
"Kamu mau kemana Sam?" Tanya Anita begitu melihat Sam sudah bersiap untuk meninggalkan mansionnya.
"Sam, kalo Mama tanya dijawab dong."
"Apa lagi sih Ma?" Desis Sam
"Kamu mau kemana? Masih ada Martha lho disini." Ulang Anita, kali ini Sam melirik sebentar kearah Anita lalu kembali membuang nafas berat.
"Sam ada urusan." Jawab Sam cuek, Anita mengernyit sebentar melihat kelakuan anak satu-satunya itu.
"Lalu Martha?"
"Mama aja yang ngobrol sama dia, bukannya Mama yang ngundang dia?" Jawab Sam, cowo itu lalu buru-buru meninggalkan Anita. Dia tidak ingin lagi mendengar teguran sang mama.
"Sam, hati-hati." Anita setengah berteriak ke arah Sam, cowo itu hanya mengangguk sekilas lalu masuk ke mobil sport nya.
Sedan hitam itu pun melaju dengan cepat meninggalkan mansion besar keluarganya.
Anita hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Sam kemana tant?" Tanya Martha begitu menuju ke halaman luar dan mendekati Anita, wanita itu tersenyum lembut kearah Martha.
"Ada urusan katanya." Anita tersenyum sebentar lalu membelai rambut Martha dan menyelipkan ke belakang telinga gadis itu.
"Udah ayo masuk, disini dingin." Lanjut Anita lagi, Martha hanya mengangguk kecil menuruti titah Anita.
***
Sam melajukan sedan sport itu dengan kecepatan penuh. Pikirannya kini hanya tertuju pada diri Maya, iya hanya Maya yang saat ini ada dalam isi kepala Samuel.
"Damned!! Gue tak tau lagi rumah Maya." Gerutu Sam, berkali-kali dia memukulkan kepalan tangannya ke arah kemudi bundar mobil yang kini menyusuri jalanan Ibu Kota.
Sam perlahan menarik keluar ponsel yang ada di saku celananya, dia berniat menghubungi Maya.
"Sayang__ kamu dimana? Aku kangen___ iya aku jemput sekarang ya, kamu tunggu disana____ iya see you hunny."
Klik.
Sam memutuskan panggilan selulernya lalu kembali memutar arah mengambil jalur ke arah Kemang.
Maya ada di salah satu cafe di daerah tersebut. Tentu saja bersama Airin sahabat Maya, Sam tidak peduli jika nanti Airin yang juga salah satu pegawai magang di perusahaan Sam nantinya akan mengetahui hubungan Sam dan Maya.
Dia kini sudah benar-benar tidak peduli dengan semua gosip atau pun omongan para pegawainya nanti.
***
Cafe Kemang
"Siapa May?"
Maya terdiam sebentar mendengar pertanyaan yang Airin ajukan barusan.
"Maya....!!"
Kali ini seru Airin dengan nada sedikit tinggi.
"Sam." Lirih Maya membuat sahabatnya itu membulatkan bola matanya.
"Maksud lo bos?" Tanya Airin, masih dengan ekspresi terkejut. Maya mengangguk pelan, mungkin ini saatnya dia jujur ke Airin tentang apa yang terjadi antara dia dan Sam sang CEO arogan dan sombong itu.
"Kenapa bos nelfon lo? Bukan di saat jam kerja lagi?" Pertanyaan Airin membuat Maya mengedikkan bahunya pelan dan masih sedikit melamun.
"May__" ucap Airin sambil melirik kan matanya kearah pintu cafe.
Kali ini sapaan Airin membuat Maya melirik sebentar ke arah sahabatnya.
Dengan sedikit menyesap es lemon tea Maya merotasikan bola matanya ke arah yang Airin tunjukkan tadi.
Mata Maya semakin membola ketika melihat sosok Sam memasuki cafe dan berjalan ke arah meja mereka.
Sam mulai dekat dengan meja Maya dan Airin, cowo itu perlahan duduk disamping Maya. Sebelum Sam menaruh pantat seksinya ke sofa kecil samping Maya, cowo itu terlebih dahulu mencium kening Maya lembut.
Bola mata Maya mengerjap sebentar menerima kecupan kecil Sam di keningnya. Airin pun tak kalah terkejut melihat perlakuan Sam ke sahabat terbaik nya.
Mulut Airin sedikit melongo melihat pemandangan barusan.
"Hai, lo pasti Airin ya? Sahabat Maya yang juga magang di perusahaan gue?" Sapa Sam membuat Airin terkekeh kecil begitu menyadari ke-bengong-an nya tadi.
"Eehh iii yaaa pak bos, saya Airin." Jawab gadis itu terbata-bata, senyuman salah tingkah Airin membuat Sam sedikit tertawa geli.
"Panggil aja gue Sam, kita sedang tidak di kantor." Balas Samuel cuek. Sedetik kemudian perhatian Sam beralih ke arah Maya. Gadis itu masih saja terdiam dengan perasaan bingung.
"Sayang, kamu udah makan? Kalian udah pesen makanan?"
Kali ini pertanyaan Sam berhasil membuat Maya terbangun dari lamunannya.
"Belum pak, eh... Sam. Dari tadi Maya bingung mo pesen makan apa." Seloroh Airin tanpa komando dari Maya.
Maya membulatkan matanya ke arah Airin, membuat sahabatnya itu hanya cengar cengir kecil.
Samuel hanya tersenyum sekilas memahami kode dari Maya tadi.
"Mulai sekarang kamu harus cerita ke Airin tentang kita sayang, gak perlu ada yang kamu sembunyikan lagi." Ucap Sam pelan.
Maya masih terdiam menatap Sam. 'Apa yang sebenarnya terjadi antara gue sama Sam? Bagaimana dengan El?' Pikir Maya lagi membuat dia kembali termenung.
"Iya May, lo tenang aja mulut gue gak akan lemes kok." Kata Airin membuat Maya tersenyum sebentar.
"Aku gak laper Sam, kalian kalo mau makan pesen aja." Ucap Maya kini. Sam menarik sedikit kedua alis tebalnya.
"Gue tau lo laper sayang, gue suapin ya." Ucap Sam sambil beranjak ke meja kasir untuk memesankan menu buat Maya.
Airin tersenyum penuh arti ke arah Maya, sesekali dia memainkan bola matanya menggoda sahabatnya itu.
"Sejak kapan May? Kenapa lo gak cerita ke gue." Manyun Airin lucu.
"Gue masih ragu Rin buat cerita ke lo, gue takut lo akan menghakimi gue." Lirih Maya kini. Airin tersenyum kecil sambil mengelus punggung tangan Maya.
"Gue akan selalu suport lo kok May, tenang aja."
"Gimana sama El?" Kali ini suara Maya seperti ada sebuah sekat yang mengganggu tenggorokannya saat ini.
Airin kembali ikut terdiam sebentar.
"Lo yakin cinta sama Sam?"
Maya mengangguk menjawab pertanyaan Airin.
"Kalo gitu lo harus jujur sama El." Tungkas Airin lagi.
"Aku takut kalo El gak terima nanti." Desah Maya lemah. Airin masih saja memasang ekspresi sedikit berfikir.
Keduanya kembali berusaha bersikap biasa ketika Sam berjalan kembali kearah mereka.
"Ntar kamu makan ya sayang, aku suapin kalo perlu." Ucap Sam dengan senyuman mengembang, Maya mengangguk pelan dan juga membalas senyuman Sam.
***
Setelah selesai makan, Sam selalu menggandeng tangan Maya lembut membuat Airin berdecak kecil.
"Aduh gak enak ya jadi nyamuk." Seloroh Airin membuat Maya salah tingkah.
"May, lo pulang nya bareng Sam aja ya, motor lo biar gue yang bawa."
Sam tersenyum senang mendengar ucapan Airin barusan, sementara Maya kembali membolakan matanya ke arah Airin.
"Tapi Rin, lo gak apa-apa pulang sendiri? Ini udah malam lho."
Airin mengangguk yakin lalu tertawa lebar kearah Maya.
"Lo tenang aja, gue bisa jaga diri kok."
"Hati-hati ya Rin."
"Siap, lo juga hati-hati May."
Airin membalas pelukan Maya lalu seperti biasa mereka saling cipika cipiki sebelum Airin meninggalkan Sam dan Maya.
Hingga akhirnya sosok Airin menghilang di antara pohon taman penghijauan.
Sam dan Maya masih berdiri di ujung trotoar sekitar kawasan cafe di Kemang.
Sam tiba-tiba memeluk erat pinggang Maya, membuat gadis itu sedikit terperangah mendapat perlakuan Sam barusan.
"Sam..." desis Maya pelan.
"I miss you my sweet peach." Bisik Sam lembut di telinga Maya.
Sam berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Maya, kembali Sam mengendus sekujur wajah putih gadis itu.
Nafas Sam terasa hangat di seluruh wajah Maya dan juga di seluruh tubuh gadis itu.
"I want your sweet peach, can I?" Bisik Sam lagi. Mata Maya kembali membola mendengar perkataan Sam.
"Gak disini Sam." Jawab Maya dengan senyuman kecil.
"Kita ke mansion ku?" Tanya Sam pelan, kali ini Maya mengangguk.
Entah apa yang membuat gadis itu begitu cepat menerima ajakan Sam.
Cinta? Secepat itu kah cinta membuat Maya begitu bertekuk lutut dihadapan Samuel? Cowo yang dulu ia anggap sebagai cowo rese dan arogan itu, entahlah.
Sam menggandeng lengan Maya menuju ke mobil yang dia parkir di ujung jalan. Sesekali kecupan kecil Sam mendarat di puncak kepala Maya.
>>> To be continue