MySam

MySam
After Marriage



Jika kata mereka pernikahan adalah kisah akhir dari sekian lama hubungan itu terjalin..... Namun bagi Maya, pernikahan adalah kisah awal dalam cerita cinta mereka. Tentu saja tidak hanya soal kebahagiaan namun kesedihan serta cobaan mungkin akan serta merta menghiasi kehidupan keduanya nanti.


Dan selama ada Samuel di sisinya, Maya bisa bernapas lega. Berharap bisa melalui segala macam kerikil tajam yang tidak menutup kemungkinan mewarnai kehidupan mereka.


"Kita check out hari ini kan, sayang?" Maya mendekat ke arah Samuel yang duduk di tepi ranjang hotel, lalu gadis itu terlihat ikut membantu suaminya memasukkan beberapa pakaian bersih ke dalam kopor.


"Iya, honey. Kenapa? Kamu masih mau menginap di sini, hhmm...?" Sam menghentikan sejenak kesibukannya lalu memandang lembut ke arah istrinya.


"Gak sayang, aku malah pengen kita cepet pulang ke rumah." Jawab Maya sembari masih terlihat sibuk memasukkan beberapa pakaian Samuel dan miliknya ke dalam satu kopor berwarna biru dongker.


"Cuma ini yang dibawa?" Maya kembali bertanya. Kali ini Sam mengangguk pelan lalu berdiri meraih jam tangan Rolex di atas nakas dan melingkarkan ke lengan sebelah kiri.


"Sisanya akan dikirim oleh pihak hotel, termasuk gaun pengantin kita, honey." Sam kini mendekat ke arah Maya, meraih jemari tangannya. Mencoba menghentikan kesibukan istrinya saat itu. "Sayang, kamu duduk manis aja. Biar aku yang melakukannya." Sam memeluk tubuh Maya, merangkul pinggang kecil istrinya.


"Mana mungkin aku membiarkan suamiku melakukan segala sesuatu sendiri, tenang lah Sam. Sebelum ini aku selalu melakukan segala pekerjaan rumah sendirian." Maya tersenyum, membelai wajah sang suami.


"Baiklah, kita lakukan bersama-sama, okey?"


Maya mengangguk dan kembali memasukkan semua pakaian dan perlengkapan mereka ke dalam kopor.


"Sebelum pulang kita sarapan di restoran hotel dulu, honey.... mama sama papa sudah nunggu kita disana, mama Siska juga." Ucap Samuel begitu ia keluar dari dalam kamar mandi.


Sam lalu melangkah ke arah Maya, memeluk kembali tubuh indah gadis itu dari belakang.


"Suami.... kalau kamu terus memeluk, sampai kapan istri kamu ini bisa mandi, huumm...?" Maya kini memutar tubuhnya menghadap ke arah Samuel. Melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh suaminya.


"Kamu gak mandi pun tetap cantik, sayang....." Sam membelai lembut rambut Maya. Perlahan Sam mulai mencondongkan wajahnya, mendekat ke arah bibir peach Maya yang selalu membuatnya ingin meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


"Sayang, aku belum mandi...." Maya mengarahkan jari telunjuknya ke ujung bibir Sam, mencoba menghentikan ciuman Samuel.


"Gak jadi masalah, honey...." Sam menyingkirkan telunjuk Maya dari ujung bibirnya, memandang lembut ke arah gadis itu. Sedetik kemudian bibir keduanya kembali saling menyatu, berpaut hangat. Sam semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Maya.


Ciuman kecil kini berubah menjadi ciuman penuh gairah, "Sam.... bukankah mama sudah menunggu kita ?" lirih Maya di sela-sela pergerakan bibir mereka. "Mereka bisa menunggu sebentar, sayang...." bisik Sam yang masih saja melakukan pergerakan liarnya. Semakin mendekap tubuh istrinya dan kini tiba-tiba Sam membopong tubuh istrinya kembali menuju ke ranjang hotel. "Kamu nakal ya suami...." Maya tersenyum kecil begitu Sam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kamu kan sudah mandi, Sam." Maya memekik ketika Sam menggigit kecil cuping telinga Maya, ia merasakan sensasi geli yang menggelitik di sana.


"Kita bisa mandi lagi nanti, baby..." bisik Samuel. Kini pria itu mulai melepas satu persatu kancing kemeja putihnya, berganti melepas gasper dan celana jeans panjangnya dan tak terkecuali boxer pendek milik Sam. CEO itu semakin mendekap tubuh istrinya erat. Aroma musk yang keluar dari tubuh Sam membuat Maya semakin terbuai ke awan. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang menyeruak keluar dari perutnya setiap Samuel mendaratkan ciuman ke bibir peach Maya.


Giliran Sam melepas short dress berbahan viscose yang Maya kenakan. "Sayang.... eeuumm...." Maya menggeliat geli ketika bibir Samuel berkali-kali menyusuri seluruh tubuhnya yang kini hanya tebungkus bra dan cd ber-renda. "We do it with love, honey...." bisik Sam lembut. Maya mengangguk pelan, menerima semua sentuhan lembut dari suaminya. Melingkarkan kedua lengannya ke leher Samuel ketika pria itu mulai melakukan pergerakan liar di atas tubuhnya.


"Sam.... aahhh.... sshhh...." berkali-kali Maya mengeluarkan desah suara lembut. Semakin mendongakkan kepalanya ketika bibir Sam menyusuri leher dan semakin beringsut turun.


Sam menyukai saat-saat dimana istrinya menikmati seluruh cumbuan yang ia berikan.


💓💓


"Kita mandi bareng, honey?" tanya Sam yang masih berbaring memeluk istrinya. Maya mengerut lucu, membelai lembut rambut ikal Samuel yang sedikit menjuntai menutup iris coklatnya. "Gak mau, nanti yang ada kamu nakal lagi, sayang," kerucut Maya.


Sam terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya, mengacak-acak puncak kepala Maya yang masih tertidur dalam peluknya.


"Aku mandi dulu ya, awas kalo nakal," bibir Maya kembali mengerucut lucu, bangkit dari ranjang meninggalkan Samuel yang masih tidur berselimut tebal. Netra Sam bergerak mengikuti arah Maya, sedikit tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


___


Sedikit lagi ia menyelesaikan polesan make up natural yang begitu sempurna menempel di wajah cantiknya, tinggal mengoles lipstick masih dengan warna peach, kesukaan Samuel.


"Sudah siap, sayang?"


"Sudah, suamiku..." balas Maya.


Setiap kali kata suami itu keluar dari mulutnya, seperti ada jutaan benda bersayap yang berterbangan keluar dari dalam dada Maya. Sepertinya ia memang harus membiasakan diri menyebut Sam dengan kata tersebut.


"Kita check out sekarang? Mama sudah dari tadi menunggu di restoran," sedikit cengiran kecil tercipta di bibir Sam, diikuti kerucutan lucu di bibir Maya. "Siapa yang bikin mama menunggu, huumm..." cicit Maya.


Tak berapa lama keduanya mulai meninggalkan kamar Presidential Suite yang mereka tempati selama tiga hari. Maya berjalan dengan menggelayut manja di lengan Sam, sedangkan Sam tak pernah melepaskan pelukan tanggan kanannya di pinggang Maya, sesekali mengecup lembut pipi kiri Maya, sedangkan tangan yang lainnya menyeret kopor berwarna biru dongker.


Setelah melewati beberapa lift, akhirnya Sam dan Maya tiba juga di restoran hotel berbintang lima tersebut, mencari sosok kedua orang tuanya dan juga Siska. Hingga keduanya melihat Anita dan Siska yang berbincang santai di salah satu kursi dengan meja bundar yang persis terletak di sudut ruangan. Sedangkan Permana terlihat duduk di samping Anita yang sibuk menatap layar laptop di hadapannya.


"Ma, Pa....." sapa Sam dan Maya begitu keduanya mendekat ke arah ketiga orang yang sangat mereka cintai.


"Maaf Ma, Pa.... kami terlambat." rajuk Maya yang merasa tidak enak hati telah membuat ketiganya menunggu agak lama.


Anita tersenyum kecil, "Gak apa-apa kok sayang, kami ngerti kok. Bukan begitu mbakyu Siska?" Anita tersenyum kecil memandang ke arah Siska.


"Iya, sini duduklah. Kalian mau sarapan apa? biar mama pesenin." Kali ini Siska meraih lengan Maya, menyuruhnya duduk di kursi sampingnya. Maya menurut, duduk di dekat Siska begitu Sam menarik kursi berbahan kayu eek tersebut untuk Maya.


Sementara Samuel duduk di samping Maya dan juga Anita.


"Kamu rencana pulang hari ini, Sam?" Permana kini memandang ke arah Samuel sambil menyesap kopi hitam dalam cangkir kecil.


"Iya Pa, hari ini kami check out. Masih ada pekerjaan yang menumpuk hingga beberapa hari kedepan." Sam menjawab, tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Maya di sampingnya.


"Kalian kan masih pengantin baru, kenapa kamu cepat-cepat bekerja sih, sayang?" Anita bertanya dengan ekspresi bingung.


"Iya, padahal Papa punya kejutan buat kalian," sambung Permana, membuat ekspresi wajah Sam dan juga Maya mengernyit.


"Kejutan apa Pa?"


Perlahan permana mengulurkan sebuah amplop panjang berwarna putih ke arah Samuel. Sam menerima dengan ekspresi bingung.


"Bukalah, nak...."


Sam membuka perlahan amplop tersebut dan melihat isi dalam amplop putih itu.


"Perjalanan ke Paris?" gumam Sam dengan sedikit senyuman di bibirnya. Memandang ke arah Maya yang juga terlihat kaget.


"Hadiah bulan madu kalian dari Papa." Permana berujar, kembali menyesap kopi hitam pekatnya.


"Papa gak perlu repot-repot seperti itu." Maya kini merasa tidak enak hati, mendapat kejutan dari mertuanya.


"Sayang..... Papa sama sekali gak repot kok," jawab Anita. Wanita itu tersenyum sebentar dan menjeda sejenak ucapannya.


"Kalian pergilah, nikmati perjalanan kalian." Anita melanjutkan.


Maya tersenyum bahagia, menoleh ke arah Siska sang mama. dan memeluk wanita itu.


"Maaf nak Sam, mama tidak bisa memberi hadiah apa-apa. Mama hanya bisa mendoakan kebahagiaan buat kalian," ucap Siska lirih.


"Mama....." Maya memeluk Siska dengan sorot mata meremang.


"Mama sudah memberikan segalanya buat Maya dan juga Sam. Doa mama yang paling penting buat kami." Jawab Samuel, pria itu tersenyum tulus. Meraih jemari tangan Maya dan menggenggamnya erat.


Maya memandang lembut Samuel, merasakan haru yang menghangatkan batinnya saat mendengar jawaban dari Samuel yang kini berstatus menjadi suaminya.


"Iya mbak yu, kita doakan saja sepulang bulan madu nanti, Maya dan Samuel memberi kita hadiah cucu...." Anita ikut menimpali, tersenyum menggoda ke arah Maya dan Samuel.


"Mama apaan ih....."


Entah mengapa pipi Sam kini bersemu merah menanggapi godaan dari Anita. Maya sedikit terheran, baru kali ini ia melihat rona merah di pipi suaminya. Karena biasanya dia lah yang selalu tersipu oleh semua ucapan Samuel.


"Mama Anita tolong doa in saja ya....." balas Maya tersenyum kecil ke arah Sam yang masih merona.


Tawa bahagia kini terlihat dari keluarga kecil itu. Dan mungkin sebentar lagi akan ada calon penghuni baru di dalam keluarga Perdana, semoga saja.....


to be continue....