
Setelah pemeriksaan selama lebih dari empat puluh delapan jam, akhirnya Elano sementara bisa merasakan udara segar di luar kantor polisi, tentu saja dengan uang jaminan. "Anda kali ini bisa bebas dengan jaminan dan saya harap Anda untuk bisa lebih menjaga sikap atau tidak bepergian ke luar negeri. Saat ini status Anda masih sebagai tersangka tindak penyerangan. Saya tidak mau jika Anda membuat status Anda lebih berat lagi." Pengacara Adrian berkata tegas pada Elano. Pengacara itu tidak mau nama baiknya yang telah menjamin kliennya itu hancur gara-gara kecerobohan Elano.
"Tenang saja, saya tidak akan memperparah status saya sendiri. Tapi saya harap kita dapat memenangkan kasus ini." Elano menjawab tak kalah tegasnya ucapan pengacara Adrian, Elano yang saat itu mengenakan hoodie abu tua dan celana jeans terlihat agak berantakan. Menginap sementara di hotel prodeo membuat pria itu tidak bisa leluasa merapikan diri.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin dengan kasus Anda. Tapi saya juga memohon kerjasama Anda untuk lebih berhati-hati dalam bertindak." Jawab pengacara Adrian yang kemudian diikuti dengan anggukan kepala Elano.
Elano memasuki mobil besar milik pengacara Adrian, hingga mobil hitam mengkilap itu terlihat melaju meninggalkan kantor polisi.
.....
Samuel terlihat sedikit geram, mengepalkan telapak tangannya erat begitu mendengar berita dari pengacara pribadinya. "Bagaimana mungkin ia bisa bebas bersyarat begitu saja, hah?!" geram Sam, memandang tajam pengacara di hadapannya saat ini.
"Maaf tuan Samuel, pengacara tuan Elano yang menjamin beliau dengan taruhan integritasnya."
"Dan status tuan Elano saat ini masih tersangka, tidak menutup kemungkinan jika status itu akan naik menjadi terdakwa. Anda tenang saja. Kebebasan bersyarat itu hanya bersifat sementara." Pengacara Rudi menjelaskan secara detail.
"Maksud Anda?"
"Petugas kepolisian akan dua puluh empat jam mengikuti semua gerak gerik Elano. Tentu saja kasus ini akan segera naik ke pengadilan. Jika semua bukti bisa memberatkan Elano maka keputusan hakim pasti akan berpihak kepada kita," lanjut pengacara itu lagi.
"Saya serahkan semuanya pada Anda, Elano harus menerima semua akibatnya." Samuel kini sedikit lebih tenang, ia yakin jika Elano akan berakhir di penjara. Apapun akan Sam lakukan untuk mencegah pria itu menyakiti Maya lagi.
"Minggu depan nona Maya akan dimintai keterangan dari pihak kepolisian. Tolong Anda arahkan nona Maya untuk bisa tenang nanti dalam menjawab semua pertanyaan dari penyidik," lanjut pengacara Rudi.
Sam mengangguk, "Tentu saja, pengacara," jawab Samuel yakin.
"Terima kasih, tolong Anda atur semua masalah ini."
"Baiklah, saya mohon pamit dulu. Nanti jika ada kabar terbaru akan saya laporkan kepada Anda." Pengacara Rudi mengulurkan jabatan tangan ke arah Sam yang segera disambut oleh Samuel. Mempersilahkan pengacara Rudi keluar dari rumah besarnya.
Sam meraih ponsel di atas nakas, melakukan sebuah panggilan di sana. "Halo, Bay__ gue butuh laporan keuangan dan hasil kerjasama kita dengan klien baru kita dari perusahaan kosmetik __ oke gue tunggu__ bye."
Sam memutuskan panggilannya, lalu kembali berjalan menuju balkon kamarnya, membuang napas berat memikirkan semua masalah yang ia hadapi saat ini. Kadang ia merasa lelah dengan semuanya. Pekerjaan yang menumpuk hingga membuatnya mengabaikan jam makannya dan kini ditambah lagi masalah dengan Elano juga Freya yang masih saja menghubunginya tanpa kenal waktu.
Seolah gadis itu sudah terputus urat malunya saat berhadapan dengan Samuel.
Namun setelah mengingat Maya. anehnya semua rasa lelahnya hilang. Maya memang selalu bisa menjadi moodboster Samuel. Senyuman kini ia tarik sedikit dari sudut bibirnya ketika mengingat kembali sosok Maya dalam benaknya. Oh.... kini Samuel tiba-tiba saja merindukan sosok gadis itu.
....
Suara dering ponsel yang berisik disertai dengan getaran yang membuat suara gesekan antara benda pipih dengan meja kayu itu beradu mengganggu ketenangan dan ketentraman tidurnya di malam itu. Maya terpaksa membuka matanya, melihat sebuah nama yang tertulis pada layar panjang ponsel pintarnya. Samuel.... bacanya dalam hati.
Dengan sedikit mata terpejam, Maya menekan tombol hijau, mendekatkan layar ponsel pipihnya di antara telinga dan pipi chubbynya. "Assalamualaikum, Sam___ iya aku udah tidur___ Sekarang? tapi ini kan udah malem___ Iya-iya aku kesana___ hhmm Assalamualaikum..."
Maya mematikan teleponnya, sedikit memicingkan matanya melihat jam dinding bulat yang menempel di dinding kamarnya. Pukul sebelas malam.... batin Maya. Untuk apa Samuel memintanya datang ke mansion pria itu? Ini terlalu larut untuk sekedar berkunjung.
Maya bangkit dan duduk di tepi ranjang, mencoba mengumpulkan kembali nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Menguap sebentar dan mengusap kedua netra dengan jari lentiknya. Apa Sam sedang ada masalah? tidak biasanya ia seperti ini, pikir Maya.
Apa yang akan ia katakan pada mamanya saat meminta izin nanti, pikirnya lagi. Tanpa banyak berfikir lagi, Maya bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi. Merapikan diri sebentar setelah akhirnya ia berjalan keluar menuju kamar mamanya.
"Mama belum tidur?" Maya sedikit lega melihat Siska yang masih terjaga.
"Mama belum mengantuk, sayang," jawab Siska. Wanita itu masih sibuk dengan angka-angka dan juga kalkulator kecilnya.
"Kerjaan mama dilanjut besok aja, ini udah malam. Mama istirahat dulu, May gak mau mama sakit nanti."
Siska tersenyum sebentar, mengelus punggung tangan Maya yang menempel di pundaknya.
"Iya sebentar lagi juga selesai kok. Oh ya kamu sendiri kenapa masih terjaga jam segini, hhmm?" Maya sedikit salah tingkah dengan pertanyaan balik dari sang mama.
"Eemm... iittuu.... Sam...." Maya tidak meneruskan ucapannya, sedikit menjedanya dan memandang bingung wajah Siska.
"Sam kenapa? dia sudah sehat kan?"
Maya tersenyum sebentar, "Sudah sehat kok ma, cuu mmaa... tadi dia baru saja nelpon May, dan..."
"Dan apa Maya?"
Maya membuang napas sebentar, "Sam minta May untuk ke rumah dia saat ini juga," menjeda kalimatnya sebentar. "Gimana Ma? boleh gak May kesana?" lanjut gadis itu lagi.
"Malam-malam begini?"
"He em... May juga gak tau kenapa tiba-tiba aja dia nelpon Maya malam-malam dan menyuruh May ke rumah dia."
Siska tersenyum sebentar, membelai rambut hitam Maya. Menyelipkan anak rambut gadis itu di balik telinganya.
"Ya udah kamu pergi aja, siapa tau Sam lagi ada masalah." Siska tersenyum sebentar.
"Iya, asal kamu hati-hati jaga diri kamu. Mama gak mau kalian sampai lupa diri." Siska melanjutkan lagi ucapannya.
"Iya, May akan jaga diri kok. Setelah May pastikan kalau Sam baik-baik aja, Maya akan langsung pulang," jawab Maya.
Gadis itu mencium kedua pipi sang mama, "May berangkat dulu. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya sayang."
"Iya, Ma...." jawab Maya, gadis itu meraih kunci mobil di atas kulkas dan masuk ke dalam mobil pemberian Anita yang terparkir di halaman rumahnya. Mulai menarik gas sedan mewahnya dengan kecepatan stabil menuju ke kediaman Samuel.
.....
"Sam nya dimana bik? dia baik-baik aja kan bik?" tanya Maya begitu si bibik membukakan pintu untuknya.
Brondongan pertanyaan khawatir Maya membuat si bibik heran.
"Den Sam ada di kamarnya kok non," jawab si bibik. Maya tidak terlalu memperhatikan jawaban bibik. Ia langsung saja menaiki anak tangga melingkar menuju ke dalam kamar Samuel.
"Sam.... kamu gak apa-apa kan?" Maya membolakan matanya begitu melihat Samuel duduk di balkon kamar dengan sebuah teleskop besar disana.
"Sini deh, May.... aku tunjukin sesuatu." Sam masih melihat ke arah langit dengan teleskop miliknya. Maya mendekat perlahan, duduk di kursi kecil samping Sam.
"Kamu liatin apa sih?" tanya Maya heran.
"Coba deh kamu liat, buruan .... nanti keburu habis hujan meteornya."
Alis Maya tertarik sebagian, hujan meteor....? batinnya. Tanpa menunggu lama lagi Maya mengambil alih teleskop dari Samuel. Mendekatkan bola matanya ke arah lensa dan tiba-tiba senyuman Maya tertarik penuh. "Sam... ini indah sekali...." pekik Maya dengan mata yang masih menempel pada lensa bulat teleskop.
"Bagus kan, sayang?"
"Hhmm.... bangus banget...." Maya mengangguk semangat dengan perhatian yang masih berpusat pada langit malam.
Memandangi langit malam dengan ribuan atau bahkan mungkin milyaran bintang jatuh yang menyerupai sebuah hujan bintang, bagi Maya adalah moment paling indah bersama Samuel. Jika dulu ia melihat rasi bintang di langit buatan Planetarium bersama Sam, kini Maya beruntung berkesempatan melihat langsung hujan meteor dari atas balkon kamar Samuel.
"Bagaimana kamu tau jika malam ini akan ada hujan meteor, Sam?"
"Ini adalah hujan meteor perseid yang terjadi setiap tahun di bulan Agustus. Hujan meteor ini yang paling indah, sayang. Kerena sangat banyak lesatan cahayanya," jelas Samuel. Kini mereka duduk di atas balkon sambil menikmati langit malam yang malam itu sangat jernih, tidak ada mendung sedikitpun. Taburan cahaya gemintang dari rasi bintang tampak jelas walau hanya dipandang dengan mata telanjang.
"Kamu tau? hujan meteor yang terjadi saat bumi bergesekan dengan reruntuhan di sekitar Komet Switf-Tuttle ini terjadi di langit Bosnia Hezergovina tapi bisa dilihat di langit Indonesia," lanjut Sam lagi, kepala pria itu masih mendongak memandang angkasa malam.
Maya malam itu melihat wajah tampan Sam terlihat begitu mempesona, seolah pancaran cahaya gemintang memantul di wajah yang sedikit bule itu. Maya melihat aura pesona Samuel bertambah lagi ketika pria itu menjelaskan tentang planet-planet dan hujan meteor yang bagi Maya adalah sesuatu hal yang asing.
"Kamu suka sekali sama bintang ya, Sam?" tanya Maya. Pertanyaan itu sekelabat begitu saja terlintas di benak Maya. Bukankah Sam juga memiliki sebuah Planetarium sendiri? dan itu membuktikan jika pertanyaannya tadi mungkin adalah kebenaran.
Sam kini berganti memandang wajah Maya, tersenyum sebentar sebelum akhirnya ia kembali menengadahkan wajahnya ke atas angkasa.
"Sejak kecil aku suka sekali mengamati bintang dan bulan di malam hari." Sam menjeda sebentar kalimatnya. Lebih mendekat ke arah Maya dan kembali menyandarkan tubuh pada dinding pembatas balkon kamarnya.
"Dulu jika mama dan papa ku pergi untuk urusan bisnis, Aku selalu melupakan kesepianku dengan memandang bintang. Menghitungnya satu persatu hingga aku tertidur." Sam menghentikan ucapannya dan tertawa kecil, entah apa arti tawa itu, tapi menurut Maya tawa kecil itu sangatlah dingin.
"Ironis, bukan? seorang anak yang sangat terpenuhi kebutuhan hidupnya tapi merasa kekurangan setiap melihat teman-temannya bisa tertawa dan bermain bersama kedua orang tua mereka." Sam melanjutkan lagi ucapannya, kali ini memandang sebentar ke arah Maya.
Bisa Maya rasakan kesepian yang Sam pernah rasakan dulu. Maya memang tidak memiliki seorang ayah yang menemani tumbuh kembangnya, namun ia bersyukur memiliki seorang ibu yang senantiasa berada didekatnya walau dengan segala perjuangan dan pengorbanan.
"Sam...." Maya tidak dapat meneruskan ucapannya, memandang sayu Samuel.
"Jika nanti aku punya seorang anak, tak akan kubiarkan dia mengalami semua kesepian dan kesedihan seperti yang pernah aku alami dulu." Samuel kembali melanjutkan kalimatnya. Menoleh ke arah Maya dan memandang gadis itu lembut.
"Sam...." Lagi-lagi Maya hanya bisa mengucapkan satu kata, menyebut nama pria yang sangat ia cintai.
"Kita harus bisa menjadi orang tua yang perhatian untuk anak kita nanti, sayang.... dan jika aku mulai lupa dan mengabaikan kalian dengan segala urusan kerjaanku....." kembali Sam menjeda kalimatnya,
"Aku mohon, kamu jangan ragu menegur aku dengan tegas. Okey, baby...?" tanya Sam, mengelus lembut air mata yang keluar dari sudut mata Maya.
Gadis itu mengangguk cepat. Entah kenapa semua perbuatan Sam, semua ucapan pria itu selalu menghipnotis Maya. Ia bisa merasakan kepiluan yang pernah Sam rasakan.
"Aku akan mengingatnya dan melakukannya, Sam..." jawab Maya dengan tertawa kecil di sela isak tangisnya.
Maya benar-benar mencintai pria yang dulunya sangat arogan dan menyebalkan itu.
Sudah pukul 00.45 WIB, entah kenapa rasa kantuk yang tadinya begitu mendera Maya kini mendadak hilang. Mereka masih saja duduk bersanding, saling menyandarkan pundak masing-masing dan mengamati langit malam dengan semua pancaran cahaya benda langit di sana. Seolah mencoba mencari-cari bintang mereka. Sam mengeratkan genggaman tangannya pada punggung tangan Maya. Sambil sesekali mengecup punggung tangan itu lembut.
to be continue...