
"Apa maksud Anda melakukan kecurangan di perusahaan ini?!" tanya Sam dengan wajah serius ke arah laki-laki bertubuh tegap dengan penampilan parlente.
Namun sang laki-laki yang mendapat tekanan dari Samuel hanya bisa berdiri dan tertunduk lesu di hadapan Sam.
"Apakah Anda di perintah oleh seseorang untuk mencoba menghancurkan perusahaan kami?" desak Samuel dengan sorot mata tajam yang begitu mengintimidasi laki-laki tersebut.
"M-maaf Tuan."
"Katakan siapa yang mencoba menghancurkan perusahaan ini?!"
"S-ssaya.... hanya diperintah," jawab laki-laki itu terbata-bata, ia bahkan tidak sanggup menatap wajah dingin dan kaku yang Sam perlihatkan waktu itu.
"Siapa orang itu? Anda berterus terang saat ini juga atau saya bawa masalah ini ke rana hukum? Saya bisa saja memenjarakan Anda saat ini juga," lanjut Samuel lagi, suara ketukan kuku-kuku sang CEO di atas meja besar berbahan kayu ek membuat suasana tegang dalam ruangan berpendingin itu seolah terasa sangat panas bagi pria setengah baya yang masih berdiri seperti seorang yang disidang dalam ruang pesakitan.
Brakkk....!!
Suara gebrakan meja yang Sam lontarkan membuat nyali sang laki-laki setengah umur itu sontak mengendikkan bahu karena terkejut.
"Bapak Norman Aditama, sekali lagi saya tanya ke Anda siapa orang dibalik perbuatan Anda ini hah?!"
"T-tu-tuan El-Elano Wijaya dd-da-ri Wijaya Group yang menyuruh saya. Mm-mmaaf kan saya Tuan."
"Apa? Elano si brengsek itu? Brengsek! Apa kami kurang membayar Anda sehingga Anda dengan begitu saja menerima tawaran dari si brengsek Elano, hah?!" bentak Samuel lagi.
"Maafkan saya Tuan, ss-saya.... tergiur dengan tawaran tuan Elano satu tahun lalu. Tolong ampuni saya, berikan saya satu kesempatan lagi dalam perusahaan ini." Ia jeda sejenak kalimat memohonnya, sembari menundukkan bahunya memohon ke arah Samuel.
"Tolong Tuan, saya janji akan setia dengan perusahaan."
"Maaf Tuan Norman, bagi saya seekor ular akan tetap menjadi ular. Sekarang saat ini juga bereskan barang-barang Anda dan silahkan ambil surat pemecatan Anda ke bagian personalia." Sam menjeda sebentar kalimatnya.
"Saya tidak ingin melihat Anda lagi di perusahaan ini."
"Tapi Tuan.... Saya mohon."
"Keluar dari sini!!" bentak Samuel keras.
Wajah lusuh dan langkah gontai menjadi respon pemberhentian kerja pria bernama Norman Aditama.
...
Sepeninggal Norman Aditama, Samuel menerima panggilan seluler. Ia membuang napas kasar begitu mengetahui nama pe-nelfon, Bayu...
Ya gue tau Bay___ Urusan disini dengan tikus sialan itu sudah selesai___ Iya, dia sudah mendapat pelajaran!___ Apa?! Brengsek!! Lo yakin?!!___ Sial!___ Tolong Lo urus semuanya di sana!! Oke, gue percaya sama Lo. Bye...
Tuuutttt.... ttuuuttt....
"Sialan!" umpat Sam kasar, kepalan tangannya dengan geram ia tinjukan ke arah tembok beton bercat putih yang berada di dekatnya.
Rahangnya mengeras dengan raut wajah penuh kemarahan setelah mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan Maya yang merenggut buah hatinya. Elano... pria itu seolah tidak ingin membiarkan Samuel dan Maya hidup tenang, dan Sam pun akan melakukan segalanya untuk melindungi Maya istrinya.
Sam memerintahkan pada Bayu untuk mengurus dan memberi pelajaran pada Elano, bukan hanya penjara. Sam menginginkan sesuatu yang lebih untuk memberikan pelajaran yang akan diingat El seumur hidupnya.
...****************...
Samuel merenggangkan otot-ototnya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Selepas dari masalah tentang Elano, Sam tidak mau Maya mengetahui dan ikut memikirkan beban persoalan perusahaan dan dalang sebenarnya atas kecelakaan yang Maya alami.
Sam menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya menghela napas panjangnya. mengecek arloji yang menunjukkan pukul lima sore.
Saatnya memanjakan Maya dan Samudra. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman ketika melihat sebuah foto dalam bingkai warna pink. Gambar diri Maya dengan senyuman lebar menunjukkan bibir peach indahnya dan juga deretan gigi-gigi putih gadis itu.
Sam meraih ponselnya dan mendial nomor Maya, tidak membutuhkan waktu lama untuk Maya mengangkat telfonnya.
"Suami, aku kangen!" Sam terkekeh mendengar seruan Maya dari seberang sana.
"Ucap salam dong, sayang."
"Oh iya lupa, Assalamualaikum suamiku..."
"Waalaikumsalam, sayangku. Lagi apa?"
"Baru selesai mandi terus mainan sama Am. Kerjaan kamu udah selesai?"
"Udah. Dandan yang cantik, sebentar lagi aku pulang dan kita makan malam di tempat favorit aku."
"Iya suami, cepet pulang ya. Oh ya gaunnya cantik sekali makasih ya."
Sam tersenyum sebentar. "Kamu suka?"
"Hm, Aku selalu suka apa yang kamu kasih." Sam mengulum senyumnya.
"Aku bakal dandan yang cantik buat kamu."
Sam tersenyum dan memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Maya mengenakan gaun berbahan silky dengan motif bunga-bunga kecil favorit Maya. Gaun pendek selutut berwarna pastel berhias renda-renda kecil. Sam bahkan sudah mempersiapkan gaun untuk istrinya yang dikirimkan oleh kurir boutique ternama di Milan.
Sam pun sudah menyuruh orang untuk menyiapkan tempat paling romantis di Milan dan segala keperluan dinner mereka. Mulai dari buket mawar merah, lampu-lampu hias yang akan menerangi tempat istimewa mereka nanti, hingga menu apa saja yang harus mereka santap malam ini.
"Sayang...." sapa Maya dari seberang, begitu Sam terdiam cukup lama di pesawat telepon.
"I miss you, May." Ujar Samuel.
"Miss you too, Suami."
Sam tersenyum kembali begitu ponselnya ia matikan, seiring suara indah istrinya tidak lagi terdengar dari benda tipis itu.
Sam lalu berdiri dari duduknya, menyambar jas yang ia gantung di hanger berdiri yang ada di ujung ruangan dan memakainya. Bersiap meluncur ke tempat restoran guna mengecek kesiapan para pegawai resto.
...
Maya mematut dirinya di depan cermin, memperbaiki kembali usapan blas on dengan warna peach natural. Dan terakhir pulasan lipstick yang juga warna natural terpulas sempurna di bibir Maya.
"Onty..... kita mau kemana? kok Onty tantik?" tanya Samudra begitu ia memasuki kamar Maya.
Maya menoleh ke arah bocah kecil itu dan tersenyum tipis, meraih kedua sisi tubuh mungil Samudra lalu mengangkatnya.
"Kita mau keluar sama Om Uel, sayang," ucap Maya begitu ia daratkan tubuh mungil Samudra di atas kasur empuknya.
"Cama Am uga?"
"Iya dong, gak mungkin kan Onty ninggalin Am sendirian."
"Hoye..... Am halan-halan lagi. Onty - Onty.... Am nunggu Om Uel di cini yah?" celoteh Samudra sembari lompat-lompat di atas kasur empuk Maya.
"Boleh..." jawabnya dengan senyuman kecil ketika melihat kelakuan Samudra.
...----------------...
Maya melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, menunggu dengan gelisah kedatangan Samuel.
"Onty...."
"Iya Am?"
"Kok Om Uel lama? Am pengen halan-halan."
"Nanti ya sayang tunggu bentar, Om Uel mungkin masih ada kerjaan."
ting.... tong....
Tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu rumah. Maya terlonjak senang begitu pun dengan Samudra.
"Om Uel..... itu Om Uel, Onty...." teriaknya girang.
" Iya, sebentar Onty bukain dulu ya. Am tunggu di sini, okey."
Samudra mengangguk pelan. Maya melangkah ke arah lantai bawah, mendekat ke pintu dan bersiap membuka pintu.
Kedua netra Maya membelalak kaget ketika pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok pria tampan bertubuh tegap dengan senyum kecil menyeringai. Pria berlensa coklat yang sangat begitu---
Menakutkan.
"B-bagaimana k-kamu bisa ad-dda di sini?" Maya terbata-bata, sorot matanya terpancar jelas ketakutan saat melihat sosok pria yang kini sudah bediri di hadapannya. Sembari berkacak pinggang dan menatap tajam iris Maya.
Senyuman menyeringai pria itu kembali ia perlihatkan, Tatapannya menyorot dingin.
"Gue harus bagaimana agar Lo kembali cinta sama Gue, hah?!" ujar pria itu dengan nada bergetar.
Ia melangkah maju mengikis jarak mereka, kedua tangannya terangkat mencengkeram erat lengan Maya hingga terlihat membekas kemerahan di kulit putih gadis itu.
"Kenapa bisa Lo lebih memilih si brengsek Samuel daripada Gue, hah?!"
"Lepasin aku!"
"Gue gak akan pernah melepas Lo lagi, Maya!"
"Jangan gila, El." Maya merintih kesakitan ketika seluruh jemari Elano meremas kuat kedua lengannya.
"Kamu nyakitin aku, El."
"Dan Lo lebih nyakitin Gue, May. Lo lebih memilih orang yang dulu Lo anggap brengsek daripada Gue. Lo selingkuh di belakang Gue!!" teriak Elano. Dia dorong kuat-kuat tubuh Maya hingga terpojok dalam dinding beton dengan dua pilar di samping kanan-kiri nya.
"A-ku mencintai Samuel dan kamu yang selingkuh dengan Freya waktu itu."
"Itu semua karena Lo, May!" sentak Elano seraya mengguncang bahu Maya yang terpojok pada dinding bercat putih itu.
"Kalo Lo gak pernah sibuk dengan bos sialan Lo itu, Gue gak akan pernah tidur dengan Freya!" sentak Elano lagi, kini ia dekatkan wajahnya. Hampir saja mulut Elano menyentuh pipi dan juga bibir Maya.
"Jangan setuh aku!"
"Hah....!! Lo wanita murahan, jangan sok munafik!" bentak Elano keras, tepat di telinga kanan Maya.
Membuat Maya mengedikkan kedua bahunya yang gemetar karena ketakutan. Wajah bengis Elano kini semakin terlihat ketika ia mengamati tubuh Maya dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan mata Elano yang seolah telah "menelanjangi" tubuh Maya. Membuatnya merasa risih dan terus berdoa agar keajaiban datang saat itu juga.
"Lepasin! Atau Sam akan menghajarmu!"
"Hahaha!! Dia tidak akan menolongmu, sayang!"
"Apa maksud kamu, sialan?!"
Kali ini Maya memberanikan diri dan mencoba berontak dari kuncian tubuh Elano.
"Maya-Maya-Maya--- Lo berani menyebut Gue sialan sekarang, hah?! Hahaha....!!"
Elano semakin mendekatkan wajahnya, merasakan hembusan napas ketakutan Maya seperti sebuah sensasi luar biasa buatnya. "Lo akan jadi milik Gue malam ini, cantik!" bisik El di telingga Maya. Bibirnya kini ia tempelkan di sudut bibir Maya, namun dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya.
"Lepasin gue brengsek! Lo emang sialan! Gue benci sama Lo Elano!" teriak Maya.
Membuat emosi Elano semakin memuncak. Gairahnya selama ini yang ia simpan, ingin sekali ia lampiaskan malam itu.
"Maya sayang, bibir Lo selalu menggoda sejak dulu."
"Jangan mendekat. Pergi dari Gue, brengsek!"
"Diam!!!" Sentak Elano kembali, kali ini wajah tampannya terlihat semakin mengerikan.
Elano semakin mengendus aroma tubuh Maya, tangannya kini mulai meraba wajah, leher dan hingga semakin beringsut turun. Pergerakan Elano kini turun di d*da putih Maya yang malam itu terbungkus dalam gaun dengan belahan berbentuk V yang sedikit rendah, sehingga menampakkan dua belahan d*da yang menyembul indah.
"Kamu semakin cantik, sayang..." gumam Elano, jemarinya kini mengelus lembut dua bongkahan kenyal yang sangat berisi sempurna.
"Jangan sentuh Gue! Lepasin Gue!" erang Maya dengan isakan pilu.
"No, honey." Bisik Elano sembari mencium pipi halus Maya. Membuat Maya merasa jijik, berkali-kali ia meronta mencoba melepaskan diri dari jerat tubuh Elano.
"Gue gak akan lepasin Lo lagi, sayang."
Elano mencoba mencium paksa Maya, tentunya mendapat penolakan dari Maya dan semakin membuat Elano geram.
"Jangan mencoba lepas dari Gue, Maya!"
"Lepasin Gue, sialan! Tolong....!!"
"Hahaha!! Siapa yang akan menolongmu hah?! Gak ada!! Lo denger itu b*tch?! Gak ada yang akan nolong Lo!" bentak Elano kasar.
Maya menangis, berdoa supaya ada keajaiban dan membawa Samuel agar segera pulang.
"Onty Aya kenapa....?"
Tanya Samudra tiba-tiba, bocah itu dengan polosnya menuruni anak tangga dan mendekat ke arah Maya yang masih berada dalam kangkungan tubuh Elano.
"Am.... kembali ke kamar dan kunci pintu!" perintah Maya panik, tubuhnya yang masih berada dalam jerat kedua tangan kekar Elano membuatnya susah bergerak.
"Siapa dia, hah?!"
"Jangan sakiti dia, brengsek!"
"Stop panggil Gue brengsek, b*tch...!"
Plak!
"Onty Aya.....!!" teriak Samudra begitu melihat pria asing itu menampar pipi Maya.
Tamparan keras Elano mendarat di salah satu pipi Maya, hingga mengucur darah segar di sudut bibir gadis itu.
"Am masuk kamar dan kunci pintu, sekarang!" perintah Maya dan dengan cepat bocah berusia lima tahunan itu menurut, Samudra berlari kecil menaiki anak tangga lalu memasuki kamar Maya lalu menguncinya rapat.
"Jangan bikin Gue marah," kali ini Elano sedikit menurunkan nada suaranya.
Kembali ia peluk tubuh Maya erat, namun lagi-lagi El mendapat penolakan dari Maya.
"Lepasin Gue.... Please..." rintih pilu Maya.
"Gak akan pernah, Gue gak akan lepasin Lo sebelum Lo memberikan apa yang Gue mau!"
...----------------...
to be continue....