MySam

MySam
Masalah Lagi?



Maya mendengus saat ia terbangun dan tidak mendapati Samuel di sebelahnya, Maya lalu bangun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian, Maya keluar dari kamar mandi dengan handuk biru yang melilit tubuhnya.


Ceklek...!


Maya menoleh saat pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Samuel yang sudah rapi dengan tshirt putih lengan pendek. Rambut setengah basah yang selalu menjadi favorit Maya, membuat suaminya itu terlihat semakin manly. Maya tidak pernah bosan dengan penampilan Samuel dalam gaya apapun.


"Udah bangun?" Sam menghampiri Maya dan memberikan kecupan lembut di pipinya.


"Kenapa belum pakai baju? Nanti masuk angin."


Sam menarik lembut tangan Maya lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Samuel berjalan ke lemari, mengambil pakaian Maya.


"A-aku bisa sendiri," ucap Maya gugup ketika Sam melepas handuk yang melilit tubuhnya dan hendak memakaikannya pakaian.


"Kamu nurut aja, sayang." Samuel berbisik di telinga Maya, membuat gadis itu hanya mengangguk nurut. Napasnya kini naik turun tak beraturan, ah kenapa ini selalu terjadi? Maya bahkan tidak pernah bisa bernapas bebas ketika tubuh atletis suaminya berada dalam jarak yang begitu dekat.


"Aku olesin lotion ke tubuh kamu ya?" ucap Samuel lembut.


Maya hanya bisa mengangguk, melihat Samuel yang kini berjalan menuju meja riasnya. Menuangkan lotion beraroma green tea dan mengoleskan perlahan ke tangan hingga kaki Maya, sesekali usapan bibir lembut Sam mendarat di pundak dan leher Maya.


Sedangkan Maya hanya terdiam dengan detak jantung yang kencang. Gugup saat kedua tangan Sam yang terasa hangat menyentuh tubuhnya. Meskipun mereka sudah lama menjadi suami istri, tetap saja Maya merasa gugup ketika Sam menyentuh setiap inci tubuhnya.


Sam lalu bergerak memakaikan pakaian ke tubuh Maya. Ia tersenyum ketika melihat Maya masih terlihat cantik meskipun istrinya itu hanya memakai switer rajut yang juga berwarna putih berleher dan berlengan panjang yang dipadupadankan dengan rok hitam selutut bercorak bunga dengan renda di bagian bawahnya.


Samuel lalu mengambilkan hairdryer untuk mengeringkan rambut Maya. Selesai mengeringkan rambut, Sam lalu membawa tubuh Maya kedalam pangkuannya.


"Suami....." lirih Maya sembari mengalungkan kedua lengan ke leher Samuel.


Sam sedikit mendongak memandang lekat wajah Maya, mengendus-endus aroma shampo yang masih melekat di rambut hitam istrinya meski kini terlihat telah mengering.


"Apa?"


Mereka kini terlihat saling menempelkan kedua ujung hidung masing-masing dengan lengan Maya yang masih saja mengalung di leher Samuel.


"Sudah tiga bulan sejak aku keguguran dan kenapa...."


"Sayang, kuharap kamu jangan berfikir soal anak lagi," kata Samuel memotong ucapan Maya.


"Kenapa? Kamu gak mau punya anak lagi?" lirih Maya kali ini bernada sedikit lemah.


"Bukan gitu sayang...." Samuel semakin mengeratkan kembali pelukannya.


"Aku hanya gak mau kamu terlalu tertekan memikirkan hal ini. Lagipula dari dulu, soal satu itu tidak pernah menjadi masalah buat aku." Sam menjeda sebentar ucapannya, kembali dengan lembut menciumi wajah Maya.


"Selama ada kamu di samping aku, semuanya akan baik-baik aja," ucap Sam melanjutkan lagi.


"Aku takut, Sam...."


"Apa yang kamu takutkan sih? Aku gak akan pernah ninggalin kamu, sayang."


Pipi Maya memanas mendengarnya, ucapan Samuel barusan membuat jantung Maya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Maya membelalak ketika Sam mengecup bibirnya. "Kita makan malam di luar?" tanya Samuel menatap wajah Maya.


"Sudah lama juga kan kita gak makan di luar?" lanjutnya lagi.


Maya mengangguk pelan. "Aku pakai pakaian ini gak papa ya? Malas kalo harus ganti lagi."


Samuel mengangguk tersenyum. "Kamu selalu terlihat cantik dengan pakaian apa aja."


Jawab Sam sembari mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya di wajah Maya.


....


Maya sudah sampai di depan ruangan Samuel, satu tangannya yang bebas terangkat menekan knop pintu dan membukanya. Sementara tangan yang lainnya terlihat menenteng sebuah paper bag berwarna pink pastel.


Maya hendak melangkah masuk, namun tidak jadi ketika ia melihat pemandangan yang menyesakkan di depannya.


Tubuhnya menegang seketika, dadanya bergemuruh melihat itu. Melihat Samuel mengukung Freya di tembok. Jarak mereka sangat dekat, dan itu membuat hati Maya panas.


Sedangkan Samuel menatapnya terkejut dengan kemunculan Maya tiba-tiba.


"Sorry ganggu, aku bawa makan siang buat kamu." Maya meletakkan paper bag makanan itu ke atas nakas. "Lanjutin urusan kalian, aku tunggu di luar," lanjut Maya kemudian menutup pintu dan melangkah pergi.


Air matanya mengalir, namun Maya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara isakannya. Maya terus menerus memikirkan hal positif terhadap Samuel. Tapi pemandangan itu tadi....


Tadi itu tidak mirip seperti kejadian beberapa tahun silam, saat Freya dengan sengaja mencium bibir Sam di koridor kantor milik suaminya itu.


Dan Samuel....


Tentu saja Maya sadar jika Sam adalah pria yang normal, dan tentu saja Maya mengetahui betapa Sam sangat mendamba memiliki seorang bayi yang nantinya akan meneruskan kerajaan bisnis keluarganya maupun bisnis pribadi milik Samuel.


Apalagi Samuel adalah seorang yang dengan cepat luluh dan mudah bersimpati terhadap siapapun, termasuk Freya.


Maya merubah langkah panjangnya menjadi sedikit berlari saat terdengar panggilan Samuel dari belakangnya. Maya menghindar, tidak mau Sam melihatnya menangis seperti ini, karena pria itu pasti berfikir jika ia tidak mempercayainya.


Maya percaya jika Samuel benar-benar mencintainya, namun hati wanita mana yang akan tahan jika melihat pemandangan itu.


Sementara jauh di belakang Maya, Samuel mengejarnya seraya memperingati Maya untuk tidak berlari lebih jauh lagi darinya. Sam takut jika sesuatu terjadi pada istrinya, dan tentu saja ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk yang akan kembali menimpa Maya.


"May, tunggu.....!" Sam akhirnya berhasil menahan tangan Maya.


"Jangan lari kayak gitu, bahaya sayang."


Maya menepis tangan Samuel darinya, berpaling membelakangi Samuel yang terlihat ketakutan.


Samuel menghela napasnya dan memutar tubuh Maya untuk menghadapnya. Dibingkainya wajah Maya, menghapus airmata itu dengan kelembutan.


"Aku bisa jelaskan semuanya, tapi sebelumnya aku mohon ikut aku kembali ke kantor."


Maya tidak merespon, namun air matanya semakin deras keluar membasahi pipinya.


"Sssttt.... maaf, sayang." Sam membawa Maya kedalam dekapannya. Mengecup puncak kepala Maya lembut. "Aku bisa jelasin semuanya."


Tak ada balasan dari Maya, bibirnya serasa kelu untuk menolak atau memarahi Samuel. Kedua tangannya reflek melingkar ke leher suaminya saat lelaki itu menggendongnya. Maya membenamkan wajahnya ke ceruk leher Samuel, menyembunyikan air matanya. Terlalu malu menunjukkan wajahnya saat ini, mengingat kejadian kejar-kejaran bersama Samuel beberapa detik yang lalu.


...


Samuel membawa Maya ke ruangannya, meletakkan tubuh istrinya ke atas sofa lalu meluruskan kaki jenjang Maya dan melepaskan flatshoes yang Maya kenakan.


"Minum dulu." Sam memberikan gelas berisi air mineral ke arah Maya. Gadis itu meminumnya beberapa tegukan lalu mengembalikannya pada Samuel.


Samuel meletakkan gelas itu di atas meja lalu sedikit berjongkok. Tangan kanannya terjulur menyingkirkan helaian rambut Maya yang basah oleh keringat akibat berlarian tadi. Sam juga mengusap keringat di wajah Maya.


"Soal kejadian tadi itu gak seperti dengan apa yang kamu pikirin."


"Waktu kemarin kamu berantem sama Freya di toilet kan?" tanya Samuel.


Sontak Maya menoleh menatapnya terkejut. "Kok kamu tau?"


"Apa yang gak aku tau tentang istri aku, hm?" jawab Sam seraya membelai pipi Maya. "Aku ngawasin kamu," lanjutnya.


"Aku gak suka melihat perlakuan Freya ke kamu kemarin, jadi aku panggil dia ke ruanganku. Tapi dia mengelak dan malah menuduh kamu yang menyakitinya," terang Sam lagi.


Maya sontak terdiam, iya pertengkarannya dengan Freya kemarin sama persis dengan pertengkaran mereka beberapa tahun yang lalu, ketika Freya baru bertemu Samuel setelah sekian lama berpisah.


"Terus kamu percaya?"


Samuel menggeleng. "Aku lebih percaya kamu, istriku."


"Aku kasih dia peringatan untuk tidak lagi mengganggu kamu tapi Freya terus saja mengelak, aku juga bilang kasian sama bayi dalam kandungan dia jika ibunya terus bersikap culas dan jahat," lanjut Samuel yang kali ini beralih duduk mendekat ke samping Maya.


"Aku tadi emosi dan gak sengaja mendorong dia ke tembok. Aku kasih tau dia agar gak macam-macam sama kamu dan jika tidak, dia tidak akan lagi bekerja di sini.


"Tapi kehamilannya baik-baik aja kan, Sam?" tanya Maya khawatir. Samuel mengangguk dan tersenyum melihat kebaikan Maya terhadap orang lain, meski orang tersebut selalu mencoba menyakitinya. Itu lah yang menjadi alasan kenapa Samuel mencintai Maya, yaitu kebaikan hati gadis itu.


"Kehamilannya baik-baik aja."


"Jadi yang aku lihat karena kamu membela aku?"


Samuel mengangguk dikecupnya punggung tangan Maya lembut.


"Sekarang udah gak marah lagi kan?"


Maya menggeleng dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya.


"Sekarang kita makan ya, aku beliin kamu steak tadi," ucap Maya seraya bangkit dari duduknya dan meraih paperbag yang tadi saat pertama datang ia taruh di atas nakas.


Sam berpindah duduk di atas kursi 'kebesarannya'. Di tempatnya, Sam menghela napas lega, tapi ia juga merasa bersalah karena sudah membohongi Maya. Sam hanya mau Maya tidak terseret dalam masalahnya bersama Freya.


Sam memastikan jika Maya akan selalu baik-baik saja.


to be continue....


Kira2 masalah apa yg Sam sembunyikan dari Maya? Hhmmm.... yg penasaran simak next nya ya...🤗