
Flashback on
Memasuki jalan tol keluar dari bandara, Harris menguasai kemudi mobil dengan sangat stabil. Sesekali ia ikut tertawa ketika mendengar perbincangan Martha dan Samudra.
Martha yang bertanya-tanya ke Samudra tentang hari-harinya saat berada di Milan, sesekali tertawa kecil dan tersenyum mendengar jawaban polos dari putranya.
Hingga saat dimana Samudra bercerita tentang seorang pria asing yang tak ia kenal yang tiba-tiba saja datang ke rumah Samuel di Milan.
Laki-laki yang tampan seperti Samuel namun lebih terlihat sifat buruknya.
"Jadi waktu itu ada om-om ampan, mommy.... tapi om itu jaat cama onty Aya," celoteh Samudra.
"Jahat? jahat gimana sih Am?" tanya Martha penasaran, begitupun dengan Harris. Wajah keduanya kini mengerut dalam.
"Dia pukul onty Aya."
"Am tau siapa Om itu?" tanya Harris sembari masih sibuk menyetir.
Samudra menggeleng menjawabnya.
"Lalu Om Uel? Dia gak tau kalo Onty Aya dipukul sama Om jahat itu?"
"Am ndak tau, mommy.... Onty nyuluh Am masuk ke kamal."
"Emang Om Uel waktu itu gak ada di rumah ya?" tanya Martha lagi sembari menoleh ke kursi belakang, tempat dimana Samudra duduk dalam Jeep Wrangler sang ayah.
"Om Uel beyum puyang."
Martha menghela napas perlahan lalu memandang ke arah Harris.
"Siapa ya mas? Apa pencuri? Tapi gak mungkin juga ah ada pencuri di perumahan elit Samuel."
"Entahlah, yang terpenting mereka gak kenapa-napa kan. Dan anak kita juga baik-baik aja."
Martha mengangguk perlahan lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.
Sementara Samudra masih saja berceloteh lucu, sembari bernyanyi-nyanyi kecil. Tak jarang bocah itu pun selalu bertanya soal segala hal yang ia lihat waktu itu.
Mommy--kenapa kalo lampu melah itu belhenti? Mommy-mommy, kok di cini macet sih? Kok gak sepelti di Milan?
Dan banyak pertanyaan lainnya yang selalu Samudra lontarkan, terkadang Martha maupun Harris sampai dibuat tertawa kecil ketika mendengar segala hal yang diucapkan oleh putranya.
Hingga sampai pada kilometer lima belas--
Duuaaarrr....!!!
Tiba-tiba saja ada sebuah mini van berwarna hitam yang melaju sangat kencang dari belakang dan menyenggol bagian belakang mobil Jeep Wrangler putih milik Harris.
Hingga membuat mobil yang mereka tumpangi oleng karena terkena benturan yang sangat keras dari mini van tadi.
" Awas mas.....!!" teriak Martha.
Harris mencoba membanting stir ke sisi bahu jalan sebelah kanan namun naas Wrangler warna putih itu pun malah mendapat benturan yang lain dari belakang dan kali ini sebuah truck besar yang tidak bisa menghindari mobil Harris lalu dengan begitu cepat menabraknya, hingga Jeep tersebut berguling-guling dengan keras di jalan beraspal.
Beberapa detik sebelumnya, Martha terdengar berteriak memanggil nama Samudra. "Am.....!!" teriak Martha sembari tangan kanannya terulur yang berusaha memegangi tubuh bocah itu.
Seketika itu juga lalu lintas dibuat terhambat, terlihat beberapa mobil yang berhenti ke bahu jalan dan memeriksa keadaan penumpang Wrangler putih tersebut. Salah satu orang pengemudi yang lain berusaha memeriksa keadaan ketiganya. Dan sayangnya dua penumpang depan meninggal seketika di tempat kejadian.
Dan bocah kecil yang duduk di kursi belakang terlihat masih menghembuskan napas namun tubuhnya terhimpit oleh body mobil.
Karena body mobil yang mengalami kerusakan cukup parah sehingga sangat kesulitan buat orang-orang yang ingin menolong anak kecil itu.
Hingga beberapa menit kemudian datanglah beberapa mobil Polisi, Ambulance dan juga tim Damkar yang hendak mengevakuasi tempat kejadian.
Petugas medis langsung saja memberikan pertolongan pertama untuk Samudra, bocah itu tak sadarkan diri dengan banyak luka berdarah dan memar di tubuhnya. Kemungkinan ia mengalami patah tulang akibat terjepit body mobil yang ringsek parah.
Beberapa menit kemudian suara Ambulance terdengar dan mulai meninggalkan tempat kejadian dengan membawa kedua jasad korban. Sedang Samudra, ia terlebih dulu dibawa dengan Ambulance yang lain.
...----------------...
Sam membuka kedua netranya begitu merasakan suara ponsel yang terus bergetar. Sam sengaja menonaktifkan suara dering pada ponselnya, ia tidak ingin Maya terbangun dari tidurnya, jaga-jaga jika ada Bayu ataupun pegawai lainnya yang bisa saja menghubungi dia soal kerjaan yang selama dua bulan ini ia tinggalkan.
Getaran ponsel masih bisa Sam rasakan, pria itu menoleh sebentar ke arah Maya. Sam lega karena gadis itu masih terlelap dalam tidurnya.
Dengan sangat hati-hati Samuel menggeser lengan yang selalu menjadi sandaran kepala Maya saat tidur, Sam mencoba kembali menenangkan tidur Maya ketika didapatinya gadis itu menggeliat pelan, merubah posisi tidurnya menjadi membelakanginya.
Samuel berjalan keluar dari kamar, menerima panggilan yang ternyata dari nomor Anita.
"Assalamualaikum Ma___ Maya masih tidur___ Emang ada kabar apa?___"
Mendengar penuturan Anita dari seberang spontan saja terlihat perubahan wajah Samuel yang langsung terkejut. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Innalillahi Wainnailaihirojiun... kapan kejadiannya Ma?___ Kenapa Sam baru diberitahu sekarang?___ Oke-oke Ma, Sam segera kesana___ "
klik!
Samuel menutup panggilan begitu Anita memutuskan sambungan telepon dari seberang. Kini terlihat wajah Sam mulai berubah pilu. Baru beberapa jam tadi mereka bertemu dengan Martha dan juga Harris, tidak ada firasat buruk apapun yang ia rasakan, namun kini....
Sam mengusap kasar wajahnya, berjalan mondar-mandir di atas balkon kamarnya, Ia melirik ke dalam kamar dan melihat Maya masih tertidur pulas di sana. Sam berkali-kali membuang napas panjang sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamarnya.
...****************...
Saat ini
Maya melangkah cepat memasuki lobi rumah sakit, meninggalkan Samuel yang berjalan di belakangnya.
Ah bodohnya dia, dirinya bahkan tidak mengetahui di ruang apa Samudra dirawat.
"Am di ruang Operasi, sayang." Ucap Sam begitu ia memasuki lobi rumah sakit dan mendapati Maya yang berdiri menunggunya.
Dengan anggukan perlahan Maya menjawab ucapan Samuel lalu mengikuti langkah panjang suaminya.
"Aku takut, Sam."
"Kamu tenang dulu, semoga aja Am cepat sadarnya."
Maya mengangguk pelan dan meng-aminkan dalam hati perkataan Samuel.
Setelah sampai di depan ruang Operasi keduanya melihat Anita yang berdiri di depan ruangan. Dengan lengan yang ia lipat di atas dadanya, wanita itu pun terlihat sangat sedih dan khawatir.
"Mama.....!" seru Maya dan langsung memeluk serta mencium punggung tangan Anita.
"Apa kata dokter, Ma?"
"Mama juga kurang tahu pasti, Sam. Cuma tadi dokter yang mengatasi Samudra bilang, jika ada sedikit patah tulang belakang dan ada benturan di kepala anak itu."
"T-tapi dia--" Maya tidak kuasa meneruskan kalimatnya, ia terus saja menangis dan Samuel dengan cepat mencoba menenangkannya.
"Sayang, kita berdoa aja supaya Am cepat sadar dan cepat sembuh."
"Tapi Sam--"
"Aku janji akan melakukan apapun agar Am bisa sembuh."
Ucapan Samuel sedikit banyak bisa menenangkan kekhawatiran Maya. Gadis itu pun mengangguk pelan sembari terus berdoa dalam hati buat Samudra.
"Sam..."
"Iya, Ma?"
"Rencana pemakaman Martha dan Harris besok pagi dan Papa sudah menyiapkan segalanya di rumah duka."
"Iya, nanti Sam mampir ke rumah Martha dan juga Harris," angguk Samuel.
"Aku ikut...." cicit Maya dengan kedua mata bengkak dan air mata yang terus saja mengalir.
"Hm," angguk Samuel merespon.
Dari luar ruang Operasi, ketiganya nampak hanya terdiam membisu dengan ekspresi wajah sedih dan sangat kehilangan.
Maya menjatuhkan kepalanya pada bahu Samuel sembari jemarinya meremas jemari milik Samuel. Saat ini Maya sangat rapuh dan seperti biasa dia membutuhkan pegangan. Dan Samuel lah satu-satunya orang yang mampu membuatnya merasa lebih baik.
"Aku takut, Sam...." cicit Maya pelan.
"Kamu yang tenang ya," jawab Sam menenangkan.
to be continue...