
"Sam, pulang dari kantor mama mau ngomong penting."
"Ma__"
Anita buru-buru menutup panggilan telefon. Terlihat ekspresi wajah kesal Sam saat mamanya memutuskan panggilannya secara sepihak dan tidak memberi kesempatan Sam untuk bicara.
"Pasti gara-gara Martha yang ngadu sama mama." Desis Sam pelan, dia mengepalkan tangannya erat.
"Kenapa Sam?" Tanya Maya tiba-tiba dari arah belakang Sam.
Senyuman manis Sam perlahan dia pamerkan, cowo itu tidak ingin Maya khawatir dengan telfon Anita tadi.
"Gak apa-apa kok sayang, ntar malam kita ke rumah orangtua aku, aku jemput ya." Ucap Sam lagi, kali ini Maya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
***
Sam melajukan mobilnya dengan sedikit kecepatan tinggi, sore ini dia menuruti kembali titah Anita.
Sam menghentikan kendaraannya di depan mansion keluarga.
Sam sudah bisa menduga maksud Anita yang bilang ingin bicara empat mata dengan Sam.
Mungkin Martha sudah mengadu soal Maya ke mamanya, tentu saja pasti gadis itu sudah bilang ke Anita soal hubungan dia dengan Maya.
"Sam..."
Anita langsung menyapa anaknya begitu Sam memasuki ruang depan mansion besar itu.
Sam menghentikan langkah dan mendekati sang mama yang saat itu sedang duduk di ruang tengah yang seperti hendak mengintrogasi penjahat di kursi pesakitan.
"Duduk Sam." Titah Anita dengan ekspresi wajah datar.
Sam menurut, dia duduk dekat Anita. Sore itu hanya ada mereka berdua.
"Kamu pasti sudah tau kan mama mau ngomong apa?" Ucap Anita lagi dengan wajah datar.
"Soal Sam sama Maya?" Jawab Sam dengan sedikit penekanan, wajah cowo itu pun sama-sama terlihat datar tanpa senyum.
"Kamu kan tau mama sudah jodohin kamu sama Martha, kenapa kamu malah bermain api sama asisten kamu itu?"
"Sam cinta sama Maya dan Sam gak main-main sama dia." Ketus Sam.
"Bagaimana mama akan menjelaskan sama keluarga Martha? Ayolah Sam, cukup kamu main-main dengan hidup kamu. Tinggalkan gadis itu dan menikah sama Martha." Ucap Anita serius.
"Sam gak mau ma, mama gak pernah tanya kan apa Sam suka sama Martha atau gak? Ma... kalo Sam suka dan cinta sama Martha, dari dulu aja Sam deketin dia." Bantah Samuel ketus.
"Siapa Maya? Dia cuma asisten kamu Sam gak ada apa-apanya dibanding Martha dan keluarga kita."
"Mama... sejak kapan mama pentingin status sosial? Dulu mama gak seperti ini."
"Sam..."
"Ma.... Sam akan tetap sama Maya dan itu pilihan Sam. Ini hidup Sam ma." Potong Samuel.
Anita terdiam sebentar, dia sudah hafal sifat anaknya, Samuel sangat susah diatur jika masalah cinta.
"Ntar malam Sam akan kenalin mama sama Maya, dan Sam yakin mama akan suka sama Maya." Ucap Sam lagi, kali ini dengan nada sedikit lembut.
Sam meraih pundak mamanya, cowo itu memeluk pundak Anita erat.
"Sam mohon ma, kenali dulu Maya. Hanya dia yang bisa mengubah Sam." Lirih Sam lagi.
"Oke, bawa gadis itu ketemu sama mama malam ini tapi mama gak janji kalo mama akan dengan mudah suka sama dia." Jawab Anita kembali tanpa ekspresi.
"Makasih mom." Kecup Sam di pipi Anita.
Perlahan Sam meninggalkan Anita yang masih berdiri mematung.
"Kita lihat saja Samuel." Anita bermonolog pelan.
Sam kini keluar dari mansion keluarga dan kembali menaiki mobilnya dengan wajah berseri. Dia harus menyiapkan semuanya untuk Maya, Sam ingin Maya terlihat luar biasa dihadapan Anita.
Perlahan sedan hitam Sam melaju meninggalkan mansion keluarga Permana.
***
"Sam aku takut."
"Ada aku dear, kita hadapi berdua okey?"
Maya mengangguk pelan lalu tersenyum ke arah Sam, ah senyuman yang sangat menenangkan buat Sam.
Berkali-kali Maya memainkan jemarinya sendiri, mungkin berusaha menghilangkan rasa grogi nya? entahlah, yang pasti Sam akan selalu ada di dekat Maya dan tidak akan membiarkan gadis itu menanggung ketakutannya sendiri.
"Kita masuk?" Ajak Sam, Maya masih berusaha menatap manik mata Sam seolah berkata jika saat ini dia benar-benar ketakutan.
"Ada aku sayang, kamu gak usah khawatir." Ucap Samuel seakan tahu apa yang dirasakan Maya saat ini.
Kali ini Maya mengangguk mantap dan berjalan mengikuti langkah dan erat menggenggam gandengan tangan Sam.
"Mama aku kayak singa galaknya." Goda Sam sambil terkekeh.
Maya menghentikan langkahnya sebentar dan mendaratkan cubitan kecil di pinggang Sam hingga membuat cowo itu meringis kesakitan.
"Auw... sakit sayang..."
"Makanya jangan becanda gitu, tau sendiri aku sangat takut malah kamu becandain." Sungut Maya yang dibalas dengan kekehan Samuel.
" Iya maaf baby, yuk kamu udah siap?" Tanya Sam lagi dan kembali Maya mengangguk kecil serta menggenggam erat gandengan tangan Samuel.
***
Maya dan Sam melangkah memasuki mansion mewah tersebut, rumah yang sangat besar dan mewah, bahkan ini lebih besar dari mansion pribadi Sam.
Dada Maya semakin menderu kecang ketika Sam menggandeng tangannya memasuki pintu utama mansion.
"Selamat datang tuan muda dan nona Maya." Sapa seorang maid sambil menunduk hormat.
"Mama dimana bik?"
"Tuan dan nyonya sudah menunggu tuan muda di ruang tengah." Jawab maid itu lagi dan masih dengan kepala sedikit menunduk.
Sam kembali membawa Maya memasuki ruangan tengah dan benar saja disana sudah ada Anita dan Permana yang sedang duduk di sebuah sofa panjang. Permana terlihat menikmati secangkir teh hangat yang ditemani Anita istrinya.
"Ma, Pa..."
Sapa Sam, sekilas Anita dan Permana menoleh kearah Sam.
"Hai nak, sini duduk dekat papa dan mama." Ucap Permana hangat, tak ada kecanggungan dalam gaya bicara laki-laki itu.
Sam kembali menggandeng Maya mendekati kedua orangtuanya.
"Kenalin ini Maya, gadis yang Sam cerita in ke mama sama papa."
Lirih Samuel memperkenalkan Maya kepada mereka.
"Hei Maya, saya Permana ayah dari Sam. Dia banyak cerita lho tentang kamu." Ucap Permana sambil mengulurkan tangannya ke arah Maya, tentu saja gadis itu menyambut gembira uluran tangan Permana. Laki-laki itu terlihat sangat bersahabat dan sangat bisa berbaur dengan Maya.
"Ma, kenalin ini Maya." Kali ini Sam berusaha mengenalkan kekasihnya ke sang mama. Anita masih menatap Maya dari ujung kaki sampai ujung rambut, sungguh saat itu Maya merasa canggung sama wanita yang memiliki sepasang iris mata yang sangat tegas.
"Tante, saya Maya." Ucap Maya memperkenalkan diri.
Anita meraih uluran tangan Maya dengan bola mata sedikit sinis namun senyuman kecil masih dia perlihatkan di salah satu sudut bibirnya.
"Ya udah kalian duduk kita minum teh dulu." Kali ini Permana mencoba mencairkan suasana, lelaki itu memang lebih bersikap bijaksana mengenai apa yang menjadi pilihan anaknya.
"Maya, kamu mau minum teh atau yang lain?" Tawar Permana lagi.
"Teh saja om, makasih."
Jawab Maya lembut dengan senyuman kecilnya, sedikit kaku memang namun senyuman Maya sangat tulus tanpa dia buat-buat.
"Oh ya udah biar bibik yang buatin."
Tak lama, seorang maid datang mendekat sambil membawa baki kecil yang berisi dua cangkir keramik.
Secangkir teh hangat buat Maya dan secangkir latte hangat buat Sam.
"Silahkan tuan muda dan non Maya." Tawar sang bibik hormat, Maya tersenyum ramah ke bibik dengan sedikit anggukan kecil.
"Kamu kan yang pernah ketemu sama saya di kantor Sam? Yang suka dimarahin Sam dan selalu bisa aja menjawab omelan Sam?" Tanya Anita dengan sedikit ekspresi.
Maya mengangguk kecil dengan wajah setengah menunduk.
"Iya tante." Jawab Maya.
"Ma, itu kan dulu kenapa pake dibahas lagi!" Ucap Sam, dia kembali mengeratkan pegangan tangannya di punggung tangan Maya.
"Sam, mama gak suka aja kalo dia nanti jadi istri kamu suka bantah apa yang kamu perintahkan ke dia."
Anita sedikit ber ekspresi datar.
"Sayang, udahlah yang berlalu biar berlalu. Yang penting sekarang mereka saling mencintai kan." Kali ini Permana kembali mencoba menengahi.
Anita terdiam sesaat, dia tidak ingin membantah suaminya di depan anaknya dan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
"Maya silahkan diminum teh nya setelah itu kita makan malam." Ucap Permana lagi.
Sam sedikit tersenyum lega ketika melihat Anita tidak lagi berkomentar.
Sam juga lega dengan dukungan Permana sang ayah.
"Kita hadapi bersama dear." Bisik Sam ke telinga Maya lembut.
To be continue