MySam

MySam
Keresahan Samuel



Belum sempat pramuniaga menekan tombol 119 di ponselnya. Sam langsung membopong tubuh Maya dan tergesa keluar dari boutique. Akan lebih cepat jika ia mengemudikan mobilnya daripada harus menunggu ambulans.


Maya sudah aman di kursinya. Tertahan sabuk pengaman, wajahnya masih terlihat pucat pasi. Sam tak mau banyak berfikir jelek, saat ini fokusnya hanya segera menuju rumah sakit agar Maya segera mendapatkan penanganan secepatnya.


♡♡♡


Sam tidak mau dan tidak bisa duduk tenang di ruang tunggu. Ia terus saja mondar-mandir tak karuan di depan ruang UGD. Meskipun wajahnya dipenuhi kekhawatiran, tetap saja pesona Samuel Perdana tak terbantahkan. Itu bisa dilihat dengan banyaknya pengunjung rumah sakit yang berbisik menggunjingkannya.


Biasanya Sam menikmati semua perhatian yang tertuju padanya. Meyakinkan dan mengulang dalam kepala, betapa sempurnanya ia.


Namun, kali ini berbeda. Otak Samuel terkunci, yang ia pikirkan saat ini hanya Maya yang tidur di atas brankar dan didorong masuk ke ruang UGD.


"Tolong berikan dokter yang terbaik untuknya. Saya tidak peduli berapa biayanya. Berikan ia yang terbaik!" seru Sam, nyaris berteriak pada suster dan dokter jaga yang sempat mengangguk sebelum menghilang di balik pintu.


___


"Tuan Samuel Perdana."


Salah seorang suster memanggil Sam untuk memasuki ruang konsultasi.


Dokter spesialis berusia matang menyambut Samuel dengan hangat. Rambut yang sedikit beruban mungkin bisa menjelaskan betapa lama dedikasinya pada dunia kedokteran. Pria paruh baya itu mempersilahkan Sam untuk duduk.


"Apa tunangan saya baik-baik saja, Dok?" Samuel tidak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatiran dari wajah tampannya. Terlihat tangannya yang mencengkeram sandaran kursi.


Dokter itu hanya tersenyum penuh kesabaran. "Nona Maya, hanya mengalami asam lambung yang agak tinggi. Selain itu ia juga terkena anemia ringan. Mungkin nona Maya kelelahan atau telat makan. Ia sudah sadar tadi, namun saya suruh ia untuk tidur kembali sambil menunggu hasil pemeriksaan."


Sam bisa sedikit lega, namun ia masih menunggu kesimpulan dari penjelasan dokter tersebut. Bisa saja hal yang tidak diinginkan melatarbelakangi semua itu.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nona Maya tidak mengalami hal yang serius." Dokter kembali menjelaskan dengan penuh pengertian.


"Dia hanya butuh banyak istirahat dan jangan sampai telat makan lagi." lanjut sang dokter.


Sam mengetukkan jemari di atas permukaan meja kerja sang dokter. Terlihat kurang puas dengan penjelasan dari sang dokter paruh baya tersebut.


"Saya ingin pemeriksaan menyeluruh. Kalau perlu bisakan dia menjalani general checkup, Dok?" Samuel bertanya dengan wajah serius.


"Saya tidak ingin ada yang terlewat," lanjut Samuel.


Dokter bisa melihat betapa Samuel tidak tenang mendengar penjelasannya. Padahal ia tahu bahwa Maya bisa dikatakan sehat dan kondisinya tidak ada yang serius. Gadis itu hanya kelelahan, dengan istirahat serta makan yang cukup sudah akan memperbaiki semuanya.


Namun pria paruh baya itu tidak bisa mengabaikan binar kekhawatiran dalam iris kecoklatan yang ada di hadapannya.


"Baiklah, saya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada nona Maya."


Degup jantung Sam melambat, ia bisa sedikit bernapas lega. Tes menyeluruh bisa mengetahui segala hal. Seandainya Maya mempunyai penyakit yang serius, setidaknya akan bisa langsung ditangani sedini mungkin.


"Apa saya bisa menemani?"


Dokter menggeleng cepat. "Tolong biarkan nona Maya beristirahat."


Sam berfikir sejenak. Ia tahu betapa keras kepalanya Maya, jika gadis itu tahu Sam menemaninya, bisa saja ia akan merengek meminta pulang sekarang. Lebih baik Sam menjaga jarak dengannya untuk saat ini. Membiarkan petugas medis profesional mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.


"Apa akan memakan waktu lama?"


Dokter menjawab dengan menggeleng pelan. "Kurang lebih sekitar dua sampai tiga jam."


Samuel mengangguk dan meminta dengan sangat agar dokter menjaga gadis itu dengan sebaik-baiknya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan.


Pria itu memutuskan menuju ke tolilet sebentar untuk merapikan diri. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, kepanikan tanpa sadar telah membuat Sam mengacak-acak rambutnya sendiri.


 ___


"Bagaimana dengan hasilnya, Dok?" Samuel menunggu jawaban sang dokter dengan wajah penuh kekhawatiran. Demi Tuhan, pria itu tersiksa beberapa jam menunggu hasil yang akan dibacakan oleh sang dokter spesialis tadi.


"Sekali lagi, nona Maya baik-baik saja. Tidak ada yang begitu serius mengganggu kesehatannya."


"Anda yakin?" Samuel kembali mencoba meyakinkan.


"Seratus persen, yakin."


Jawaban sang dokter bisa memberi angin sejuk buat Sam. Pria itu meraih hasil pemeriksaan dari tangan dokter dan mengangguk penuh hormat.


"Terima kasih, Dok. Maaf jika saya tadi terlihat memaksa anda."


Sam menjabat erat tangan dokter, berkali-kali senyuman lega tertarik di seluruh sudut bibirnya.


"Saya bisa memahami kekhawatiran anda. Dengan senang hati saya bisa membantu." Dokter separuh baya itu membalas erat jabatan tangan Samuel.


"Sekarang, nona Maya sudah boleh pulang."


"Terima kasih, Dok."


Sekali lagi Samuel berterima kasih sebelum akhirnya ia keluar meninggalkan ruang kerja dokter paruh baya itu.


……


"Are you Ok, baby?" tanya Samuel begitu ia mendekat ke arah Maya. Mengulurkan tangannya ke kening gadis itu dan membelai lembut pipi chubby yang kini terlihat semakin memerah. Sam bisa bernapas lega melihat wajah Maya yang tidak lagi pucat seperti ketika berada di boutique tadi.


"Maaf, tadi aku tidak bisa menemani kamu. Kata dokter lebih baik kamu menjalani tesnya sendirian saja." Sam membelai pipi Maya lembut.


"Sekarang bagaimana keadaan kamu?" Sam mengulangi pertanyaannya lagi.


"Aku gak apa-apa Sam, maaf sudah membuat kamu panik," lirih Maya, memandang netra coklat milik Sam dengan perasaan bersalahnya.


"Apa hasil pemeriksaan tadi? Apa hasilnya bagus?" tanya Maya yang juga terlihat khawatir.


Tiba-tiba Sam menarik tubuh Maya dalam dekapannya. Memeluknya erat seolah tidak ingin terpisahkan.


"Bagus. Kamu baik-baik saja."


Maya bisa merasakan tubuh kokoh yang kini merengkuhnya erat.


"Sekarang, apa aku boleh pulang?" tanya Maya, ia benar-benar tidak merasa nyaman jika harus berlama-lama berada di kamar rumah sakit. Walau kamar yang Sam minta adalah kamar VVIP di rumah sakit swasta tersebut.


"Hhmm, kita pulang sekarang. Tapi apa kamu tidak mau sehari atau dua hari lagi beristirahat di sini dulu?"


Maya menggeleng cepat. "Aku mau pulang." Jawab Maya cepat.


Dan sekali lagi sifat keras kepala Maya, ia tunjukkan.


Samuel hanya bisa menurut kemauan tunangannya. Ia tidak ingin membuat Maya semakin merasa tidak nyaman.


"Aku urus administrasi dulu, kamu tunggu di sini sebentar. Oke?"


Maya mengangguk pelan. Samuel mendaratkan ciuman lembut di kening Maya, sebelum akhirnya tubuh pria itu menghilang di balik pintu.


Maya masih merasa bersalah terhadap Samuel, kesibukan dan juga tekanan menjelang pernikahan sedikit banyak telah mempengaruhi pola makan dan istirahatnya. Sehingga tubuh gadis itu melemah dan puncaknya, ketidaksadaran dirinya saat berada di boutique milik Vivian tadi.


Beruntung, ia memiliki Samuel yang selalu sigap dengan keadaannya. Perhatian Sam yang begitu besar padanya telah membuat candu tersendiri dalam diri Maya.


Gadis itu bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana sanggup ia hidup tanpa Samuel.


Selama ini Samuel selalu menjadi pelindung dan pelengkap hidup Maya.


Samuel adalah candu buat Maya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Sam begitu ia muncul tiba-tiba dari balik pintu kamar rawat Maya.


Dengan cepat Maya mengangguk kembali, berusaha berdiri dengan tubuh yang masih sedikit lemah.


Samuel tidak tinggal diam, ia langsung memegang lengan Maya dan menggandeng gadis itu keluar dari kamar. Melewati lorong demi lorong rumah sakit, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu utama rumah sakit.


Layanan valet parkir, telah membawa sedan merah Samuel hingga berhenti tepat di depan pintu utama. Sam langsung menuntun Maya memasuki pintu depan mobil, begitu petugas valet parkir membukakan pintu tersebut.


Sam meninggalkan dua lembar uang berwarna merah kepada petugas valet, langsung tancap gas meninggalkan gedung megah rumah sakit swasta tersebut.


___


"Kita mampir ke restoran sebentar," ucap Sam di sela-sela kegiatan menyetirnya. Maya menoleh sebentar ke arah pria yang saat ini sibuk menguasai sedan mewah itu.


"Tapi Sam..."


"Dokter bilang kamu jangan sampai telat makan. Aku tidak ingin mendapatkan bantahan lagi." Samuel memotong ucapan Maya, kali ini ada nada dan wajah serius dari Samuel. Membuat Maya hanya mengangguk nurut, tidak ingin membuat Samuel marah.


"Apa yang membuat kamu sibuk bekerja hingga tubuh kamu melemah begini?" pertanyaan Sam hanya dibalas hembusan napas berat Maya.


"Maaf Sam, banyak yang harus aku lakukan di perusahaan property. Dan lagi..." Maya menghentikan sebentar ucapannya.


"Dan lagi apa?" Samuel berusaha menepikan mobilnya dan berhenti sebentar. Menoleh ke arah Maya, memandangi lekat wajah gadis itu.


"Persiapan pernikahan kita membuat aku sedikit tegang," jawab Maya lirih. Ia sembunyikan dalam-dalam wajahnya dari Sam yang saat ini masih lekat memandangi wajah cantiknya.


"Kamu tidak usah berfikir terlalu keras tentang rencana pernikahan kita, biar aku dan mama yang mengurus," Samuel menghentikan sebentar ucapannya. Kembali mengusap lembut puncak kepala Maya.


"Dan juga masalah kerjaan, biar aku bilang sama Elano untuk tidak menyerahkan sepenuhnya kepada kamu. Wijaya Property butuh asisten seorang manager pemasaran." Lanjut Samuel lagi.


"Sekarang kita ke restoran, aku tidak ingin kamu kembali pingsan seperti tadi."


Samuel mengelus pipi Maya, sebelum ia kembali menghidupkan mesin mobil. Sedan mewah Sam kembali turun ke jalanan Jakarta petang itu. Melajukan kemudi dengan kecepatan sedang, menyusuri lalu lintas Jakarta yang tidak pernah lengang.


Samuel beberapa kali menoleh ke arah gadis di sampingnya dan tersenyum. Meraih tangan Maya lalu menggenggam erat.


Maya ikut tersenyum, tangannya membalas genggaman Sam.


"Aku akan sehat dan terus bersama kamu hingga kita menua nanti," ucap Maya lirih.


Samuel mengangguk dan mempererat genggaman tangannya.


to be continue....