MySam

MySam
Selamanya Aku Milikmu



Sepanjang lorong, Maya melemparkan tatapan tajamnya pada beberapa gadis yang secara terang-terangan menatap Samuel dengan tatapan memuja. Ingin sekali rasanya Maya mencolok mata mereka yang tidak tahu malunya menatap Samuel, suaminya seperti itu.


Seolah-olah kehadirannya tidak terlihat, padahal Sam terus saja menggandeng tangannya erat sejak mereka memasuki lobi kantor advertising milik Samuel.


"Ups, I'm sorry."


Maya mendengus saat seorang gadis cantik yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke tubuh Samuel, benar-benar sangat sengaja untuk mendapatkan perhatian.


Untungnya Sam tidak langsung merespon dan terus melangkah menjauh dengan tetap menggandeng tangannya tanpa sedikitpun niat untuk menolong gadis yang terjatuh tadi. Hahaha, tau rasa! batin Maya puas.


Tapi tetap saja pandangan beberapa gadis yang lewat berseliweran tak lepas dari Samuel.


"Mereka siapa sih, suami?" kerucut Maya di sela langkah kakinya yang mengikuti kecepatan Samuel.


"Gak tau, mungkin utusan dari klien perusahaan ku atau pegawai magang kali?" jawab Samuel sepintas.


Sam terkekeh. "Kamu cemburu?"


"Menurut kamu?"


"Cemburu."


Maya mendengus. "Kalau udah tau kenapa nanya?!"


"Seneng liat kamu cemburu," ucap Samuel seraya mengacak puncak kepala Maya.


Maya mendelik dan menatap Samuel sebentar. "Kenapa malah seneng sih?" tanyanya sembari menghentikan langkah kakinya dan masih menatap wajah Samuel yang kembali terkekeh lucu.


"Cemburu itu tanda cinta." Sam mencubit kecil hidung mancung Maya, pria itu tengah berusaha untuk bersikap lebih tenang lagi menghadapi perubahan emosi Maya saat ini.


"Bilang aja seneng di deketin cewe cantik, ngaku aja dia cantik kan?"


"Nggak, dia kalah jauh sama kamu." Sam mendekatkan bibirnya di telinga Maya. "Di mata aku kamu yang tercantik."


Maya berdecak, "Dasar gombal!"


Samuel tergelak lalu melepas gandengannya dan berganti memeluk pinggang Maya posesif.


"Jangan cemberut lagi, aku milik kamu dan gak ada seorang pun yang bisa merebut aku dari kamu, paham?"


"Termasuk Freya?" tanya Maya menyelidik.


"Apalagi Freya. Dia tidak akan pernah menang dari kamu," jawab Samuel tegas.


Maya mengangguk pelan.


Sam lalu mencium pelipis Maya lembut. "Sekarang percaya kan?"


Maya pun tersenyum dan mengangguk lagi.


"Sekarang kita masuk ke ruangan ku, sehingga kamu juga bisa istirahat disana."


Maya mengangguk pelan dan kembali berjalan mengikuti langkah panjang Samuel. Lengan Maya kini terlihat menggelayut manja.


💓💓


Maya mengamati Samuel yang tengah mengecek beberapa dokumen yang dibawakan oleh Freya yang berdiri di ujung meja mereka.


Maya tersenyum kecil, melihat bagaimana Samuel dengan teliti mengurus perusahaan. Ketampanan suaminya ini malah meningkat berkali-kali lipat saat sedang serius.


Kembali fokus Maya beralih ke arah Freya yang masih berdiri tepat di hadapan dia dan Sam. Maya sekilas bisa melihat sorot mata Freya secara sembunyi-sembunyi melirik ke arah Samuel. Dan.... perhatian Maya tertuju pada kehamilan Freya.


Tiba-tiba Maya kembali merasa jika Tuhan sedang sedikit tidak adil.


"Kirim laporan dana perusahaan dua tahun terakhir dan buat jadwal pertemuan dengan direksi dan staf kreatif," ujar Sam pada Freya seraya menyerahkan dokumen yang sudah ia tanda tangani.


"B-baik.... ada lagi?" jawab Freya gugup. Sial apa dia ketahuan tengah melamun memandangi Samuel? batin Freya.


Sam menggeleng singkat, membuat Maya menggelengkan kepala melihat Freya yang sedikit gugup dan menarik senyum tipisnya setelah mendapat perlakuan dingin dari Samuel.


"Baiklah kalau begitu saya permisi," ujar Freya dengan sedikit melirik ke arah Maya dengan tatapan setengah sinis. Gadis itu pun lalu keluar dari ruang kerja Samuel begitu ia pamit undur diri.


Maya menghela napas pelan. "Dia benar-benar masih mengharapkan kamu, Sam."


Samuel mendongak menatap Maya dengan sebelah alis terangkat. "Maksud kamu?"


"Freya...."


"Biarlah, itu urusan dia. Bukankah sudah aku bilang tadi, dia tidak akan pernah menang dari kamu."


"Tapi kalo dia menggoda kamu lagi gimana? Seperti dulu....."


"Aku gak akan tergoda, sayang."


Sam tergelak, ia lalu bangkit dari kursinya, menarik kursi yang diduduki Maya kesamping lalu berjongkok di hadapannya, mengelus kedua pipi Maya dan mendaratkan ciuman kecil di sana.


"Selamanya aku akan selalu jadi milik kamu, honey." Ucap Samuel yang kemudian kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Maya, yang kali ini lebih intens.


....


"Sam.... Martha mau ke sini," ujar Maya begitu Samuel kembali memasuki ruang kerjanya setelah ia selesai hadir dalam rapat direksi kali ini.


Samuel yang kini sudah duduk di kursi 'kebesarannya' sedikit mengerutkan keningnya heran. "Ngapain? Mau ngomongin masalah cafe sama kamu?" tanya nya sembari masih sibuk dengan beberapa file pekerjaan di layar laptop tipisnya.


"Bukan," jawab Maya dengan sedikit gelengan kepala kecil.


"Dia mo nganterin Samudra." Maya menjawab, dan kali ini ia mendekat ke arah suaminya yang tengah sibuk dengan layar terang di hadapannya.


"Kata Martha, Samudra kangen aku.... hehehe lucu ya?"


Samuel kembali menarik alisnya sebelah, kali ini CEO itu menoleh ke arah Maya yang saat itu berada di belakangnya dan bergelayut manja di pundaknya.


Samuel memutar kursinya ke arah Maya dan membawa gadis itu ke dalam pangkuan. Maya melingkarkan kedua lengannya ke leher Samuel lalu dengan intens menciumi leher suaminya itu dengan kecupan-kecupan kecil yang menggoda.


"Aneh kenapa?" tanya Samuel heran, ia masih saja menerima perlakuan manja Maya terhadapnya.


"Ya aneh aja, aku dan Samudra seperti berasa lebih dekat sekarang," ucap Maya lirih, satu jemarinya kini memainkan anak rambut Samuel. Posisi keduanya yang masih saling berpangkuan membuat Maya leluasa menikmati ketampanan suaminya secara detail.


"Bagus dong, asal dia gak ngerepotin kamu aja," jawab Samuel sembari terus berkonsentrasi dengan laptop tipis yang kini dalam genggaman tangannya. Kehadiran Maya dalam pangkuannya membuat Sam memegang sendiri laptop kerjanya sembari satu lengan yang satunya menahan tubuh Maya agar tidak terjatuh dari pangkuan.


"Samudra anak yang manis kok, gak merepotkan sama sekali," bisik Maya, jemarinya kini bermain dengan leluasa di wajah bersih Samuel, mengelus lembut wajah suaminya dan kecupan-kecupan kecilnya kini beralih mendarat di pipi bersih suaminya.


"Kalian dua 'Sam' yang sangat manis..." goda Maya. Membuat Samuel sejenak mencium kening istrinya, lalu sedetik kemudian pandangannya kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Sam..." cicit Maya.


"Heemm....? Ada apa sayang?"


"K-kamu gak pengen gitu....." cicit Maya lagi.


"Pengen apa, hhmm....?"


"Iya peng-en.... itu.... masa harus aku jabarin secara jelas sih?" ucap Maya yang kini sedikit kesal.


Samuel terkekeh kecil melihat kelakuan istrinya. Benar-benar membuatnya gemas dan segera melakuan apa yang ada dalam benak istrinya saat ini. Sam tahu apa yang ada dalam benak Maya saat ini.


"Emang kamu udah sembuh bener? tubuh kamu udah gak ada yang sakit lagi?"


Maya menggeleng. "Aku siap kok."


"Aku takut punggung atau bagian tubuh kamu lainnya akan sakit jika kita melakukan itu saat-saat ini sayang. Aku gak mau maksa kamu."


Maya kini mengerucut sebal, melepaskan kedua lengan yang melingkar di leher Samuel. "Bilang aja kamu gak mau kan?!" desis Maya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Sayang.... gak gitu, oke aku minta maaf," bujuk Samuel, ia meraih tubuh Maya yang masih dalam pangkuannya dan kembali mendekapnya erat.


"Kita lakukan sekarang?" bisik Samuel, bibirnya kini menciumi cuping telinga Maya dan memberikan sensasi geli yang menggelitik.


"Tapi ini masih di kantor."


"Terus kenapa?"


"Malu...." cicit Maya manja.


"Kita ke ruangan pribadiku?" tanya Samuel di sela-sela cum-buan dan ciuman mesranya di bibir Maya.


Hingga anggukan kepala Maya merespon tawaran dari Samuel.


"Tapi kalo Martha sama Samudra kesini gimana?"


"Mereka bisa menunggu sebentar," jawab Sam cepat. Kembali bibirnya menempel dan bergerak menguasai bibir peach Maya.


Beberapa menit kemudian keduanya berjalan keluar dari ruang kerja Samuel, menuju ke ruangan pribadi milik Sam.


--


Sam membuka knop pintu kamar pribadinya lalu menguncinya erat, perlahan mengangsurkan kedua lengannya di bawah lutut Maya dan membopong istrinya ke ranjang empuk yang berukuran sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan ranjang yang berukuran kingsize mereka di rumah.


Sam merebahkan perlahan tubuh istrinya, hingga kini ia lebih mencondongkan tubuhnya dan membuat mereka hanya berjarak beberapa inci saja. "Kamu siap, sayang?" bisik Samuel lembut.


Maya mengangguk pelan, mengusap anak rambut ikal Samuel yang saat itu menjuntai menutup sebagian netra coklat Samuel.


"Aku siap...."


To be continue.....