
Freya berjalan cepat, mencoba mengikuti jejak langkah Samuel yang kini semakin menjauh dari lorong-lorong kantor.
Gadis itu tidak ingin menyiakan kesempatan pertemuannya kembali dengan Samuel.
Hingga ia sampai di depan pintu lift, masih ada kesempatan untuknya sebelum pintu lift itu menutup. Dengan sedikit berlari, Freya menghentikan pintu lift dengan Samuel di dalamnya, hanya ada Sam di sana.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Sam, begitu ia melihat Freya yang kini sudah berada di dalam lift dan berdiri tepat di hadapannya, dengan napas yang sedikit tersenggal.
Pintu lift menutup, hanya menyisakan mereka berdua di dalam. Kembali jantung Freya berdegup kencang, seolah bongkahan jantung itu ingin copot, keluar dari persemayamannya.
"Sam, aku senang kita bertemu kembali," lirih Freya. Gadis itu masih mematung, mereka berdiri saling berhadapan. Entah apa yang kini ada dalam pikiran Samuel, ia merasakan jantungnya berdetak tak menentu.
Sam ingin mengucapkan sesuatu yang akan menyakitkan hati Freya, namun entah mengapa kini lidahnya serasa kelu. Pria itu hanya menatap lurus wajah Freya.
Semuanya masih sama seperti dulu, bahkan kali ini gadis itu nampak semakin cantik.
Surai panjangnya masih sangat indah seperti dulu, surai kemerahan yang selalu berkilau jika ditempa sinar mentari. Netra bulat berwarna coklat itu tetap nampak jernih, seolah ada ribuan gemintang terpancar di sana.
Tak dipungkiri, ingin Sam meraih tubuh indah itu dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Membenamkan kepalanya dalam gerai surai merah itu.
"Maafkan aku Sam, maafkan kesalahan aku di masa lalu," lirih Freya. Perlahan gadis itu mendekat, memangkas jarak antara mereka.
Tiba-tiba Freya merengkuh tubuh kekar Samuel, melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh pria itu.
Anehnya Samuel hanya mematung di sana, tidak membalas pelukan itu dan juga tidak menolaknya. Ia masih bisa merasakan aroma wangi segar kiwi yang keluar dari geraian surai ikal kemerahan Freya. Aroma yang dulu selalu memabukan bagi Samuel.
Ting...
Pintu lift berdenting, menandakan mereka telah sampai pada lantai yang mereka tuju. Freya merenggangkan sedikit pelukannya, iris mereka masih sama-sama saling menatap. Ada kerinduan di sana.
"Maaf, aku harus pergi," lirih Samuel pelan, namun sangat jelas.
Pria itu berlalu dengan cepat dari hadapan Freya, mencoba menahan perasaannya kini. Ia tidak ingin bertindak bodoh, kali ini bayangan Maya tiba-tiba saja menyadarkan Samuel.
"Sam.....!"
Freya masih saja mengikuti langkah kaki Samuel, berjalan cepat di samping pria itu.
"Apa mau kamu Fe?" Sam sedikit mendengus kesal.
"Aku minta maaf Sam, please forgive me."
Kembali kedua netra coklat mereka saling beradu pandang.
"Okay, you get my forgiveness."
"Now, please go of my life."
Samuel kembali berjalan meninggalkan Freya, gadis itu hanya mematung. Melihat nanar kepergian Samuel, menyisakan kerinduan di hatinya.
___
Berkali-kali Sam menghembuskan napas kasar. Memukulkan kepalan tangannya di atas kemudi. Siluet bayangan Freya dan dirinya di masa lalu kini kembali hadir tanpa ia pinta.
Dulu Samuel pernah sangat mencintai gadis itu, bukan waktu yang singkat. Lima tahun mereka berhubungan bahkan sempat juga mereka bertunangan. Hingga kejadian itu menyisakan luka dalam diri Samuel.
Pria itu menenggelamkan kepalanya pada kemudi sedannya, mencoba mengusir jauh bayangan Freya.
"Sam...!!"
Sam mendongak, sosok Freya saat ini berdiri di samping pintu kemudi.
"Apa mau kamu Fe?" lirih Samuel, ia membuka kaca jendela pintu. Memandang sayu ke arah gadis itu.
"Aku pengen bicara sama kamu Sam, please..." Freya berbicara dengan ekspresi yang sangat sulit untuk Samuel tolak.
Sam berfikir sejenak sebelum akhirnya ia menyuruh Freya untuk memasuki pintu depan sedan mengkilatnya.
"Sekarang, kamu mau ngomong apa?" tanya Sam, entah kenapa hati Sam sedikit luluh menghadapi gadis itu.
"Gak di sini Sam, kita ke mansion kamu? Aku kangen berada di mansion kamu." Lirih Freya.
Samuel terdiam sebentar, hari ini Sam berjanji bertemu Maya, namun sekarang....
"Sam, gimana? Oh kalau kamu gak bisa... aku bisa ngerti kok." Raut wajah Freya kini berubah, sedikit kecewa dan itu terlihat jelas di iris coklatnya.
Samuel mulai melajukan mobilnya menuju arah yang berlawanan dengan kantor Wijaya Property. Terlihat Sam menuliskan sebuah pesan singkat di ponsel pintarnya.
Senyuman kecil kini terkembang tipis di kedua sudut bibir merah Freya.
___
Maya menatap layar ponselnya yang masih juga gelap. Tidak ada tanda-tanda Sam mencoba menghubunginya. Baru kali ini Maya merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Kepala Maya dipenuhi pikiran buruk. Apa ia melakukan sesuatu yang menyinggung Samuel? hingga pria itu kini mengabaikannya? Atau apa karena ketidaksadaran dirinya kemarin? Dan Sam berfikir jika dirinya hanya seorang gadis berfisik lemah?
Maya menyadari, mungkin ia selalu menjadi beban buat Sam.
Suara denting menyentak gadis itu. Dengan tergesa disambarnya ponsel yang cukup canggih itu mendekat.
Dahi Maya mengerut, hanya pesan singkat Samuel yang mampir ke ponselnya. Mengatakan jika pria itu membatalkan pertemuan mereka pagi ini. Padahal biasanya Sam selalu menelepon dan memperdengarkan suara baritonnya yang selalu memukau walau dari seberang saluran telepon.
Pikiran Maya kini benar-benar mengudara ke berbagai arah, traveling hingga memikirkan sesuatu yang terburuk sekalipun. Maya memikirkan apa yang terjadi pada Samuel hingga ia terkesan berbeda. Kurang dari 24 jam mereka tidak bertemu, tapi Maya sudah merasakan keganjilan.
Apa ini yang disebut dengan intuisi wanita? Mereka bilang, firasat wanita tidak pernah salah.
Apa Sam hanya berbohong terhadapnya? Apa semua ini hanya kebohongan Sam?
Tidak, Sam tidak berbohong!Setidaknya itu yang hati kecil Maya katakan.
Setelah apa yang mereka lalui dan apa yang mereka rasakan tidak mungkin itu hanyalah kebohongan belaka. Atau.... jangan-jangan Sam kini merasa ragu dengan rencana pernikahan mereka?
Aarrghhh...!! Maya menjerit perlahan. Menghempaskan tubuh di atas kasur minimalisnya. Tarikan napas panjang yang terdengar adalah tanda ia butuh menenangkan diri.
Dulu bersama El, ia tidak pernah seperti ini. Dulu hubungan Maya dan Elano hampir tidak pernah ada masalah, datar dan berjalan sesuai aturan.
Tidak ada rasa cemburu, khawatir dan takut kehilangan seperti saat ini.
Pupil hitam kelam itu menghilang ketika Maya memejamkan mata. Ia berharap pikiran buruk di kepalanya hanyalah ilusi belaka. Sedikit banyak Maya berharap, Sam tidak pernah berubah dan tidak meninggalkannya tiba-tiba.
___
Sam tiba tepat pukul tujuh pagi. Gerakannya begitu elegan ketika mengangsurkan tangannya ke arah Maya yang baru saja keluar dari pintu rumahnya.
Meskipun begitu, Maya tidak melihat binar hangat dari sorot mata coklat itu. Entah kenapa pagi ini Maya merasakan sesuatu yang tidak biasa. Sosok di hadapannya terlihat begitu dingin.
Meski tubuhnya berada di sisi, membukakan pintu mobil dan menyetir di sebelahnya, Maya merasa seperti seorang diri.
Bahkan ciuman kecil di puncak kepala yang biasa Samuel berikan, pagi ini entah menghilang kemana.
Samuel menutup mulutnya rapat-rapat. Tak sepatah kata pun terucap sepanjang perjalanan. Bahkan obrolan basa-basi kecil, seperti menanyakan apa ia sudah sarapan atau belum dan bagaimana kabarmu pun Sam tidak mau.
Beberapa kali Maya membuka obrolan hanya ditanggapi dengan gumaman tidak jelas.
Maya berjuang keras memaklumi tindakan Samuel, mungkin CEO itu merasa lelah dengan pekerjaan di kantor advertising atau Sam merasa lelah harus membagi waktu di dua perusahaan sekaligus. Ditambah mungkin persiapan pernikahan mereka menambah beban Samuel sehingga merubah mood pria itu di pagi ini.
Namun, tak menampik pikiran buruk kembali berkelebat.
"Sam, apa ada yang salah sama aku? Aku minta maaf jika aku salah." Maya bertanya ragu-ragu ketika mereka sampai di parkiran VIP Wijaya Property.
Sepintas Maya bisa melihat Sam terkejut lalu ekspresi itu kembali tenang seperti biasa.
"Nothing, ayo kita turun."
"Hari ini kamu ngantor di sini?" tanya Maya dengan kening sedikit berkerut.
"Iya, ada beberapa hal yang harus aku lakukan." Samuel menjawab tanpa melihat Maya.
Maya pun hanya bisa membuang napas berat ketika Samuel dirasa semakin dingin. Gadis itu menatap lekat paras Samuel kala Sam membukakan pintu untuknya.
Maya akui tak ada yang lebih mengganggu daripada berjalan beriringan dengan seseorang, sementara kehadirannya hanya terasa seperti robot tanpa jiwa.
"Aku duluan Sam." ucap Maya sedikit ketus dan tanpa melihat ke arah tunangannya. Maya berjalan mendahului Samuel, mengetukkan heelsnya kali ini. Entah apa yang ada dalam hatinya, ia mencoba menahan cairan hangat keluar dari kedua sudut mata hitam itu.
Sementara Samuel memandang Maya penuh penyesalan dan merutuki sikap bodohnya pagi ini.
to be continue....