirik jam tangannya sebentar. Tentu saja Sam kesini, ini sudah jam makan siang, batin Maya.


Ia mendapati sosok Samuel yang seperti biasa duduk di dekat deretan bunga daisy warna pink yang tumbuh dan tertata begitu cantik.


"Sam...." Maya tersenyum seperti biasa, menyembunyikan segala pertanyaan tentang apa yang baru saja Airin ucapkan padanya lewat telepon tadi.


"Hey, sayang...." Sam berdiri mendekat ke arah Maya, meraih pundak kecilnya dan mencium kedua pipi gadis itu.


"Gimana kerjaan kamu hari ini, Sam?" tanya Maya tanpa ada nada mengintrogasi.


"Seperti biasa, sayang. Begitu menyita pikiran," desis Sam, ia mengambil napas panjang.


"Kamu lapar?Aku buatin makanan dulu ya." Hampir saja Maya berdiri, dengan cepat Sam menyela, meraih lengan Maya.


"Sayang....." lirih Sam.


"Ada apa, suami? kamu ada masalah?" Maya masih mencoba bersikap lebih tenang, biarlah Sam yang memberitahukan sendiri tentang kedatangan Freya di kantornya.


"Ada yang ingin aku bicarakan," ekspresi Samuel kini sedikit terlihat bingung.


"Sayang, kamu makan dulu ya, aku siapin. Setelah itu kamu bisa cerita apa aja ke aku."


Samuel hanya mengangguk pelan menjawab.


Maya tersenyum kecil sesaat, setelah itu ia melangkah menuju pantry. Sedikit menghembuskan napas pelan ketika tubuhnya membelakangi Samuel.


....


Sam memasukkan potongan daging terakhir ke mulutnya, mengunyahnya perlahan dan kemudian meraih air mineral yang telah Maya siapkan.


"Enak, Sam?" tanya Maya lembut.


"Hhmm, seprti biasa, enak banget...."


"Terus... kamu tadi pengen ngomong apa, hhmm?"


Samuel terdiam sesaat.


"Ini___ " Sam menggantung kalimatnya.


"Iya....?"


"Soal Freya...." ucap Samuel lirih.


"Aku dengerin Sam. Freya kenapa?"


"Janji kamu gak marah?"


Maya mengangguk pelan dan tersenyum sebentar ke arah Samuel.


"Janji...!"


to be continue....