
"Hey, honey...."
Sapa Samuel begitu ia keluar dari ruang rawat inap VVIP itu, untuk melihat Maya yang menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit.
"Sam---" desah Maya dengan napas berat.
"Am udah tidur?" tanya Maya lagi, kali ini ia memandang ke arah Samuel dan menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami yang kali itu turut juga menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit.
"He-em," angguk Samuel pelan.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Samuel heran melihat istrinya seperti memikirkan sesuatu.
Maya menggeleng perlahan sembari merubah posisinya kali ini.
"Aku sedih liat keadaan anak itu, aku juga teringat sama Martha," cicit Maya lemah.
Maya yang saat itu berdiri berhadapan dengan Samuel, begitu saja melingkarkan kedua lengannya ke pinggang laki-laki itu dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Kita doakan saja semoga Martha dan juga Harris tenang di sana." Samuel menambahkan lagi dan anggukan kecil Maya yang menjadi responnya.
"Dan kita lakukan yang terbaik untuk Am, jika perlu kita bawa Am ke rumah sakit Singapur atau Milan untuk cidera yang dialami Am." Sam melanjutkan kembali ucapannya.
"Hm," angguk Maya lagi.
"Sekarang kamu pulanglah, istirahat." Sam memberikan belaian lembut pada pipi chubby istrinya sembari menatapnya teduh.
"Terus kamu?"
"Biar aku yang jaga Am, malam ini."
"Mana boleh begitu! Kamu besok kan juga harus kerja. Aku gak mau kamu kecapean," protes Maya.
"Kamu aja ya yang istirahat di rumah biar aku dan bik Sari yang tidur disini jagain Am," ucap Maya lagi.
"Kamu yakin?"
"Hm," angguk Maya cepat.
Samuel tersenyum sekilas, jemari tangannya dengan lembut membelai pipi Maya dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutup sebagian wajah cantiknya.
"Kalo gitu aku pulang dulu, besok pagi-pagi aku kesini bawain kamu pakaian ganti."
"Hm, hati-hati di jalan," ucap Maya serius. Samuel hanya mengangguk kecil dan mencium kening perempuannya sebelum ia melangkah menjauh dari lorong-lorong kamar VVIP yang terlihat sepi malam itu.
Maya yang melihat kepergian Samuel, perlahan membuang napas berat. Hingga bayangan Ceo itu yang akhirnya menghilang di balik tikungan dinding rumah sakit.
....
Satu bulan kemudian...
Setelah hampir satu bulan penuh, akhirnya Samudra diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Meski terkadang sakit di kepala bocah itu masih menderanya, namun dokter Frans mengatakan jika kesehatan Samudra sudah lebih membaik. Samuel dan Maya hanya diingatkan oleh dokter Frans untuk selalu meminumkan obat pereda nyeri jika sewaktu-waktu kepala bocah itu kembali berdenyut. Selebihnya dokter Frans hanya menyarankan Samudra rutin meminum vitamin dan juga makan makanan yang minim mengandung lemak dan juga berminyak, terutama makanan junkfood. Bocah itu benar-benar diperingatkan oleh dokter Frans untuk menguranginya.
"Mommy-Daddy belum puyang ya Onty? Kok gak ikut jemput Am?" ucap Samudra ketika sudah berada di dalam sedan hitam milik Samuel.
"Belum sayang, tapi Am gak perlu khawatir ya, ada Onty dan Om Uel yang jagain Am," jawab Maya yang sembari menoleh ke arah Samudra. Anak itu duduk di kursi belakang bersama bik Sari.
Untuk kesekian kalinya suasana menjadi hening. Maya sesekali menoleh ke arah Samuel yang saat itu terlihat sangat berkonsentrasi dengan lalu lintas di jalanan ibu kota. Sementara Samudra duduk di kursi belakang dengan pandangan mata kosong. Tak jarang Samudra mengarahkan pandangannya ke luar kaca jendela mobil dan bik Sari terlihat beberapa kali mengusap lembut puncak kepala Samudra, mungkin mencoba untuk menenangkan bocah itu.
Dalam benak Maya, ia takut jika tiba-tiba Samudra mengingat akan kecelakan itu dan membuatnya kembali mengerang kesakitan di kepalanya.
...
Beberapa jam berlalu dan Maya akhirnya bisa menarik napas lega ketika sedan yang Samuel kemudikan akhirnya sampai di halaman depan mansion mereka. Sam turun dengan membukakan pintu untuk istrinya dan kemudian pria itu dengan sigap menggendong Samudra yang hendak turun dari mobil.
"Kok Am ke yumah(rumah) nya Om Uel? Kenapa gak puyang(pulang) ke yumah(rumah) Moms-Dad?" tanya Samudra dengan logat cadelnya ketika berada dalam gendongan Samuel.
"Iya, kan Mommy sama Daddy lagi keluar kota. Jadi Am tinggalnya sama Om dan Onty," jawab Sam sembari menggendong Samudra dengan satu lengannya, sementara lengannya yang lain menggandeng erat tangan Maya.
Maya hanya bisa tersenyum lembut ke arah Samudra, biarlah Sam yang menenangkan bocah itu. Dan Maya rasa jika Samuel lebih memahami akan keadaan Samudra.
Sam membawa Samudra ke lantai atas, Maya dengan sigap membukakan pintu kamar yang terletak tepat bersebelahan dengan kamar mereka.
"Nah... ini kamarnya Am,"ucap Samuel begitu ketiganya memasuki kamar luas yang telah Maya design untuk bocah itu. Mulai dari bedcover, poster-poster tokoh animasi dan juga film favorit Samudra dan tak lupa beberapa mainan yang Samudra sukai juga tertata rapi di atas sebuah rak khusus mainan.
Samuel menempatkan tubuh mungil Samudra ke atas ranjang berukuran delux. Dan bocah itu pun dengan girang melompat-lompat di atas kasur empuk yang bisa memantul itu.
"Am suka sama kamarnya?" tanya Maya sembari duduk di tepi ranjang bersama sang suami.
"Awas hati-hati sayang nanti jatuh." Maya berucap memperingatkan, perempuan itu pun terlihat sedikit khawatir ketika Samudra melompat terlalu tinggi di atas ranjang empuknya.
"Onty Aya---" ucap Samudra yang tiba-tiba memeluk erat bahu Maya.
"Iya Am?"
"Jadi Am bobok disini sama Om Uel dan Onty?"
"Iya." Maya menjawab dengan anggukan kepala. Sementara Samuel meraih tubuh mungil Samudra yang kini sedikit melepas pelukannya dari bahu Maya.
"Kenapa? Am suka kan tinggal sama Om dan Onty?"
"Hm, Am sukak," angguk Samudra.
"Kan sepelti(seperti) waktu kemayin(kemarin) saat di Miyan(Milan)."
"Iya seperti saat kita di Milan kemarin." Samuel menjawab dengan sebuah senyuman lembut di wajahnya.
"Sekarang Am mau istirahat dulu atau Am mau mamam? Onty yang masakin deh," tawar Maya.
Samudra sedikit menguap sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan mungilnya.
"Hoams..... Am ngantuk Onty."
"Oh kalo gitu Am bobok dulu gih, mau Onty bacain cerita gak?"
Tanpa pikir panjang lagi, Samudra mengangguk cepat. Anak itu pun dengan segera mengatur posisinya berbaring ke tempat tidur sambil menarik selimut agar membungkus setengah badan mungilnya.
Maya terkekeh geli, tak berapa lama Maya pun meraih satu buku cerita dari laci nakas yang ada di ujung kamar Samudra.
"Nah sekarang Am bobok, sambil Onty dongeng-in ya."
Samudra tanpa menjawab, bocah itu hanya mengangguk pelan sembari bersiap mendengarkan apa yang akan Maya bacakan.
Sam yang melihatnya, perlahan menarik senyuman tipis. Kehadiran Samudra di rumah mereka adalah satu pertanda baik. Yang terpenting dari semuanya, Sam senang jika Maya pun merasa bahagia. Istrinya itu telah lama menginginkan seorang anak dalam pernikahan mereka dan Sam berharap kehadiran Samudra akan bisa mewujudkan mitos orang-orang dahulu. Bahwa seorang anak kecil yang datang ke dalam pernikahan tanpa buah hati, diharapkan bisa menjadi pancingan agar pernikahan tersebut bisa memperoleh keturunan.
Dan Samuel berharap keajaiban itu terjadi. Kalaupun tidak, Samuel yakin Maya akan menyayangi Samudra dengan tulus seperti anak kandung mereka sendiri, begitupun dengan dirinya.
Setelah dua puluh menit berlalu dengan Maya yang masih membacakan satu cerita, netra kebiruan Samudra perlahan pun meredup. Bocah itu telah terlelap, mungkin rasa kantuk efek dari obat yang dokter Frans berikan saat di rumah sakit tadi yang membuat Samudra begitu cepatnya terlelap.
Maya perlahan menutup buku cerita di tangannya, sementara Samuel kembali mengeratkan selimut yang membungkus tubuh mungil bocah berusia enam tahunan itu.
"Am udah tidur, kita keluar?" tanya Maya yang mendapat respon anggukan pelan dari Sam.
Keduanya kemudian berdiri, Maya meletakkan kembali buku cerita tadi ke atas nakas.
Samuel membuka perlahan knop pintu kamar Samudra dan diikuti dengan gerakan menutup pintu secara perlahan tanpa membuat satu suara sedikit pun.
"Sam, kita makan dulu ya. Aku juga udah laper dari tadi," ucap Maya begitu mereka keluar dari kamar Am.
"Hm, aku bantuin kamu di dapur."
"Gak usah, biar aku aja dan bibik yang nyiapin. Kamu duduk aja dulu di ruang tengah atau di teras belakang."
"Yakin gak perlu bantuanku?"
Maya mengangguk pelan sembari tersenyum kecil.
"Ya udah, hati-hati di dapur ya."
Maya terkekeh mendengar ucapan Samuel, sembari menautkan dua ujung alis tebalnya.
"Hm, kalo perlu aku pakai baju zirah perang saat memasak di dapur, hahaha..." tawa Maya sambil berjalan meninggalkan Samuel yang terkekeh geli. Menurutnya Sam suka terlalu berlebihan ketika mengkhawatirkan dirinya saat memasak sesuatu di dapur.
Sam pun hanya tersenyum geli dengan perkataan istrinya. Tentu saja Sam khawatir, ia bahkan tidak mengijinkan seekor nyamuk pun menggigit kulit mulus Maya.
"Sayang--aku serius...!" seru Samuel.
"Iya, Sam--aku tau...!" jawab gadis itu yang juga dengan seruan yang lumayan kencang.
"Dasar kepala batu," gumam Samuel dengan tersenyum.
to be continue....