
Dentingan jam dinding besar di ruang santai mansion Harris kini berbunyi hinga dua belas kali, Martha masih terlihat duduk di sebuah sofa panjang sambil menjulurkan kaki jenjangnya di atas sofa. Berulang kali ******* nafasnya terdengar begitu saja.
Gadis itu masih menunggu Harris, entah sampai kapan dan entah untuk alasan apa, yang Martha sendiri tidak terlalu memikirkan jawaban atas semua pertanyaan yang begitu saja terbersit di benaknya.
Entah cinta atau nafsu, yang jelas malam ini Martha merindukan Harris, lelaki satu-satunya yang selama ini telah menghangatkan seluruh tubuhnya.
Ya hanya Harris seorang, laki-laki yang telah menguasai tubuh Martha. Walau ia terlihat seperti seorang gadis player, namun Martha tidak pernah mengizinkan laki-laki manapun menyentuh tubuhnya kecuali Samuel yang ia harapkan selama ini, namun sayangnya Sam tidak pernah menginginkan tubuh gadis itu.
Hingga datanglah Harris, lelaki yang tidak pernah Martha inginkan sebelumnya. Harris lah lelaki pertama yang mampu memuncak kan gairah Martha.
"Non Martha mau nunggu tuan di sini atau di kamar?" tanya sang bibik, wanita tua itu sedikit kasihan melihat Martha yang masih terjaga.
"Aku nunggu disini aja bik, bibik kalo mau tidur, tidur aja."
Sang bibik mengangguk dan meninggalkan gadis itu sendirian. "Kenapa gue seperti menunggu suami gue pulang?" batin Martha.
"Apakah seperti ini jika seorang perempuan menikah nantinya? menunggu suaminya pulang hingga larut?" pikir gadis itu lagi.
Sudah setengah jam dan belum ada tanda-tanda suara deru mobil Harris memasuki gerbang mansion.
Hingga gadis itu perlahan terlelap.
______
Brakkk....!!!
Sebuah suara pintu tertutup dengan keras membuat Martha terbangun, ia usap pelan kedua netranya dengan jemari lentik miliknya. Martha melirik jam dinding, jam tiga pagi?
Martha melihat Harris berjalan sempoyongan memasuki mansion, om Harris mabuk? pikir Martha.
"Om Harris dari mana aja? kenapa om bisa mabuk seperti ini?"
Martha mendekati Harris, sedikit menahan tubuh kekar laki-laki itu agar tidak tersungkur.
"Kamu... kenapa masih ada disini hah?"
"Aku nunggu-in om, aku minta maaf sama ucapan ku tadi." lirih Martha, walau Harris terlihat tidak terlalu mempedulikan ucapannya akibat pengaruh alkohol.
"Martha menuntun Harris ke kamarnya, gadis itu memegangi lengan kekar Harris untuk menaiki anak tangga. Walau tenaganya tak seberapa, Martha tetap tidak melepaskan lengan Harris hingga mereka tiba di kamar laki-laki itu.
Brukk...!!
Harris tiba-tiba mendorong dengan kasar tubuh Martha ke ranjang berukuran kingsize sebelum akhirnya laki-laki itu merangkak naik.
"Ahh.... apa yang om lakukan?" erang Martha, gadis itu terkejut dengan perlakuan kasar Harris.
"Om Harris mabuk, aku gak mau ngelakuinnya jika om masih mabuk." Martha meronta berusaha keluar dari dekapan tubuh Harris.
"Kenapa hah...? bukankah kita pernah melakukan sebelumnya gadis nakal...?" tanya Harris dengan kasar. Kini tangannya mulai bergerilya di seluruh tubuh Martha.
Dengan leluasa tangan Harris bergerak bebas di kedua gunung kembar milik Martha.
Terlihat sangat menggoda di mata Harris, dua bulatan yang terisi penuh sangat menantang untuk ia mainkan.
"Lepasin... aku gak mau jika om mabuk."
"Bukankah selama ini kamu menikmatinya sayang? hahaha kamu gak ada bedanya dengan wanita-wanita bayaran ku."
"Apa maksud om?" kini kedua netra gadis itu mulai berkaca-kaca.
"Gadis manja dan keras kepala sepertimu perlu belajar untuk tunduk." ucap Harris lagi.
"Aku bukan gadis murahan milik om. Lepasin aku, aku akan mengadukan perbuatan om sama papah." ronta Martha, gadis itu mulai memberontak. Mencoba melawan Harris, memukul-mukul punggung Harris hingga tangannya mulai kebas.
Tenaga gadis itu sungguh jauh dibawah Harris, apalagi malam itu Harris mabuk dan kehilangan akal sehatnya.
"Lepasin, aku mohon..."
Kini air mata gadis itu mengalir di pipinya semakin deras. Ia tidak suka dengan sikap Harris kali ini, sangat kasar tanpa kelembutan.
Harris tidak mempedulikan kata-kata penuh permohonan Martha. Lelaki itu benar-benar marah dengan ucapan Martha sebelumnya. Saat ini yang Harris pedulikan hanya melampiaskan kemarahannya.
Harris menanggalkan gaun Martha
Laki-laki itu semakin menguasai tubuh Martha, menciumnya kasar hingga Martha merasakan perih di bibirnya yang tiba-tiba berdarah.
Martha mengerang kesakitan saat Harris meremas salah satu bongkahan bulat miliknya hingga menimbulkan bekas kemerahan disana. "Sakit.... hentikan!!"
Martha berkaca-kaca karena Harris tidak mempedulikan perasaannya.
Harris menciumi leher Martha dan membelai seluruh tubuhnya, termasuk berlama-lama memainkan kedua bongkahan kembarnya.
"Om Harris.... Tha gak mau...."
"Kenapa sayang? bukankah kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya hah...?!"
"Jangan membantah lagi sayang..."
Harris menyeringai menakutkan, berkali-kali Martha mencoba berontak namun Harris selalu mengikis usaha gadis itu.
Harris melakukannya tanpa kelembutan yang Martha damba. Martha bahkan belum siap, tapi Harris dengan tanpa sadar terus memaksanya.
Martha menyentuh wajah Harris. Berharap ekspresi lelaki itu berubah lembut.
"Om Harris...."
"Jangan membuatku marah lagi sayang." Dan benar saja suara Harris tak lagi suram dan menakutkan. Intonasinya kembali hangat. Harris mencium pipi Martha dan kembali menggerakkan tubuhnya.
"Aahh... om Harris..." Martha mencengkeram punggung Harris.
"Sekarang men-desah lah untuk ku." titah Harris sambil melembutkan pergerakannya.
Martha akhirnya menuruti perintah Harris.
"Aahhh...." Martha sesekali meremas sprei ketika Harris kembali liar.
Harris kembali memainkan bibirnya di bibir Martha sambil aktif menggerakkan tubuhnya sementara tangan Harris memainkan dua bongkahan kenyal Martha dan memilinnya lembut.
"Aaarrggghhh...."
Martha berkali-kali mengerang pasrah tidak berdaya saat Harris memainkan tubuhnya. Suara erang-an mengalir merdu ketika Harris semakin cepat memainkan gairah. Tak lama kemudian Martha merasa dunia berputar dan tubuhnya bergejolak dahsyat.
"Om Harris..."
Martha memeluk tubuh Harris dan melingkarkan erat kedua kakinya di pinggang laki-laki itu.
Beberapa detik kemudian tubuh Martha melemas.
"Kamu membuatku gila sayang..." bisik Harris, Martha kini menatap sayu laki-laki itu.
Ia usap rahang tegas Harris hingga menyeka anak rambut laki-laki itu yang kini menjuntai menutup sebagian wajah Harris.
"Tapi om tadi kasar sama Tha." rengek gadis itu manja, Harris kini berbaring di samping Martha dan memeluk erat tubuh gadis itu.
"Maaf sayang, ini yang terakhir kali aku kasar."
"Janji...?"
"I promise....."
Harris mencium lembut wajah Martha, hingga kembali bibirnya ia tempelkan di atas bibir Martha.
Ciuman kecil kini kembali menjadi lebih berhasrat. Harris semakin menyesap dalam bibir Martha. Masih dalam pelukannya kini tangan Harris beringsut kembali kearah dua gundukan Martha yang semakin menyembul, membulat sempurna. Sangat menggoda untuk kembali ia kuasai.
Harris memainkan kembali salah satu gundukan itu, kali ini lebih lembut.
Bibir Harris kini semakin turun disana. Ia tenggelamkan kembali kepalanya di dada Martha.
Martha menggeliat geli, ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Harris. Perlahan bibir Martha kini menempel di bibir Harris. Gadis itu mencium Harris lembut.
"I love you baby..." bisik Martha, Harris menghentikan sejenak keliar-an nya, kini ia lekat memandangi wajah Martha. Harris tersenyum bahagia mendengar ucapan gadis kecilnya barusan.
Baru kali ini Martha mengatakan cinta ke Harris dan tentu saja membuat Harris bahagia.
"Coba ucapkan lagi sayang...." pinta Harris, pipi Martha menyemu merah.
"I love you baby.... so much...." bisik Martha, kini kedua pipi gadis itu sudah benar-benar memerah.
Harris semakin mengeratkan pelukannya, kembali menyesap dalam bibir Martha. Kini kepalanya semakin turun, tangannya membelai perut mulus Martha.
Hingga terdengar erang-an Martha, "Aahh.... sshh.... "
"Enak sayang?" Harris kini kembali mencium bibir Martha.
Martha mengangguk lemah, tatapan nya kini kembali sayu.
"Kamu mau lagi sayang?" bisik Harris.
Martha memandangi netra Harris sayu dan mengangguk.
Harris tersenyum, ia daratkan ciuman kecil di puncak kepala Martha, lembut.
"Menikah lah dengan ku baby...." bisik Harris, ia kembali menyusuri tubuh Martha dengan rakus.
"Masih ada waktu untuk membatalkan pernikahan kamu sayang..." ucapnya lagi.
Kini Harris kembali menguasai tubuh Martha, kali ini lebih lembut. Sesekali kecupan hangatnya mendarat di kening Martha.
Martha masih mengingat ucapan Harris tadi, Menikah lah dengan ku baby....
Entah apa kini yang ia rasakan, kini ia benar-benar jatuh cinta terhadap Harris? namun ia juga masih menginginkan Samuel.
Pernikahannya dengan Sam yang menjadi impiannya sejak kecil apa harus ia akhiri kini?
Martha kembali memeluk erat tubuh Harris yang masih menguasai nya.
"Aku cinta kamu om, dan juga dia..." batin Martha.
to be continue....
Maaf jika ada adegan plus nya, mohon bijak dalam menyikapi ya akak 🤗