MySam

MySam
Kembali ke Perangkap Martha



Flash back with Freya


"Hunny, please stay with me. Always__" Sam melirik Freya dengan tatapan mata lembut, iris coklat cowo itu begitu memukau. Seakan Freya berada dalam lautan hipnotis oleh pesona Sam.


Bibir tebal cowo itu yang berwarna merah muda selalu memamerkan senyuman manisnya.


Freya masih berada dalam dekapan dada bidang Sam, sesekali gadis itu menenggelamkan kepalanya di sana.


"I will Sam, aku selalu dan akan selalu ada di samping kamu."


"Promise?"


"Of course, I will."


Sam kembali mengecup mesra bibir tipis Freya, mereka saling menautkan bibir masing-masing. Satu lengan kekar Samuel melingkar erat di pinggang kecil Freya dan satunya lagi mengelus lembut surai panjang gadisnya.


"I love you Fe."


Bisik Sam.


Today


"Sam__ sadar bro, lo sudah terlalu mabok."


Suara Alex bartender sekaligus sahabat Sam.


Tangan Alex menepuk-nepuk kedua pipi Samuel namun lagi-lagi cowo itu hanya bergeming.


Ternyata semua tadi hanyalah mimpi Sam, ia masih saja susah move on dari sosok gadis bernama Freya. Entah kenapa.


Kepala Samuel masih dia rebahkan di atas meja panjang dekat ruang bartender. Dia bahkan terlihat sudah tidak sadarkan diri.


Alex mendengus pelan melihat tubuh sahabatnya yang terkulai.


"Sampai kapan lo begini Sam?" Ucap Alex bermonolog. Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya melihat Sam yang sudah tidak sadar.


"Sam kenapa?" Martha mengerutkan dahinya begitu melihat Samuel terkulai tak sadar.


"Mabok." Jawab Alex sang bartender cuek.


"Biar gue yang anter dia pulang, lo tolong masukin Sam ke mobil gue." Titah Martha sekenanya membuat Alex berfikir sejenak.


"Lo jangan macem-macem sama Sam." Ancam Alex kali ini membuat Martha membulatkan kedua matanya.


"Lo tau kan Sam aman sama gue."


Ketus Martha.


"Apa?" Tanya Alex, kali ini dia kembali mendengus dan menatap balik Martha yang seolah memberi isyarat pada nya.


"Bantu gue bawa Sam ke mobil gue." Perintah Martha seenaknya.


Alex hanya mendengus kesal menanggapi, namun dia juga tidak bisa menolak titah gadis itu.


Alex memapah tubuh Sam berjalan ke tempat parkir mobil sementara Martha mengekori Alex di belakang.


"Thanks, nih buat lo." Ucap Martha kasar sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke arah Alex.


"Baik-baik lo sama Sam." Jawab Alex sambil menerima beberapa lembar uang tadi. Lumayan, batin Alex.


Martha mendengus tanpa menjawab perkataan Alex tadi. Kemudian gadis itu memasuki mobil lalu mulai menekan gas mobil meninggalkan club malam yang paling terkenal di Jakarta.


***


Sampai juga Martha di sebuah apartemen mewah, gadis itu memarkir mobil nya di basement parkiran apartemen. Kembali nafas panjang Martha dia hembuskan saat melihat tubuh Sam yang masih tak bergeming. Cowo itu masih tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.


"Gimana gue bawa dia ke dalam?" Gumam Martha pelan. Dipandang lekat wajah dan tubuh atletis Sam lalu kembali senyuman smirk Martha tertarik di sudut bibirnya.


Tak lama kemudian gadis itu menarik keluar ponsel dari dalam tas bermerk nya.


"Halo Pak Andi, saya butuh bantuan bapak __ iya saya di parkiran sekarang __ oke saya tunggu."


Klik


Martha mematikan panggilan ponsel tadi, rupanya dia menelfon satpam apartemen untuk menolongnya membawa Sam masuk ke dalam apartemen milik gadis itu.


Beberapa menit Martha menunggu, gadis itu mendekatkan kepalanya tepat di samping wajah Sam.


"Tok tok__"


Suara seseorang mengetuk jendela mobil Martha dan membuat gadis itu terpaksa menghentikan lamunan nya tentang Sam. Martha menoleh ke arah jendela dan di luar mobil sosok pak Andi satpam apartemen sudah berdiri sigap di sana.


"Non Martha butuh bantuan apa?" Tanya pak Andi sopan.


"Tolong bantu bawa dia masuk ke dalam apartemen saya." Jawab Martha dengan sedikit ekspresi sok mengatur.


Security tinggi tegap itu mengangguk lalu dengan sigap pak Andi meraih tubuh kekar Sam dari dalam mobil dan mulai memapah hingga ke dalam lift. Sam masih saja tidak sadar, pak Andi melingkarkan lengan Sam ke bahunya lalu mulai menyeret tubuh Samuel, sementara Martha tetap mengekor dibelakang.


***


"Taruh dia di kamar aja Pak." Perintah Martha.


Pak Andi hanya mengangguk menurut kemudian berjalan menuju sebuah kamar yang penuh dengan pernak pernik berwana purple, warna kesukaan Martha.


Pak Andi membaringkan tubuh Sam ke atas bed berukuran King size dengan bed cover berwarna purple.


Sam masih belum bergeming, kedua matanya masih tertutup rapat.


"Ini buat pak Andi, makasih." Ucap Martha, dia ulurkan lagi beberapa lembar uang berwarna merah ke arah security tersebut.


Pak Andi mengangguk dan berterima kasih ke gadis itu sebelum dia melangkah pergi meninggalkan kamar Martha.


Gadis itu menutup kembali pintu apartemen nya dan lalu melangkah kembali menuju Sam.


Martha merebahkan tubuhnya di samping Sam, kepalanya dia sandarkan di sebuah bantal berbentuk love. Sangat dekat dengan Samuel, dia bisa melihat rahang kotak cowo itu. "Sungguh ciptaan yang sangat indah." Gumam Martha pelan. Kembali netra gadis itu menyapu seluruh wajah Sam. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Samuel. "Kebiasaan mabok lo bikin lo gampang terpedaya Sam sayang." Gumam nya lagi. Kali ini tangan lembut Martha dengan leluasa bermain di sekitar pipi dan bibir Samuel.


Martha menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan tubuh Sam, tentu saja tanpa sepengetahuan cowo itu. Tangan Martha memeluk erat pinggang Sam lalu berbaring di samping cowo itu.


***


Maya dan El


Maya menarik senyuman di kedua sudut bibirnya begitu melihat sosok tegap El, cowo keren itu keluar dari sebuah mobil jenis SUV.


El melepas kacamata hitamnya, rambut ikal El nampak begitu keren dengan model potongan Textured Fringe, wajah cowo itu terlihat lebih segar apalagi dengan rambut berpomade dan dengan poni panjang ikal yang dia biar kan jatuh mengikuti gerakan kepala El.


Elano mendekati tempat Maya duduk. Mumpung hari libur, mereka ingin menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekedar duduk di salah satu kursi taman kota dengan beberapa kripik kentang dan tentu saja martabak manis favorit Maya.


"Hai sayang, sudah lama nunggu?" Sapa El manis, didekatkan wajah El dan kini dua buah kecupan hangat El mendarat di kedua pipi putih Maya.


"Gak kok, baru aja sampai." Jawab Maya dengan senyuman di kedua sudut bibirnya.


"Harusnya kamu mau aja aku jemput." Ucap El lagi, Maya tersenyum sebentar lalu melakukan suapan kripik kentang ke mulut El. Cowo itu pun menerima suapan Maya dengana sangat senang hati.


"Gak papa kok lagian deket aja, oh ya gimana kerjaan kamu El? Lancar?" Timpal Maya, kali ini dia memasukan beberapa kripik kentang ke mulutnya.


El mengangguk pelan, "Lancar, kamu sendiri gimana? Masih kesel sama bos rese kamu itu?" Tanya El, Maya menghentikan sejenak suapan kripik ke mulutnya. "Sayang, kenapa juga kamu nanya bos gak ada akhlak itu?! Jadi badmood kan." Manyun Maya lagi, kali ini El tertawa kecil sambil mengacak-acak puncak kepala Maya.


"Sorry deh, sampai segitunya kamu benci sama bos kamu itu. Penasaran gue gimana sih muka tuh bos." Tanya El sambil sedikit tertawa kecil.


Maya kembali mengerucutkan bibirnya kesal. "Ish__ sumpah deh El, kamu gak akan suka jika udah liat tampangnya. Ngeselin bangettt__ sumpah deh!!" Desis Maya kesal.


"Awas jangan terlalu benci ntar jadi suka lho." Goda El kali ini, Maya hanya memutar bola matanya lalu mendecih. "Ish__ gak bakalan El. Lagian kan ada kamu di hati aku." Jawab Maya cepat.


Kembali El tertawa kecil mendengar cibiran Maya. "Sayang, ada yang mau aku katakan." Lirih El kemudian, suara cowo itu kinj terdengar sangat berat. Maya masih dengan santai menikmati martabak manis yang kali ini dengan taburan keju di dalamnya.


"Apa El? Ngomong aja."


"Bulan depan aku mau ke Aussy." Ucap El dan kali ini berhasil membuat Maya berhenti mengunyah. Kini bibir nya serasa kelu seakan susah untuk berucap apalagi menelan makanan yang tadinya sudah masuk ke mulutnya.


"May__"


Ucap El lagi dan membuyarkan semua lamunan Maya.


"Kenapa tiba-tiba gitu? Berapa minggu kamu disana?" Lirih Maya.


"Sekitar dua sampai tiga tahun May."


Kembali Maya terdiam membisu, matanya serasa nanar. Seakan ribuan sambaran petir kini menghancurkan semua mimpi-mimpi Maya.


>>> To be continue