
Dua minggu sudah keduanya berada di Paris dan Maya sungguh menikmati hari-hari mereka ketika berada di kota romantis itu. Sam tak jarang mengajak Maya mengunjungi berbagai tempat di kota tersebut. Mulai dari menara eifel tentunya, cafe-cafe, boutique milik designer terkenal dari Paris yaitu Christian Dior hingga Yves Saint Laurent dan tak ketinggalan mereka mengunjungi museum galeri seni yang paling terkenal di dunia yaitu Louvre Museum.
Museum yang terkenal dengan piramida kacanya yang ikonik, museum ini mempunyai banyak karya seni yang berharga dan museum Louvre adalah salah satu museum terbaik di kota Paris. Salah satu koleksi terkenal dari museum ini adalah lukisan Monalisa dari pelukis legendaris Leonardo Da Vinci.
Maya sangat bersemangat ketika Sam mengajaknya keliling museum tersebut, ia bahkan rela antri dengan pengunjung lainnya. Maya bahkan menolak ketika Sam menawarkan membeli tiket dengan akses prioritas. Menurut Maya akan lebih menyenangkan jika mereka berdua ikut dalam rombongan pengunjung yang lain, dan Sam sudah pasti mengikuti apapun yang menjadi keinginan Maya.
Gadis itu pun merasa bahagia walau hanya duduk di balkon apartemen bersama Sam, menikmati mentari senja bersama segelas latte hangat serta kue yang mereka beli di kedai-kedai kue di sepanjang jalan apartemen mereka.
Maya bahkan bisa merasakan sensasi rintik hujan salju dari balkon apartemen. Ini adalah kali pertama Maya melihat dan merasakan salju secara langsung.
"Kamu tau, sayang? Dulu sewaktu kecil aku tuh pengen banget liat dan nyentuh salju secara langsung. Dan aku pikir enak kali ya naroh salju di gelas lalu disiram sirup, hehehehe...." ujar Maya mengenang apa yang ia rasakan saat masa kanak-kanaknya.
Dan Samuel hanya bisa tertawa kecil, mengacak-acak puncak kepala istrinya dengan gemas. Maya selalu bisa membuat pria itu tertawa lepas jika sedang ngobrol berdua. "Andai saja kita bertemu sejak kita sama-sama kanak-kanak ya, sayang...." balas Samuel dengan tawa yang masih saja mengembang lepas.
Sebenarnya dengan hanya duduk berdua saling berpeluk seperti saat ini pun sudah sangat membuat Maya bahagia, gadis itu selalu menikmati kebersamaan keduanya. Bahkan bisa dibilang Maya lebih menyukai menghabiskan waktu mereka di Paris dengan duduk berdua di taman kota ataupun cafe yang mempunyai pemandangan indah. Dibandingkan jika Sam mengajaknya belanja di boutique terkenal ataupun di pusat perbelanjaan kota tersebut.
Seperti saat ini, keduanya terlihat sangat menikmati waktu mereka di atas balkon apartemen Samuel sambil memandangi angkuhnya menara eifel yang terlihat menjulang.
"Kamu bahagia, honey?"
"Banget, Sam.... Aku sangat bahagia bersama kamu." Maya semakin mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Samuel. Menghamburkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
"Sam.... tadi mama dan juga mama Anita telpon nanya in kabar kita, dan....." Maya menggantung sebentar kalimatnya.
"Sepertinya...."
"Sepertinya apa, sayang?"
"Sepertinya.... mereka pengen cepat-cepat punya cucu deh, Sam," dengan sedikit lirih Maya menjawab. Wajah cantiknya yang biasa terlihat penuh semangat kini mendadak sedikit pucat.
Berbeda dengan Samuel, pria itu hanya tersenyum tipis, semakin mengeratkan pelukannya. Ciuman kecil Sam tak jarang menyapu seluruh wajah dan puncak kepala Maya.
"Memang kenapa kalau mereka pengen dapat cucu dari kita, istriku?"
"Aku takut, Sam...." cicit Maya.
Kali ini Sam sedikit menjauhkan tubuhnya dari Maya, menatap dalam iris hitam istrinya.
"Takut? Apa yang kamu takutkan?"
Sam memandang lekat wajah Maya, mengelus lembut rambut hitam gadis itu.
"Aku takut mengecewakan mereka. Gimana kalau kita susah dapat baby, Sam?"
"Honey..... kamu gak usah punya pikiran seperti itu. Aku akan selalu mencintai kamu apa adanya. Dan mama juga gak akan pernah menyalahkan kamu ataupun kita." Sam berhenti sejenak, kembali mengelus lembut pipi dan menyelipkan ke belakang telinga, anak rambut istrinya yang menari-nari tertiup angin sore itu.
"Lagipula pernikahan kita belum ada satu bulan, sayang...." Sam melanjutkan ucapannya.
"Tapi, Sam....."
"Husstt...." Sam dengan cepat mengarahkan telunjuknya di ujung bibir Maya.
"Gak usah dilanjutkan, itu hanya ketakutan kamu aja."
Maya mengangguk pelan, kembali mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel dan semakin nyaman mengusap-usapkan salah satu sisi wajahnya ke bahu bidang suaminya.
"Bagaimana kalau kita kembali membuat calon baby kita, hhmm...?" bisik Sam nakal.
"Suami..... selalu gitu deh. Tadi kan udah dua kali..." Maya memekik dengan wajah merona, sedikit melotot gemas ke arah Samuel. Dan Samuel hanya tertawa geli melihat wajah malu istrinya.
.....
Sementara itu di Jakarta, di sebuah lapas di kota itu nampak sosok pria dengan pakaian narapidana sedang berbincang serius dengan seorang gadis cantik.
"Gimana kabar kamu, El?"
"Lo gak liat keadaan gue seperti apa sekarang, hah...!?" Elano sedikit membentak dengan wajah acuh dan sedikit geram.
Sudah hampir tiga bulan, pria itu mendekam di penjara. Meskipun pengacara dan juga keluarganya tak jarang membesuknya tetap saja Elano tidak tahan hidup di balik teralis jeruji.
"Kamu kenapa jadi kasar sama aku, El?" Ekspresi Freya kini terlihat sedih.
"Mau lo apa datang ke sini, hah!? mau minta uang?!" ketus Elano.
"Aku hamil, El...."
Spontan membuat Elano terdiam, ekspresi kaget kini terlihat jelas di manik mata coklat pria itu.
"Bukan anak gue kan, Fe...?"
"Apa maksud kamu, El? Selama ini aku melakukannya hanya sama kamu."
"Gila lo, Fe.... Lo tau gue dipenjara sudah tig bulan, hah...!!"
"Dan aku hamil dua bulan." Freya menjawab dengan nada bicara sedikit keras.
"Awalnya aku juga gak mau anak ini, tapi aku takut menggugurkan dia, El. Aku juga ragu bilang yang sebenarnya sama kamu." Dengan sedikit terisak akhirnya Freya mengatakan apa yang selama ini berusaha ia tutupi.
"Gak mungkin itu anak gue, bisa aja lo tidur sama cowo lain selain gue." Elano mendecih, memandang meremehkan ke arah Freya.
"Aku gak serendah itu, Elano!"
"Aku melakukan hanya sama kamu, El."
Freya mencoba meraih jemari Elano namun dengan cepat pria itu menampiknya kasar.
"Oke langsung aja, mau lo berapa Fe, hah....?!!"
"Elano....!!!" teriak Freya, matanya kini terasa nanar. Seolah tidak sanggup lagi menumpahkan air mata yang hendak menerobos keluar.
"Ini anak kamu, Elano Wijaya. Dan aku mau kamu bertanggung jawab. Aku mohon, El...." suaranya kini semakin berat.
"Aku akan menunggu kamu keluar dari penjara. Tapi aku mohon kamu janji untuk mengakui dan bertanggung jawab, El...." Kali ini wajah Freya semakin terlihat lemah, air matanya sudah tidak dapat lagi ia tahan.
Brrakkkk.....!!
Elano menggebrak meja dengan sangat keras, hingga membuat Freya sedikit begidik kaget.
"Hah....!! jangan sok mengeluarkan air mata buaya lo, Fe. Gue tau siapa lo." Elano mengarahkan jari telunjuknya ke arah Freya, tepat di depan wajah gadis itu.
"Gue gak akan pernah bertanggung jawab apapun terhadap anak itu. Sampai kapan pun, Lo denger itu, hah....!!" bentak Elano, tak lama kemudian pria itu melangkah meninggalkan Freya yang masih menunduk dengan urai air mata membasahi kedua pipinya.
Elano berjalan kembali ke dalam ruangan lapas dengan geram. Belum cukupkah ia dipenjara dan kini tiba-tiba saja, Freya mengakui kehamilan anaknya? batin Elano kesal.
Masa lalu Freya yang dekat dengan banyak pria membuat Elano tidak dengan mudahnya begitu saja meyakini semua ucapan Freya.
Itu bukan anak gue ! pikir Elano lagi, ia kembali meyakinkan pemikiran tersebut.
Brengsek..... !! Sialan.....!!! gumamnya lagi.
To be continue.....