MySam

MySam
Panggilan Kesayangan



Mereka memasuki pintu rumah begitu si bibik membukakan knop pintu yang menjulang tinggi, Senyum Maya mengembang di sana, sekarang ini ia sudah menyandang status nyonya Perdana saat memasuki rumah besar itu. Meskipun sebelumnya ia lumayan sering menapakkan kakinya di rumah tersebut, namun tetap saja ada perasaan lain sekarang. Terang saja, karena mulai saat ini Maya yang menjadi nyonya muda di istana tersebut.


"Selamat datang tuan dan nyonya Perdana," ucap si bibik hormat. Dengan cepat si bibik mengambil alih kopor dari tangan Samuel.


"Bibik panggil May dengan nama aja, gak usah pakai nyonya...." jawab Maya, mendekati wanita tua itu dan mengelus lengan si bibik.


"Mana berani saya nyah," si bibik tersenyum sungkan dengan badan yang setengah membungkuk.


"Atau Bibik panggil dengan non Maya saja ya?" tanya si bibik polos.


Maya dan juga Sam tersenyum kecil mendengar jawaban polos wanita yang telah begitu banyak berjasa dalam melayani Samuel selama ini.


"Terserah bibik saja." Sam menjawab dengan sedikit tersenyum, kemudian berjalan menaiki anak tangga melingkar dengan Maya di sampingnya.


Sam membuka knop pintu kamarnya, mengitari seluruh ruangan kamar yang kini telah di sulap menjadi lebih bernuansa hangat. Wallpaper yang semula bernuansa serba gelap dengan warna abu, kini berubah menjadi lebih ceria dan penuh cinta. Warna pink pastel lebih mendominasi, berpadu dengan beberapa lukisan bunga dan juga foto-foto berbingkai besar dari pernikahan mereka menempel indah di sana. Tak ketinggalan beberapa vas bunga mawar dan juga daisy menyempurnakan nakas kecil dan seluruh sudut ruang kamar luas tersebut.


Sam membolakan matanya takjub begitupun dengan Maya. "Mungkin ini kerjaan si bibik, sayang." Sam sedikit tersenyum lalu menggandeng Maya untuk duduk di atas ranjang berukuran kingsize dengan bed cover yang juga berwarna pastel.


"Iya, bibik baik banget ya. Kamu jangan suka marah-marah sama bibik, Sam. Kasian dia," lirih Maya yang kini mengalungkan lengannya ke leher Samuel.


"Aku gak pernah marahi si bibik, sayang. Aku kan orangnya baik." Sam kini membawa Maya untuk duduk di pangkuannya, memeluk hangat pinggang istrinya dan saling menempelkan kening mereka masing-masing.


"Sayang....." lirih Sam kini, membelai lembut ujung rambut Maya, lebih mendekatkan wajah tampannya ke arah Maya.


"Apa?" Maya pun kini semakin mengeratkan kalungan lengan nya di leher Sam, mereka masih saling duduk berpangkuan.


"Aku seneng kalo kamu panggil aku dengan sebutan suami." Sam membisikkan lembut.


"Benarkah?" Maya terkekeh geli, sesekali mengecup lembut pipi Sam.


Sam mengangguk, "Tentu saja, sayang."


"Baiklah, mulai sekarang aku panggil kamu suami," lirih Maya, menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Samuel, ciuman kecil Maya begitu manis mendarat di bibir suaminya.


"Sekarang, suami mau aku buatin apa? kopi, teh atau latte....?" bisik Maya lagi.


Sam semakin mendekap erat tubuh Maya yang masih dalam pangkuannya. "Aku hanya mau sama kamu terus seperti ini, sayang."


Sam semakin menciumi wajah Maya lebih intens. Salah satu tangan Sam menyusur menjelajahi perut mulus istrinya yang saat itu hanya mengenakan kemeja pendek berbahan chifon sehingga sangat mundah untuk tangan Sam menyusup ke dalam dan mengelus perut mulus Maya. Hingga tangan itu bergerak lebih naik ke atas menyentuh isi dalam bra berwarna hitam milik Maya.


"Suami.... kamu mulai nakal lagi," bisik Maya manja, hampir saja bibir mereka saling berpaut tiba-tiba suara ketukan pintu kamar terdengar sangat kencang. Membuat baik Sam dan juga Maya terkaget dibuatnya.


"Maaf den, bibik sudah membuat makanan untuk den Sam dan non Maya." Suara si bibik terdengar dari luar kamar.


Sam dan Maya kini saling berpandang dan kemudian saling terkekeh geli ketika melihat ekspresi wajah mereka masing-masing.


"Kita makan dulu, sayang. Kasian bibik udah nyiapin." Sam menghentikan segala pergerakannya, membiarkan Maya berdiri dari pangkuannya terlebih dulu.


Sam tiba-tiba meraih tangan Maya, memandang nakal wajah istrinya. "Kita lanjutkan nanti ya, istriku?" senyum Sam mengembang di semua sudut bibirnya, senyuman nakal dan lucu dari Samuel.


"Iihh.... suami udah mulai nakal ya," kekeh Maya. Kerucutan lucu pun tercipta di wajah gadis itu.


Sam tertawa sejenak, mengacak-acak lembut puncak kepala istrinya kemudian berjalan keluar dari kamar mereka dengan saling bergandeng tangan.


💕💕💕


Memang Maya sangat beruntung memiliki Sam. Seorang yang selalu mencintai dan memahaminya dengan cara yang sangat manis. Yang selalu menyelesaikan segala permasalahan dalam hidupnya dulu, tanpa mengharapkan iming-iming lebih dari Maya.


Bahkan Maya sendiri tidak bisa mengerti dengan takdir Tuhan yang telah mempertemukan dirinya dengan Samuel. Bukan pria lain, bahkan dulu jauh sebelum ia mengenal Sam, gadis itu terlebih dulu mengenal dan berpacaran dengan Elano. Yang akhirnya Maya tahu hubungan free *** Elano dengan Freya selama berada di Melbourne.


Senyum sekilas berhasil tertarik di sudut bibir Maya.


"Ngelamunin apa?"


Suara bariton lembut Sam terdengar di telinga Maya membuat gadis itu menoleh. Maya kembali merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya ketika ia menatap mata tajam pria yang memandangnya hangat.


"Ngelamunin betapa beruntungnya aku punya suami kayak kamu, hehehe...." jawab Maya seraya jari telunjuknya menari-nari bermain di dada bidang Samuel.


Sam memejamkan mata, merasakan sensasi lembut jemari Maya yang menari di dadanya. Sam lalu membuka matanya seraya menahan tangan Maya dan memberikan kecupan di punggung tangan istrinya.


"Don't tease me, dear...."


"Kok godain? aku kan cuma mengutarakan apa yang aku pikirkan," jawab Maya polos.


Sam mendesah pelan.


"Bukan itu."


Sam menggeleng pelan lalu menarik senyuman, memilih untuk tidak melanjutkan menjawab pertanyaan istri cantiknya. Meraih tubuh Maya dan membawanya ke dalam pelukan, sembari tangannya mengacak-acak gemas puncak kepala istrinya.


"Duhhh.... yang pengantin baru romantisnya, mentang-mentang udah halal berduaan terus...." ujar Martha yang datang bersama Harris.


"Hey Tha...." Maya menyambut pelukan kecil Martha, saling cipika cipiki di kedua pipi masing-masing.


"Sorry aku main nyelonong aja, habis kata bibik, kalian ada di kolam renang belakang." Martha melanjutkan.


"Gak apa-apa, oh ya Samudra mana? Aku kangen sama dia," tanya Maya antusias, merasa aneh tidak melihat Samudra yang biasa Martha bawa kemana pun ia pergi.


"Samudra di rumah sama bibik. Tadi sih dia masih tidur. Kasian juga kalau aku bawa." Martha menjawab.


Gadis itu membalas pelukan Harris yang dengan lembut meraih pinggang kecilnya dan memeluk pundaknya.


"Kita bicara di dalam, Dok? biar para istri bergosip ria sendirian di sini." Sam berujar dan langsung di jawab anggukan oleh Harris. "Oke," ujar Harris.


Baik Maya dan Martha saling tersenyum dan berpandang melihat suami-suami mereka memberikan privasi untuk keduanya.


"Gimana malam pertama kalian May?" goda Martha, rona merah kini menyembul begitu saja di kedua pipi Maya.


"Apaan sih kamu Tha...." Maya terkekeh geli.


"Ada apa Tha? gak biasanya kamu kesini sama dokter Harris."


"Oh tadi aku sama mas Harris baru aja selesai lunch, terus langsung deh ke sini." Martha menghentikan sejenak ucapannya.


"May, aku rencananya mo buka cafe. Tapi aku juga gak bisa kan mengurus semua sendirian," kembali Martha menjeda kalimatnya.


"Gimana kalau kita join-nan? Kita modal berdua, fifty-fifty gitu... lumayan lah buat kesibukan." Martha melanjutkan.


"Iya aku sih mau aja, tapi ntar deh aku tanya ke Sam dulu, dia ngijinin atau gak."


"Oke, santai aja May. Aku juga belum tau konsep yang pas buat cafe nanti." Keduanya saling terdiam sejenak ketika melihat bibik yang datang dengan sebuah baki kecil dan dua gelas minuman dingin untuk mereka tak lupa cemilan yang berwadah toples kristal cantik.


"Makasih bik," ujar Martha pelan.


Si bibik mengangguk hormat, "Iya non, silahkan diminum," jawab wanita setengah baya itu.


"Diminum Tha, silahkan."


Martha tersenyum kecil lalu meraih gelas berisi minuman dingin dan menyesapnya perlahan.


"Oh ya, gimana kehidupan pernikahan kalian?" tanya Martha sembari mencicipi kue bikinan bibik.


"Alhamdulillah selalu bahagia...." jawab Maya seraya tersenyum kecil.


"Syukurlah.... aku tahu kalian pasti akan selalu bahagia. Sam sangat mencintai kamu, May." Martha menjawab, mulutnya kini masih terlihat sibuk mengunyah kue kering berbentuk seperti bulan sabit. "Kue bikinan bibik enak ya, hehehe..." Martha terkekeh kecil sambil terus sibuk menikmati kue kering dalam wadah kristal.


"Kamu mau lagi? aku bawakan ya."


Cepat-cepat Martha mencegah Maya yang hendak berdiri, "Eh... gak usah, ini aja udah cukup kok." ucap gadis itu.


Sementara di ruangan lain terlihat Sam dan juga Harris melakukan perbincangan kecil, sesekali terlihat senyuman dan tawa mereka menghiasi percakapan dua orang pria itu.


"Tetaplah bersikap lembut ketika pernikahan kalian terdapat kerikil tajam nanti," ujar Harris.


"Thanks Dok, kami berharap bisa seperti kalian berdua yang selalu bisa melewati segala macam kerikil tajam dalam pernikahan." Sam menjawab, keduanya kini pun saling menyeruput kopi hitam di cangkir masing-masing.


Harris melepas senyuman ketika melihat sosok Martha berjalan ke arah nya. Dan Sam, ia pun mengembangkan senyuman lembutnya ke arah Maya yang juga berjalan menuju ke kursi kedua pria tampan itu.


"Hey, dear.... kalian lagi ngomongin aku ya?" canda Martha, kecupan kecil ia daratkan di ujung bibir Harris. Membuat pria itu langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya.


"Cukup aku yang selalu berbicara tentang kamu, sayang." Harris menjawab pertanyaan Martha, mencium lembut pipi istrinya.


Membuat Martha membuncah bahagia.


"Ih.... kalian membuat iri kita deh," ucap Maya seraya mendekat dan berhambur ke dalam pangkuan Samuel.


Ke empat nya sama-sama saling tertawa kecil, saling memeluk pasangan masing-masing. Baik Sam maupun Harris tak pernah sekalipun melepas tatapan lembutnya ke arah istri mereka.


"I love you, suami...." Maya yang masih dalam pangkuan Samuel, berbisik lembut di telinga suaminya.


to be continue....