MySam

MySam
Bangun, Sam....



Perlahan Maya membuka kedua netra dan memicingkan matanya ketika cahaya lampu sedikit membuatnya silau.


Ia pun mengerang pelan, mencoba menahan rasa sakit di kepalanya.


"Kamu udah sadar, May?" tanya Daniel khawatir.


"Sayang, jangan banyak bergerak dulu." Siska pun melarang Maya yang saat itu hendak bangun dari rebahnya.


"Daniel..... anter aku menemui Sam."


"Tapi tubuh kamu masih lemah, Maya."


Maya memandang dengan sorot mata tajam ke arah Daniel.


"Please, Dan...."


Daniel hanya bisa menghembuskan napas berat melihat sikap keras kepala Maya.


"Baiklah....." ucap Daniel akhirnya.


Sementara Siska hanya bisa memandang pasrah akan keputusan anaknya.


"Aku minta ijin dokter dulu," ucap Daniel.


Lalu Daniel pun berjalan keluar dari kamar rawat inap Maya.


...


Daniel mendorong kursi roda dengan Maya yang duduk di atasnya. Sementara Anita dan Samudra mengikuti langkah kaki Daniel.


Saat Daniel dan juga Maya hendak meninggalkan sebentar rumah sakit Harapan, Anita mendadak muncul ke kamar Maya bersama dengan Samudra dan berkata jika ia pun ingin menemani Maya untuk menemui Samuel.


Meski Anita dan Permana setiap malam selalu berada di rumah sakit Centra Medika guna memantau keadaan Sam, wanita itu seolah merasa ingin terus memantau lebih intens perkembangan putranya tersebut.


Anita kini membantu Maya untuk memasuki mobil sport besar milik Daniel. Dengan perlahan Maya memasuki pintu penumpang depan, sementara Anita dan Samudra duduk di bagian belakang.


Kendaraan berjenis SUV keluaran Mercedes pun kini melaju meninggalkan area rumah sakit Harapan.


Dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca, Maya hanya bisa membisu.


Dadanya bergetar hebat, membayangkan sebentar lagi menemui Sam yang beberapa hari ini tidak ia ketahui kabarnya.


Netra hitam itu kini hanya menatap kosong pemandangan di luar jendela kaca mobil.


Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah Samuel....


▪︎▪︎▪︎▪︎


Daniel kembali mendorong kursi roda Maya di lorong-lorong rumah sakit.


Sementara Samudra dan Anita masih mengikuti langkah-langkah Daniel. Samudra menggenggam erat tangan Anita.


"Emang Daddy sakit apa sih Om?" tanya Samudra polos.


Daniel berhenti sebentar dan memandang ke arah Samudra yang ada di belakangnya.


"Am, doain Daddy ya biar cepet bangun."


Samudra spontan mengangguk dan melepaskan pegangannya pada tangan Anita.


Bocah itu kini mendekat ke arah Maya, meraih tangan perempuan itu lalu berganti menggenggam erat punggung tangan Maya.


Lalu mereka pun kembali berjalan, kali ini Samudra berjalan berdampingan dengan kursi roda Maya yang didorong oleh Daniel. Sementara Anita masih mengikuti langkah di belakang mereka.


Hingga tibalah mereka di ruang ICU. Netra Maya kini semakin meremang, ini mengingatkan dia akan beberapa tahun lalu ketika Sam yang juga berada di ruang ICU akibat perkelahiannya dengan Elano.


"Kamu sudah siap Maya?" tanya Daniel.


Maya hanya bisa mengangguk pelan.


"Am ikut boleh, Om?"


Daniel pun mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Maya memasuki ruang ICU.


Netra Maya mengembun, melihat sosok Samuel yang terbaring tanpa gerak. Mata pria itu pun memejam. Suara bising dari peralatan rumah sakit membuat jantungnya serasa berdetak hebat.


Perlahan Daniel semakin membawa kursi roda Maya mendekat ke arah Samuel.


Samudra pun semakin mengeratkan pegangannya di tangan Maya.


Maya hanya bisa membisu memandangi suaminya yang terlihat tidak berdaya dengan segala alat bantu yang menempel di tubuhnya.


"Aku tinggal kalian berdua." Ucap Daniel.


Tak ada respon apapun dari Maya, perempuan itu hanya bisa mematung memandangi keadaan Samuel.


"Am mau ikut Om atau mau di sini?"


"Am mau di sini sama Mommy, boleh kan Om?"


Daniel lalu mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan mereka.


Harusnya Samudra belum diperbolehkan memasuki ruang ICU, namun karena Daniel yang membujuk staf rumah sakit akhirnya mereka pun memperbolehkan asal Samudra tetap memakai pakaian khusus dan juga masker steril.


...


Maya masih memandang nanar ke arah Samuel. Air mata kini tumpah tanpa bisa ia bendung lagi.


"Sam....." cicit Maya lemah.


"Bangun sayang..... Maafkan aku...."


Maya kini meraih tangan Samuel yang tetap tidak bergerak, dengan infus darah dan cairan suplemen makanan.


"Anak kita udah lahir, Sam...." ucap Maya dengan menahan air matanya.


"Tidak kah kamu ingin melihat mereka?" cicitnya lagi.


Maya menangis, tidak bisa lagi dia menahan emosi dan air matanya.


Untuk beberapa detik hanya ada keheningan. Maya terdiam sejenak sembari terus menangis tersedu. Samudra hanya bisa memandangi tubuh ayahnya yang kali itu hanya terbaring layaknya orang yang sedang tertidur.


Entah apa yang ada di pikiran bocah itu.


"Anak kita mirip sama kamu Sam...." ucap Maya.


Tangannya kini mengelus wajah Samuel yang terlihat sedikit lebih tirus. Baru beberapa hari ia terbaring koma, ternyata membuat perbedaan fisik Samuel yang secara signifikan begitu terlihat.


"Terutama Samantha.... dia mirip sekali sama kamu, sayang....." isak Maya lagi.


Tangannya terus bergerak lembut mengusap wajah Sam dan terkadang beralih ke lengan suaminya yang telah terpasang selang infus.


"Anak kita, Benua dan Samantha..... seperti apa yang kamu impikan dulu." Maya melanjutkan, isakan kecil pun masih terdengar dari bibirnya.


"Kamu dulu ingin sekali bukan memberi nama Benua jika anak kita laki-laki, hm?"


"Samudra dan Benua.... anak laki-laki kita, Sam."


Sesaat Maya memandang ke arah Samudra dengan netra berkaca-kaca.


"Sementara Samantha....."


Maya pun menata kembali suasana hatinya, ia tarik napas panjang guna mencoba menahan air mata yang seolah enggan berhenti mengalir.


"Aku mempunyai ide nama itu ketika melihat dia sangat mirip dengan kamu, sayang...."


Maya mencoba tersenyum kecil. Namun hasilnya adalah senyuman getir ketika menyadari bahwa Samuel tidak juga merespon.


"Putri kecil kita benar-benar mirip sama kamu--- matanya-bibir-rambut-- bahkan dia memiliki senyuman kamu Sam...."


Maya kembali menangis. Tangannya kini begitu erat mencengkeram salah satu lengan Samuel yang berada di dekatnya.


"Bangun, Sam...!! Bangun demi aku dan anak-anak kita, kumohon....."


Tangis Maya semakin menjadi. Sedu-sedan nya bahkan terdengar hingga di luar ruangan berkaca.


Samudra pun merengkuh lengan sang ayah dan merebahkan kepalanya pada lengan yang penuh dengan jarum infus.


"Daddy..... bangun.... kasian Mommy.... hiks....hiks.... bangun Daddy....!!" tangis Samudra pun pecah.


Membuat Daniel yang tadinya berada di luar ruangan, kini berjalan memasuki ruang ICU dan menggendong keluar Samudra.


"Daddy kenapa Om? Am pengen sama Daddy...." tangis Samudra.


"Am.... Am tenang dulu ya. Doa in Daddy cepet bangun, cepet sembuh."


Samudra mengangguk berkali-kali dalam gendongan Daniel.


Theresia yang berjaga di lobi ruang ICU saat itu pun bisa merasakan apa yang keluarga Daniel rasakan saat ini.


Melihat Daniel menggendong Samudra serta mencoba menenangkan anak itu, membuat senyuman kecil Theresia mengembang.


....


Tiga puluh menit sudah Maya berada di samping Samuel, berharap jika pria itu tersadar, seperti waktu dulu.


Namun kenyataan berbicara lain, Sam bahkan tetap terbaring diam. Kedua netranya tetap memejam.


"Waktu jenguk sudah habis, May."


Ucap Daniel hati-hati.


"Aku masih ingin di sini."


"Tapi keadaan kamu juga masih lemah, May."


"Aku baik-baik aja, Dan....!!" Maya sedikit membentak Daniel.


"Aku masih mau di sini, please...." kali ini nada suara Maya sedikit rendah.


"Kamu pikirkan juga anak-anak kamu. Kalau kamu di sini bagaimana mereka bisa menyusu?"


Maya terdiam menunduk. Ia melihat ke arah Samuel sebentar, tangannya pun tetap mengelus lembut lengan Sam.


"Maya...." Daniel mencoba membujuk iparnya itu.


"Sam baik-baik aja di sini," sambung Daniel lagi.


"Sam gak baik-baik aja, Dan....!!" sergah Maya cepat.


"Kalo Sam baik-baik, kenapa dia gak bangun, hah....??!!"


Tangis Maya kembali pecah. Di dalam dadanya seperti ada ribuan pisau tajam yang mengiris-iris hatinya.


"Oke, besok kita jenguk Sam lagi. Aku janji....!" Daniel menghela napas melihat sikap keras kepala Maya.


"Tapi sekarang kita kembali dulu ke rumah sakit Harapan. Please.... pikirkan juga anak-anak kalian."


Daniel kembali mencoba membuat luluh keras kepala Maya.


Beberapa detik hanya keheningan, hingga tiba-tiba Maya mengangguk pelan.


"Baik...."


Ia menoleh ke arah Daniel dengan sangat lemah.


"Besok aku bawa kamu ke sini lagi, aku janji...." Daniel berbisik pelan sembari mendorong kursi roda Maya menjauh dari Samuel.


Maya kembali menoleh sebentar ke arah Samuel. Berharap ada keajaiban kembali.


Namun.... Samuel masih saja terbaring diam di sana. Hanya ada suara dari peralatan canggih rumah sakit yang terus berdetak kencang di tengah keheningan.


"Bangun Sam, please...." batin Maya sebelum ia menghilang dari balik tikungan dinding rumah sakit.


to be continue....