
Anita menghela nafas pelan, masih memandangi sosok Maya sebelum gadis itu menghilang dari ruangan luas cafe Anggrek.
Tadinya Anita pikir, Maya akan menerima begitu saja tawarannya, zaman sekarang siapa yang tidak akan tergiur dengan uang dan apartemen mewah?
Namun gadis itu dengan tegas menolak semua tawaran yang ia ajukan. Gadis itu benar-benar mencintai Samuel dan kali ini Sam telah benar memilih seorang gadis.
____
Dengan cepat Maya melangkahkan kakinya menuju kamar tidur. Ia menundukkan kepalanya dalam mencoba menghindar dari tatapan mata sang mama. Maya tidak ingin Siska melihatnya menangis.
"Sudah pulang May?" Bahkan saat Siska menyapa, ia hanya mengangguk menjawab sekedarnya.
"Iya ma."
"Kamu makan dulu ya, mama siapin."
"Nanti aja ma, May belum laper."
Maya kali ini menjawab tanpa memandang wajah ibunya. Gadis itu terus saja berjalan menuju ujung ruang keluarga. Ia masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar rapat.
Maya menghempaskan tubuh rampingnya, seluruh mukanya ia tutup dengan beberapa bantal. Disana ia menangis sejadinya, berharap sang mama tidak mendengar teriakan dan isak tangis yang menderu.
Sore ini hati Maya hancur, seperti sebuah kaca rapuh yang tiba-tiba saja jatuh berkeping.
Bahkan deru tangisnya kini tidak dapat ia sembunyikan, Siska menggetuk pintu pelan khawatir dengan keadaan sang putri.
"Sayang.... kamu kenapa? ada masalah?" tanya Siska dari luar pintu kamar.
"May... kalo ada masalah bisa kok cerita ke mama."
"Maya pengen sendiri dulu ma, tolong..." tanpa membuka pintu kamar, Maya masih berusaha menahan emosinya.
Walau usahanya sia-sia, air mata bening masih saja mengalir deras di kedua pipi itu. Bayangan Samuel kini terus berputar di kepalanya kemudian berganti ucapan Anita, mengiris perih melukai hatinya.
Baru saja pagi tadi ia merasakan perhatian Sam untuknya, dan baru kemarin mereka menghabiskan beberapa hari di Bali, bahkan kenangan itu masih sangat basah bersemayam di hati Maya. Kalung pemberian Sam, perhatian laki-laki itu ... apa semua itu hanya palsu belaka? Jadi apakah ini alasannya kenapa Sam bertingkah aneh akhir-akhir ini? perjalanan ke Praha yang Sam sembunyikan darinya? Aarrghhh.... semua pertanyaan itu laksana bom waktu yang kapan saja bisa meledakkan semua isi kepala Maya.
Gadis itu kembali berteriak dalam tangisnya, semakin erat bantal besar itu ia tekan untuk membekap wajahnya. Ingin rasanya semua pertanyaan di kepala Maya ia ajukan langsung di hadapan Samuel.
Namun rasa kecewa dan sakit hatinya membuat ia enggan bertatap muka dengan laki-laki itu. Maya mengingat satu ucapan Samuel, "May... aku harap apapun yang terjadi nanti, kamu gak pernah benci sama aku."
Ucapan itu yang terus menerus berputar di memori Maya laksana sebuah tape recorder yang selalu memutar ulang berkali-kali di otak Maya.
Apakah ini maksud dari ucapan kamu Sam? batin Maya.
____
"Maya... kamu makan dulu ya nak, seharian kamu belum makan."
Kembali Siska mencoba mengetuk pintu kamar Maya, berharap sang empunya keluar menampakkan sungutan manja nya.
"Maya belum lapar ma."
"Setidaknya bukalah dulu pintu kamar kamu, mama gak mau terjadi apa-apa sama anak mama."
Kali ini usaha Siska berhasil, Maya memutar kunci kamar dari dalam, membuka knop pintu perlahan. Sedikit wajahnya kini menyembul keluar pintu, mata bengkak, muka serta hidung yang memerah menjadi pemandangan yang sangat menyedihkan untuk Siska.
"Kamu ada masalah? cerita ke mama."
Maya menggeleng, menundukkan wajahnya dalam. Ia bergeser ke belakang, duduk di tepi ranjang dan kembali memeluk boneka besar pemberian Sam.
Oh rupanya ini tujuan Sam memberikan boneka untuknya? benar saja memeluk boneka ini Maya merasakan memeluk tubuh Samuel, sangat lembut dan hangat.
"Kamu ada masalah sama kerjaan kamu? atau... sama Sam?" dengan hati-hati Siska kembali mengajukan pertanyaan. Wanita itu menyelipkan ke belakang telinga beberapa anak rambut Maya yang menjuntai menutupi wajah yang kini terlihat suram.
Masih tidak ada jawaban, semakin erat pelukan Maya melingkar di seluruh tubuh boneka beruang besar berwarna pink.
"Ya udah kalau belum mau cerita, kamu makan dulu ya. Mama gak mau kamu sakit nanti." ucap Siska lagi, kembali wanita itu mengelus lembut puncak kepala Maya.
Kali ini Maya mengangguk pelan, menurut apa titah sang mama.
***
Sam berulang kali melirik jam tangan Rolex miliknya. Jemarinya pun berulang kali terlihat menggulir layar ponsel pipih berwarna hitam, nampak wajah cemas di raut muka Sam.
"Rin, lo tau kenapa Maya gak masuk hari ini?" tanya Sam pada Airin. Berulang kali Sam mencoba menghubungi ponsel Maya namun tidak ada jawaban disana.
"Maaf pak saya gak tahu kalo Maya hari ini absen." raut wajah Airin mengernyit tak mengerti.
"Tolong lo hubungi ponsel dia, berkali-kali gue menghubungi Maya gak pernah ada jawaban. Gue kirim pesan juga belum ia baca sampai sekarang."
Jelas terlihat kecemasan Sam disana. Airin mengangguk lalu kembali ke ruangannya.
Samuel tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Maya, kemarin gadis itu masih baik-baik saja. Oh apa perutnya semakin parah? pikir Sam.
Tanpa lagi berpikir panjang, Sam meraih kunci mobilnya. "Sam... lo mau kemana?" Bayu heran melihat Samuel terburu-buru meninggalkan ruang kerjanya.
"Gue pergi sebentar, lo saja yang urus pertemuan dengan klien hari ini." Samuel tetap berjalan meninggalkan Bayu yang keheranan. "Tapi Sam...." Bayu menggeleng pelan.
______
"Nak Sam..." Siska tersenyum sebentar ketika tahu Sam lah tamu yang berkali-kali memencet bel rumahnya.
"Maya nya ada tant? dia baik-baik aja kan tant? Maya gak sakit kan tant?" Samuel langsung memberondong Siska dengan pertanyaan cemas nya.
"Maya nya ada di kamar dari kemarin sore dia gak keluar kamar."
Sam terlihat sedikit kebingungan mendengar penjelasan Siska.
"Kalian ada masalah? atau ada masalah sama kerjaan Maya?" tanya Siska lagi.
Sam menggeleng, "Kami baik-baik aja kok, kerjaan Maya juga baik-baik aja."
"Boleh saya ketemu dia tant?"
Siska berpikir sejenak sebelum akhirnya wanita itu mengangguk pelan menyetujui permohonan Sam.
Samuel berjalan memasuki rumah dan berhenti tepat di depan pintu kamar Maya.
"Sayang.... kamu baik-baik aja kan?"
Masih tidak ada jawaban dari Maya.
"Aku ada salah ya sama kamu? aku minta maaf May."
Berkali-kali Samuel mengetuk pintu, berharap Maya keluar dan berhambur ke dalam pelukannya.
"May.... kamu kenapa sih? kamu sakit? please keluar dulu dong..."
Samuel bersandar pada pintu, seluruh jemarinya masih mengepal mengetuk pada pintu mahoni bercat biru. Hingga beberapa puluh menit Maya tidak bergeming, membiarkan Samuel berdiri di luar penuh pertanyaan.
Klek....
Sam tersenyum lebar saat melihat Maya yang kini berdiri di ujung pintu. Sedetik kemudian senyuman itu perlahan memudar, kedua mata gadis itu terlihat membengkak, senyum cerah yang biasa menghiasi wajah cantiknya pun kini menghilang berganti ekspresi datar.
"Kamu sakit May? kamu habis nangis?" Samuel menampakkan kecemasan saat itu.
Maya masih membisu tanpa melihat kearah Samuel.
"Kita bicara di dalam mobil lo Sam." ketus Maya, gadis itu berjalan mendahului Sam.
Kini Sam benar-benar merasa aneh.
Maya membuka pintu depan begitu Sam menekan remote kunci.
"Kamu kenapa sih sayang? perut kamu masih sakit? kita ke dokter ya." Hampir saja tangan Sam mengelus kening Maya, namun dengan cepat Maya mengelak.
"Jangan temui gue lagi Sam."
"Mulai besok gue gak lagi magang di tempat lo, lagian waktu magang gue juga udah mo selesai kan. Tolong surat rekomen gue lo titipin ke Airin."
Maya bersikap dingin, bahkan gadis itu enggan memandang Samuel, kedua netra Maya berarah lurus kedepan.
"Kamu kenapa sayang? lagi badmood karena datang bulan kamu ya?" goda Sam.
"Gue gak becanda Sam. Jangan pernah kesini lagi."
"Lagian lo bentar lagi mo nikah kan sama Martha? anak lo butuh lo Sam."
Sam terkejut, mata nya membola penuh. Ia pandangi wajah Maya, namun kedua netra gadis itu masih lekat memandang lurus kedepan.
"Siapa yang bilang ke kamu May?"
"Gak penting siapa yang bilang. Lo brengsek Sam, you are bastard !!"
"Tapi makasih ya Sam, lo udah mempermainkan gue dengan sangat hebat."
"May..."
"Cukup lo bohongi gue lagi!!" Maya menyela ucapan Samuel, kini netra gadis itu memandang tajam. Menahan air mata yang hampir saja kembali jatuh dari kedua sudut mata lentiknya.
"Gue gak bisa nerima ini Sam."
Maya melepas kalung pemberian Samuel, meletakkan di atas dashboard mobil Sam.
"Dear... itu buat kamu, aku mohon jangan pernah melepas benda itu."
"Stop calling me dear....!!" kini suara Maya meninggi.
"Cukup Sam, gue mohon jangan siksa gue lagi. Lo pergi dari hidup gue !!"
Maya membuka pintu mobil, ia menyembunyikan air matanya yang kini tanpa sanggup ia kuasai lagi.
Dengan cepat Samuel juga keluar mencoba mengejar gadis itu.
"May denger dulu penjelasan ku."
Sam mencoba meraih lengan Maya, namun dengan cepat gadis itu mengibaskan kasar tangan Sam.
"Kamu pikir yang terluka cuma kamu May? aku juga terluka May. Asal kamu tahu itu, aku sangat mencintai kamu May, sungguh mencintai kamu."
"Oh ya...? terus lo melakukannya sama Martha tanpa cinta? hingga dia hamil itu tanpa cinta?! Ah... hebat sekali lo Sam." pekik Maya.
"Iya.... gue bajingan, gue brengsek May, tapi itu sebelum gue ketemu lo May !"
"Maaf sayang... Aku gak tahu harus bagaimana jika kehilangan kamu. Kejadian itu terjadi sebelum aku kenal kamu dear."
"Dan saat itu aku sedang mabuk, aku bahkan gak inget sama sekali."
Sam mencoba meraih bahu Maya, namun lagi-lagi gadis itu menghindar.
"Gue gak peduli, pergi jauh-jauh dari hidup gue."
Maya melangkah memasuki pagar rumahnya, tanpa menoleh lagi ke belakang. Gadis itu tidak sanggup memandang wajah Sam, menatap kedua iris kecoklatan laki-laki itu. Maya takut semua itu akan mengubah pikirannya. Membuatnya berbuat nekat, lari berhambur ke pelukan Sam. Maya sungguh tidak menginginkan hal itu.
Namun tiba-tiba Maya menghentikan langkahnya sejenak.
"Oh ya selamat atas pernikahan kalian." ucap Maya lagi tanpa menengok ke belakang.
Kini gadis itu berjalan memasuki pagar besi rumahnya, meraih knop pintu rumah dan memasukinya tanpa melihat ke arah Samuel. Kepala Maya menunduk dalam, jemarinya terlihat beberapa kali mengusap kasar kedua pipinya. Berusaha menghentikan derasnya airmata yang keluar tanpa kompromi.
Sementara Samuel masih lekat memandangi kepergian Maya, hingga tubuh mungil Maya menghilang di balik pintu rumah.
Samuel hancur, ia juga merasakan perasaan sama dengan yang Maya rasakan saat ini. Kalung berliontin MySam masih erat berada di balik telapak tangan Samuel.
Sam menggantungkan kalung itu pada ujung knop pintu rumah Maya.
Beberapa menit Sam masih mematung di depan rumah Maya, berharap gadis itu keluar dari sana dan berlari ke pelukannya lagi.
Kosong.... kenyataan yang Sam dapatkan, dengan langkah gontai ia kembali memasuki sedan hitamnya. Cairan bening kini mendadak mengalir jatuh di wajah ber rahang kotak tegas Samuel.
Kini entah apa yang akan terjadi kedepannya, yang pasti pernikahan itu semakin mendekati harinya yang sedikit pun tanpa Sam minta.
To be continue....