MySam

MySam
Kamu Seperti Oksigen Buatku, Sayang...



"Sam......" ucap Maya seraya mengulurkan cangkir keramik ke arah suaminya.


"Hhmm...?"


"Tadi siang Martha nawarin buka cafe bareng." Maya menjeda sebentar kalimatnya, menuangkan sedikit krimer ke dalam kopi hitam Samuel.


"Jadi dia bilang kita modal berdua, fifty-fifty gitu...."


"Terus?"


"Menurut kamu gimana? Aku belum punya pengalaman sih buka cafe, cuma... aku pikir gak ada salahnya kan dari pada aku gak ada kerjaan di rumah." Maya melanjutkan, kali ini ia menyodorkan sepiring kue pie yang baru saja ia bikin bersama bibik.


"Terserah kamu aja, sayang. Selama itu baik menurut kamu, aku gak ada masalah." Sam menjawab sambil menggigit kue yang istrinya suguhkan.


"Beneran, suami?" pekik Maya girang. Sam mengangguk yakin menjawab pertanyaan istrinya dan diikuti dengan pelukan hangat Maya di pundak Sam yang duduk di sebelahnya.


"Makasih, suami...." Maya menggelayut pundak Sam manja.


"Ini kue buatan kamu, sayang?" tanya Sam yang masih lahap membuat gigitan di pie dengan selai berry di dalamnya.


Maya mengangguk, "Iya, dibantuin bibik tadi. Gimana, sayang? enak?" tanya Maya antusias.


Sam sengaja tidak langsung menjawab, terlihat berekspresi sedikit berfikir sambil mulutnya masih sibuk mengunyah kue lumer tersebut.


"Gimana rasanya, Sam? enak gak?" tanya Maya sekali lagi, wajah cantiknya kini berekspresi penuh pertanyaan. Sedikit berharap Sam memberikan pujian yang sangat ingin ia dengar.


"Eemmm.... lumayan...." Sam menggantung kalimatnya.


"Lumayan.....? gak enak maksud kamu?" bibir Maya sedikit mengerucut.


"Enak kok, honey.... cuma... ada yang kurang." Sam melanjutkan komentarnya, dengan mulut yang masih saja bergerak mengunyah kue lumer dan manis itu.


"Kurang apa? Kurang enak ya?" tanya Maya lemah.


Sam tersenyum sebentar, merasa tidak enak hati melihat ekspresi wajah istrinya yang tidak sadar jika sedang ia kerjai.


"Kurang banyak maksudku, sayang. Hehehe ...." ujar Samuel terkekeh kecil.


"Samuel.... ihh.... kamu ngerjain aku ya!" Maya mengerucut lucu, bibir peachnya kini ia majukan beberapa centi.


"Hahaha maaf, honey.... habisnya kamu selalu menggemaskan kalau sedang cemberut gitu." Sam tertawa kecil, meraih pundak Maya dan memeluknya erat.


Berusaha mengembalikan mood istrinya yang saat ini sedang marah. Atau berpura-pura marah? ah Sam tidak peduli. Karena yang terpenting buatnya adalah kebahagiaan Maya.


"Istriku jangan marah dong, suami kan cuma becanda tadi." Sam merajuk, memandang lembut wajah Maya dan merangkul pundak istrinya yang melipatkan kedua tangan sebatas dada, Maya terlihat cemberut.


"Aku gak marah," Maya menjeda kalimatnya. Menoleh ke arah Sam dengan sorot mata menyipit.


"Tapi sangat marah Samuel.... hehehehe....!!" kini giliran Maya tertawa kecil, mendaratkan serbuan cubitan di bahu dan perut Samuel.


Samuel tertawa geli, memohon untuk Maya menghentikan semua cubitan dan gelitikan di tubuhnya.


"Ampun, sayang..... hahaha!!" Sam mencoba menghindar dari serangan Maya.


"Salah sendiri, suka ngerjain istri." Maya berkelakar, mengejar Samuel yang mencoba menghindari serangan cubitan serta gelitikan Maya.


Kini terlihat keduanya saling berlari berkejaran dalam beranda tengah rumah megah itu. Sedang bibik hanya tersenyum kecil melihat dua majikannya yang bertingkah bak dua anak kecil yang saling berkejaran. Rumah besar yang biasanya selalu sepi itu kini sedikit demi sedikit terdengar ramai oleh candaan kedua majikannya.


"Awas kamu ya, suami...." teriak Maya yang masih berusaha mengejar Samuel.


Si bibik dan satu maid yang lain kini ikut tertawa kecil melihat tingkah laku majikannya.


"Bibik....!! tolong bantu tangkap suami nakal ku itu...." ujar Maya setengah berteriak ke arah si bibik dan juga mbak pur yang saat itu sedang melihat kelakuan kedua majikannya. Sedangkan kedua maid tersebut hanya tertawa geli melihat aksi kejar-kejaran bak Tom and Jerry yang biasa mereka tonton di layar TV selama majikan mereka keluar rumah


....


Maya merapikan blezer hitam yang Samuel kenakan, berdiri setengah berjinjit di hadapan suaminya. Karena memang tubuh atletis Sam yang lebih tinggi dari Maya sehingga membuat gadis itu selalu sedikit berjinjit saat berhadapan dengan Sam.


"Pengennya kamu selalu ada di sini bersama aku, suami...." rajuk Maya manja, melingkarkan kedua lengannya di leher Samuel.


"Cuma sebentar aja kok, sayang. Ada pertemuan dengan klien yang gak bisa aku abaikan." Sam mengelus puncak kepala Maya.


Maya masih mengerucut, kali ini melingkarkan kedua lengannya ke perut sixpack Samuel. Entah kenapa akhir-akhir ini istrinya itu menjadi lebih manja dari biasanya, tapi Sam tidak pernah mempermasalahkan nya. Ia justru senang dengan sikap manja yang Maya tunjukan terhadapnya.


"Aku janji kalau pertemuan udah selesai aku langsung pulang."


"Janji....?" tanya Maya dengan sorot mata menyipit.


"Hhmm... janji, sayang. Lagi pula kita juga harus mempersiapkan perjalanan honeymoon kita, bukan?" ujar Samuel.


Maya tersenyum kecil begitu mendengar sebuah perjalanan romantis bersama Sam.


"Kita jadi ke Paris?"


Sam mengangguk pelan, "Jadi dong. Mubazir tiket dari papa kalau tidak kita pakai." Sam melanjutkan.


"Sebenarnya gak ke Paris juga gak apa-apa kok, suami. Asal aku selalu sama kamu, kemanapun... istri kamu ini ikut." Maya tersenyum kecil sembari mendongak sedikit memandang iris kecoklatan Sam.


"Aku berangkat dulu ya sayang....." Sam mencium kening Maya dan tak lupa ciuman kecilnya ia tinggalkan di ujung bibir peach istrinya.


"Hati-hati di jalan. I love you..."


"Love you too, honey..."


Beberapa saat Samuel memandangi wajah Maya yang berdiri di ujung pintu rumah besar bergaya eropa tersebut. Hingga akhirnya Sam memasuki pintu sedan hitamnya dan perlahan sedan hitam Sam melaju meninggalkan halaman luas mansion mereka.


Maya masih mengamati kepergian Samuel, kini ia kembali sendirian di rumah besar itu. Hanya bersama dengan bibik dan mbak Pur. Jika saja sudah ada kehadiran buah hati dalam pernikahan ini pasti sangatlah menyenangkan, pikir Maya.


Ah.... apa tidak terlalu dini ia memikirkan hal itu? Lagipula pernikahan mereka belum memasuki satu minggu.


"Non Maya mau bibik siapin sarapan?" tanya si bibik tiba-tiba, membuyarkan lamunan Maya.


"Gak usah bik, aku bisa kok bikin sarapan sendiri." Maya tersenyum sebentar kemudian kembali memasuki rumah dengan bibik yang mengekori di belakang.


....


Gadis yang baru saja berstatus menjadi nyonya muda di mansion besar milik Sam kini terlihat sibuk dengan segala urusan dapur. Ia ingin memasak makanan kesukaan Sam, suaminya itu sangat suka dengan segala macam seafood. Pagi-pagi benar Maya meminta tolong mbak Pur untuk pergi ke pasar membeli segala macam aneka seafood mulai dari udang, cumi dan juga kepiting. Untuk urusan memasak sedikit banyak ia pernah belajar dari sang mama sehingga Maya tidak lagi terlihat canggung memegang segala peralatan dapur. Bahkan bibik sempat merasa ketakutan sendiri ketika melihat nyonya mudanya memegang pisau dapur dan saat gadis itu mengolah sendiri kepiting yang berukuran lumayan besar. "Bibik gak perlu khawatir, May udah biasa kok pegang pisau." ujar Maya ketika si bibik berusaha mencegah gadis itu untuk mengupas segala macam bumbu. Bahkan ketika si bibik menawarkan diri untuk mengolah udang dan juga kepiting, Maya menolaknya dengan dalih ia ingin Sam memakan segala makanan yang ia olah dengan tangannya sendiri.


Kalau sudah begitu si bibik hanya mengangguk nurut dengan ucapan sang majikan.


Hingga beberapa jam kemudian,


Maya menurunkan pandangannya ke arah makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan bundar, senyuman puas kini ia tarik di semua sudut bibirnya.


Tiba-tiba ada sebuah ide yang datang begitu saja di benak Maya, dengan cepat ia ambil ponsel pipihnya di atas nakas dan membuat satu panggilan di sana.


"Hallo Tha, aku punya ide untuk cafe kita nanti....." ucap Maya dengan senyuman mengembang penuh.


....


Langkah kaki Samuel rupanya tidak menyadarkan kesibukan Maya yang berkutat dengan laptop miliknya, dengan sedikit mengendap-endap Sam berjalan membelakangi Maya yang tengah duduk di atas sofa maroon, "Miss you so much, istriku...." peluk Sam dari belakang tubuh Maya, mencium mesra kedua pipi istrinya. "Suami.... sejak kapan pulangnya?" pekik Maya girang, gadis itu langsung berdiri memeluk erat Samuel.


"Udah dari tadi, kamu nya aja yang sibuk sama layar laptop," kali ini Sam memasang wajah cemberut.


"Sorry, sayang...." Maya semakin mengeratkan pelukan di pinggang Sam, menghamburkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.


"It's ok, darling...." kekeh Sam, kembali ia daratkan ciuman lembut di kening Maya.


"Kamu sibuk apaan, May?" tanya Sam, sedikit melonggarkan dasi yang melilit rapi di lehernya.


"Masalah cafe, sayang. Kamu laper, Sam? aku udah siapin kamu makanan kesukaan kamu lho," ujar Maya di sela-sela kesibukannya membantu Samuel melepas dasi dan juga blezer yang Sam kenakan.


"Benarkah? aku gak sabar menikmati masakan istriku." Sam tersenyum, menggelayut manja pada pinggang Maya.


"Kamu mau mandi dulu?"


Sam menggeleng, "Aku udah lapar, sayang," pria itu menghentikan sejenak ucapannya dan berjalan mengikuti Maya menuju ke ruang makan, masih mengenakan pakaian kerja tanpa blezer hitamnya. Sam menggulung lengan kemeja panjangnya hingga batas siku lalu duduk di salah satu kursi makan.


Netra Sam membola melihat semua masakan yang sudah Maya siapkan. "Ini semua kamu yang masak?" Sam bertanya tidak percaya.


"Hhmm.... di bantu sama bibik dan mbak Pur yang belanja." Maya mengisi piring Samuel dengan beberapa sendok nasi.


Sam memandang lembut ke arah Maya, "Kamu gak usah capek-capek sayang. Aku gak mau istriku sampai kecapean nanti."


"Samuel sayang.... aku gak pernah capek melayani suamiku tercinta." kali ini Maya membalas tatapan lembut Sam.


"Thanks, honey...." ucap Sam lembut.


Maya mengangguk pelan, "Kamu mau yang ini, suami?" tawar Maya yang dengan cepat dibalas anggukan kepala Samuel.


--


Melihat Sam makan dengan lahap, membuat hati Maya membuncah. Ia bahagia jika suaminya menyukai apa yang ia masak untuknya.


"Masakan kamu enak sekali, sayang."


"Benarkah?"


Sam mengangguk pelan, menggenggam erat jemari tangan Maya lalu mencium jemari lentik istrinya dengan penuh kasih.


"Kamu gak balik lagi ke kantor kan, suami?" Netra Maya memandang Sam seolah memohon untuk pria itu tetap tinggal di rumah.


"Aku ingin tinggal di kamar lebih lama lagi bersama kamu, sayang." Sam berbisik lembut, menatap nakal ke arah Maya.


Kedua pipi gadis itu kini terlihat merona, dengan senyum malu-malu kini Maya berjalan sambil menggandeng tangan Samuel, menaiki anak tangga melingkar menuju ke kamar mereka berdua.


"Aku kangen kamu, suami...." bisik Maya ketika mereka masuk ke dalam kamar. Sam tersenyum hangat, membelai wajah Maya dan mendaratkan ciuman di wajah istrinya. Tak lama kemudian ciuman itu turun ke leher dan beringsut semakin turun ke bawah.


"You're like oxygen for me dear. And I can't breathe without you," bisik Sam lembut seraya kedua tangannya membelai leher Maya lalu menyusuri pundak hingga beringsut turun ke seluruh lekuk tubuh Maya.


to be continue....