
Setelah kemarin dokter Chen menyarankan agar Samudra lebih baik menjalani terapi, hari ini Samuel berencana untuk memulangkan bocah itu dari rumah sakit.
Bukannya apa-apa, Sam hanya tidak ingin kalau Dean kembali menemui Maya ataupun Samudra di rumah sakit tersebut ketika Sam berhalangan untuk menjaga Samudra.
Lagipula dokter Chen mengkonfirmasikan jika keadaan Samudra sudah membaik, hanya butuh terapi kecil untuk mengatasi sakit yang sewaktu-waktu menyerang kepala bocah itu.
"Sudah dimasukkan semua kan bik, barang-barang Samudra dan juga Maya?"
"Sudah semuanya tuan muda. Barang bawaan den Samudra dan non Maya sudah saya masukkan ke dalam kopor," ujar bik Sari.
Sam mengangguk pelan lalu perhatiannya beralih ke arah Maya dan Samudra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Am udah siap pulang?" Samudra mengangguk pelan.
"Kita keluar sekarang." Ucap Sam kepada Maya dan hanya dibalas anggukan kecil Maya.
"Oh-iya administrasi nya---"
"Udah aku lunasi tadi, kamu gak perlu khawatir," sela Samuel cepat.
Maya hanya manggut-manggut kecil kemudian kembali melangkah meninggalkan ruangan VVIP tersebut.
"Aku lelah, Sam." Maya berucap di sela-sela langkah kaki mereka.
Membuat Samuel semakin mengeratkan gandengannya pada lengan Maya. Netra kecoklatan miliknya memandang khawatir ke arah Maya.
"Kamu sakit? Kita periksa sekalian? mumpung masih di rumah sakit?"
Maya menggeleng perlahan.
"Gak usah, mungkin kelelahan aja," jawab Maya sembari terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan Sam yang selalu mendekap tubuhnya dari samping.
Sementara Samudra berada di belakang mereka dalam gendongan bik Sari.
"Aku gak mau kamu dan bayi kita sakit---" Sam menjeda omongannya.
"Lebih baik kita periksa sekarang."
"Tapi Sam, dokter Linda kan gak prakter di rumah sakit ini," ucap Maya.
"Kita cari dokter spesialis kandungan yang lain, untuk sementara aja sayang." Jawab Samuel tegas.
Maya hanya bisa mengangguk dan semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Samuel.
"Bik Sari temeni Am di lobi luar aja ya, tunggu kami periksa ke dokter kandungan sebentar."
Bik Sari pun mengangguk patuh.
"Am sama bik Sari dulu ya?"
"Iya daddy..." angguk Samudra.
...
"Istri anda baik-baik saja, mungkin nyonya Maya hanya kelelahan dan kekurangan cairan tubuh," terang dokter wanita berumur sekitar empat puluh tahunan ketika selesai memeriksa Maya.
Sam terlihat membuang napas lega mendengar penjelasan sang dokter.
"Anda yakin istri dan calon anak saya tidak kenapa-napa, dok?"
Sang dokter kembali mengangguk yakin. "Istri anda hanya kelelahan, dan coba lah untuk tidak telat makan dan selalu minum air putih ataupun susu kehamilan."
Sang dokter kini terlihat menuliskan sebuah resep untuk diserahkan kepada Samuel.
"Ini ada resep vitamin kehamilan."
Sam mengangguk dan menerima secarik kertas dari tangan dokter kandungan tersebut.
"Baiklah terima kasih, dok."
"Sama-sama, tolong jaga baik-baik istri anda tuan."
Sam tersenyum sebentar, anggukan kepala pun merespon perkataan dari dokter berkulit sawo matang itu.
....
"Syukurlah kamu hanya kecapean tadi," ucap Samuel sembari menyodorkan susu hangat untuk Maya.
Sam pun lalu duduk memeluk tubuh istrinya yang kini terlihat lebih berisi.
"Makasih sayang," balas Maya sembari menerima gelas kristal berisi susu hangat rasa vanila dari tangan Samuel.
"Kamu jangan kecapean gitu dong, sayang."
Sam mengamati lekat wajah Maya ketika dengan lahap meneguk susu buatannya. Bahkan tidak ada satu tetes tersisa pun di dasar gelas panjang tersebut.
Sam sejenak tersenyum geli.
"Enak?"
Maya mengangguk sembari meringis lucu ke arah Samuel.
"Mau aku buatin lagi?"
"Emang boleh? Gak ngerepotin?"
Sam tersenyum sebentar, membelai anak rambut Maya yang tidak ikut terkuncir membentuk gulungan kecil di atas kepalanya.
"Ya boleh lah, apa sih yang gak boleh buat kamu, hm?" jawab Samuel penuh cinta.
Sam bangkit dari duduknya dan meraih kembali gelas dari tangan Maya.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, aku buatin susu lagi."
Sam kini berjalan menuju arah pantry. Maya mengulumkan senyuman memandangi kepergian suaminya.
Gerakan jemari pelan dan lembut masih saja mengusap-usap perutnya yang kini semakin membesar.
Memasuki bulan ke enam, kehamilannya kini memang semakin terlihat. Dan tak ayal membuat Maya sering merasa kelelahan.
Tak berapa lama kemudian Samuel kembali datang mendekat ke arahnya dengan membawa lagi satu gelas susu hangat.
Maya meraih gelas susu dari tangan Sam lalu untuk kedua kalinya ia kembali meneguk rakus susu rasa vanila kesukaannya.
"Sam...."
"Hm?"
"Bicara soal Dean---"
Maya menjeda kalimatnya, sekilas ia memandang ke arah suaminya untuk memastikan jika Samuel tidak merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih menyeramkan.
"Kenapa sama dia?"
Dan benar saja, ekspresi wajah Sam kini berubah seratus delapan puluh derajat. Terlihat lebih menakutkan untuk sekedar dilihat.
"Bagaimana dia bisa tau jika Samudra bukan anak kita?" tanya Maya lagi.
Kali ini Samuel menarik kedua alis tebalnya.
"Apa maksud kamu, May?"
"Jadi.... waktu kemarin di rumah sakit--- dia bilang jika Samudra anak angkat kita." Maya menjeda sebentar ucapannya.
"Kan aneh, darimana dia tau jika Am bukan anak kita? terus kecelakaan yang Am alami dulu, dia pun mengetahuinya kan Sam?"
Samuel terlihat seperti berfikir. Apa yang Maya ucapkan memang benar. Menurut Sam, Dean Sanjaya memang terlihat sangat aneh dan penuh dengan misteri.
Ditambah lagi kasus keterpurukan perusahaan Wijaya Group yang tiba-tiba saja, membuat Samuel pun menaruh kecurigaan jika Dean lah dalang dibalik semuanya.
"Sam....." ucap Maya membuyarkan lamunannya.
"Kamu mikirin apa?"
"Gak kok, gak apa-apa." Sam tersenyum, lalu kembali membelai wajah cantik istrinya.
"Kamu istirahat, ini udah malam." Sam kembali melanjutkan ucapannya.
"Am gimana?"
"Am udah tidur dari tadi, dijagain sama bik Sari." Sam menjawab, ia lalu berdiri dan memegang tangan Maya untuk membantunya berdiri.
"Awas hati-hati...." ucap Samuel sembari terus memegangi erat tubuh Maya.
....
Dean Sanjaya
Dean mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil berjenis SUV hitam mengkilapnya. Ia masih menatap bangunan kuno namun tetap terlihat kokoh. Sama persis dengan apa yang ada di dalam foto yang ia pegang kini.
Sesaat ia seolah mencoba mengingat kembali memori yang tiba-tiba saja ia rasakan. Netra Dean memejam erat berusaha menyatukan kepingan-kepingan memori itu, namun sayangnya setiap ia berusaha mengingatnya justru bayangan itu semakin memudar.
Dean akhirnya beranjak keluar melewati pintu mobil.
Mendekati halaman luas dengan hamparan rumput hijau yang tertata rapi. Jika dilihat dari penampakannya rumah tersebut masih dihuni.
Dean berjalan perlahan menuju salah satu pohon yang terlihat berusia paling tua. Dengan rumah pohon yang tetap kokoh berada di antara dahan-dahan besarnya. Sementara dahan yang lain tergantung ayunan kayu yang juga telah berusia tua namun masih terlihat kokoh tergantung disana.
Jemari Dean perlahan menelusuri ayunan tersebut, seolah seperti ingin merasakan kembali dejavu yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?"
Seorang laki-laki tua, mungkin berusia sekitar tujuh puluh tahunan, berpakaian khas daerah sana dengan warna serba hitam mendekat ke arah Dean. Dengan wajah yang sedikit heran akan kehadiran sosok pria gagah menyelinap masuk ke pekarangan luas rumah bergaya eropa kuno yang tak berpagar.
"Oh-iya maaf.... apa kah anda pemilik rumah ini?"
"Saya hanya penjaga rumah ini, pemiliknya hanya lima bulan sekali mengunjungi tempat ini," ucap laki-laki tua itu.
"Eh-eemm apa boleh saya tahu siapa pemilik rumah ini?"
Laki-laki tua itu tak langsung menjawab, sorot mata renta namun masih terlihat tajam memandang ke arah Dean untuk beberapa menit. Mengamati sosok pria bertubuh tegap dengan pakaian rapi. Sesekali mata tajam pria tua itu beralih ke arah mobil besar dan mewah yang berwarna hitam mengkilat terparkir tepat di depan rumah itu.
"Pemilik rumah ini dua kali telah berganti orang," jawab laki-laki itu akhirnya.
"Boleh saya tahu siapa pemilik pertama rumah ini?" Dean menjeda sebentar.
"Apakah anda tahu siapa pemilik pertama rumah ini?" Tanya nya lagi.
Laki-laki tua itu mengangguk pelan.
"Dulu pemilik pertama rumah ini adalah keluarga Permana. Tuan Permana dan juga nyonya Anita."
"Lalu dimana mereka sekarang?" Tanya Dean lagi, ia berpura-pura seolah-olah tidak mengetahui keberadaan keluarga Permana.
"Setahu saya mereka pindah dari kampung ini sekitar dua puluh tahun yang lalu, sejak---" Laki-laki tua itu terlihat sedikit ragu-ragu untuk bercerita dan tidak langsung meneruskan kalimatnya.
"Sejak apa? Boleh saya mengetahuinya?" Dean kini sedikit penasaran dengan cerita yang laki-laki itu berusaha sembunyikan.
"Maaf kalau boleh saya tahu, tuan ini siapa?" tanya laki-laki tua penjaga rumah besar berarsitektur kuno itu.
"Saya-- eemm-- saya Dean kerabat dekat keluarga Permana. Saya baru saja pulang dari luar negeri dan sudah lama kehilangan komunikasi dengan mereka," ucap Dean dengan sedikit bersandiwara.
Penjaga rumah tersebut terlihat manggut-manggut lalu mengajak Dean menuju kursi di teras rumah besar itu.
Disana sang laki-laki tua penjaga rumah kuno itu mulai bercerita tentang keluarga Permana dan kejadian yang terjadi dua puluh tahun silam.
to be continue....