
"Telfon dari tante Anita ya Sam?" tanya Maya dengan kening sedikit mengernyit. Sam mengangguk sebentar lalu kembali mendekati gadis itu.
"Iya mama yang nelfon, ada yang mau dia bicarakan katanya." Sam tersenyum sambil kembali mengusap puncak kepala Maya.
"Ya udah kamu temui aja tante Anita, kasian kan kalau beliau nunggu kamu Sam."
"Tapi aku masih kangen sama kamu sayang." Rajuk Sam kali ini.
"Iya tapi mama kamu kan lebih penting Samuel sayang.... udah sana temui dulu tante Anita." Bujuk Maya lagi, kali ini dia genggam erat punggung tangan Samuel.
"Kamu gak apa-apa aku tinggal?"
"Kan nanti kamu bisa kesini lagi, atau kalo gak besok kita juga ketemu kok di kantor." Jawab Maya dengan senyuman yang selalu mengembang sempurna.
"Oke aku tinggal sebentar, ntar malam aku mampir lagi."
Maya mengangguk dan kembali tersenyum kecil, Samuel mendekat ke arah Maya lalu dengan lembut mencium puncak kepala Maya. "Love you dear..." Bisik Sam.
Maya tiba-tiba mengelak sebentar ketika Sam hendak mencium bibir nya. "Sam... gak enak ntar dilihat mama." Bisik Maya dengan kedua pipinya yang merona.
"Sedikit aja sayang..." rajuk Sam lagi, kali ini Maya mengangguk malu-malu.
Dengan lembut Sam kembali menautkan bibirnya menguasai bibir Maya, gadis itu memejamkan sebentar kedua netranya dengan satu lengan yang dia lingkarkan ke leher Samuel.
"I will always loving you my sweet peach..." bisik Sam lembut, tanpa menjawab Maya hanya mengangguk pelan dan kembali mencium sudut bibir Samuel.
"Aku pergi dulu ya, kamu istirahat." Pamit Samuel sebelum cowo itu melangkah meninggalkan kamar Maya.
Kedua netra Maya masih memandangi kepergian Sam, dia masih bisa mendengar cowo itu berpamitan pada Siska mamanya.
Hingga akhirnya suara deru sedan hitam Samuel terdengar menjauh dari halaman depan rumah sederhana tersebut.
Kembali Maya menghela nafas panjang. Sebenarnya dia masih merindukan Samuel dan ingin sekali cowo itu selalu ada di dekat nya.
'Padahal dulu dia orang yang paling menyebalkan.'
Pikir Maya geli.
¤¤¤¤
"Samuel... kita harus bicara!" tegas Anita saat mengetahui kedatangan Sam.
"Soal apa Ma?"
"Kamu dari mana aja seharian?" Tanya Anita dengan raut wajah serius nya.
"Maya sakit jadi Sam nemeni dia."
"Dan mengabaikan pekerjaan kamu?"
"Ma, ini perusahaan pribadi Sam bukan perusahaan keluarga jadi Sam berhak ngatur sendiri urusan apa yang Sam rasa lebih penting."
Jawab Samuel tegas, sejenak mereka saling terdiam.
"Maaf Ma bukan maksud Samuel bicara kasar ke mama. Oh ya tadi mama pengen bicara soal apa?" Ucap Sam kembali, kali ini dengan nada bicara sedikit lembut.
Anita membuang nafas sebentar sebelum meneruskan kalimatnya.
"Pertunangan kamu sama Martha mama percepat, minggu depan kalian akan bertunangan dan mama udah atur semuanya." Ucap Anita tanpa ekspresi.
"Tinggalin asisten kamu Sam dia gak pantas buat keluarga kita!" Titah Anita, kali ini Sam terlihat sangat geram.
"Sam gak mau dijodohin sama Martha!!"
"Tapi Sam...."
"Kalo mama masih aja maksain kehendak mama. Sam gak akan pernah menginjak kan kaki di rumah ini lagi!" Ketus Samuel.
Cowo itu dengan cepat pergi meninggalkan Anita yang masih terdiam. Sorot mata wanita itu kini membola tajam, kedua tangannya dia kepalkan erat.
Percuma Anita menahan kepergian Samuel, anak itu sungguh susah dipaksa jika sudah mempunyai kemauan.
"Nyonya... ada telefon dari non Martha."
Anita kembali membuang nafas panjang, dia raih gagang telefon dari tangan sang maid dengan hati sedikit kesal.
"Hallo ... iya Tha ada apa?___ Apa...?!___ kamu gak becanda kan??"
Wajah Anita menampakkan ekspresi terkejut sebelum akhirnya dia memutuskan sambungan seluler dan mendadak menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa.
Anita tidak habis fikir, Martha memang menantu idaman Anita namun fakta yang baru saja di katakan oleh Martha lewat telfon sungguh membuat syok wanita anggun itu. Benarkah Sam melakukannya? jika dia tidak mencintai Martha kenapa Sam melakukan perbuatan hingga sejauh itu?
Bukankah hal itu lebih baik untuk rencana nya menjodohkan Sam dan Martha? Pikir Anita lagi.
Dengan cepat Anita mencoba menghubungi Permana suaminya.
****
Rumah Maya
Klik
Sam mematikan sambungan ponsel, dia keluar dari mobil sport nya dengan sebuah benda besar dan lembut yang ada di salah satu tangannya, sedang tangan yang lainnya terlihat menenteng beberapa paperbag bertuliskan nama toko makanan ternama di sekitaran daerah Jakarta Pusat.
Kembali Sam berjalan hingga ujung gerbang berwana abu.
"Malam tante..."
Senyuman Sam kembali dia tarik penuh ketika sang pemilik rumah membukakan pintu utama.
"Nak Sam, mari masuk."
"Maya udah baikan tant?" tanya Sam menyelidik.
"Iya udah mendingan kok, tu sekarang dia lagi tiduran di kamarnya."
"Boleh saya masuk tant?" tanya Sam dengan sebuah senyuman kecil.
"Janji deh nanti pintu kamarnya Sam buka lebar-lebar." ucap Sam lagi.
"Iya udah, awas kalian jangan macem-macem ya."
Sam tertawa kecil sambil mengangguk. "Oh ya ini buat tante." ucap Sam sambil mengulurkan beberapa paperbag ke arah Siska.
"Udah kamu bawa aja ke kamar Maya kalian makan aja berdua, tante masih kenyang." Siska tersenyum kecil yang dibalas anggukan kepala Sam.
Cowo itu langsung melangkah menuju kamar Maya yang terletak di tengah ruangan.
Perlahan Sam membuka knop pintu kamar Maya dan menjulurkan sebagian kepalanya ke arah dalam kamar.
Maya terlihat sibuk menonton salah satu drama Korea favorit nya, sehingga gadis itu tidak menyadari kehadiran Sam.
"Hello honey..."
Ucap Sam sambil mencium pipi Maya, gadis itu spontan terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba saja mendarat di pipi chubby nya.
"Sam... kapan kamu datang?" pekik Maya begitu melihat sosok Samuel sudah berada tepat di hadapan nya.
"Dari tadi, kamu nya aja yang gak nyadar." Sungut Sam.
Maya tersenyum kecil berusaha menghapus muka bete Sam. "Sorry...." ringis Maya.
"It's Ok baby.... aku hanya becanda tadi." gumam Sam dengan sebuah senyuman kecil, kembali cowo itu mengelus puncak kepala Maya.
"Nih buat kamu." Sam mengulurkan sebuah boneka beruang besar, mungkin ukurannya menyamai tinggi badan Maya. Sebuah boneka yang sangat lembut saat Maya menyentuhnya.
"Sam... gak perlu repot-repot kayak gini."
"Ini buat kamu peluk jika kamu kangen aku kalo malam. Dan aku gak repot sama sekali." Balas Sam dengan senyuman nakal.
"Aku kemarin liat boneka kelinci kamu udah buluk banget." Lanjut Sam.
Maya membulatkan kedua matanya, dengan cepat dia daratkan cubitan kecil di lengan Sam.
"Ouch sakit baby..." ringis Sam.
"Enak aja ngatain boneka aku buluk." Sungut Maya kesal, Sam terkekeh geli. Gadis itu memang selalu bisa membuat Sam bahagia.
Kadang Maya bisa menjadi gadis manis yang penurut, namun tak jarang dia juga bisa menjadi cewe galak yang bisa meluluh lantakkan semuanya.
"Kamu juga bawa martabak Sam?" Pekik Maya dengan kedua netra yang berbinar. Sam mengangguk dan tertawa geli melihat ekspresi Maya.
"Dari mana kamu tau makanan favorit aku?" Tanya Maya, dengan antusias gadis itu langsung mencomot satu iris martabak manis kesukaan nya.
"Aku selalu tau apa yang jadi kesukaan kamu dear." Bisik Sam lembut, senyuman cowo itu tak pernah pudar melihat Maya yang seperti anak kecil saat menikmati martabak coklat di tangannya.
Sam tiba-tiba mendekat ke arah Maya, kembali hembusan hangat nafas Sam bisa Maya rasakan. Membuat geli sekaligus sangat menyenangkan.
"Sam... kamu mau ngapain? jangan aneh-aneh ntar diliat mama." Kelit Maya yang mencoba menghindar dari gerakan Samuel.
Masih dia dekatkan kepala Sam ke arah bibir Maya.
"Sam...." Cicit Maya lagi.
"Aku cuma mau hapus coklat di bibir kamu sayang." Gumam Sam sambil mengusap sudut bibir Maya dengan sebuah tisu. Kembali Sam terkekeh geli melihat ekspresi Maya.
"Lagian hari ini kamu memang mirip kayak bayi kecil ku dear." Goda Sam lagi sambil tertawa lebar. Maya hanya memajukan bibirnya beberapa centi melihat kelakuan kekasihnya.
"Dasar bos rese....!!" Seru Maya kesal, bibirnya dia kerucutkan lucu.
Dan Samuel kembali tertawa melihat ekspresi wajah Maya.
'I love you dear...' bisik Sam dalam hati.
To be continue....