MySam

MySam
First Morning at Milan



Pagi hari pertama di Milan, mereka sudah berada di halaman depan gedung perkantoran Generali Tower yang terletak di pusat kota Milan, Italia. Gedung dengan desain unik seperti batang bersisik yang dipuntir. Gedung yang terdiri empat puluh empat lantai ini berjuluk The Twisted One. Dan yang menjadi daya tariknya gedung pencakar langit ini disuguhi dengan pemandangan Santa Maria delle Grazie. Sebuah gereja di abad ke-15 yang oleh UNESCO diberi status sebagai bangunan Warisan Dunia.


Maya pun berkali-kali mendongakkan kepalanya melihat gedung unik dengan pemandangan gereja tua yang begitu indah terletak di seberang perkantoran tersebut.



Tak hanya itu, gedung perkantoran ini pun dilengkapi dengan kompleks perumahan dan taman publik yang mengelilinginya. Suasana yang sejuk dan sangat hijau membuat kedua netra Maya tanpa mengerjap sedikitpun.


"Onty.... itu apa?" tanya Samudra yang saat itu berada dalam gendongan Sam. Tangan kanannya menunjuk ke arah gedung perkantoran milik Samuel sementara lengan yang satunya lagi melingkar erat di leher Samuel.


"Itu tempat om Uel bekerja nanti, sayang."


Jawab Samuel sembari mengecup pipi chubby Samudra, sementara Maya mengeratkan gelayutannya di lengan kiri Samuel yang bebas.


"Kalian pasti capek, aku antar kalian ke rumah dulu."


Netra Maya memandang Sam bingung. "Kita tinggal dimana, sayang?" tanyanya sembari mendorong kopor dan melihat bingung ke arah suaminya.


"Di komplek perumahan dekat dengan gedung ini," ucap Samuel seraya menatap lembut Maya lalu meraih lengan gadis itu dan menggandengnya erat.


"Deket kok, kita jalan kaki aja," lanjut Samuel.


"Am capek?"


"Am ndak ap-ek om Uel...." geleng bocah itu sembari memandang lucu wajah Samuel.


Ketiganya kemudian berjalan menyusuri trotoar yang di kanan-kiri nya dipenuhi dengan dedaunan berwarna hijau pupus, terlihat sangat menyegarkan pemandangan.


...


Maya kini duduk di kursi empuk yang ada di hadapan Samuel, sementara Samudra masih terlelap di salah satu kamar yang terdapat di rumah bergaya eropa, namun kali ini lebih minimalis dari rumah besarnya yang ada di Jakarta.


Setelah kedatangan ketiganya, mereka disambut oleh salah satu wanita pengelola kompleks perumahan elit tersebut, sebelumnya Permana memang sudah meng-infokan kedatangan Samuel anaknya dan juga Maya serta seorang anak kecil.


Semula wanita pengelola perumahan mengira jika Samudra adalah putra mereka. "Tuo figlio è così bello." (Anak kalian tampan sekali)


Ucap sang wanita berumur sekitar empat puluhan dengan rambut coklat pekat.


"È davvero adorabile ma sfortunatamente non è nostra figlia." (Dia memang menggemaskan tapi sayangnya dia bukan anak kami)


Ucap Samuel sembari tersenyum kecil. Terlihat wanita itu membulatkan bibirnya dan mengangguk sembari berucap scusa(maaf) lalu mempersilahkan ketiganya memasuki rumah bergaya eropa modern itu.


...


"Sayang...."


"Hm?"


"Barusan apa yang kamu bicarakan sama nyonya tadi?" tanya Maya dari kursi empuk sembari mengamati suaminya yang terlihat sangat berkonsentrasi dengan layar laptop di hadapannya.


"Dia hanya mengatakan selamat datang," ucap Sam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya dan tentu saja ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya wanita tadi ucapkan padanya.


"Owh...." ucap Maya ber-oh ria.


"Jadi, kamu mulai bekerja besok?"


Samuel mengangguk pelan, kali ini ia mengalihkan perhatiannya ke arah Maya. Menyimpan terlebih dahulu data-data dalam file pribadinya lalu ia tutup laptop tipisnya dan berjalan menuju ke arah Maya.


"Kenapa, sayang? Kamu mau jalan-jalan?"


"Emang kamu bisa nganterin?"


Samuel tersenyum tipis, lalu merubah posisi Maya untuk duduk ke dalam pangkuannya. "Apa sih yang gak buat kamu," ucap Samuel sembari membelai rambut hitam istrinya.


"Makasih, suami...." pekik Maya girang, ia lingkarkan kedua lengannya ke leher Samuel dan memeluknya.


"Am pasti seneng diajak jalan-jalan," ucap Maya lagi dan anggukan kepala Sam yang menjadi responnya.


...


Berkali-kali netra Maya mengerjap takjub, melihat pemandangan kota Milan yang sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Di negara yang terkenal dengan pizza, semua tempatnya sangatlah menarik untuk di jelajahi. Bangunan-bangunan kuno yang megah dan masih terawat dengan baik menjadi salah satu daya tarik dari negara itu yang tak jarang mengundang banyak wisatawan asing kesana. Dan keindahan serta kebersihan salah satu kota besar di Italia itu membuat Maya berdecak kagum.


Netra Maya berkali-kali membola ketika Sam mengajaknya juga Samudra berkeliling dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di kota tersebut.


Sudah bisa ditebak, banyak bangunan gereja-gereja kuno serta kastil-kastil tua yang megah dan masih terjaga dengan baik kondisinya.



Kawasan yang sangat bersih untuk pejalan kaki, berbagai macam toko, mulai dari toko tas dan sepatu bermerk hingga cafe-cafe serta tempat penjual buah-buahan segar. Cuaca yang sejuk dan tidak panas berdebu seperti di Jakarta membuat Maya dan Samudra merasa sangat betah berlama-lama meski hanya duduk di taman atau di rofftop cafe yang memang menyediakan tempat duduk di lantai teratas. Bahkan Maya sangat senang berbelanja buah-buahan segar di pinggir jalan.



"Om Uel..... Am mau semangka..." rengek Samudra ketika melihat buah semangka dengan ukuran sangat besar dan berwana merah segar.


"Am mau makan semangka?" tanya Samuel, dan Samudra mengangguk cepat dalam gendongan Sam.


"Kamu juga mau sayang?" tanya Sam yang tentu saja dibalas anggukan kepala dari Maya.


"Scusa maestro, ho comprato un cocomero. Si prega di dare il meglio di sé." (Maaf tuan, saya beli semangka satu buah. Tolong berikan yang terbaik) ucap Samuel yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala sopan oleh sang penjual.


....


Denting peralatan masak serta suara nyanyian merdu Maya menghiasi ruang pantry pagi itu. Pagi-pagi sekali Maya bangun dan bersiap lalu beranjak turun dari lantai dua untuk membuat sarapan.


Suasana hatinya saat ini sedang sangat baik, karena kemarin Sam mengajaknya serta Samudra jalan-jalan keliling kota Milan. Dan semalam Sam berjanji akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar malam nanti Samuel bisa membawa Maya juga Samudra untuk kembali jalan-jalan keliling kota Milan yang kemarin belum sempat ia kunjungi.


Sam bahkan sudah menyiapkan kejutan makan malam romantis di salah satu restoran terkenal di Milan.


"Morning, baby....." sapa Samuel ketika tiba-tiba telah berada di belakang tubuhnya dan memeluknya erat.


Maya terkesikap saat kedua tangan melingkar di pinggangnya ketika Sam memeluknya dari belakang.


"Pagi, Sam..."


"Morning kiss?" kebiasaan Samuel ketika bangun di pagi hari selalu menodong morning kiss. Maya sedikit memajukan wajahnya dan mencium ujung bibir Sam. "Love you, my husband..." lirih Maya setelah ciumannya di ujung bibir Samuel.


"Love you more, sayang..." ujar Sam tepat di telinga Maya lalu mencium pipinya. "Kamu masak apa pagi ini?" tanya Sam sembari meletakkan dagunya di bahu Maya.


"Aku bikin omlet dan juga nasi goreng keju."


"Biar aku yang ambil piring," ucap Samuel sembari berjalan menuju rak piring, mendahului Maya yang hendak berjalan ke arah sana.


"Padahal aku bisa sendiri, sayang," kata Maya cemberut.


"Aku gak mungkin biarin istriku sibuk sendirian di dapur," ujar Sam yang kembali dari arah pantry dengan tiga buah piring nasi goreng keju di tangannya, cara Sam membawa piring persis seperti mas-mas pelayan nasi padang, batin Maya geli.


Setelahnya Sam kembali ke arah pantry untuk membuat teh serta susu buat Maya dan juga Samudra.


Sementara Maya memangku kepala dengan satu tangannya memperhatikan Sam yang sibuk mondar-mandir di pantry. Senyumnya mengembang melihat Samuel yang cekatan mengurus keperluannya juga Samudra.


Maya jadi merasa malu sendiri, harusnya sebagai seorang istri dia yang melayani kebutuhan Sam, bukan malah sebaliknya. Tapi fakta jika Sam tidak mengizinkannya melakukan aktifitas berat membuat Maya tidak bisa melakukannya.


"Terpesona, hm?"


Maya terkesikap ketika Sam sudah duduk di sebelahnya, padahal mereka sudah satu tahun lebih menikah tetapi jantungnya selalu berdegup kencang ketika berada di dekat Samuel.


"Mau aku suapin, sayang?"


Maya menggeleng kuat lalu memakan nasi goreng keju buatannya.


"Oh ya Samudra gak kamu bangunin? suruh dia sarapan sekalian."


"Kasian, Sam. Biarlah dia tidur beberapa menit lagi," jawab Maya dengan mulut penuh nasi goreng. Sam tersenyum geli melihat kelakuan Maya yang masih saja absurd.


"Pelan-pelan makannya sayang," peringat Sam seraya menjulurkan satu tangannya membersihkan noda di sekitar bibir Maya.


"Hari ini aku mulai ngantor, kamu gak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Sam ragu.


"Hm, kan ada Samudra yang nemenin. Paling nanti kalo aku bosan aku bisa ke taman deket-deket sini. Bolehkan?"


"Of course, baby...."


Sam lalu mulai menghabiskan kembali nasi goreng dengan omlet telur di atasnya, dan bagi Maya melihat suaminya makan masakannya dengan lahap adalah kebahagiaan tersendiri buatnya.


"Nanti aku usahakan pulang cepet, dan kita bisa jalan-jalan ke tempat yang belum sempat kita kunjungi." Sam melanjutkan kembali ucapannya dan kali ini dibalas Maya dengan anggukan kepala cepat.


to be continue....