MySam

MySam
Aku Percaya, Sam



Sam tersenyum lembut, kembali mengusap pipi chubby Maya dan semakin menggerakkan pinggulnya, kali ini Sam lebih berhati-hati dengan pergerakannya. Bagaimana pun ia tidak ingin menyakiti dan membahayakan kehamilan Maya. Ia sudah pernah konsultasi dengan Harris dan selama kehamilan, mereka masih boleh making love asal dilakukan dengan sangat hati-hati.


"Say my name, baby...." ucap Sam, kali ini ia sedikit menaikkan tempo permainannya menguasai tubuh Maya.


"Sam....euumm...." erang Maya, tubuhnya bergetar hebat ketika pusaka Samuel semakin menerjang tubuhnya hingga kemudian ia merasa akan kli-maks.


Tubuh keduanya kini perlahan-lahan melemas seiring keluarnya cairan penyatuan mereka. Sam menjatuhkan tubuhnya di samping Maya, semakin mengeratkan kembali pelukannya dari samping tubuh istrinya lalu mencium kedua pipi Maya yang kini memerah.


"I love you, May."


"I love you too, Samuel."


"Jangan katakan 'juga', kesannya kamu hanya ikut-ikutan dengan yang aku katakan," bisik Samuel.


"I love you my husband...." bisik Maya sembari menatap wajah Samuel lekat.


Sam masih berbaring sembari memeluk sejenak tubuh istrinya, mengelus punggung Maya dan memberikan ketenangan untuk gadis itu.


"Aku lapar, kita makan?" bisik Sam yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala Maya. Samuel memakaikan kembali piyama Maya dan membantu istrinya untuk duduk di tepi ranjang.


"Kamu bisa berjalan?"


"Hhmm, ya bisa dong, suami."


"Aku gendong ya," tawar Sam dengan ekspresi serius.


"Gak usah, aku bisa kok."


"Tapi....."


"Sam, aku bisa jalan sendiri." Maya menyela ucapan Sam dengan tersenyum geli menatap wajah khawatir Samuel. Hingga Sam menuntun Maya dengan sangat hati-hati keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan.


....


"Tadi kamu pulang bareng siapa, sayang?" tanya Maya sambil menyendokkan nasi beserta sayur dan lauk di piring Samuel.


"Kamu mau ikan atau ayam?" tawar Maya.


"Ayam aja, aku masih ngerasa mual jika bau ikan."


Maya mengangguk lalu menaruh satu potong ayam goreng di piring Samuel.


"Tadi aku nelfon Bayu, katanya dia pulang duluan. Jadi kamu tadi pulang bareng siapa sih? Naik taxi online?" tanya Maya lagi.


Sam terdiam sebentar.


"Aku bareng Freya," ucap Samuel sambil menyendok nasi ke mulutnya.


"Freya? kok bisa sih?"


Baru saja Sam ingin menjawab pertanyaan Maya, namun dengan cepat gadis itu kembali menyela.


"Eh-kamu makan aja dulu, sayang. Kamu mau lauk apa lagi? Udang?" tawar Maya lagi dan kali ini Sam hanya mengangguk pelan.


"Dikit aja, sayang."


"Hhmm..." Maya mengambilkan dua potong udang galah goreng ke piring Samuel dan kemudian dengan lahap dimakan olehnya.


***


Maya duduk di tepi kolam renang indoor ketika Sam datang menghampiri dengan dua cangkir teh hangat di tangannya.


"Makasih, suami...." ucap Maya sembari menyeruput teh hangat dari Samuel.


"Kamu masih mual-mual, sayang?" tanya Maya kali ini, ia pandang sejenak wajah Samuel yang terlihat seperti menyimpan sesuatu.


"Lumayan," jawab Sam singkat, ia kecup kening istrinya sebelum mengambil tempat duduk di sebelah Maya.


"May...."


"Jadi... tadi aku ketiduran di kantor dan begitu aku bangun sudah hampir jam enam sore. Bayu dan karyawan yang lain udah pulang duluan, hanya ada Freya yang masih tinggal di kantor." Samuel berusaha menerangkan kejadian yang sebenarnya.


"Oh... terus?"


"Dia menawarkan diri agar aku pulang bareng dia."


"Dan kamu setuju?"


Sam mengangguk pelan, sejenak menatap wajah istrinya. "Tapi kami gak ada apa-apa, aku hanya numpang di mobil dia dan udah itu aja....." terang Samuel lagi, ia tidak ingin Maya menduga yang tidak-tidak kepadanya.


"Sam, aku boleh nanya?"


"Boleh dong, kamu mau nanya apa, hhmm?"


"Noda lipstick di blezer kamu, apa itu punya Freya?" tanya Maya lirih, membuat Sam seketika itu membolakan kedua matanya.


"No-dda- lips-tick?" gagap Samuel.


"Iya, tadi sewaktu aku masukin kemeja dan blezer kamu ke mesin cuci, aku liat ada bekas lipstick merah di blezer belakang kamu." Maya menjelaskan, tidak ada kemarahan dalam nada bicaranya.


Maya sebenarnya sangat marah dan curiga, namun ia mengingat kembali kehamilannya. Maya tidak mau ia menjadi stress dan berakibat buruk terhadap perkembangan janinnya. Jadi sekuat tenaga ia mencoba bersikap tenang menghadapi persoalan ini.


"Sam, aku mau kamu jujur."


Ah.... Maya sungguh membenci keadaan ini, ia takut akan ada badai dalam rumah tangganya. Harusnya saat ini ia dan Sam bermanja-manja seperti sebelumnya, bahkan baru beberapa jam lalu keduanya saling memadu cinta dan Maya tidak ingin kebahagiaan mereka berubah menjadi tangisan.


"Mungkin...."


"Kok mungkin? jadi kalian....." Hampir saja cairan bening jatuh berderai di kedua sudut matanya.


"Tadi kami sempat berdebat, dia bilang jika masih mengharapkan aku, dan...." Sam menjeda kalimatnya, membuat Maya semakin merasa kesal.


"Dan....? Apa...?"


"Dia sempat memeluk-ku dari belakang, dear. Tapi aku menolaknya, sungguh!" terang Samuel dengan ekspresi wajah serius.


"I love you, honey. Bagiku hanya ada aku, kamu dan bayi kita. I promise you." Sam meraih jemari Maya dan menggenggamnya erat.


"Gak terjadi apa-apa antara aku dan Freya malam ini." Sam melanjutkan, mencoba membuktikan yang sesungguhnya ke Maya.


Sementara Maya masih terdiam, meredam segala emosinya. Mencoba berfikir jernih, noda lipstick itu ia temukan di punggung blezer Samuel bukan di dada Sam, dan artinya Freya lah yang memeluk Sam dari belakang. Bukan Samuel yang memeluk sekretarisnya itu.


"Sayang, aku mohon percaya pada ku. Aku gak mungkin menggantikan kamu dengan siapa pun itu. Hanya kamu yang aku cintai, Maya."


Kediam-an Maya lagi-lagi membuat Sam takut. Dari tadi gadis itu tak merespon apa-apa dari ucapannya barusan.


"Sayang...." ulang Sam lagi, sambil merengkuh pundak istrinya dan membawanya ke dalam dekapan dada bidangnya.


"Hhmm, aku percaya Sam. Aku cinta kamu." ucap Maya pelan.


Samuel merenggangkan pelukannya, menjauhkan wajah nya dari Maya untuk kembali menatap wajah istrinya. Memandang iris hitam yang selalu berkilauan bak ribuan gemintang, masih sama seperti ketika mereka melihat gugusan bintang di Planetarium waktu itu.


"Aku percaya kamu, suamiku," ulang Maya lagi, kali ini sembari tersenyum kecil ke arah Sam dan mendaratkan ciumannya di ujung bibir tebal Samuel.


"Dan aku juga mencintai kamu lebih dari apapun di dunia ini, Sam," lanjut Maya lagi. Kali ini ia menangkup wajah Samuel, menatap lekat-lekat wajah tampan Sam dengan iris mata coklat yang begitu menawan.


Samuel tersenyum lega, dengan cepat ia merengkuh bahu Maya dan memeluknya erat. Mendaratkan ribuan kecupan kecil di puncak kepala dan pipi istrinya.


"Je t'aime ma femme." (Aku cinta kamu, istriku)


Sam membisikkan lembut di telinga Maya, ia sedikit menitikkan air mata bahagianya.


Maya melingkarkan kedua lengannya di leher Sam, menyambut pelukan Samuel. Ia tidak mengerti arti dari kalimat yang baru saja Sam bisikan di telinganya. Namun yang Maya tau jika Sam benar-benar mencintainya.


to be continue.....


***Sudah kesekian kalinya d tolak, hingga banyak d hapus sebagian part nya😖kalo sampe d tolak lg hasembuhhhh bomat🤪