
Pulau yang belum banyak orang tahu, dengan pantai pasir putih yang indah dan pemandangan sunset yang terlihat penuh dari sana. Sam dan Maya kembali menikmati suasana pantai tersebut seharian, tak ada kata bosan buat Maya.
Ia bahagia berada disamping Samuel, sesekali Maya meneguk air mineral yang mereka bawa tadi dari resort.
Oh ya tak lupa cemilan favorit Maya, kripik kentang.
Kruukkk.... kruukk...
Maya meringis ke arah Samuel begitu suara dalam perutnya tanpa dikompromi begitu saja terdengar nyaring.
"Kamu lapar May?" tanya Sam dengan sedikit rasa bersalah.
"Iya dikit, heeee...." ringis Maya malu, kini pipi nya mulai menyemu merah.
"Kita coba tangkap ikan yuk."
"Sam... emang kamu bisa? lagian mana ada ikan berenang di pinggir pantai?" Maya sedikit membolakan mata nya, sementara Sam hanya tersenyum kecil menanggapi.
"Sebentar lagi juga sunset, kita tunggu aja. Aku bisa kok nahan lapar sampai ntar kita balik ke resort." ucap Maya.
"Lagian masih ada roti isi sama kripik kentang, masih cukup lah buat ganjel perut." lanjut gadis itu lagi.
Sam kembali meraih bahu kecil Maya dan mengeratkan pelukannya. Sore itu mereka kembali duduk di tepi pantai di bawah rindang nya pohon Ketapang, kedua netra mereka masih mengamati langit yang kini berwana jingga kemerahan.
"May... aku harap apapun yang terjadi nanti, kamu gak pernah benci sama aku."
"Emang ada apa sih Sam? sikap kamu aneh deh akhir-akhir ini." selidik Maya, gadis itu kini menyipitkan kedua netranya memandang Sam penuh rasa ingin tahu.
Sam tersenyum sebentar lalu dengan cepat tangan cowo itu mengacak-acak puncak kepala Maya. "Samuel ih...!! berantakan kan rambut aku." Maya mencebikkan bibir nya.
"Sam...!! liat sunset nya udah mulai...!!" teriak Maya antusias, Sam mengalihkan pandangannya dari wajah Maya.
Perlahan mentari sore itu mulai tenggelam di balik langit, membuat langit senja itu berwarna kemerahan. Air laut pun kini nampak sangat berkilau dengan pantulan warna jingga.
"Indah ya... semoga senja kita selalu seperti ini." lirih Maya, gadis itu masih memandang langit dengan kepala yang Ia tenggelam kan di pundak Samuel.
"May...."
Lirih Sam, membuat Maya mendongak sebentar menatap wajah Sam.
Tiba-tiba Samuel mendekatkan wajahnya tepat di wajah Maya, telapak tangan Sam kini berada di pipi chubby Maya, ia gerakkan mengelus lembut paras Maya.
Sam merapatkan tubuhnya sehingga tak ada jarak diantara keduanya. Benar-benar menempel, kecuali wajah yang masih terhalang kedua hidung mancung mereka.
Nafas hangat itu... keduanya sama-sama merasakannya.
Lebih memajukan wajahnya, Sam berhasil mengikis segala jarak yang ada. Hanya menyisakan sekian centi. Membuat baik Sam dan Maya sama-sama merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajah mereka masing-masing. Sam menggerakkan hidung mancungnya untuk membelai hidung mancung milik Maya.
Sam memiringkan kepalanya agar bibirnya bisa leluasa menyentuh bibir peach Maya tanpa terhalang hidung masing-masing.
"Can i kiss you dear?" lirih Sam.
Maya mengangguk dengan pipi merona, bersamaan dengan izin yang telah diberikan oleh Maya, Sam mulai mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik Maya.
Pelan-pelan, lembut dan terasa sangat manis. Sam memperlakukan Maya bak seorang ratu. Tak ingin melukai gadis itu sedikit pun, perlahan-lahan tidak membuat rasa nikmatnya berkurang sedikit pun.
Leguhan demi leguhan kini melayang di udara, mengabaikan sunset yang kini semakin tenggelam. Keduanya tidak peduli saat ini, hanya menikmati setiap detik bibir keduanya menyesap satu sama lain.
"You are my sweet peach May." bisik Samuel lembut. Maya mengangguk sebentar, melepaskan pautan bibir mereka dan mengambil oksigen untuk beberapa detik.
"And you are my lovely CEO Sam..." bisik Maya kini.
"Not your Bastard CEO right May?" goda Sam, Maya tersenyum sekilas lalu menggeleng pelan.
Kembali Sam menguasai bibir Maya, kini kedua bibir mereka saling berpautan lembut.
Yang disaksikan oleh sunset di senja hari itu.
_____
"Kita balik ke resort sekarang?" Tanya Sam kini, Maya mengangguk meng-iya-kan ucapan Sam.
Gadis itu berdiri dengan bantuan pegangan tangan Samuel, perlahan tangan Maya menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans nya yang telah bercampur pasir putih.
"Habis ini kamu mau makan apa?" tanya Sam lembut.
"Hhmm... aku pengen sate ayam." ucap Maya dengan senyuman mengembang di sudut bibirnya.
"Ya udah ayo naik, pegangan yang erat ya."
Maya mengangguk nurut, lengannya kembali ia lingkarkan ke pinggang Samuel, Maya kembali menyandarkan kepalanya ke bahu hangat Sam. Ini adalah moment yang sangat jarang Maya temui. Naik motor berdua bareng Samuel.
Motor mereka pun kini berjalan menembus gulita, Maya semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel.
Jalan setapak yang mereka lewati sangat sepi, mengingat pantai tadi adalah pantai tersembunyi yang tak banyak orang yang tahu. Tidak ada cahaya apa pun selain sorot lampu motor mereka dan rembulan yang malam itu bersinar bulat penuh.
"Jangan takut dear, ada aku." Ucap Sam yang mengetahui ketakutan Maya malam itu.
***
Jakarta
"Tante... emang Sam pergi kemana sih? dua hari yang lalu harus nya kita fitting baju pengantin, kenapa sampai sekarang Sam gak pernah kelihatan."
"Emm.... Samuel... ehh Sam lagi ada kerjaan di luar kota, kamu yang sabar ya Tha."
Anita sedikit merasa salah tingkah menanggapi pertanyaan Martha tentang Sam.
"Oh atau kamu aja dulu yang fitting baju? yuk tante anterin." usul Anita.
Tanpa pikir panjang, Martha langsung mengangguk meng-iya-kan ucapan Anita barusan.
"Ya udah sekarang kita berangkat, pake mobil tante aja ya."
Lagi-lagi Martha mengangguk semangat dengan senyuman penuh kemenangan.
____
"Tant... kalo ini gimana? bagus gak?" tanya Martha semangat, sambil menunjukkan gaun pengantin berbahan bruklat broken white, dengan potongan yang sangat pas di pinggang kecil Martha sehingga memperlihatkan lekukan tubuh indah gadis itu.
"Bagus kok sayang, cocok di badan kamu." jawab Anita dengan senyuman yang mengembang.
"Iya karena perut Tha belum membuncit." cemberut gadis itu, tentu saja hanya ucapan akal-akalan Martha supaya Anita tidak curiga padanya.
"Tante... pokok nya pernikahan Tha sama Samuel gak boleh batal, dia harus tanggung jawab sama bayi ini." rengek Martha lagi, bibirnya dia kerucutkan beberapa centi dengan bola mata yang kembali menyipit kesal.
"Iya sayang, kalian pasti menikah dan Sam udah setuju kan nikahin kamu."
"Ya udah, ntar ambil gaun yang ini aja ya tant... aku suka sama model nya." ucap gadis itu lagi, Anita mengangguk kembali meng-iya-kan.
Anita memanggil pegawai butik.
"Saya ambil yang ini, tapi nanti minggu depan tolong di antar ke alamat ini." Ucap Anita sambil memberikan kartu namanya.
Setelah ia melakukan pembayaran, Anita dan Martha berjalan keluar dari pintu utama butik terkenal tersebut.
"Martha.....!!"
Sapa sebuah suara yang sangat Martha kenali.
'Om Harris....' batin Martha.
"Tha...!!"
Kembali suara tadi memanggil nya, membuat Anita menghentikan langkah.
"Siapa Tha?" tanya Anita heran melihat Martha yang masih berjalan cepat tanpa menghiraukan suara panggilan tadi.
"Hai sayang... kenapa kamu gak berhenti saat saya memanggil?" Tanya Harris begitu laki-laki itu sudah mendekati keduanya, kini tangan kekar laki-laki itu menahan lengan Martha.
"Maaf... anda siapa ya?" tanya Anita dengan dahi sedikit mengernyit.
"Oh saya Harris Pratama, sahabat dari Baskoro ayah Martha." jawab laki-laki itu sopan, ia mengulurkan tangannya menawarkan jabatan tangan ke Anita.
"Owh..." jawab Anita sambil tersenyum dan membalas jabatan tangan Harris.
Sementara Martha hanya terdiam, gadis itu mencoba membuang muka di hadapan Harris. Ia masih merasa tidak enak jika mengingat kejadian tempo hari di hotel bersama sang dokter bejad tersebut.
"Oh ya... kalian saya lihat keluar dari wedding butik Ball Gown? siapa yang mau menikah?" tanya Harris.
Martha kini sedikit terlihat gelisah.
"Martha yang akan menikah dengan Samuel anak saya." jawab Anita, untuk sesaat ekspresi terkejut terlihat di wajah Harris. Dokter itu kini menatap Martha tajam, sangat menusuk Martha sehingga ia tidak sanggup melihat kedua iris Harris saat itu.
Anita heran melihat kecanggungan antara Martha dan Harris.
"Selamat ya sayang...." Harris tiba-tiba memeluk Martha dan mendaratkan ciuman kecil di kening Martha, gadis itu sedikit terkejut oleh perlakuan Harris barusan.
"Kini gadis kecil ku sudah mau menikah, jangan bilang kamu menikah karena kehamilan kamu sayang." ucap Harris lagi dengan senyuman smirk di sudut bibir laki-laki itu, membuat kedua mata Martha membola ke arah Harris.
"Saya dokter kandungan keluarga Martha, dan kemarin dia memeriksakan kehamilannya." Terang Harris, menjawab ekspresi heran Anita.
"Owh.... jadi anda dokter kandungan Martha, gimana kandungan Martha dok...?"
"Eh tante Anita... aku masih ada urusan lain, yuk kita pulang sekarang." potong Martha.
Gadis itu tidak ingin berlama-lama lagi berhadapan dengan Harris.
Martha berusaha menghindar dari iris mata Harris dan juga dari perasaan dia ke dokter itu.
"Ayo tant, om Harris kita duluan ya..."
Martha menggandeng lengan Anita menjauhi Harris.
"Kamu kenapa Tha?" Anita sedikit heran.
"Tha masih ada urusan tant..." balas Martha tanpa menghiraukan ekspresi heran Anita.
Sekilas Martha melirik ke belakang, melihat Harris yang masih terdiam di sana, mata laki-laki itu pun masih menatap Martha dari kejauhan.
"Oh jadi itu alasan kamu dengan surat kehamilan palsu itu sayang...." gumam Harris.
Sorot mata hitam legam itu kini kembali membola tajam.
to be continue....