
Maya terlihat melambaikan tangan ke arah layar laptop miliknya. Di dalam layar komputer tipis itu terlihat Anita dan juga Permana yang duduk berhadapan dengannya melalui layar komputer pintar tersebut.
"Jadi--- May mulai curiga ketika melihat bekas luka yang Dean miliki karena Sam pernah cerita kalo Daniel memiliki bekas luka yang ada di lengan kanannya akibat berkelahi waktu mereka kecil dulu---"
Maya menjeda sebentar, ia tersenyum ke arah Anita dan Permana yang duduk berdampingan dengan tangan saling berpegang satu sama lain.
"Dan May juga menyelidiki semuanya, dan ternyata kecurigaan May benar, Mah--Pah."
Kembali Maya menjeda sebentar.
"Dean adalah Daniel, putra Mama dan Papa yang hilang dua puluh tahun lalu. Dean sudah memberitahukan hasil tes DNA itu ke kalian, bukan?"
Anita mengangguk dan begitupun dengan Permana.
"Maya hanya ingin menemukan orang yang paling berarti dalam hidup Sam di masa lalu. May tahu jika orang itu adalah kakaknya---- Daniel...."
Kembali Maya meneruskan kalimatnya melalui sambungan vidio call yang telah Daniel sambungkan.
Anita terlihat tersenyum ke arah Maya dengan telapak tangannya yang ia letakkan di atas dadanya.
^^^"Terima kasih, sayang.... Kamu sudah mengembalikan putra Mama yang hilang."^^^
Ucap Anita dari seberang dengan air mata yang mengalir keluar dari sudut matanya. Dan Maya bisa melihat itu.
Begitupun dengan Permana. Pria itu terlihat tidak bisa membendung tangis harunya di balik kacamata bundarnya.
Lalu tiba-tiba saja Daniel terlihat menampakkan dirinya di layar laptop milik Maya. Pria itu pun duduk di tengah-tengah Anita dan juga Permana.
Maya bisa merasakan kebahagian yang kedua mertuanya itu rasakan.
^^^"Kamu baik-baik aja kan, May?"^^^
Tanya Daniel dari seberang. Terlihat ekspresi khawatir dari wajah Daniel ketika melihat Maya dari layar laptopnya.
"Aku baik-baik aja kok."
Senyum Maya sedikit ia paksa dan Daniel dapat merasakan apa yang perempuan itu sembunyikan.
"Ya udah ya, aku tutup dulu." Maya berusaha menutupi keadaannya yang sebenarnya. Dia tidak ingin kedua mertuanya tahu permasalahan dia dengan Samuel.
^^^"Maya-sayang.... tunggu....!"^^^
Seru Anita yang mencoba menahan tindakan Maya untuk mematikan sambungan vidio call nya.
"Ya Mah....?"
Anita kembali memandang wajah menantunya dari layar laptop.
^^^"Apa Sam tau mengenai hal ini, sayang? mm-mak-sud mama.... Sam tau kalo Dean sebenarnya adalah Daniel?"^^^
Maya terdiam sejenak, terlihat sedikit merenung.
Daniel seolah menangkap kesedihan yang ada dalam iris hitam perempuan itu.
^^^"May....?"^^^
Suara Daniel dari tempat yang lain tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
"Eemm-Sam--"
Maya kembali terdiam.
"Dia akan mengetahuinya Ma, saat ini Maya belum bisa mengatakan yang sebenarnya."
Maya menjawab dari layar laptop.
"Maaf udahan dulu ya Mah-Pah, Kalian pasti masih kangen sama Dean--- Eemm maksud May, Daniel...."
Maya melanjutkan pembicaraannya sembari kembali tersenyum menyembunyikan kesedihannya saat ini.
Anita mengangguk begitu juga dengan Permana.
^^^"Terima kasih sekali lagi Maya, kamu sudah memberikan kado terindah untuk kami."^^^
Permana kali ini membalas ucapan Maya.
"Iya sama-sama Pah, bukan kah kita keluarga? May pasti akan memberikan segalanya buat keluarga May, orang-orang yang May sayangi."
Anita kembali terlihat tersenyum haru ke arah Maya.
Satu ciuman jarak jauh, Anita tunjukkan ke arah Maya sebelum gadis itu menyudahi panggilan vidio call tersebut.
....
"Hi..... are you ok?"
Satu usapan lembut Daniel mengusap pada puncak kepala Maya. Telapak tangan pria itu pun menempel pada kening Maya guna memeriksa suhu tubuh.
"Dean--- eemm-maksud aku--Daniel.....?"
Daniel tersenyum sebentar.
"Kamu boleh panggil aku apa aja," jawabnya lembut.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Netra Maya membola ketika menyadari ada pria lain di dalam kamar tidurnya bersama Sam.
Daniel masih memperlihatkan senyum kecilnya dengan tatapan mata lembut yang selalu menyorot ke arah Maya.
"Aku dan mama khawatir dengan keadaan kamu. Makanya kami ke sini untuk memastikan kebenarannya."
Maya mencoba bangun dari tidur nya dan tentu saja dibantu oleh Daniel yang memegang pundak kecil Maya.
"Kata bibik kamu gak enak badan?"
"Aku hanya kecapean aja."
"Kalian ada masalah?"
"Maksud.... kam-mmu....?" tanya Maya terbata-bata.
"Kamu dan Samuel apa ada masalah?" Daniel mengulang lagi pertanyaannya.
"Dean.... oh-eh Daniel.... tolong sebaiknya kamu keluar dari kamar ini."
Maya menjeda sebentar.
"Maaf bukan aku mengusir, tapi aku gak mau jika Sam tau ada pria lain masuk ke sini," lanjut Maya lagi.
Daniel mengangguk pelan.
"Hhmm.... aku ngerti."
"Maaf...."
"It's ok, lagi pula kamu benar. Sorry..."
Daniel berdiri dari tepi ranjang, menjauh dari Maya.
"Aku akan turun sebentar lagi untuk menemui mama Anita."
Kembali Daniel mengangguk pelan.
Hingga pria itu telah sampai pada ujung pintu, hingga tiba-tiba knop pintu terbuka dari luar.
"Apa yang lo lakuin di sini hah...?!"
Samuel berdiri di ujung pintu dengan kedua mata membola penuh.
Samuel memandang tajam ke arah Daniel lalu berganti ke arah Maya yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Brengsek....!! Kenapa selalu ada lo di samping dia, hah...?!!" Sam kembali berteriak keras.
"Sam, dengar dulu penjelasan gue."
Daniel mencoba untuk menjelaskan, namun Sam tetap saja bersikap keras. Bahkan kepalan tangannya bersiap ia ayunkan ke arah wajah Daniel.
"Dan lo......"
Kali ini telunjuk Samuel menunjuk kaku ke arah Maya.
Samuel, suaminya telah memanggilnya dengan kata sebutan yang tidak seharusnya Sam ucapkan.
"Sialan....!! Kenapa selalu saja ada pria lain yang ada di dekat lo selain gue hah....?!!"
Ucap Samuel lagi dengan nada tinggi.
Maya kali itu hanya bisa terdiam dan menangis melihat kemarahan suaminya.
"Sam.....!! Lo harus dengar dulu penjelasan gue, Maya gak salah."
"Hebat..... sang kekasih gelap mencoba membela perempuannya? Hahaha...!! bagus..... sangat bagus sekali....." tawa Samuel.
Apa yang Samuel ucapkan barusan membuat air mata Maya semakin mengucur deras. Sungguh kata-kata pria yang ia cintai itu membuat luka di hatinya.
Bugh....!!!
Satu pukulan Daniel mendarat di rahang kotak Samuel.
"Brengsek....!!!" gumam Samuel marah.
Bugh....!!
Satu pukulan balasan Sam pun tak lama mendarat di rahang Daniel.
"Hentikan....!!" Teriak Maya.
"Dia Daniel, Sam....." isak Maya.
Sam spontan saja terkejut. Kini seolah seluruh tubuhnya terasa lemas. Kaki dan tangannya kini seolah tidak mempunyai daya apapun saat ini.
"Gak mungkin...."
Samuel menggeleng pelan sembari menatap nanar ke arah Daniel yang saat itu masih berdiri tepat di hadapannya.
"Iya Sam, gue Daniel...."
Daniel mencoba meraih pundak Samuel, namun Sam dengan cepat menghindar.
"Semua prasangka yang kamu tuduhkan ke Maya semua salah Sam."
Daniel mencoba menjelaskan segalanya, rupanya dia menyadari jika Maya belum mengatakan apapun soal kebenaran ini.
Daniel juga menyadari jika ada kesalahpahaman antara Samuel dengan Maya soal dirinya.
"Justru Maya lah yang menemukan ku untuk kamu, Sam."
Daniel melanjutkan ucapannya.
Samuel kembali bersikap sedikit syok.
Dia mundur beberapa langkah menjauh dari Daniel dan juga Maya.
"Gak mungkin... ini gak mungkin...." gumam Samuel.
Hingga beberapa detik kemudian Sam berlari keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan perasaan kalut. Bahkan kehadiran Anita saat itu pun tidak ia hiraukan.
"Samuel.... sayang.... kamu mau kemana?"
Anita bingung akan sikap Samuel anaknya. Baru saja ia keluar dari dapur dan samar mendengar suara ribut yang berasal dari kamar Sam dan Maya.
"Sam.....!!"
Lagi-lagi Sam tidak menghiraukan teriakan Anita. Pria tegap itu terus berlari menuju arah pintu dan terlihat keluar mengendarai sedan mewahnya.
Anita terlihat bingung, begitu pun dengan Samudra.
"Daddy kenapa Oma?" tanya Samudra dengan ekspresi kebingungan melihat ayahnya.
"Oma juga gak tau sayang."
Anita mengelus pipi gembul Samudra.
"Oh ya, Am ke kamar dulu sama mbak Pur ya."
Samudra mengangguk patuh, lalu berjalan ke lantai atas digandeng oleh mbak Pur.
Anita menghela napas sebentar.
"Daniel, ada apa dengan Samuel?" tanya Anita begitu ia melihat Daniel turun dari anak tangga.
"Sam cemburu, Ma..." jawab Daniel singkat.
Anita menarik ujung alis tak mengerti.
"Sam menduga jika Maya dan aku ada hubungan gelap di belakang dia." Daniel menambahkan.
"Jadi Sam belum tau kalo---"
Daniel menggeleng pelan memotong pertanyaan Anita.
"Lalu Maya gimana? Dia baik-baik aja kan?"
"Tolong Mama cek keadaan Maya ya, kalo Daniel yang masuk ke kamar dia--- Maya pasti gak mau nemui Daniel."
Anita mengangguk pelan lalu menepuk pundak anak sulungnya.
"Ya udah Mama ke atas dulu ya, kamu---"
"Biar aku tunggu di sini Ma."
"Baiklah," angguk Anita.
Perempuan itu lalu berjalan naik ke lantai atas.
Sementara Daniel terlihat membuang napas berat lalu duduk pada sofa panjang dengan bantalan yang sangat empuk.
...
Samuel terlihat memacu kendaraan bertenaga turbo dengan sangat kencang. Siang itu lalu lintas Jakarta yang lumayan padat, tidak membuat Sam menghentikan pacuan sedan sport miliknya.
Hingga Samuel memasuki pintu tol, untuk melampiaskan segala kemarahan yang saat ini menguasainya.
Dengan mengambil jalur tol, Sam bisa leluasa memacu sedan hitamnya dengan kecepatan penuh. Lengang nya jalan tol siang itu membuat Sam dengan leluasa memacu kendaraan yang ia naiki dengan kencang.
Beberapa kendaraan lain pun ia salip dengan sangat apik. Sedan hitam mengkilat itu pun meliuk-liuk, menghindari beberapa kendaraan lain yang lewat.
Dalam kepala Samuel masih terngiang ucapan Maya dan juga Dean.... atau Daniel.... atau siapa pun dia.
Sam masih belum bisa menerima apa yang mereka katakan tadi.
Dean adalah Daniel....?? Pikir Samuel..
Tidak... tidak mungkin dia Daniel... batin Sam lagi.
Kenapa harus dia? batin nya lagi.
"Daniel....!! Arrgghhhh..... sial....!!" teriak Samuel sembari memukul-mukul bundaran kemudi mobil.
Hingga tiba-tiba pandangan Samuel panik yang melihat kendaraan lain dari arah belakang yang dengan sangat kencang tiba-tiba saja menyalip sedan hitam milik Samuel. Membuat kendaraannya melaju tidak terkendali dan akhirnya terpental mengenai pembatas ruas jalan tol.
Tubuh Sam seolah melayang, di dalam sedan hitam itu yang Sam lihat hanya ada cahaya yang mendadak begitu gelap.
Sam......
Saat itu yang ada dalam pikiran Samuel hanya Maya, bayangan wajah Maya yang memanggil namanya dengan seluruh senyuman di semua sudut bibir berwarna peach.
Beberapa detik kemudian semua begitu gelap. Beberapa serpihan kaca mobil, terbang dan begitu saja mengenai wajah dan lehernya tanpa bisa ia hindari.
Sedan hitam itu pun akhirnya jatuh berguling menabrak pembatas ruas jalan tol hingga terpental beberapa kilometer.
Pandangan mata Samuel mendadak kabur hingga ia melihat semuanya begitu gelap.
Arus lalu lintas di jalan tol siang itu pun kini mendadak macet total.
Sam....
to be continue....