
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." lanjut Sam, sedikit merenggangkan pelukannya dengan kedua netra yang masih menatap lembut Maya.
Sedikit membulatkan bibirnya, Maya masih terlihat terkejut dengan penuturan Sam barusan.
"Tapi Sam... bagaimana bisa anak itu bukan anak kamu? kamu gak bohong kan?" selidik Maya.
"Apa pernah aku bohong sama kamu? Martha membodohi semua keluarga ku."
"Aku gak pernah bercinta sama dia. I just wanna you baby..." lanjut Sam, kembali mencium kening Maya. Suara Bariton itu membelai seluruh tubuhnya, membuat helaan napas lolos dari mulut yang setengah terbuka.
Menerima kecupan hangat dari Sam, tubuh Maya serasa meremang.
"Sekarang aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Sam, mengulangi lagi perkataan yang tadi. Sedikit ekspresi bingung terlihat dari wajah Maya. "Tapi Sam aku harus kembali ke kantor."
"Kenapa? kamu kangen pengen ketemu sama El?" Lagi-lagi pertanyaan bodoh Sam terlontar dari mulutnya, membuat Maya kesal, merotasikan netranya ke arah lain dan bibirnya mengerucut beberapa centi.
"Sorry sayang, aku hanya becanda tadi." Rajuk Sam, mencium kening Maya dan kembali memeluknya erat. "Aku gak suka ya kamu ngomong seperti itu lagi." Ketus Maya, bibirnya masih mengerucut kesal. Namun itu tak berlangsung lama, Sam kembali melingkarkan lengan ke pinggang Maya, mendaratkan kecupan hangat di kening gadis itu. Mencoba membuat perasaan Maya kembali dalam mood yang baik.
"Ayo....?" ajak Sam, menggandeng punggung tangan Maya dan menautkan jemarinya di sela-sela jemari Maya. Mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Sam, berjalan saling berdampingan dengan kedua tangan yang masih saling bertautan.
Mengabaikan semua pandangan mata heran dari seluruh isi kantor, walaupun ada sedikit rasa canggung Maya namun Sam selalu mengeratkan genggaman tangannya menguatkan Maya.
"Kita mau kemana?" tanya Maya, masih mengekori langkah Sam.
"Ke suatu tempat paling indah di Jakarta."
Maya menatap Sam heran, tempat paling indah di Jakarta? di siang hari begini? oh c'mon... bagi Maya saat siang hari begini hanya ada kemacetan dan kepulan asap kendaraan yang memenuhi sudut kota ini. "Kamu kesini naik apa tadi?" tanya Sam di sela langkah kaki mereka. "Motor." jawab Maya singkat, masih dengan netra kebingungan yang memandang wajah Sam, "Bagus lah, kita naik motor kamu aja ya biar cepet."
Semakin mengerutkan kening heran, Maya hanya mengangguk kecil menjawab ucapan Sam.
___
Menyerahkan kunci motor ke arah Sam begitu mereka tiba di parkiran kantor. Maya mulai menaiki jok belakang motor, melingkarkan lengannya ke pinggang Sam.
Sam meraih lengan Maya dan mengeratkan kembali lingkaran lengan itu, "Pegangan yang erat." ucap Sam sambil sedikit menoleh ke belakang. Maya hanya mengangguk nurut, semakin mengeratkan lingkaran tangannya dan menenggelamkan wajahnya di punggung Samuel.
Mulai menarik gas motor dalam, meliukkan body motor dengan sangat apik, menghindari beberapa kendaraan lain di depannya, mencari celah yang pas untuk ia lewati.
Sesekali terlihat Sam menghindari mobil dan kembali memasuki celah jarak kendaraan, menaklukkan kepadatan kota Jakarta.
Sam melambatkan laju kendaraan, hingga akhirnya motor matic itu berhenti. Maya ternganga melihat bangunan di hadapannya dan berhenti berjalan, hingga Sam harus menggenggam tangannya dan menarik gadis itu masuk.
Rasa hangat yang berbeda mengisi hati Maya dengan debaran lain. Tangan Sam yang lembut membungkus tangannya memberikan kehangatan dan rasa nyaman. Maya mendongak dan menatap wajah Sam, moment ini mengingatkan kebersamaan mereka beberapa waktu silam.
"Tutup," baca Maya ketika mereka hendak masuk ke ruangan Planetarium. Ada rasa kecewa tersisip ke dalam hati Maya, sementara ia sudah berharap ingin melihat bintang disaat siang hari begini. Dia melirik ke arah Sam yang dengan tenang menunggu, bertanya-tanya apakah Sam mempunyai kemampuan menembus tembok. Namun tak lama kemudian seorang petugas datang membawa kunci dan mulai membukakan pintu untuk mereka.
"Star Theather Planetarium ini selalu terbuka untuk pendonor terbesarnya." ucap Sam, menahan senyum melihat wajah Maya yang terbelalak kaget.
Ruangan yang mereka masuki tak kalah luar biasa. Sebuah hall besar dipenuhi kursi seperti gedung bioskop di seluruh ruangan.
Maya bertanya-tanya dimana layar peraknya ketika langit-langit melengkung di atasnya menampilkan galaksi dan seluruh antariksa. Ternyata seluruh atap itu terbuat dari LED, sekejap gadis itu terhenyak, indah sekali. Dia seperti tenggelam ke dalam lautan bintang. Tanpa sadar senyuman terukir di wajah Maya.
Memandang ke arah Maya, Sam kini pun ikut menarik senyuman kecilnya. "Cantik, bukan?" Tanya Sam mengamati ekspresi Maya, melihat gemintang terpantul di wajah cantik itu.
"Luar biasa," balas Maya menoleh ke arah Sam.
"Makasih Sam, sudah membawaku kemari."
Maya kembali mengalihkan pandangannya ke arah Sam, tiba-tiba saja seluruh galaksi dan keajaiban di hadapannya lenyap, seluruh pandangan terpaku pada sosok yang ada di hadapannya. Hanya dia dan Samuel.
Sam tersenyum
Melihat senyum kecil tanpa keangkuhan di wajah Sam adalah hal lain. Sebuah sengatan listrik tiba-tiba menyusup masuk ke relung hatinya. Seketika perasaan hangat seperti jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam tubuh Maya.
"Kamu lapar? setelah ini kita cari makan dulu." Suara bariton Sam memecah lamunan Maya dan membawanya kembali ke alam sadar.
Tersenyum sebentar ke arah Samuel dan mengangguk pelan. Menyisakan perasaan hangat di dada Maya, perlakuan Samuel memang selalu menghipnotis gadis itu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Sam lagi, mengelus puncak kepala Maya lalu menyelipkan beberapa anak rambut hitam itu ke belakang telinga Maya.
"Terserah kamu aja Sam," jawab Maya tersipu. Beberapa bulan tidak lagi berada di dekat Samuel, Maya merasakan getaran hebat, sedikit salah tingkah untuk larut dalam pesona pria itu.
Tepat setelah pertunjukan Star Theather berakhir, Rolex di tangan Sam menunjukkan pukul satu siang. Perutnya sudah protes minta diisi.
"Yuk, kita cari makan dulu." ucap Sam, kembali meraih punggung tangan gadis itu, menautkan jemarinya di sela-sela jemari Maya. Memandang ke arah Maya lalu tersenyum, kini Sam memulai melangkah meninggalkan Planetarium, kembali ke arah parkiran.
Beruntung cuaca siang itu sedikit mendung, mentari tidak terlalu memberikan sengatan teriknya. Di bawah langit mendung Jakarta siang itu, Sam dan Maya masih melajukan motor matic, membelah padatnya trafic di jalanan kota Metropolitan ini. Sengaja Sam ingin menghabiskan waktu bersama gadis berprinsip kuat yang telah membuatnya cinta setengah mati.
Pria itu tidak akan pernah rela melepas Maya, over protecting terhadap gadis itu. Menyingkirkan beberapa pria yang berusaha mendekati Maya termasuk Elano.
___
Tadi nya Sam ingin mengajak Maya ke restoran mewah langganannya, namun Maya menolak, menurut gadis itu, lebih menyenangkan jika mereka makan di sebuah restoran cepat saji, memakan burger berdua dengan ukuran jumbo.
Sam menghentikan motor matic milik Maya, memarkirkan dan kembali meraih tangan Maya untuk membawanya berjalan memasuki restoran.
Sam mengantre, ikut berbaris dengan pembeli yang lain. "Biar aku yang pesen Sam, kamu duduk aja," ucap Maya beberapa menit yang lalu.
Sam menggeleng, menolak usulan Maya, menyuruh gadis itu duduk di sofa yang berada di pojok ruangan.
Membiarkan Maya mengantre berdesakan dengan pengunjung lain yang siang itu kebanyakan cowo? bisa saja mereka mengambil kesempatan, sengaja mendekatkan diri mereka dengan Maya atau yang lebih buruk lagi mereka secara sembunyi-sembunyi mengambil kesempatan untuk meraba kaki jenjang Maya yang saat itu hanya mengenakan rok kerja di atas lutut.
Tidak! Sam tidak akan pernah mengizinkan pria lain menyentuh tubuh Maya sedikitpun.
Berjalan ke arah Maya dengan membawa baki makanan berisi dua porsi burger jumbo dan jangan lupakan juga kentang goreng dengan porsi besar.
Netra Maya mengeluarkan binar ceria saat melihat burger dengan ekstra saus sambal serta kentang goreng favoritnya. Menyodorkan makanan itu ke arah Maya. "Makasih Sam," ucap Maya dengan senyuman mengembang. Sam mengangguk sebentar lalu mengambil duduk di hadapan Maya.
"Maaf udah bikin kamu mengantre panjang." ucap Maya, Sam tersenyum sebentar lalu kembali mengacak-acak puncak kepala Maya, gemas. "It's oke sayang. Aku lebih baik yang berdiri disana, daripada kamu yang disana dan menjadi sasaran empuk pria hidung belang," jawab Sam membuat Maya tertawa kecil.
Ternyata dia masih seperti yang dulu selalu over protecting, pikir Maya.
"Habisin, udah ini aku anter kamu balik ke kantor." ucap Sam lagi.
Maya mengangguk, mulai melahap makanan yang ada di depannya.
Membuat Samuel bersedia makan di tempat seperti ini tentu bukan hal mudah, mengingat standart restoran pria itu jauh di atas dari restoran cepat saji seperti ini.
Melihat Sam rela mengantre untuknya dan membawakan makanan sampai ke meja mereka, membuat gadis itu semakin mencintai Samuel.
Menatap wajah pria yang bagaikan pahatan sempurna dari sang maestro seni. Diam-diam kembali menarik senyuman di bibir peach miliknya, lalu mulai menghabiskan makanannya dengan sesekali melirik ke arah Sam. I'm a lucky girl, batin Maya.
to be continue...