
"Gue bener-bener gedeg deh sama si bos sok kecakepan itu, sombong nya selangit. Nih ya kalo aja dia bukan bos gue udah gue lelet in tuh mulut pake uleg an sambel!" Gerutu Maya menggebu, nafas nya sampai naik turun bahkan jika bisa di gambarkan saat ini muncul asap tebal yang keluar dari dua telinga Maya, wajah nya merah semerah tomat dengan bola mata berapi yang siap membumi hanguskan semuanya.
Bahkan martabak manis kesukaan gadis itu pun dia abaikan hanya demi menggerutu bicara mengenai bos nya.
Membuat El hanya mengangguk sesekali dan tersenyum kecil mendengar semua celotehan Maya. El masih sibuk dengan sekotak martabak manis yang malam itu mereka beli dan menikmati nya di kursi taman kota malam ini.
Itu rencana mereka tadi, sebelum Maya terus nerocos berbicara tentang Samuel sang bos galak dan arogan menurut versi Maya.
"Lo tau gak El, gue aja sampai pengen maki-maki tu bos rese. Tiap kali gue ngelakuin sedikit aja kesalahan selalu saja di omelin eh giliran gue bikin dia untung gak ada ucapan terima kasih atau apa kek." Kali ini ekspresi Maya terlihat sangat kesal, bibirnya dia majukan beberapa centi hingga membuat wajahnya terlihat sedikit lucu.
"El__"
"Hhmm??"
"Lo denger gak sih cerita gue?" Maya cemberut kesal ketika dilihat Elano hanya terdiam dan sibuk dengan martabak manis nya.
"Lo gak laper? Gue aja yang denger lo cerita malah jadi laper." Kilah Elano ringan.
"Elano__ !!"
"Apaan?"
"Percuma gue curhat sama lo."
Gadis itu masih saja mengerucutkan bibirnya beberapa centi.
"May__ sampai kapan lo ngomong soal cowo lain hah? Lo gak mikirin hubungan kita apa?" Tanya Elano, kali ini cowo itu memasang muka serius nya.
"Maaf__" lirih Maya bersalah. Elano mengangguk pelan lalu diacak-acak puncak kepala Maya.
Elano cowo yang gak kalah keren nya dibandingkan Samuel, cowo berpostur tinggi tegap dengan lengkungan senyum paling manis.
Elano Wijaya cowo yang telah Maya kenal sejak mereka sama-sama SMA kelas satu, bisa dibilang Elano lah cinta pertama Maya.
Namun aneh nya hingga saat ini hubungan Elano dan Maya masih saja belum menemukan titik terang. Selama beberapa tahun, keduanya saling menyembunyikan hubungan mereka dari Wijaya ayah Elano, seorang pengusaha yang cukup ternama di Jakarta.
Hubungan Elano dan Maya memang tidak pernah disetujui oleh Wijaya. Entah mengapa, Elano sendiri tidak mengetahui alasan sang ayah. Sedangkan Karina sang mama sangat menyukai Maya. Menurut Karina, Maya gadis yang cuek dan apa adanya dan yang paling penting dari semuanya, Karina merasa jika Maya sangat tulus mencintai anaknya.
"May__ aku mau kita cepet-cepet nikah." Lirih Elano yang berhasil membuat Maya tersedak.
"El__ kamu kan tau ayah kamu gak setuju sama hubungan kita."
"Aku gak peduli May, kalo perlu kita kawin lari aja."
Kembali Maya tersedak mendengar ucapan cowo tampan di sampingnya, dahi Maya berkernyit sebentar.
"Kamu kenapa sih El? Gak biasanya kamu punya pikiran kayak gitu."
Kali ini Maya memandang lekat mata Elano.
"Aku capek May."
"Kamu capek sama hubungan kita?" Tanya Maya kali ini.
"Bukan gitu maksud aku."
"Terus??"
"Sampai kapan kita sembunyi terus dari papa? Lagian aku udah dewasa dan udah hak aku ngatur hidup ku sendiri."
"Jadi kamu mau kita kucing-kucingan kek gini?" Kali ini nada Elano sedikit tinggi, dia berdiri dari duduknya dan membelakangi Maya, kedua tangan nya dia masukan ke dalam saku celana jeans nya.
"Kita bertahan dulu ya El, aku juga cinta sama kamu dan aku mau hidup sama kamu. Tapi dengan restu dari semua orangtua kita." Lirih Maya lagi.
Kali ini El membuang nafas berat nya. "Oke, kita coba lagi menunggu restu papah." Angguk cowo itu kemudian.
Maya membuang nafas lega, perlahan gadis itu pun mendekat ke arah cowo tinggi berkulit putih bersih itu.
"Thanks ya El." Peluk Maya dari belakang tubuh Elano dan tentunya dibalas dengan pelukan erat Elano.
"I love you Maya Aulia."
"Aku juga cinta kamu Elano Wijaya." Jawab Maya lembut.
Dengan erat El mendekap tubuh kecil Maya, bagi cowo itu bersama Maya adalah hal yang bisa menenangkan hatinya. Entah kenapa cewe itu selalu bisa membuat El merasa berarti dalam dunianya.
***
Samuel kembali memacu mobil sport hitamnya di sepanjang jalan taman kota, malam ini taman penuh dengan lampu kerlap kerlip nampak sungguh indah, sesekali Sam menghembuskan nafas beratnya.
Dulu Freya selalu saja menolak jika Sam mengajak gadis itu ke taman kota bahkan hanya sekedar berjalan menikmati suasana malam. "Ih__ gak mau ah Sam, lebih enak kan ke cafe aja lebih elegan daripada hanya duduk-duduk di taman kota kek gitu?" Tolak Freya dulu.
Kembali Sam mendengus pelan mengingat lagi kejadian beberapa waktu silam, kedua iris cowo itu memandang ke seluruh penjuru taman malam itu, kerlip cahaya lampu taman masih menyisakan jelas pandangan mata Sam.
Tiba-tiba mata Sam membola melihat seseorang yang sangat dia kenali. Seorang gadis tinggi bersurai hitam lurus sebahu, Maya?? Batin Sam.
Gadis itu nampak sangat menikmati malam itu bersama seorang cowo tinggi. Senyuman kecil Maya nampak jelas tertangkap oleh mata Sam.
Senyuman yang sangat manis, setidaknya menurut Sam malam ini.
Samuel menghentikan sebentar sedan sportnya, dia masih mengamati Maya dari kejauhan. "Lumayan lucu juga.", bisik Samuel pelan.
Dia mengibaskan kepalanya pelan mencoba mengusir semua pikiran aneh yang entah tiba-tiba datang darimana.
"C'mon Sam__ dia gak se'special itu." Sam bermonolog.
Dengan kecepatan penuh Samuel kembali memacu gas sedan hitamnya menembus kembali malam di Jakarta.
***
Martha kembali memacu VW limited edition miliknya, malam ini lagi-lagi dia mendapat penolakan dari Sam.
Dan itu membuat Martha kembali berang, berkali-kali dia tinju kepalan tangan nya ke bundaran kemudi mobil miliknya.
Bola mata gadis itu terlihat kembali merah padam, kilatan pandangan murka iris coklat itu menatap tajam lurus kedepan. Dia semakin menacapkan gas nya dalam-dalam. Emosi gadis itu sudah benar-benar memuncak, bayangan nya akan kejadian tadi membuat emosi nya semakin meluap. Terang saja Martha bersikap seperti itu, selama ini tidak ada yang berani menolak nya. Cowo mana pun pasti akan bertekuk lutut luluh, siapa yang tidak tertarik dengan gadis cantik, berkelas dan tentunya kaya raya? Semua teman-teman cowo satu kampusnya bahkan rela memutuskan kekasih mereka hanya demi untuk bisa jadi kekasih Martha.
Namun kali ini hal itu tidak berlaku terhadap Samuel Perdana.
"Gue akan dapetin lo Sam, lo pasti akan bertekuk lutut ke gue, tunggu aja!!" Dengus Martha.
VW mewah itu kini kembali meraung di jalanan Jakarta malam itu.
Club__ iya gadis itu malam ini hanya ingin clubing dan melupakan tentang kejadian tadi.
>>>To be continue