MySam

MySam
Petuah



"Am... kamu nakal ya, pake kabur dari suster. Bikin mommy khawatir tau gak?" peluk Martha ke tubuh mungil Samudra, tak henti-hentinya Martha mendaratkan ribuan kecupan ke seluruh sudut wajah anaknya.


Hingga Martha menyadari kehadiran Maya dan menghentikan kecupan-kecupan nya di wajah lucu Samudra.


"Lho Am kok bisa sama onty Aya sih?"


"Am main cama onty Aya.... iup..... iup..... wuz...." celoteh Samudra polos. Sementara Maya tersenyum kecil melihat ke arah Martha.


"Tadi aku ketemu sama Samudra di taman. Untung ketemu aku, dia sendirian tau gak?" ucap Maya bernada khawatir, lalu mengelus puncak kepala Samudra yang kini dalam gendongan Martha.


"Heem, tadi susternya juga nelpon aku dan bikin panik." Sebentar Martha menjeda ucapannya lalu menoleh lagi memandang wajah anaknya yang kini masih dalam gendongannya. Samudra kecil terlihat sedang memainkan anak rambut ibunya yang panjang terurai dan begitu saja menutup sebagian wajah cantiknya, sementara tak lama kemudian kedua tangan mungil Samudra terlihat membelai lembut wajah Martha lalu menciuminya pelan.


Maya tersenyum melihat pemandangan itu, meski dalam hati ia merasa iri dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Makasih ya May, entah apa jadinya jika Am gak ketemu kamu," ujar Martha yang kini meraih jemari Maya dan menggenggamnya.


"Heem.... sama-sama. Aku juga seneng ketemu sama Samudra."


"Iya kan Am? Nanti kita main gelembung sabun lagi ya jagoan?" Kali ini Maya menempelkan keningnya pada kening Samudra yang masih bergelayut manja pada gendongan Martha.


"iya.... Am main cama onty Aya..."


Maya kembali tertawa kecil, merasakan kembali apa yang pernah hilang dalam dirinya.


"Tapi sekarang onty banyak kerjaan bantuin mommy nya Am, nanti ya kita main lagi," ucap Maya lagi sembari mencium kedua pipi gembul dan halus milik anak kecil itu.


Maya kini melangkah keluar dari ruangan Martha dan memasuki ruang kerjanya sendiri. Netranya menjelajah seluruh ruangan hingga sudut, sampai ia mendapati sebuah bingkai foto dirinya bersama Samuel yang berdiri kokoh di atas nakas kecil dekat dengan sofa berwana hijau mint. Maya menyesali dengan apa yang ia ucapkan pagi tadi saat berdebat dengan suaminya. Beberapa hari ini ia juga menyadari sikapnya yang sangat keterlaluan terhadap Sam.


"May....! boleh aku masuk?" Seru Martha sembari mengetuk pelan pintu ruang kerja Maya. Membuat si empunya mengalihkan pikirannya dari Sam dan melangkah menuju ujung pintu lalu membukanya.


"Masuk, Tha..."


"Aku gak ganggu kamu kan?" tanya Martha menyelidik.


"Gak, duduklah."


Keduanya kini melangkah ke arah sofa panjang dan sama-sama duduk berdampingan. "May, maaf ya bukannya aku mau ikut campur dengan masalah kamu, tapi...." Ia tidak langsung meneruskan ucapannya dan memandang lekat paras lelah Maya.


"Kenapa Tha? Ngomong aja."


"Gini May.... belakangan ini aku melihat kamu lebih sering murung dan melamun. Saat aku kerumah kamu pun, aku gak lihat lagi Maya yang dulu."


Maya tersenyum tipis lalu melihat ke arah Martha, "Aku tau. Hanya saja..."


Gadis itu tidak langsung menyelesaikan ucapannya, ia menghela napas panjang lalu berdiri meraih bingkai foto dirinya bersama Samuel.


"Aku gak tau Tha, sejak keguguran itu aku mencoba merelakan. Namun kejadian itu selalu berputar di otakku dan menjadi mimpi buruk ku tiap malam."


"Tapi May, kamu harus berusaha melupakannya. Masa depan kalian masih panjang dan kalian masih bisa kan mempunyai anak lagi."


"Itu yang membuat aku takut Tha, bagaimana jika aku gak bisa hamil lagi? Dan jika aku hamil bagaimana kalo ada kejadian serupa terjadi kembali?" ucap Maya lirih.


"Tapi kejadian ini jangan sampai membuat hubungan kamu sama Sam merenggang May."


Spontan Maya memandang heran ke arah Martha. "Bagaimana kamu tau...?"


"Bibik yang cerita, kamu ingat kan terakhir aku ke rumah kamu? Bibik bilang kalau kamu dan Sam sekarang lebih dingin. Gak ada gurauan dan manja kamu ke Samuel," ucap Martha hati-hati. Kali ini ia lebih memandang fokus dan memposisikan tubuhnya lebih dekat lagi ke arah patner kerjanya. "Kami sayang kalian, May. Tante Anita, Aku bahkan bibik dan mbak Pur," ucap Martha lagi.


"Apa kamu rela jika usaha kalian dalam menghadapi semua rintangan yang dulu pupus begitu saja, hah....?" lanjutnya lagi.


Maya menggeleng.


"Kamu mencintai Sam bukan?"


"Sangat Tha," cicit Maya.


"Makanya perbaiki hubungan kalian. Dia sangat mencintai kamu May, sejak dulu." Martha melanjutkan memberi sahabatnya dukungan.


"Hemm.... aku coba."


"Nah gitu dong... kalian itu pasangan serasi, saling mencintai dan menjaga. Dan aku gak rela hubungan kalian hancur gitu aja, meski dulu aku pernah jahat ke kalian." Martha sedikit terkekeh kecil ke arah Maya dan tak lama kemudian sebuah pelukan persahabatan tercipta di sana.


.....


"Lo udah tau kelanjutan kasus kecelakaan Maya?" tanya Bayu sembari menyerahkan beberapa file ke arah Sam.


Dan pertanyaan yang membuat Freya mengedikkan bahunya serta mengernyit heran.


"Belum, pihak kepolisian belum menemui titik terang soal pengendara mobil hitam sialan itu." Samuel menghela napas jengah, pandangannya kini sekilas beralih ke arah Freya yang berdiri di sudut ruangan sembari sibuk merapikan beberapa tumpukan file di lemari kerja Sam. Perut gadis itu sudah terlihat sangat besar, mungkin kehamilannya hampir memasuki usia tujuh atau delapan bulan, batin Samuel.


Bayu yang melihat itu, kembali mencoba mengalihkan perhatian Samuel. "Bagaimana keadaan Maya?"


Samuel tidak langsung menjawab, dia kembali menghela napas panjang dan berdiri menghadap ke arah jendela besar ruang kerjanya.


Bayu melangkah ke ujung pintu dan menutup rapat pintu kerja Samuel, ia tidak ingin ada telinga yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Kenapa lo usir Freya keluar?"


"Gue gak ingin dia mendengar pembicaraan kita." Bayu terdiam sejenak.


"Kenapa? Lo keberatan dia keluar dari ruangan lo?" tanya Bayu menyelidik. Samuel hanya terdiam dan mengusap kasar wajah tampannya yang kini terlihat seperti banyak beban pikiran.


"Ada apa antara kalian berdua, hah?" tanya Bayu dengan kedua tangan yang menyilang ke dadanya.


"Gue sama Freya gak ada hubungan apapun," jawab Sam lemah.


"Maksud gue lo sama Maya," pungkas Bayu yang kini berdiri di samping Samuel.


Pandangan Sam beralih ke arah Bayu yang kini tengah mengamati aneh dirinya.


"Kenapa lo liatin gue seperti itu, hah?!" dengus Sam kesal.


"Harusnya gue yang tanya sama lo. Kenapa tiba-tiba pikiran lo ke Freya? Sam.... lo jadi hilang konsentrasi."


Perkataan Bayu barusan membuat Samuel terperangah. Bayu benar, kenapa mendadak ia memikirkan soal Freya? Melihat perut mantan tunangannya yang kini semakin membuncit, ia membayangkan jika dia adalah Maya. Jika saja Maya saat ini tidak keguguran, pastilah istrinya itu terlihat sangat menggemaskan dengan perut buncitnya.


"Sam...."


"Apa?!" dengus Sam lagi ke arah Bayu.


"Kalian baik-baik aja kan?"


"Entahlah....." Sam kembali membuang napas berat.


"Sejak kegugurannya, Maya menjadi seperti orang asing. Dia begitu dingin," jawab Samuel bernada berat.


"Mungkin dia masih trauma, kamu harus memahami hal itu."


Samuel hanya terdiam, kali ini ia kembali berbalik ke arah jendela besar kantornya. Memandang lurus ke arah luar perusahaannya yang terlihat dari lantai empat gedung perkantoran miliknya.


"Lo gak nyalahin dia atas kejadian itu kan?" tanya Bayu lagi.


"Tadi pagi...." Sam menjeda ucapannya dan kembali mengusap kasar wajahnya dan kali ini juga rambut ikal tanpa pomade.


"Gue berkata sesuatu yang menyinggung perasaan dia." Sam melanjutkan, nada bicaranya terdengar sangat menyesali semuanya.


"Terus lo udah minta maaf?"


Sam menggeleng pelan.


"Lo udah telfon dia hari ini? bertanya kabar dia atau apa? Bukankah dulu tiap jam lo selalu menelpon Maya?" tanya Bayu lagi. Dan lagi-lagi Sam menggeleng.


"Gue pikir biarlah dia tenang dulu. Tadi pagi dia minta ijin mau ke taman terus ke cafe miliknya."


Bayu melihat ke arah jam tangannya. "Ini hampir jam makan siang Sam, sebaiknya lo pergi sana temui Maya di cafe." Bayu menyarankan.


"Hhuufftt.... entahlah. Gue malas jika nanti disana malah berdebat lagi sama dia."


"Sam... setiap rumah tangga pasti selalu ada ujian dan masalahnya. Dan lo sebagai kepala rumah tangga harus bisa menyelesaikan dengan kepala dingin."


Sam terdiam seakan menimang perkataan Bayu.


"Kita gak pernah tau isi hati seorang wanita yang baru saja kehilangan bayi mereka. Dan lo juga tau bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Itu pun berlaku sama Maya, malahan dia lebih berat mengalaminya karena dia yang mengandung anak itu selama hampir lima bulan ini." Bayu melanjutkan.


"Sorry kalo gue terlalu ikut campur masalah rumah tangga kalian, tapi gue saranin lo sebaiknya pergi temui Maya sekarang. Mungkin saat ini dia juga pengen lo datang ke cafe dia. Lo harus lebih bisa bersabar untuk Maya."


Sam tersenyum menatap Bayu. "Oke, gue berangkat ke cafe sekarang. Thank's Bay," ucap Samuel tulus.


Jujur selama ini Sam terkadang selalu dikejutkan sama sikap dewasa Bayu, dibanding dengan sahabat-sahabatnya yang lain, hanya Bayu orang yang selalu ia percaya dan ia jadikan sebagai kunci nasehat atau pemberi saran untuk setiap masalah pribadi ataupun pekerjaan.


Jadi tak heran Sam yang telah menganggap Bayu seperti kakak kandungnya sendiri selalu bercerita dan berkeluh kesah pada pria tinggi berkaca mata itu.


"Ngapain lo liatin gue?" ketus Bayu menatapnya sinis.


Sam terkekeh. "Bay, sepertinya lo lebih cocok jadi guru BK seperti bu Santi guru BK SMA kita dulu ketimbang jadi orang kantoran," kekeh Samuel.


"Sialan lo!" balas Bayu yang dengan sengaja meninju pelan lengan Samuel. Tak selang lama terdengar tawa kecil keduanya memenuhi seluruh ruangan.


"Sudah sana lo pergi temui istri lo, dasar CEO bucin...." ucap Bayu sembari berjalan keluar dari ruangan Samuel.


Bayu benar, Sam segera menyambar dompet kotak berwarna hitam dan juga kunci kontak mobilnya dari meja kerja. Dia harus mengembalikan kehangatan hubungannya dengan Maya, sebelum kedinginan itu semakin membeku.


to be continue.....