MySam

MySam
Maafkan Aku May...



Maya bersiap diri untuk kembali bekerja di kantor milik Sam, setelah selama dua hari kemarin ia harus absen karena kurang enak badan.


Maya kembali memulas bibir tipis nya dengan liquid lipstick berwarna peach, warna kesukaan Samuel.


Senyuman manis sekilas terkembang di sudut bibir gadis itu, Maya sangat tidak sabar untuk bertemu Samuel, sang bos yang dulu menurutnya sangat menyebalkan.


Namun kini bos tersebut telah menjelma menjadi sosok yang sangat Maya rindukan setiap detik nya.


"Mama... May berangkat dulu ya...!!" teriak Maya, sambil mencomot selembar roti lapis. Ia kembali buru-buru mengenakan flat shoes berwana coklat susu dan sungguh warna itu sangat cocok bertahta di kaki putih Maya.


"Hati-hati sayang, jangan ngebut bawa motornya." jawab sang mama yang pagi itu masih terlihat sibuk dengan adonan kue pesanan para pelanggan nya.


"Iya ma...." teriak Maya, gadis itu lalu melajukan motor matic satu-satunya kepunyaan Maya, motor peninggalan almarhum sang ayah.


Beberapa detik kemudian terlihat bayangan gadis itu mulai menjauh di balik tikungan komplek perumahan sederhana itu.


****


Kantor Samuel


"Pagi May..." sapa Airin yang lalu diikuti dengan saling cipika cipiki antara kedua gadis tersebut.


"Lo udah sehat? kenapa cepet banget masuk kerjanya? kalo gue jadi lo nih... sekalian aja istirahat di rumah selama satu minggu full." Celoteh Airin lagi disela-sela langkah kaki mereka saat memasuki lobi kantor.


"Enak aja emang ini kantor nenek lo? main absen selama seminggu." Kali ini Maya sedikit mencebikkan bibirnya.


"Lha kan lo cewe nya bos, no problem dong..."


Kembali Airin berceletuk asal saat bicara soal hubungan Maya dengan Sam. Maya membolakan kedua matanya ke arah sahabatnya itu. "Rin... pelan dong kalo ngomong soal gue dan Sam."


Setengah berbisik Maya mengingatkan Airin soal hubungan dia dengan si bos.


"Ups... iya sorry lupa, heee..."


Kali ini Maya mendengus kecil melihat sahabatnya yang hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya sendiri.


****


Jam tangan Maya masih menunjukkan pukul tujuh pagi, masih ada waktu untuk sekedar membuatkan kopi atau latte buat Sam, pikir Maya.


Gadis itu membuka knop pintu ruang kerja dia dan Sam, Maya meletakkan tas kerja nya sebentar. Tentu saja Samuel jam segini belum datang ke kantor.


Sekilas senyuman Maya tertarik penuh saat melihat foto Sam yang terletak di atas meja kerja cowo itu. Maya meraih bingkai foto tadi dan melihat nya lekat.


"Aku cinta kamu bos galak..." gumam Maya pelan dengan jemari mengelus bingkai foto Samuel.


Tak selang waktu lama, dia letakkan kembali foto itu lalu dengan cepat Maya berjalan menuju pantry kantor. Tujuan awal gadis itu, membuatkan secangkir latte hangat untuk Sam.


***


Sam membuka pintu ruangannya, saat itu dia melihat Maya dengan posisi membelakangi Sam.


Sam melangkah pelan mendekati asisten kesayangan CEO tersebut, Sam melihat gadis itu yang dengan hati-hati sedang meletakkan secangkir latte untuk Sam di meja kerjanya.


'Pantas aja dia gak sadar kehadiran ku.' batin Sam dengan sedikit senyuman kecil.


Dengan tiba-tiba Sam memeluk tubuh Maya dari belakang, sangat erat sehingga gadis itu sedikit terkejut oleh pelukan Sam.


"Sam... kamu udah dari tadi datang nya?"


Kali ini Maya membalikkan badan dan masih dalam pelukan Samuel.


Sam tetap mengeratkan pelukan nya tanpa menjawab pertanyaan dari Maya, seolah cowo itu enggan pergi dari sana.


"Sam... udah dong gak enak kalo ntar ada yang liat."


"Aku masih ingin peluk kamu sayang... jadi pliss jangan suruh aku untuk melepas kamu." lirih Sam, dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Maya.


"Kamu kenapa Sam? gak biasanya kamu seperti ini."


Entah apa yang ada dalam pikiran Maya saat itu, dia merasa sedikit aneh dengan semua tingkah Sam hari ini. Ah... entahlah.


"Aku cinta kamu sayang, aku harap kamu tau itu." lirih Sam lagi, Maya mengangguk dan mencoba merenggangkan pelukan Sam sejenak. Sesaat rasanya Maya sangat susah untuk bernafas karena pelukan Samuel.


"Aku juga cinta kamu Sam." lirih Maya, kini Sam mendekatkan bibir tebalnya tepat di ujung bibir Maya.


Dalam hitungan detik Sam langsung mencium lembut bibir peach Maya dan yah... ciuman Sam selalu dibalas oleh Maya lembut.


Maya melingkarkan kedua lengannya ke leher Samuel, mencoba lebih mengeratkan pelukan cowo itu.


"Sam... kamu baik-baik aja kan?" Tanya Maya pelan, kini gadis itu merenggangkan sedikit pelukan Samuel.


Kening dan ujung hidung mereka masih saling menempel, sungguh baik Sam ataupun Maya rasanya enggan untuk melepas tubuh mereka masing-masing.


Sam menatap lekat kedua iris hitam Maya, tatapan yang lain kali ini. Ada cinta yang sangat besar disana dan juga ada rasa takut kehilangan.


"Sam... aku juga mencintai kamu." balas Maya, kali ini Maya mendaratkan beberapa ciuman di pipi dan ujung bibir Sam.


Lagi-lagi Sam kembali mendekap erat tubuh gadis itu.


***


Sam kembali memikirkan tentang kehamilan Martha sehingga cowo itu tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya, Sam terlihat membuang nafas kasar beberapa kali.


"Sam... kamu ada masalah?" tanya Maya menyelidik, gadis itu mungkin melihat ada yang aneh dari sikap Samuel yang terlihat gelisah hari itu.


"Gak ada kok sayang." kelit Samuel dengan memamerkan senyuman kecil nya. "Kalo kamu ada masalah, kamu bisa kok cerita ke aku. " lanjut Maya dan lagi-lagi Samuel hanya menggeleng sebentar sebelum akhirnya dia mendekati meja Maya lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Pulang kerja kita makan bareng yuk, aku kangen sama kamu."


"Tapi gimana sama motor aku?"


Sam membelai lembut puncak kepala Maya. "Motor kamu tinggal disini aja." jawab Sam dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Besok kalo kerja aku jemput, kamu gak usah khawatir." lanjut Sam seakan tahu apa yang ada di pikiran Maya.


Maya mengangguk setuju akan usul Sam, sebuah ciuman kecil Sam daratkan di kening Maya.


"Love you my sweet peach..." bisik Sam.


Maya tersenyum bahagia, rasanya setiap berada di dekat cowo itu seolah selalu ada ribuan kupu-kupu menyeruak terbang dari dada Maya.


Gadis itu sangat mencintai Samuel.


***


Flash back


"Sam... tolong lah demi nama baik kedua keluarga, kamu mau ya menikahi Martha? mama kasian sama dia sayang."


Bujuk Anita kembali, Sam masih terdiam. Kedua bola matanya masih menyorotkan tatapan tajam. Sam mengepalkan tangan erat, sungguh kali ini dia tidak punya pilihan lagi.


"Samuel.... mama mohon, kali ini aja kamu nurut perintah mama ya sayang, semua ini demi kamu kok." lanjut Anita.


"Semua bukan demi Sam, ini demi nama baik mama sama papa dan ini semua demi ambisi mama untuk mendapat menantu yang sama derajat nya?!" ucap Sam ketus.


"Samuel....!!! jaga ucapan kamu, kamu tidak pantas bicara seperti itu sama mama kamu!!"


Kali ini Permana angkat bicara, laki-laki itu merasa ucapan anaknya sudah sangat keterlaluan.


"Ini semua salah kamu Sam, semua karena kebiasaan mabuk kamu dan kali ini kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan." lanjut Permana lagi.


"Sam gak merasa melakukan hal itu sama Martha."


"Lalu siapa Sam? gak mungkin kan Martha berbohong soal kehamilan dia?"


"Ma...."


"Sam.... pokok nya kamu dan Martha harus segera menikah sebelum perut Martha semakin membuncit, titik!!!" sergah Anita memotong pembicaraan Samuel.


Kembali Samuel membuang nafas, sejenak dia terdiam.


"Oke, Sam akan menikahi Martha tapi dengan satu syarat."


Anita tersenyum sekilas begitu mendengar ucapan anaknya, namun... syarat?


Syarat apa lagi kali ini? pikir Anita.


"Sam akan menikahi Martha sampai anak itu lahir, setelah anak itu lahir Sam akan menceraikan Martha. Satu lagi Sam gak akan pernah menganggap Martha sebagai istri Sam."


"Maksud kamu Sam?" tanya Anita sedikit mengernyit.


"Selama menikah, Sam dan Martha tidur di kamar terpisah... dan sebelum pernikahan ini, mama jangan ganggu hubungan Sam dengan Maya."


"Sam..."


"Ma... aku juga punya hak untuk bahagia ma, dan Sam ingin bahagia bersama Maya sebelum pernikahan yang mama inginkan ini." bantah Sam, cowo itu langsung melangkah meninggalkan Anita juga Permana. Kedua orangtua Sam menatap kepergian anak satu-satunya itu dengan pandangan nanar. 'Mama juga ingin kamu bahagia Sam...' lirih Anita dalam hati.


Sam membalikkan tubuhnya menjauh dari mansion keluarganya, kini kedua mata cowo itu mulai berkaca-kaca. Maya... hanya gadis itu yang ada dalam pikiran Sam saat ini.


Cairan bening tiba-tiba saja perlahan jatuh dari kedua sudut mata kecoklatan milik Sam, selama hidupnya cowo itu tidak pernah se-cengeng ini.


Untuk kali ini cerita nya sangat beda.


Kepalan tangan Sam berkali-kali dia tinju kan ke arah kemudi bundar mobilnya, tangisan kecil Samuel terdengar sangat pilu.


"Maafkan aku May..." tangisnya.


To be continue