MySam

MySam
Sikap Dingin Sam



Maya menyambut kedatangan Sam, memeluknya lalu mendaratkan cipika cipiki di pipi dengan rahang kotak tegas. Terakhir satu kecupan kecil pada ujung bibir Sam mengakhiri ritualnya menyambut kedatangan sang suami.


"Kamu lelah?" tanya Maya begitu dilihatnya Sam hanya mematung ketika ia peluk, tangan Sam bahkan tidak menyentuh pinggangnya sama sekali.


Dan Sam mengangguk pelan sembari melonggarkan dasi yang tadinya melilit rapi pada lehernya.


"Aku buatin minuman ya?"


Kembali Sam mengangguk pelan.


"Dingin atau hangat?"


"Hangat saja, tolong."


Maya mengangguk dan berlalu meninggalkan Sam sejenak untuk menuju ke pantry, menyiapkan teh hangat untuk suaminya.


Selang beberapa menit kemudian, Maya kembali dengan segelas teh hangat dalam tangannya.


"Teh hangatnya, mumpung masih hangat."


Sam menerima gelas kaca bening dengan isi teh yang begitu harum. Ia menyesap perlahan sembari kedua netra kecoklatan miliknya mengitari seluruh ruangan luas rumah mereka.


"Am mana?" tanya Samuel sembari terus menyesap sedikit demi sedikit teh hangat yang tidak terlalu kemanisan. Rupanya Maya hafal betul selera tingkat kemanisan setiap membuat teh maupun kopi untuknya.


"Daddy.....!!" seru Samudra dari arah kolam renang indoor rumah mereka.


Samudra langsung memeluk Samuel dengan tubuh yang masih basah kuyup, menciumi wajah lelah Samuel dan tak lupa kebiasaan Samudra untuk selalu mencubit hidung mancung sang daddy.


"Ini dia jagoannya daddy...." Sam membalas menciumi puncak kepala Samudra dan memeluk tubuh mungil itu erat. Sam bahkan tidak peduli dengan tubuh Samudra yang basah kuyup.


"Am, mandi dulu gih terus pakai baju. Kasian kan daddy jadi basah gitu," ucap Maya yang geleng-geleng pelan melihat kelakuan Samudra.


"Daddy-daddy.... tadi Am mamam pizza sama mommy...." cerita Samudra.


Sam menarik senyuman kecil.


"Iya kah? dimana?"


"Restoran pizza hut. Am suka...." jawab Samudra polos.


Sekilas nampak wajah terkejut dari Maya ketika Samudra bercerita.


"Oh ya....? Kata dokter, Am kan gak boleh banyak-banyak mamam fast food." Sam berujar sembari memangku Samudra.


Maya hanya terdiam, tidak banyak bicara menimpali apa yang Samudra ceritakan.


"Am hanya makan berdua aja sama mommy...?" tanya Samuel dengan sedikit menyelidik.


Mendengar pertanyaan Sam, membuat Maya sedikit salah tingkah.


"Sam kamu mandi dulu gih, udah sore," ucap Maya akhirnya, mencoba menyela apa yang menjadi pertanyaan Sam ke Samudra.


Sam mengangguk dan menurunkan tubuh mungil Samudra dari pangkuannya.


"Daddy mandi dulu ya, Am juga mandi dong, dad gak mau Am kedinginan nanti."


Samudra mengangguk patuh, ia pun berlari menuju kamar mandi yang ada di lantai satu.


"Aku siapin baju ganti buat kamu dulu ya."


Samuel hanya mengangguk pelan. Hanya melihat sebentar ke arah Maya lalu berjalan menaiki anak tangga melingkar.


Maya sedikit mematung, Sam bahkan tidak mencium keningnya seperti yang biasa ia lakukan sepulang dari kantor.


Mungkin dia benar-benar kelelahan, pikir Maya.


....


Dari dalam kamar, Maya mendengar suara gemericik air shower dari dalam kamar mandi. Tanpa berfikir yang macam-macam Maya pun memilih satu kaus oblong berwarna putih dan celana boxer abu-abu gelap dari dalam almari.


"Sam....! baju ganti kamu udah aku taruh di atas tempat tidur. Aku siapin makan malam dulu ya....!?" Maya sedikit berteriak dari luar pintu kamar mandi.


"Hmm.....!" jawab Samuel singkat, ia bahkan tidak membuka pintu kamar mandi seperti yang biasa ia lakukan jika Maya sedang berada di dalam kamar mereka.


...


Samuel mengguyur tubuh atletisnya di bawah guyuran air hangat shower dengan mode heavy rain.


Laki-laki itu hanya terdiam berdiri di bawah guyuran air shower, seolah sedang memikirkan satu hal. Seolah-olah hatinya sangat lelah dan begitu malas untuk sekedar berkata-kata ataupun melakukan sesuatu.


Dia bahkan membiarkan rintik air shower menghujam tubuh lelahnya. Sam hanya berdiri menghadap dinding kamar mandi dengan menjulurkan kedua lengannya di sana, kepalanya tertunduk pasrah menerima hujaman air hangat dari shower bermode heavy rain.


Seperti ada sesuatu yang ia pendam dalam-dalam. Mungkin.... sesuatu yang menyakitkan.


...


Sam keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit batas pinggangnya.


Sesaat dia hanya terdiam, tidak segera bergerak memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Maya. Sam hanya duduk pada sofa kecil yang terletak pada dekat jendela sudut kamar mereka. Tentu saja ia duduk masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Hampir setengah jam dia hanya duduk diam di sofa sudut ruangan.


Hingga akhirnya Sam berdiri, melepas handuk putih yang membungkus sebatas pinggangnya. Lalu meraih satu persatu pakaian ganti yang telah Maya siapkan.


....


Maya menunggu Sam turun untuk makan malam, Samudra yang sudah dari tadi duduk di balik meja makan, terlihat sibuk dengan gadged di tangannya.


"Daddy kenapa lama sekali, mom?"


Akhirnya Samudra meletakkan gadged tipisnya dan memandang ke arah Maya.


"Am tunggu di sini dulu ya, biar mommy liat dulu, daddy udah selesai mandi apa belum." Maya berdiri dan menggeser kursi dari kayu ek itu.


Perlahan ia pun berjalan pelan menaiki anak tangga, sembari terus memegangi perut buncitnya yang mungkin tinggal menunggu satu bulan lagi untuk waktu kelahiran.


Maya membuka knop pintu kamar dan spontan membolakan kedua mata hitam pekat nya.


Sam sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size.


"Sam.... kamu gak enak badan?" tanya Maya mendekat ke arah suaminya.


Tak ada balasan apa-apa dari Sam. Pria itu hanya terdiam dengan mata yang terpejam rapat.


"Sam--- sayang---"


Maya kini duduk pada tepi ranjang dan meletakkan satu telapak tangannya pada dahi Samuel, mencoba mengukur suhu tubuh Sam.


"Badan kamu gak panas," ucap Maya sembari memeluk bahu Samuel yang masih diam tak bergerak.


"Kamu ada masalah?" tanya Maya lembut.


Samuel hanya menggeleng pelan, bahkan dia tidak menatap wajah Maya. Netranya tetap tertutup rapat dengan satu lengannya sebagai bantalan dalam baring nya.


"Kamu gak makan? Atau udah makan di luar?" tanya Maya lagi.


"Aku sedang tidak ingin diganggu May."


Maya sedikit terhenyak dengan apa yang Sam ucapkan barusan. Namun Maya berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Sayang.... aku bawain makanan kamu ke kamar ya?"


"Aku gak lapar."


"Tapi Sam---"


"Aku bilang aku gak lapar, May!" Samuel menyela ucapan Maya dengan nada yang sedikit tinggi, sejenak ia menatap datar wajah Maya. Lalu kembali kedua netra kecoklatan itu menutup erat.


"Dan aku sedang tidak ingin diganggu." Sam melanjutkan ucapannya dengan nada pelan.


"Jadi menurut kamu aku ganggu kamu?" cicit Maya lemah.


Maya perlahan berdiri dari sisi ranjang empuk mereka.


Melihat nanar ke arah Samuel yang saat itu merubah posisi tidurnya menjadi membelakanginya.


"Oke, aku gak akan ganggu kamu."


Maya membalikkan badan dan berjalan keluar dari kamar. Entah apa yang terjadi dengan suaminya. Beberapa praduga menghinggapi pikirannya kini.


Hingga akhirnya Maya benar-benar keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.


...


Tubuh Sam meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan hingga batas dada bidangnya.


Samuel bahkan menitikkan air mata dalam tidurnya.


Seluruh telapak tangannya mengepal erat, seolah tengah menahan amarah agar tidak lagi meledak. Setidaknya Sam berusaha keras untuk menahan emosinya.


...


Maya menuruni anak tangga dan kembali menuju ke arah meja makan. Maya menjaga ekspresi nya agar terlihat sebiasa mungkin di hadapan Samudra.


"Daddy mana, mom?"


"Daddy gak lapar, sayang. Kita makan berdua aja ya. Am mau makan sama apa?" Maya sedikit memaksakan senyumannya.


Samudra pun menunjuk beberapa sayur dan lauk pilihannya. Hingga Maya menaruh semua pilihan Samudra ke dalam piring bundarnya.


Maya tidak tahu betul apa yang menyebabkan Samuel bersikap dingin seperti ini. Samar terdengar suara dering ponsel miliknya. Melihat nama sang penelfon, Maya membuang napas sebentar, sebelum ia menerima panggilan seluler itu.


To be continue....