
Maya melonggarkan sandarannya pada pundak Samuel, begitu ia mendengar suara bel pintu berbunyi dengan sangat lantang.
Ia pun mendengus kecil karena suara itu sedikit mengganggu waktu kebersamaan dia dengan suaminya. "Siapa bik?" tanya Sam begitu si bibik berjalan tergopoh menaiki anak tangga menuju ruang santai yang berada di lantai dua rumah besar itu dan berjalan menuju ke arahnya.
"Nyonya Anita, tuan."
"Mama?" Sam sedikit menggantung ucapannya.
"Sam--- mama Anita datang kenapa bengong?" ucap Maya sembari berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?"
"Ish--ya turun lah menemui mama, emang mau kemana lagi, suamiku....hm?" decak Maya lucu.
Samuel tersenyum sebentar, lalu ikut berdiri dari duduknya dan memegang pundak Maya, seolah menyuruhnya untuk duduk kembali pada hamparan karpet bulu yang sangat lembut dengan beberapa bantal yang juga terlihat nyaman dan empuk.
Sementara Samudra masih sibuk bermain game pada layar besar televisi LED yang berada di tengah ruangan.
"Kamu duduk aja disini, biar mama yang naik ke atas."
"Samuel---! Ya gak bisa gitu dong. Mama kan lebih tua dari kita, mama aku juga dan harusnya kita yang nyamperin beliau." Maya melotot ke arah Samuel dengan mengerucutkan bibirnya spontan.
Hanya membuat Sam mengedikkan sedikit bahu kekarnya.
"Ya udah, sini aku pegangin kamu. Kita turun sama-sama," ucap Sam akhirnya. Maya tersenyum melihat perhatian yang suaminya itu tunjukkan, mungkin bisa dibilang jika dia adalah perempuan paling beruntung mendapatkan seorang suami macam Samuel.
"Am disini dulu ya, Moms-Dad mau turun ke bawah sebentar!" seru Samuel ke arah Samudra. Bocah itu pun menoleh ke arah keduanya dan mengangguk pelan, sementara kedua tangannya masih saja memegang stick permainan playstation miliknya.
Sam menggandeng tangan Maya sembari berjalan menuntunnya perlahan.
....
"Ma...." sapa Maya begitu ia menuruni anak tangga terakhir.
Perempuan itu mendekat ke arah Anita dan tanpa menunggu lama, Maya meraih punggung tangan Anita lalu menciumnya perlahan.
"Kalian apa kabar, hm?" tanya Anita sembari melakukan cipika cipiki dengan menantu kesayangannya, ia pun membelai lembut perut Maya yang kini sudah terlihat semakin membuncit.
"Baik, ma...."
Kini giliran Samuel yang mencium punggung tangan Anita sembari mendaratkan cipika cipiki ke pipi wanita setengah abad yang masih terlihat halus itu.
"Cucu mama apa kabar? Sehat kan?"
Anita kembali memberikan usapan lembut pada perut buncit menantunya. Dan kemudian dibalas anggukan kepala oleh Maya.
"Alhamdulillah sehat, ma."
Maya tersenyum sejenak dengan satu tangan yang juga ikut mengelus perutnya.
"Mama gak sabar pengen gendong cucu mama," dengan sedikit tersenyum kecil Anita kini menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang di ruang tengah.
"Kalian udah tahu jenis kelamin anak kalian?"
Sam mengangguk, ia sedikit menarik alisnya ketika Maya memberikan kode ke arahnya.
"Cucu mama laki-laki---" Sam pun menjeda ucapannya.
Terlihat senyum gembira Anita begitu mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Samuel.
"Dan juga perempuan, Ma...." Sam kembali melanjutkan ucapannya.
Kali ini Anita semakin membolakan kedua netranya, bibirnya pun membulat mendengar kabar mengejutkan itu.
"Hah....!! Jadi Maya mengandung anak kembar?" tanya Anita seakan tidak mempercayainya.
Maya mengangguk, begitupun dengan Samuel.
"Oh-puji Tuhan...." Kali ini Anita bangkit dari duduknya dan merengkuh tubuh Maya lalu memeluknya erat.
"Mama bahagia sekali mendengar ini." Kali ini Anita menarik tubuhnya sedikit dari pelukannya.
"Sam...! Kamu harus jaga baik-baik istri kamu. Kemana-mana harus sama kamu, jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi."
Satu wejangan dari Anita ditanggapi anggukan kepala oleh Samuel.
"Pasti Ma, Sam selalu menjaga bidadari cantik ini."
Pipi Maya tiba-tiba merona mendengar perkataan Sam, bisa-bisanya suaminya itu ngegombal dihadapan sang mertua. Ish bikin gue salah tingkah kan---? batin Maya sembari senyum-senyum sendiri.
"Eh ngapain kamu senyum-senyum gitu?" ledek Sam lagi.
Maya melotot seraya melayangkan cubitan kecilnya di pinggang Samuel.
"Ouch.....! sakit sayang..." ringgis Sam dengan sedikit tawa kecilnya.
"Makanya jangan suka ledekin istri, weekkk...." Maya membalas dengan juluran lidah ke arah Sam.
Anita hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd putra dan menantunya. Wanita itu kini bisa lagi melihat putra semata wayangnya itu bahagia, dan Anita sangat bersyukur memiliki Maya sebagai menantunya. Gadis yang dulu pernah ia anggap remeh.
"Hahaha kalian ini seperti anak kecil aja, kamu juga Sam! istri itu harusnya disayang bukan diledekin gitu."
"Plak....!!"
Anita tiba-tiba memukul perlahan kepala Samuel dengan gulungan surat kabar yang tergeletak begitu saja di atas nakas.
"Auw.....! Ma sakit tau, tega ya memukul anak sendiri," ringis Samuel dengan sedikit merajuk.
Maya yang tadinya kaget dengan apa yang Anita lakukan, kini giliran dia tertawa geli melihat ekspresi Samuel.
"Heeee---!! pukul aja Ma, sini biar May bantuin---" Maya kembali menjulurkan lidahnya ke arah Samuel sembari puas sekali menggoda suaminya itu.
"Eehh.... awas ya kalo ketangkep."
"Emang mau ngapain, weekkk---"
"Mau aku cium."
"Samuel---!!"
Maya kembali melotot lucu, dan masih dengan rona merah muda di kedua pipi chubby nya.
Anita kembali terseyum melihat kelakuan keduanya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.
"Oh ya cucu mama yang besar mana? Kok gak keliatan?" tanya Anita yang merotasikan pandangannya ke semua arah mansion milik Sam.
"Oma---!!" Teriak Samudra girang sembari menuruni anak tangga melingkar dengan sedikit berlari.
Samudra hanya tertawa kecil melihat kekhawatiran Maya. Lalu dengan cepat tubuhnya memeluk Anita yang berdiri menyambut kedatangannya.
"Oma.... Am angen(kangen) cama(sama) Oma." Samudra kini memeluk erat Anita.
"Iya Oma juga kangen sama Am." Anita sedikit berjongkok dan mengelus wajah tampan bocah kecil dihadapannya saat ini.
"Kalian sih sekarang jarang bawa Samudra ke rumah Mama," protes Anita pada Sam dan Maya.
"Maaf Ma, kan Am nya sekarang udah sekolah jadi May takut jika dia kecapean."
"Nanti deh kalo Am libur, Sam bawa dia ke rumah Mama."
"Iya, gak papa. Ya sudah ayo Am ikut Oma ke dapur, nanti Oma bikinin cemilan yang enak buat Am."
Samudra tersenyum senang mendengar perkataan Anita, bocah itu pun mengangguk cepat dan meraih punggung tangan wanita itu.
"Ayo Oma...."
Samudra dengan cepat menyeret lengan Anita menuju pantry luas dengan berbagai peralatan masak modern lengkap.
...
Entah kenapa Maya akhir-akhir ini sangat menyukai duduk dengan menyandarkan kepalanya pada pundak Samuel. Apalagi jika suaminya itu sembari mengelus-elus lembut puncak kepalanya dan berakhir dengan mendaratkan kecupan di kening. Oh.... sungguh Maya sangat menyukainya.
Seperti saat ini, di weekend ini Maya sedang tidak ingin pergi kemana-mana. Ia hanya menggeleng malas ketika Sam menawarkan perjalanan ke villa di puncak ataupun cottage keluarganya yang berada di Pulau Seribu.
Padahal sebelumnya Maya sangat menyukai perjalan di kedua tempat itu. Alhasil di hari weekend ini keduanya hanya menghabiskan waktu mereka di dalam rumah dan menikmati kebersamaan mereka dengan menonton Dvd film-film yang telah Samuel siapkan, ataupun menonton acara film ataupun series di saluran televisi berbayar. Sementara Samudra, pagi tadi ia menyetujui ajakan Anita untuk bermalam di mansion orang tua Sam.
Ddrrttt.....ddrrttt.....
Ponsel Samuel tiba-tiba saja bergetar. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pintar miliknya.
Sam menautkan kedua alisnya, sehingga membentuk satu ekspresi heran.
"Siapa, Sam?"
"Eemm--- Dean Sanjaya, klien aku," jawab Samuel heran.
Sam pun membuka pesan dari kliennya itu, membacanya dengan sedikit netra membola.
"Kenapa, Sam? Ada masalah?" pertanyaan Maya sedikit mengejutkan Samuel yang kali itu sedang berfikir sesuatu.
"Dia mengundang kita makan malam," jawabnya sembari beralih memandang wajah Maya.
"Rupanya dia serius sama omongannya," gumam Samuel pelan.
"Kenapa, suami?" Maya mengernyit heran melihat Sam yang seolah bergumam sendiri.
Sam menggeleng perlahan, "Gak apa-apa,"ucapnya sembari tersenyum kecil.
Sementara Maya hanya ber-oh-ria menanggapinya.
"Emang kapan dia ngundang kita?"
"Besok malam, di salah satu hotel miliknya."
Ekspresi wajah Samuel kini terlihat kaku.
"Kita gak perlu datang."
"Lho kenapa? Bukannya kamu pernah cerita kalo Dean Sanjaya adalah klien penting kamu?" tanya Maya heran.
Sam tersenyum sebentar lalu mengusap pipi chubby Maya, menatap iris hitam perempuan yang selama ini menjadi istrinya.
"Aku takut jika dia tergoda ketika melihat kamu," goda Samuel.
"Ish, kamu ini. Ya gak mungkin lah."
"Kenapa gak mungkin? Kamu adalah wanita paling cantik sejagad raya ini," ucap Sam dengan sorot mata teduh. Selalu membuat Maya merasa salah tingkah dibuatnya.
"Heemm--lebay ah," cibir Maya lucu.
"Lagipula aku kan sedang hamil, badan aku bengkak, mana ada laki-laki yang tergoda sama wanita hamil dan gendut kek gini."
"Ada."
"Siapa?"
"Aku...."
"Sam ih--- selalu deh bikin aku malu," cicit Maya manja.
"Hahahaha....!"
Sam tertawa geli melihat pipi chubby berwarna merah muda di depannya.
"Kita datang aja, Sam. Aku tahu dia adalah klien penting kamu."
Perkataan Maya barusan membuat Samuel menghentikan tawanya.
"Aku takut---" Sam tidak langsung menyelesaikan ucapannya. Ia menggantung kalimatnya dan membuat Maya heran.
"Takut? Samuel Perdana yang hebat bisa takut juga? Emang suamiku takut apa sih?" Maya pun kali ini semakin memangkas jarak pandang mereka. Oh--- suaminya itu memang sungguh terlihat tampan dari jarak sedekat ini, batin Maya.
"Takut kalo kamu jatuh hati sama dia. Atau takut kalo dia yang jatuh cinta sama kamu."
Maya mencebikkan bibirnya kesal, mendengar ucapan Sam barusan membuatnya marah. Oh tidak, ralat--- hanya kesal, Maya bahkan tidak bisa benar-benar marah sama suaminya itu.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih, mana mungkin aku bisa jatuh hati sama pria lain-- jika suami aku adalah pria paling sempurna dan menyempurnakan hidup aku, hm?"
Maya memandang lekat iris kecoklatan milik Samuel. Dengan tiba-tiba gadis itu mendekatkan wajahnya, mengendus aroma musk dan napas beraroma mint yang keluar dari mulut Samuel. Hingga satu gerakan dari bibir Maya berpaut lembut menguasai bibir tebal Sam yang selalu berwarna merah muda.
"Tidakkah kamu tahu kalo aku sangatlah mencintai kamu, suamiku?" ucap Maya disela-sela leguhannya.
Kembali bibir keduanya menyatu dan melakukan pergerakan, saling berpaut satu sama lainnya. Saling bertukar saliva dengan leguhan-leguhan tak tertahan kali ini.
Hingga jemari Samuel pun bergerak bebas di tubuh istrinya, menelusuri setiap inci lekuk tubuh Maya. Tak terkecuali dua bongkahan bulat kenyal Maya yang selama kehamilannya terlihat semakin berisi.
"Hati-hati sayang, didalam tubuh aku ada baby kembar kita," desis Maya pelan sembari mengalungkan kedua lengannya pada leher Samuel.
"Yes, i will...." desah Samuel dengan napas menderu hebat.
to be continue....