MySam

MySam
Duri Pernikahan Martha



Jam menunjukkan waktu lima sore. Harris buru-buru keluar dari Jeep Wrangler miliknya dan memasuki rumah besar dengan halaman yang luas. Wajah sumringah terlihat jelas, tak henti-henti senyuman manisnya tertarik di semua sudut bibir tipis Harris.


Mengendorkan sedikit dasi yang melilit di lehernya sambil berjalan cepat menaiki tangga melingkar di tengah ruangan luas itu.


Wajah bahagianya yang sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan buah hatinya.


"Sayang..... daddy pulang...." Harris sedikit berteriak begitu ia membuka knop pintu kamarnya.


Namun seketika netranya meredup, mendapati sosok yang begitu ia rindukan tidak berada dalam kamar mereka. Harris beralih ke arah box bayi samping ranjang, Samudra pun tidak ada di sana. Box bayi itu terlihat dingin tak berpenghuni.


Harris sedikit berfikir karena tidak biasanya Martha dan Samudra keluar kamar di jam segini. Gadis itu selalu menunggunya pulang di kamar mereka, lengkap dengan Samudra yang selalu berada dalam gendongan Martha.


Harris keluar dari kamar, kembali menuruni anak tangga panjang. "Bik.... bibik...!!" seru Harris.


"Iya tuan...." wanita tua itu dengan tergopoh keluar dari dalam mansion dengan wajah pucat.


"Nona Martha dan Samudra kemana, bik?" tanya Harris sambil melepas kancing lengan kemeja panjangnya.


"Ehh anu... itu.... non Martha...." bibik tergagap, bingung ingin berucap apa pada tuan majikannya. Tadi Martha memang bilang sama bibik jika ia akan keluar bersama Samudra, tapi nonya majikannya tidak bilang mau pergi kemana.


"Kemana, bik? keluar?" tanya Harris meyakinkan.


"Sudah pulang, Om...?" sebuah suara tiba-tiba saja terdengar dari balik pintu. Membuat Harris mengernyit heran.


"Sayang.... kamu...." Harris tidak bisa berucap lebih banyak, perasaan keheranan masih menyelimuti benaknya. Kenapa Martha, istrinya memanggil dia dengan sebutan Om? padahal sudah lama gadis itu menghilangkan sebutan tersebut saat memanggilnya.


Harris tersenyum sebentar, mencoba menyembunyikan keterkejutannya dan mendekat ke arah Martha. "Kamu darimana, sayang?" Harris memeluk istrinya lalu beralih mencium Samudra yang saat itu terlihat begitu tenang, tersenyum ke arah Harris dengan celotehan kecilnya. Martha masih membisu, menatap lekat wajah suaminya.


Oh... tak kutemukan kebohongan dan kepalsuan dari sikap mas Harris, batin Martha.


Sikap pria itu memang tidak berubah, masih begitu hangat. Tidak ada sesuatupun yang ia sembunyikan. Martha bisa merasakan itu.


Apakah aku harus bertanya terus terang tentang perempuan bernama Laura? batin Martha lagi.


"Sayang.... kamu ada masalah? cerita sama aku." Harris meraih pundak kecil Martha, menuntun gadis itu duduk di sofa panjang dekat dengan sebuah kotak kaca aquascape yang lengkap dengan berbagai ikan kecil warna-warni.


"Sini biar aku gendong Samudra, aku kangen banget sama jagoan ku." Harris mencoba mengambil alih Samudra dari tangan Martha. Sesaat Martha mencoba menghindar, menjauhkan bayi mungil itu dari Harris.


"Kamu kenapa, sayang? Aku ada salah sama kamu?" tanya Harris sedikit heran dengan perubahan sikap istrinya.


Martha menatap wajah Harris sebentar, lalu kembali membuang muka ke arah lain, netra berlensa biru itu kini terlihat mengembun. Hampir saja menjatuhkan cairan beningnya.


"Sayang... kamu nangis? Ada apa ini sebenarnya? Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu. Please...." Harris merajuk, berusaha memeluk tubuh mungil Martha yang masih saja memeluk Samudra dalam gendongannya.


Menciumi lembut surai panjang kecoklatan istrinya, dan beralih mengecup pipi halus Martha.


"Siapa Laura?"


Deg.....


Harris terdiam sesaat, menghentikan serbuan kecupan kecilnya pada puncak kepala Martha. Laki-laki itu terdiam, seolah bibirnya mati rasa. Bagaimana istrinya tahu soal Laura? batin Harris.


"Siapa Laura, Om?"


Martha masih melembutkan nada bicaranya, bergeser sedikit dari sisi Harris. "Bik.... bibik....!" teriak Martha, si bibik yang mendengar sang nyonya mudanya memanggil, langsung saja berjalan tergopoh mendekati kedua majikannya.


"Iya, non....?"


"Tolong bawa Samudra ke kamar." Martha menyerahkan bayi mungil itu ke tangan bibik, yang langsung saja wanita setengah umur itu kembali berjalan menaiki anak tangga sambil menggendong Samudra.


Martha kini menatap wajah Harris yang terlihat pucat pasi. Mencoba mencari kebenaran dari kedua netra laki-laki itu.


"Katakan padaku siapa Laura?! Apa dia kekasih kamu, Om?" kali ini nada bicara Martha sedikit meninggi. Kemarahan terlihat jelas dalam sorot mata lentik gadis itu.


"Bagaimana kamu tahu soal wanita itu, sayang?"


"Kamu tau, Om? dia sudah menghina aku dan anakku. Aku tidak terima hal itu."


Netra Harris membola, memandang tak mengerti ke arah Martha.


"Menghina kalian?" Harris bertanya dengan ekspresi bingung.


"Apa aku wanita murahan bagi kamu, Om? Apa aku hanya kamu anggap sebagai pemuas nafsu kamu aja, hah...?!" pekik Martha, kini air mata gadis itu sudah tidak dapat ia tahan lagi.


"Sayang.... siapa yang bilang?" Harris panik melihat sikap Martha. Ia juga geram dengan semua ulah wanita ular bernama Laura itu.


"Katakan apa benar kamu mengatakan hal itu pada Laura, hah?!" isak Martha.


"Kamu salah sayang, itu semua tidak benar." Harris mencoba membela diri, mendekat ke arah Martha dan berusaha memeluk menenangkan istrinya.


"Jangan sentuh aku.... !" Martha menghentikan langkah Harris, membuat laki-laki itu menurut begitu saja, mendadak menghentikan langkahnya.


"Dia boleh saja menghina aku, tapi dia tidak boleh menghina anakku..." Martha menjeda sebentar kalimatnya.


"Anakku bukan anak haram...." isak Martha. Gadis itu menangis sejadinya, hatinya sakit ketika mengingat ucapan Laura waktu itu yang begitu menusuk.


"Samudra bukan anak haram kan, Om...? Jawab....!!" pekik Martha lagi. Air mata kini begitu deras keluar dari kedua sudut matanya. Martha menjatuhkan dirinya di lantai dengan tangis yang begitu pilu.


"Sayang...." Harris dengan cepat meraih tubuh Martha, membawanya ke dalam pelukan bahu kekarnya.


"Anak kita bukan anak haram. Dia anakku, anak kita. Kamu percaya padaku," bisik Harris lembut, menciumi surai panjang istrinya.


"Aku mencintai kamu, sayang. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu dan anak kita. Please... kamu gak usah hiraukan semua ucapan wanita ular bernama Laura itu. Aku mohon, Tha....." bisik Harris lagi, semakin mendekap erat tubuh mungil istrinya. Mendaratkan ribuan kecupan di kening dan pipi gadis itu.


"Aku akan ceritakan semuanya soal Laura. Semuanya..." lirih Harris, merenggangkan sebentar pelukan. Memandang lembut wajah yang kini terlihat berantakan oleh air mata.


Harris membelai lembut pipi istrinya, merapikan rambut panjang yang terlihat berantakan dengan jemari kekarnya.


.....


Flash back beberapa jam sebelum Laura menemui Martha.


"Siang, mas...." ucap seorang perempuan cantik dengan gaun seksi di atas lutut berwana magenta, rambut panjang kecoklatan yang begitu berkilau ia biarkan tergerai begitu saja.


Ekspresi terkejut tampak jelas di raut wajah Harris, begitu ia memalingkan tubuhnya dan melihat perempuan cantik yang tiba-tiba saja memasuki ruang prakteknya. "Laura.... mau apa kamu kesini?" suara Harris seakan tercekat. Memandang tidak percaya perempuan cantik yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa kabar, mas? Lama tidak bertemu. Apa kamu tidak kangen sama aku?" ucap perempuan itu dengan suara manjanya. Mendekat ke arah Harris berusaha meraih tubuh kokoh sang dokter.


Harris mengelak dari jemari lentik itu, menjauhi Laura yang terus saja berusaha mendekatinya.


"Mau apa lagi kamu kemari ? Kamu tau aku sudah menikah dan memiliki seorang anak." tegas Harris, wajah pria itu mulai mengeras.


"Aku minta maaf, mas. Aku sadar kalau aku dulu terlalu egois dengan hubungan kita." Laura masih saja merajuk, memasang wajah memelas ketika berhadapan dengan Harris.


"Hubungan kita sudah berakhir, Ra. Kamu yang mengakhiri semuanya. Kamu ingat itu, hah?" tandas Harris lagi. Menyisakan raut kesedihan di wajah Laura.


"Tolong kamu pergi dari sini dan jangan pernah berani datang ke kantor ku lagi." Harris menjeda kalimatnya, memandang tajam ke arah Laura.


"Aku tegaskan sekali lagi, Aku sudah menikah, memiliki istri yang sangat cantik dan anak yang aku cintai. Sekarang pergilah dari sini," tegas Harris. Laki-laki itu berjalan ke arah pintu dan membuka lebar-lebar pintu ruang prakteknya, mempersilahkan Laura untuk keluar dari sana.


"Mas Harris, aku sungguh menyesal. Aku mohon maafkan aku, berilah aku kesempatan sekali lagi, kumohon...." sorot mata sayu Laura terpancar dari iris berwana indah itu.


"Pergilah dari sini...." tegas Harris lagi, ia rotasikan netranya ke arah lain agar tidak terintimidasi oleh wajah cantik Laura.


Gadis itu menunduk dalam, keluar dari ruangan luas dengan warna putih mendominasi.


Laura berdecih samar, Siapa wanita yang saat ini menjadi istri Harris? sehingga laki-laki itu tidak mempedulikannya saat ini? batin Laura kesal.


to be continue.....