MySam

MySam
Melepaskan dan Pertikaian



Setelah kejadian penghakiman oleh Sam dan juga Anita, Martha memutuskan untuk tinggal di mansion milik Harris. Merasa tidak ada hak dan muka untuk tetap tinggal di mansion Sam, lagipula kehadirannya dari dulu tidak pernah diinginkan oleh pria itu.


Kepala Martha masih berkerja keras memikirkan apa yang akan ia ceritakan nanti ke orangtuanya. Membayangkan kemarahan ibu serta ayahnya membuat gadis itu gugup. Untung selalu ada Harris, laki-laki yang selalu ada untuknya di saat-saat seperti ini.


Terlepas dari Harris lah ayah biologis anak yang ada dalam kandungan Martha, laki-laki itu dengan sabar selalu berada di sisi Martha walau hanya sekedar memberikan usapan lembut di permukaan perut Martha yang semakin terlihat membuncit.


Mencium penuh sayang di kening dan pipi gadis itu, hingga memijit kaki Martha ketika ia merasa kram dan kesakitan yang teramat sangat.


"Kamu menginginkan apa lagi sayang?" tanya Harris lembut, sembari memijit betis gadis itu. "Gak om, udah cukup," mencoba menggeser punggungnya dari sandaran sofa empuk, Martha kini mengubah posisinya lebih dekat dengan tubuh Harris.


Menenggelamkan kepalanya di pundak laki-laki itu, sambil melingkarkan kedua lengannya ke tubuh kekar Harris.


Harris mendaratkan ciuman kecil di kening Martha lalu mengusap puncak kepala gadis itu.


"Apa yang kamu pikirkan Tha? Samuel?" tanya Harris, tanpa ada nada menyalahkan hanya saja sedikit kecemburuan terlihat dari sorot matanya.


Martha menggeleng pelan, masih menenggelamkan kepalanya di pundak kekar Harris, bermain dengan jemari tangan Harris dan sesekali mendekatkan jemari itu dengan ujung bibir merah miliknya. "Aku bingung dengan apa yang akan aku katakan sama papa juga mama nanti," cicit Martha pelan, nyaris tak terdengar.


"Tentang kita?"


Martha mengangguk lemah menjawab pertanyaan Harris, semakin mendekap erat tubuh Harris. "Kamu gak sendiri sayang, aku yang nanti bilang ke Baskoro." Berusaha menenangkan gadisnya, kini dengan tubuh atletisnya kembali mendekap pundak Martha, sembari tangannya masih mengelus lembut perut gadis itu. Seakan mencoba berinteraksi dengan bayi yang ada dalam kandungan Martha.


"Jika nanti Baskoro tidak setuju hubungan kita, kamu gak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaga kamu dan bayi kita," bisik Harris lembut.


Martha bisa mendengar Harris menekankan semua kalimat Harris, bukan hanya sebuah omong kosong atau kata-kata penghiburan untuknya. Tapi laki-laki itu memang bersungguh-sungguh mencintai Martha dan anak dalam kandungan gadis itu.


"Om Harris gak akan ninggalin aku kan?" rajuk Martha.


Tertawa kecil mendengar pertanyaan Martha lalu kembali mendaratkan ciuman di pelipis Martha. "Kalau aku mau, dari dulu aku ninggalin kamu sayang. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu, aku ingin hidup bersama kamu dan anak kita." bisik Harris lembut.


Sedikit bisa menenangkan hati Martha. Martha kini mencoba menyematkan Harris seorang ke dalam hatinya dan sedikit demi sedikit merelakan Samuel beserta semua obsesi cinta pertamanya.


Melepaskan segala kegilaan karena cinta sepihak, sangat perih dan sangat menyayat hatinya.


"Kamu baik-baik di dalam perut momy ya sayang...." bisik Harris di perut Martha, mendekatkan bibirnya dan mencium perut buncit gadis itu.


Martha merasakan kehangatan tangan Harris yang menggenggamnya lembut, semua perlakuan Harris membuat Martha merasa lebih baik.


Gadis itu tersenyum, mengelus kepala Harris yang kini bersandar di perutnya. "Udah dong om, nanti dedek baby nya gak bisa gerak." rajuk Martha manja. Bangkit dari posisinya, Harris perlahan berdiri dan melangkah menuju pantry. "Aku buatin susu hangat ya Tha," tawar Harris, Martha mengangguk cepat, tersenyum dan kembali meraih ponsel dari atas nakas. Mencari kontak Baskoro, ayahnya.


Mengurungkan niatnya berkali-kali untuk menghubungi nomor itu, hembusan napas berat kini menyeruak keluar dari hidung dan mulut Martha.


"Udahlah sayang, aku gak mau kamu dan anak aku stres hanya masalah kecil ini." Masih berusaha menghibur gadisnya, Harris menjulurkan segelas susu ke arah Martha, "Minum dulu, udah itu kamu istirahat, okey...." kecup Harris mesra.


Hanya mengangguk pelan lalu dengan cepat ia sesap gelas susu yang ada di genggamannya, meneguk perlahan setelahnya kembali melangkah ke lantai atas dengan Harris yang selalu menjaga gadis itu.


Kantor Elano


"Kenapa baru kembali May? udah aku bilang kita ada meeting penting!" ketus El, begitu melihat kedatangan Maya dan juga Samuel yang berada tepat di samping gadis itu. Ekspresi penuh penyesalan tercipta di wajah Maya, "Maaf El, aku tadi e..." Secara reflek El menarik lengan Maya menjauh dari Samuel.


Bola mata Sam membola dengan apa yang barusan dilakukan oleh El, berganti Sam yang kini menarik pinggang Maya lebih erat ke arahnya, mempertahankan teritori atau apapun sebutannya. Sam tidak suka ada pria lain yang menatap ataupun menyentuh Maya seperti yang dilakukan El. Wajahnya seketika menjadi kaku dan dingin menatap sang lawan.


"Lo jangan salahkan Maya, gue yang ngajak dia tadi." desis Sam ke arah El.


"Gue gak heran, lebih baik jika lo banyak bekerja daripada keluar kantor gak jelas seperti itu,"


"Oh dan lagi, lo gak mau kan ada gosip tidak enak yang bisa berimbas pada Maya? apa lo mau kalo Maya nantinya di cap penggoda suami orang?!" Suara El tetap santai tapi efek kata-katanya membuat Sam melempar tatapan khawatir pada Maya, ia tidak ingin gadis itu termakan oleh ucapan El.


"Itu bukan urusanmu!"


"Tentu saja itu urusanku bila berhubungan dengan Maya." El menoleh ke arah Maya yang menatap ketakutan ke arah dua pria yang saling memancarkan aura permusuhan.


Elano tersenyum hangat, berusaha mencairkan suasana. "Maya, kamu kembali kerja. Tunggu aku di ruangan ku." titah Elano.


"Untuk apa dia harus ke ruangan lo hah?" ucap Sam makin tajam. Alisnya berkerut dan tangannya terkepal.


El maju selangkah dan masuk ke teritori Sam, menantang lawan bicaranya. "Itu hak gue untuk memerintah, disini gue bos nya!"


"Oh ya? jangan lupakan gue juga bos disini!" Sam menatap tajam Elano, melepaskan tangannya dari pinggang Maya dan siap melayangkan tinju.


Maya terjebak diantara Sam dan Elano, merasa tidak nyaman melihat aura permusuhan kedua pria itu karena dirinya. Ia sungguh tak ingin ada keributan apapun. Dengan takut-takut Maya memegang bahu Samuel, berusaha menenangkan pria itu. Namun Samuel justru menepis tangan Maya lalu membuatnya menyingkir hingga tersisa dia dan Elano yang saling berhadapan.


Mata kedua pria tampan itu mengkilat menantang, amarah yang bergelora seakan membakar tempat yang mereka pijak. Sam melayangkan tinjunya.


Telapak tangan Sam yang terkepal hanya berjarak beberapa inci dari wajah El ketika teriakan Maya membuat Sam menghentikan aksi brutalnya. "Sam, hentikan! kalian stop bertingkah seperti anak kecil!"


Sam menurunkan tinjunya, meski masih menyimpan kekesalan. Ia tadi benar-benar lepas kendali, jika Maya tidak menghentikan layangan bogem mentahnya ke arah El.


"El, aku minta maaf dan aku janji gak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku yang salah bukan Sam," lirih Maya yang mendekat ke arah Elano.


"Dan kamu Sam, aku kecewa sama kamu. Lagi-lagi kamu gak bisa mengontrol emosi kamu, pulang lah Sam bukankah kamu masih ada kerjaan juga di kantor Advertising kamu?," lanjut Maya lagi, memandang sayu ke arah Samuel.


Samuel membalas tatapan Maya, terlihat sedikit khawatir akan sikap Maya nantinya. "I'm sorry dear," bisik Sam lembut. Berusaha mendekat kembali ke arah Maya, mencium keningnya pelan. Maya hanya mematung, tidak menghindar ataupun menolak kecupan Sam.


Menyisakan Elano yang memandang nanar keduanya, ia merasa telah kalah dari Sam.


to be continue....