
Dean memacu Mercedes yang ber-tipe sport SUV bertenaga turbo itu dengan kecepatan penuh ketika memasuki jalan tol. Dia ingin sekali meluapkan seluruh kejutan yang baru saja ia dapatkan.
Bagaimana mungkin kalo dirinya dan Sam memiliki hubungan darah? Dia bahkan tidak pernah menyangka sebelumnya.
Mungkin ini alasan kenapa setiap ia bertemu dengan Permana dan Anita, Dean merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Namun yang membuatnya sangat marah adalah kenapa keluarga Sanjaya begitu tega menyembunyikan kebenaran tentang dirinya.
Dan selama ini keraguan bahwa dia bukan keturunan Sanjaya, terungkap sudah.
Dean semakin memacu gas kendaraan dengan kecepatan penuh. Melewati banyak mobil lainnya yang melintas di jalan bebas hambatan hari itu.
.....
"Tumben sudah pulang?"
Maya mengernyit heran, begitu ia memasuki rumah dan mendapati Sam yang tengah berenang di kolam renang indoor mereka.
Sam kembali terdiam, tanpa merespon apa yang menjadi pertanyaan Maya.
Dan pria itu bersiap kembali untuk melakukan gerakan meliuk di dalam air jerih kebiruan itu.
Untuk sejenak Maya menghela napas lalu berjalan ke arah pantry.
Hingga beberapa menit, Sam masih melakukan gerakan meliuk di dalam air, ia beberapa kali terlihat berputar dari satu sisi kolam renang ke sisi yang lain.
"Sam, minum dulu....!" ucap Maya yang sedikit berteriak agar suaminya itu mendengar ucapannya.
Dan benar saja, Sam menghentikan gerakan berenang gaya punggungnya.
Namun masih berdiri di dalam air sembari mengusap tetesan air dari wajahnya.
"Minum dulu, aku buatin latte hangat."
Maya kali ini mendekat ke tepi kolam renang. Memandang wajah Sam yang tanpa senyuman sedikit pun.
Hingga akhirnya Sam keluar naik ke atas kolam renang. Sam bahkan tidak merespon handuk yang Maya julurkan ke arahnya.
Sam berjalan melewati perempuan itu tanpa ekspresi ataupun komentar apapun juga.
"Aku ada salah ya? Kamu marah?"
Pertanyaan Maya spontan saja membuat Sam akhirnya melirik ke arahnya.
Memandang tajam ke dalam iris hitam berkilauan itu.
Bukan tatapan mata teduh seperti biasa, namun itu adalah tatapan penuh amarah.
"Apa setiap saat harus aku jelaskan salah kamu apa, hah?" Sam balik bertanya.
Ia masih memandang tajam ke arah Maya dengan sangat dingin.
"Bagaimana aku bisa tau, jika kamu diam seperti ini, Sam."
Maya mencoba membela diri, karena dia benar-benar tidak mengerti akan perubahan sikap pria dengan perut sixpack yang berdiri membeku di hadapannya saat ini.
"Sam......! Kita masih bicara, berhenti dulu, please...."
Maya mencoba menghentikan langkah kaki Samuel yang meninggalkan dia begitu saja.
"Samuel.....!!"
Teriak Maya, dan tidak juga membuat langkah pria itu terhenti.
....
"Aku minta maaf kalo aku salah, meski aku gak tau salah aku apa, Sam."
Maya mengikuti Samuel yang berjalan ke ruang kerja pria itu.
Ia bahkan berdiri di samping Sam yang tengah sibuk meletakkan laptop dan kopi buatan si bibik.
Sam bahkan tidak menyentuh sama sekali latte buatan Maya, padahal biasanya dia tidak pernah bisa menolak latte hangat buatannya.
"Suami..... ngomong dong, jangan diem aja. Aku gak mau kamu diemin seperti ini." Maya mulai merajuk, dan kali ini berdiri tepat di hadapan Sam dengan kedua lengan yang ia lingkarkan pada pinggang Samuel.
"I'm sorry......" rajuk Maya sekali lagi.
Sam perlahan menghela napas, dan memandang tajam ke arah Maya.
Tangan Sam tiba-tiba saja melepas lingkarkan lengan Maya di pinggangnya. Lalu melangkah menjauh dari Maya.
"Aku tadi ke cafe kamu," ucap Sam akhirnya.
"Oh ya? jam berapa?"
"Siang."
"Kok aku gak tau?" tanya Maya senang, akhirnya Sam mau berbicara lagi padanya.
"Owh jadi tadi kamu ke cafe? Kenapa gak minta izin sama aku?" Sam berusaha memancing.
"Eh-i-ya aku ke cafe," jawab Maya gagap.
"Kamu dari tadi pagi gak pernah mau jawab telfon aku, pesen aku aja belum kamu baca, Sam...."
"Ngapain kamu ke cafe?" Sam tidak menanggapi jawaban Maya
"Ngecek keadaan di sana."
"Emang Imel gak kasih kamu laporan? Harus ya dengan perut sebesar itu kamu bolak balik ke cafe?" tanya Sam ketus.
"Ya kan aku juga pengen tau langsung keadaan di sana. Gimana kerja Imel selama aku gak pernah ke cafe."
Sam membuang muka ke arah lain, setelah sebentar memandang perut Maya yang semakin membesar.
"Aku ke cafe juga untuk ketemu temen."
Ucap Maya akhirnya.
"Temen? Cowo?"
"Bukan." Maya menggeleng.
Dan Samuel tampak sedikit menyeringai.
"Temen kuliah dulu, Sam. Namanya Diana, kami membicarakan acara pernikahan Airin minggu ini." Maya menjeda sebentar kalimatnya.
"Diana juga dimintai Airin untuk jadi gadis pendamping pengantin perempuan."
Kembali Sam merespon meremehkan.
Hampir saja ia membuka mulutnya untuk berbicara, namun niatnya ia urungkan setelah ia melihat ke arah perut Maya.
"Sam.... kamu mau kemana lagi?"
Samuel begitu saja melangkah pergi meninggalkan Maya yang masih menengadahkan wajahnya menatap ke arah nya.
Tak ada jawaban dari Samuel, pria itu bahkan tidak menghiraukan teriakan Maya yang memanggil namanya.
....
"Kita harus bicara, aku gak mau terus-terusan kamu diamkan seperti ini."
Maya memasuki kamar dan seketika kedua netranya membola melihat Samuel yang sudah berpakaian rapi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Maya heran.
"Aku ada urusan." Sam menjawab sekenanya saja, sembari mematut dirinya di depan cermin. Merapikan pakaiannya yang sebetulnya sudah terlihat sangat rapi.
"Sam...."
"Kamu kalo mau makan malam nanti, makan aja. Jangan tunggu aku." Sam memotong pembicaraan Maya.
"Kamu mau kemana sih? Kumohon jangan bersikap seperti ini...." Suara Maya semakin berat, ia tidak lagi bisa menahan emosi perasaannya.
Sikap dingin Samuel sungguh membuatnya tersiksa saat ini.
"Aku ada urusan."
Sam kembali menatap dingin Maya, sekilas perut bulat istrinya pun ia lirik. Namun.... bayangan Maya dengan Dean siang tadi membuat Samuel kembali merasakan amarahnya.
"Sam....." Maya mencoba mengejar pria itu.
Maya takut akan tatapan mata Samuel. Begitu dingin dan kaku...
Sam tetap berjalan menuruni anak tangga hingga keluar dari pintu besar mansion.
Menyisakan Maya yang berdiri mematung di ujung tangga dengan mata berkaca-kaca.
...♤♤♤♤...
"Kenapa kalian tega berbuat seperti ini padaku?"
Dean memasang wajah geram ketika dia memasuki pintu rumah besar keluarga Sanjaya.
Wajah bergaris tegas itu memiliki kedua netra yang begitu tajam ketika menyorot memandang laki-laki dan perempuan setengah baya yang duduk pada sofa panjang rumah mereka.
"Apa maksud kamu, Dean?"
Perempuan dengan pakaian branded dan anggun itu menatap Dean heran.
"Aku bukan anak kalian, bukan?!"
Sanjaya dan juga Viona seketika terkejut.
"Kamu ini ngomong apa, Dean? Kami gak ngerti."
"Papa dan Mama gak usah pura-pura lagi. Aku tau aku bukan anak kalian!" Dean kembali menekankan kalimatnya dengan nada keras.
"Aku anak Permana dan juga Anita. Musuh bisnis Papa dulu, iya kan Pa...?!!"
Seketika Sanjaya tersentak, membolakan kedua netra dan saling berpandangan dengan Viona, istrinya.
"Jangan ngaco kamu, Dean....!"
"Dean gak ngaco, Pa....!!"
Dean menjeda ucapannya dan mengeluarkan dua kertas berbungkus amplop putih panjang.
"Dean punya bukti, jika Dean bukan anak kalian."
Dean meletakkan kasar amplop tadi ke atas meja panjang berdesign antik.
"Apa ini?"
"Bukti jika Dean tidak ada hubungan darah dengan kalian." Dean kembali menjeda kalimatnya.
"Dan aku juga mempunyai bukti kejahatan Papa di masa lalu. Papa sengaja menculik seorang bocah laki-laki berumur sepuluh tahun dan memisahkan dia dengan keluarga kandungnya."
Suasana nampak hening sejenak.
"Dan anak itu adalah Daniel Permana--- alias Dean Sanjaya."
Dean kembali melanjutkan ucapannya.
"Ini adalah tes DNA aku dengan Papa dan Mama. Kemarin waktu aku kemari, Dean mengambil rambut kalian yang tertinggal di sisir kalian." Dean menarik salah satu amplop putih ke arah Sanjaya.
"Dan yang satu lagi DNA Dean dengan Samuel. Saudara kandung Dean."
"Kenapa Papa begitu tega di masa lalu, hah....??!!" Dean berteriak ke arah kedua orang yang selama ini ia anggap orang tua sendiri.
"Jawab.....!!" erang Dean lagi.
"Maafkan Papa, nak...."
Permana menunduk dalam. Suaranya sangat berat untuk menceritakan semua kisah di masa lalu itu.
.....
"Kami sangat mencintai kamu, nak. Seperti anak kami sendiri, makanya itu Papa dan Mama tidak tega ketika kakek kamu--- ayah Papa menyuruh untuk membunuh mu." Sanjaya mengakhiri ceritanya.
"T-ttapi kalian tidak pernah memperlakukan aku seperti Mark dan Sean."
"Kamu salah, Dean. Justru kami sangat mencintai kamu. Sama seperti kami mencintai kedua anak Papa dan Mama yang lain."
Dean hanya bisa membisu. Menerima fakta yang lain, jika kakek nya lah yang menjadi dalang penculikan itu. Kakek yang sangat dia percayai dan cintai. Bahkan menurut Dean, sang ketua klan Sanjaya itu lebih menyayangi dia jika dibandingkan dengan kedua orang tuanya.
"Mereka juga saudara kamu, nak. Kami juga orang tua kamu." Viona kali ini angkat bicara.
"Kamu memang anak yang penuh keajaiban bagi kami. Setelah kami merawat kamu. Mama akhirnya bisa hamil Mark dan Sean, adek kamu." Viona kembali berujar lembut.
"Kami sangat takut jika tiba-tiba ingatan kamu akan masa lalu kembali lagi. Itu lah alasannya kenapa Papa dulu menyuruh kamu untuk sekolah dan menetap di London." Sanjaya menjeda ucapannya.
"Papa dan Mama yang mengalah untuk berkunjung ke London demi kamu, Dean."
Dean hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan sembari melihat ke arah luar jendela besar rumah yang laksana istana tersebut.
...****************...
Malam itu Samuel memacu kuda besinya dengan kecepatan maksimum. Motor besar berwarna merah menyala itu bahkan dengan arogannya menunjukkan taji nya di jalanan Jakarta.
Sam ingin kembali merasakan adrenalin tinggi, sperti dulu.
Motor sport keluaran produsen dari Italia itu pun meraung, meliuk-liuk di tengah padatnya lalu lintas.
Sam hanya ingin berkendara, tanpa ada tujuan jelas. Di balik helm sport full face berwarna hitamnya, kedua iris kecoklatan Sam menatap tajam ke arah jalanan, berkonsentrasi dengan segala kemungkinan ia dapat meliukkan motor sport besarnya itu di sela-sela celah kendaraan yang lain.
Tidak ada yang ia pikiran malam itu, Sam hanya ingin menunggangi kuda besinya tanpa arah.
Namun beberapa kali bayangan ketika Maya dan Dean Sanjaya berbicara saat di cafe dan juga ketika keduanya duduk di pojok restoran cepat saji Pizza Hut, membuat Sam semakin melajukan kecepatan motornya dengan kecepatan tinggi.
to be continue....