MySam

MySam
Kabar Duka



"Am.....!!" seru Martha dari jarak yang masih lumayan jauh dengan Samuel, Maya dan juga Samudra.


Martha berjalan setengah berlari, sementara Harris dengan santai berjalan mengikuti langkah-langkah panjang sang istri.


Samudra yang mendengar suara sang mama pun menoleh ke arah Martha. Dengan cepat bocah itu turun dari sofa restoran cepat saji dan refleks berlari ke arah Martha.


Dalam beberapa menit kemudian tubuh mungil Samudra telah berada dalam gendongan Martha, kedua lengan mungil anak itu melingkar erat pada leher sang mama dan memeluk mamanya posesif.


Martha bahkan tidak menghiraukan telapak tangan Samudra yang masih terlihat banyak sekali minyak dan bekas saus dari burger yang ia makan barusan.


"Mommy..... Am angen mommy..." ucap Samudra sembari menatap wajah sang mama. Martha pun tersenyum lembut, berkali-kali terlihat mendaratkan ciuman penuh kasih ke seluruh wajah tampan anaknya.


"Mommy juga kangen sama kakak." Jawab Martha lembut, berkali-kali ia dekap tubuh mungil Samudra yang masih dalam gendongannya. Membuat Harris sedikit khawatir dengan perut buncit istrinya.


"Am sayang, sini sama daddy aja. Kasian mommy dan dedek bayi." Harris kali ini mengambil alih tubuh Samudra dan menggendongnya, ia daratkan juga beberapa kecupan di pipi dan kening anak laki-laki pertamanya.


"Daddy....." pekik Samudra, bocah itu pun kini berganti menggelayut manja dalam gendongan tubuh kekar ayahnya, mengalungkan kedua lengan ke leher sang ayah.


"Daddy kangen sama Am..."


"Am uga angen cama daddy...."


"Am seneng saat di Milan sama Om Uel?" tanya Harris dan anggukan kepala dari Samudra merespon pertanyaan Harris.


Sementara Maya dan juga Samuel tersenyum melihat ketiganya. Sam meraih tangan Maya yang saat itu berada di atas meja restoran dan menggenggamnya erat.


Sejenak keduanya saling berpandang lembut, Sam tahu jika Maya juga menginginkan pemandangan seperti itu. Memeluk buah hatinya dengan penuh kasih.


"Maya.... Thanks ya udah jagain Samudra dan nyenengin dia di Milan." Ujar Martha begitu ia dan Harris mendekati meja keduanya.


Maya berdiri lalu memeluk tubuh Martha sembari saling mendaratkan cipika-cipiki ke pipi masing-masing.


"Aku yang seneng Am bersama kita, dan aku juga makasih kamu udah kasih izin dia untuk aku bawa ke Milan."


Martha tersenyum kecil sembari mengangguk.


"Kalian duduk dulu. Aku pesenin makanan."


"Gak usah Sam, thanks .... kita langsung aja ya."


"Iya lagipula kalian kan pasti capek dan pengen cepet pulang lalu istirahat, bukan?" sambung Harris.


"Oh ya udah terserah kalian aja." Samuel menepuk pelan lengan Harris lalu meraih hidung Samudra yang masih dalam gendongan sang ayah. "Am jangan nakal yah," cubit Samuel gemas.


"Iya Om Uel."


"Dadah Am... nanti kita jalan-jalan lagi yah," ucap Maya sembari melambaikan tangannya ke arah Samudra. Bocah kecil itu pun membalasnya lalu mengangguk lucu. "Dadah Onty Aya..."


"Dadah Am...."


"May aku pulang dulu ya, sekali lagi Thank's," pamit Martha sebelum mereka melangkah meninggalkan Maya dan Samuel.


Perlahan Martha dan Harris pun menjauh dari kursi Maya dan juga Samuel.


Maya masih berdiri menatap kepergian Samudra. Anak itu pun yang dari kejauhan dan masih berada dalam gendongan Harris terlihat membalikkan badannya ke belakang, memandang ke arah Maya. Samudra melambaikan tangan ke arah Maya dan Samuel.


Yang lalu dibalas lambaian tangan oleh keduanya. Dua bulan bersama anak itu kini membuat baik Maya dan Samuel merasa merindukan segala tingkah lucu bocah itu.


"Sam...."


"Iya?"


"Kita pulang sekarang?"


Sam mengangguk pelan. "Hm, Pak Agus juga sudah menunggu di parkiran depan.


"Aku langsung merindukan bocah itu, Sam."


"I know, baby...." jawab Samuel.


"Next time kamu bisa ngajak Am jalan-jalan lagi." Sam melanjutkan.


Keduanya lantas berjalan meninggalkan restoran dan cafe bandara, menapaki lantai demi lantai bandara internasional


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maya menggeliat kecil dalam tidurnya ketika Sam berusaha membangunkannya.


"Sayang, bangun..."


"Eum-aku masih ngantuk...." ucap Maya yang masih memejamkan mata, kini gadis itu bahkan semakin memeluk erat guling dan menarik selimutnya hingga batas bahu.


"Sayang, ini udah sore."


"Bentar lagi ya, Sam. Eum-hoam aku masih ngantuk...." cicit Maya, ia berusaha membuka kedua kelopak mata namun entah mengapa sore itu seakan kedua netranya sangat susah untuk berkompromi.


"Sayang, kamu kan belum sholat Ashar. Yuk sholat dulu, trus udah itu kita ke rumah sakit," ucap Samuel hati-hati.


"Rumah sakit? emang siapa yang sakit?"


Kali ini Maya sedikit memaksa netranya untuk sedikit terbuka.


Sam tersenyum hambar. "Kamu sholat dulu, mandi, udah itu kita ke rumah sakit."


Jawaban Samuel semakin membuat Maya penasaran. Dengan mata yang setengah membuka, ia berusaha terlebih dulu untuk mengumpulkan sebagian nyawanya yang belum sepenuhnya menyatu.


Samuel menggeleng pelan.


"Lalu siapa? Papa? Atau.... mama aku?"


Semakin terlihat kekhawatiran di wajah Maya, kali ini gadis itu berdiri dari duduknya, mendekat ke arah Samuel sembari mengguncang kedua lengan suaminya.


"Sam, jawab dong.... siapa yang sakit?"


Kini terlihat semakin nyata kekhawatiran dalam sorot mata Maya, melihat Samuel yang hanya membisu semakin membuat pikiran buruknya berkeliaran.


"Kamu mandi terus sholat dulu. Nanti aku ceritain di jalan." Sam memegang kedua pundak kecil Maya lalu mengecup puncak kepala gadis itu.


"Tapi--"


"Udah sana mandi trus sholat. Aku tunggu di bawah."


Samuel kembali mencium puncak kepala istrinya lalu berjalan keluar meninggalkan kamar mereka.


Maya masih diam membisu, mencoba menerka-nerka ada apa sebenarnya. Ia benar-benar khawatir. Semoga saja Siska sang mama ataupun Anita dan juga Permana, kedua mertuanya dalam keadaan baik-baik saja. Dan Maya berdoa semoga bukan ketiganya yang saat ini berada dalam rumah sakit.


Dengan langkah sedikit gontai, Maya berjalan menuju kamar mandi.


...


Maya merapikan diri kembali seusai sholat Ashar. Ia hanya mengenakan celana jeans dan Tshirt berwarna putih polos. Rambut nya kembali ia kuncir membentuk sanggul kecil di atas kepalanya dengan helaian anak rambut yang bergerak bebas di sisi kanan-kiri telinganya.


Maya pun kini melangkah menuju lantai bawah, menemui Samuel yang sedari tadi sabar menungguinya selesai mandi dan sholat.


"Sayang, kita berangkat sekarang?" tanya Maya begitu ia menuruni anak tangga terakhir.


Samuel menoleh ke arah sang istri dan mengangguk pelan. Wajah pria itu masih terlihat sedikit muram. Rasa khawatir Maya pun kini kembali hadir.


Ditambah lagi selama perjalanan, Samuel yang hanya diam membisu. Pria itu terlihat hanya fokus dengan arus lalu lintas di hadapannya saat itu.


"Sam."


Samuel melihat ke arah Maya, melepaskan seat-belt lalu terlihat membuang napas berat.


"Sebenarnya kita mo jenguk siapa sih? Please deh jangan buat aku takut, Sam."


Maya kini fokus memandang Samuel.


Kembali Sam membuang napasnya kasar, kedua netranya kini menyorot Maya penuh rasa sedih. Dan Maya pun bisa menangkap kesedihan Samuel kali itu.


"Martha dan Harris...." Samuel menjeda kalimatnya, helaan napas panjang kembali ia buang perlahan.


"Mereka kenapa?"


"May--"


"Ini sebenarnya ada apa sih?"


"Tadi pagi sewaktu mereka menjemput Samudra dari bandara---"


Sam kembali menjeda kalimatnya.


"Mereka kenapa?"


"Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakan saat memasuki jalan tol."


Maya tersentak kaget, cairan bening dari kedua netranya kini tanpa bisa ia cegah mengalir keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Bagaimana keadaan mereka? Bagaimana keadaan Am?"


"Mereka-- meninggal."


Seperti tersambar aliran listrik ribuan volt, tubuh Maya melemas. Cairan bening kini semakin deras menerobos keluar dari matanya dan tak bisa terbendung lagi. Kepala Maya serasa sangat pusing, bahkan kedua matanya kini tiba-tiba meremang.


"Hiks....hiks...! Gak mungkin, Sam. Tadi pagi kita baru aja ketemu mereka kan?" tangis Maya.


"Sayang, semua sudah kehendak Tuhan."


"Samudra..... bagaimana dengan Samudra?"


Kali ini Maya mengguncang-guncang tubuh Sam, dengan tatapan nanar Maya menunggu jawaban yang keluar dari mulut suaminya.


"Samudra selamat tapi--"


Sam menjeda ucapannya dan meraih jemari istrinya.


"Tapi apa? Sam jawab!"


"Am mengalami koma, dan aku bawa kamu kesini untuk menengok dia."


"Ya udah ayo, Sam. Aku mau melihat Am sekarang!"


Dengan refleks cepat, Maya melepas seat-belt yang melingkar erat di sebagian tubuhnya.


Samuel pun mengangguk, kemudian mereka sama-sama keluar dari mobil dan dengan tergesa Maya melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dengan langkah cepat Maya meninggalkan Samuel di belakangnya.


Dalam benak Maya kali ini hanya ada Samudra, ia berharap bocah itu akan baik-baik saja.


to be continue