
"Kamu masak apa, sayang?" tanya Sam begitu ia turun dari tangga dan langsung nyelonong ke dapur.
"Nasi goreng seafood sama ikan filet goreng tepung kesukaan kamu, Sam."
Maya menjulurkan kedua tangannya ke arah Sam sambil membawa satu piring nasi goreng seafood. Dahi Sam seketika mengernyit saat bau amis dari seafood dan juga ikan filet menguar hingga menimbulkan rasa mual di perutnya.
"Kenapa, Sam?" tanya Maya ketika menangkap gelagat aneh dari suaminya.
"Gak papa, sayang. Sekarang kamu makanlah."
"Suapin....." rengek Maya manja.
Samuel berusaha tersenyum ditengah rasa mual yang melandanya. Pria itu meraih sendok juga garpu dan duduk di samping Maya di meja makan bundar besar yang terasa terlalu sepi untuk mereka berdua. Samuel lalu menyendok nasi goreng dan menyuapkan ke mulut Maya.
"Mau lagi, aaaa..." pinta Maya dengan manja.
Sam kembali menyuapi gadis itu dengan sangat sabar. Meskipun pagi ini ia turun dengan pakaian kerjanya yang sudah sangat rapi, seperti biasa lengkap dengan blazer dan dasi yang melilit sempurna di leher kokohnya, namun Sam tidak ingin melewatkan keinginan Maya yang merajuk minta disuapi oleh nya.
"Suami, kamu gak makan?"
Sam menggeleng, "Nanti aja. Aku belum terlalu lapar."
"Iihh.... aku aja yang makannya porsi banyak gini masih aja terasa lapar, masak kamu yang semalam cuma makan roti dua lembar masih ngerasa kenyang sih?"
Samuel mengendikkan bahunya.
"Kamu ikut makan juga ya."
"Gak usah, habisin kamu aja, sayang. Bukankah kamu masih laper, hm?"
"Gak mau tau, pokoknya kamu harus makan! Suamiku harus keisi perutnya biar bisa fokus kerja."
"Tapi---"
"Gak boleh ada tapi-tapian! sini biar aku yang suapin," titah Maya yang kini sudah mengambil alih sendok juga garpu dari tangan Samuel dan mulai menyendok nasi goreng dengan banyak udang dan cumi didalamnya.
Samuel memejamkan matanya sejenak. Oh tidak.... semakin Maya mendekatkan makanan itu ke mulutnya, rasa mual itu semakin bertambah kuat.
Dan Samuel tidak bisa lagi menahannya. Pria itu lantas bangkit lalu berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.
Maya yang khawatir pun langsung saja menyusul Samuel. Namun ia tidak bisa membuka pintu kamar mandi karena Samuel menguncinya dari dalam.
"Suami, kamu kenapa?" tanya Maya seraya menggedor pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban dari Samuel, hanya suara muntahan Sam dan air keran yang menyala.
"Sam....! Please jangan buat aku khawatir......" jerit Maya hampir menangis.
Sam keluar setelahnya sembari menyeka kedua sudut mulut dengan handuk kecil di tangannya.
"Kamu kenapa, sayang?" ucap Maya yang menghampiri Samuel dengan wajah panik.
Samuel menggeleng dengan wajah pucat, dan itu semakin membuat Maya panik dan khawatir.
Kedua tangan Maya menangkup wajah Samuel, memandang penuh kelembutan. "Kamu sakit? Kita ke dokter ya?"
Samuel menggeleng lagi, "Gak apa-apa, sayang. Cuma sedikit mual aja."
Maya menghela napas lalu menuntun Samuel ke sofa panjang yang ada di tengah ruang santai, kini berganti Maya yang duduk di pinggiran sofa dan mengusap kening Samuel dengan lembut.
"Kenapa tiba-tiba mual? perasaan semalam kamu baik-baik aja. Pagi tadi pun kamu fine-fine aja kan?"
Sam hanya menggeleng kecil, rasa mual masih menderanya. Tubuhnya tiba-tiba serasa lemas setelah memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya cairan bening. Namun efeknya membuat tubuh Samuel semakin lemas saja.
"Kamu makan ya, aku suapin," ucap Maya yang kini mendekat ke arah Samuel dengan sepiring nasi goreng yang baru buat Samuel.
Sam hanya melirik piring nasi goreng dengan banyak cumi dan udang yang baru saja Maya bawakan.
"Aku gak laper, sayang. Habisin kamu aja ya."
Maya menggeleng seraya memanyunkan bibirnya, "Aku gak nafsu makan liat kamu sakit begini."
Samuel terdiam sejenak, ia menjadi merasa bersalah terhadap Maya. Baru kali pertama ini ia tidak menyentuh sama sekali masakan Maya, padahal biasanya Sam paling lahap memakan apa pun bikinan istrinya itu.
Gara-gara rasa mual yang menderanya tiba-tiba, entah mengapa rasa mual itu mendadak datang menyerangnya.
Sam meraih piring yang Maya letakkan di atas nakas samping sofa lalu menyuapkan sesendok nasi goreng untuk Maya.
"Buka mulut kamu."
"Kamu juga belum makan, Sam. Ntar kalo kamu sakit gimana?" cicit Maya khawatir.
"Habis ini aku makan," ujar Sam menenangkan.
"Bener ya?" Sam kembali mengangguk pelan, lalu memasukan suapan demi suapan ke mulut Maya.
Dan gadis itu pun menerima suapan dari Samuel tanpa kendala. Tentu saja dengan Samuel yang mati-matian menahan rasa mual yang semakin memuncak di perutnya. Sam tidak ingin Maya merasa khawatir lagi.
"Last bite?" tawar Samuel yang lalu disambut dengan mulut Maya yang membuka lebar menerima suapan terakhir dari Sam.
Gadis itu tersenyum saat Sam kembali mengusap sisa minyak dari nasi goreng yang menempel di sudut bibirnya.
Sam memberikan segelas air putih untuk Maya, dan dalam sedetik Maya telah menghabiskan seluruh air putih hingga lebih dari setengah gelas.
"Sam....."
"Aku mau tidur lagi," cicit Maya
Membuat Samuel kembali mengerutkan keningnya dalam.
"Kamu gak ke cafe?"
Maya menggeleng pelan dan kembali menempatkan tubuhnya dalam pangkuan Samuel.
"Gak tau kenapa aku pengen tidur terus. Mungkin nanti agak siang aku ke cafe," ucap Maya dengan menenggelamkan wajahnya kedalam dada bidang suaminya.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sam serius, ia tempelkan telapak tangannya di kening Maya, bermaksud mengukur suhu badan gadis itu.
"Aku baik-baik aja kok, suami.... malah kamu yang sakit gitu," cicit Maya lemah.
"I'm fine, honey.... sekarang kamu tidur aja gih. Mau tidur di kamar?"
Maya mengangguk pelan menjawab pertanyaan suaminya.
"Aku gendong, mau?"
"Emang kuat? Kamu kan lagi gak enak badan."
"Kuat dong, untuk kamu apa sih yang enggak?"
Dengan tiba-tiba Sam mengangsurkan kedua tangannya, membopong tubuh Maya ala bridal style. Sam menaiki satu persatu anak tangga melingkar di tengah ruangan.
Hingga tibalah ia di depan kamar dengan pintu tinggi berwarna putih, Sam membuka perlahan knop pintu yang dengan masih hati-hati membopong tubuh Maya hingga di ujung ranjang berukuran kingsize.
"Sekarang kamu tidur," ujar Samuel, ia membaringkan tubuh Maya di atas kasur dan menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.
Sam mengatur pendingin ruangan dengan suhu sejuk, tidak terlalu panas dan juga dingin. Sangat ingin memberikan kenyamanan untuk Maya.
"Aku tinggal kerja dulu ya."
Maya sedikit mengerucut manja, rasanya ia masih ingin berada di dekat suaminya. "Gak bisa ya kamu gak ke kantor dulu?"
"Andai aku bisa, honey...." jawab Sam lemah, kembali ia usap wajah cantik istrinya. Entah mengapa pagi ini Maya terlihat lebih cantik dari biasanya dan Sam baru menyadari hal itu.
Samuel menatap lekat wajah Maya, menyisir perlahan rambut hitam gadis itu dengan jemari lembutnya.
"Kenapa setiap hari aku selalu jatuh cinta pada orang yang sama?" bisik Sam lembut, jemarinya masih saja membelai wajah Maya dan menyisir lembut rambut hitamnya.
Selalu mampu membuat Maya tersipu, pipi chubbynya kini merona semerah tomat.
"Janji pulang cepet?"
"Janji, sayang."
Sam mencium kening Maya.
"Aku cinta kamu, suami....." peluk Maya erat.
"Me too honey.... sekarang tidurlah." Sam kembali menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Maya.
"Aku pergi dulu," cium Sam di puncak kepala Maya dan berlalu meninggalkan istrinya yang terbaring dalam kamar luas mereka.
.....
Sam baru saja memasuki ruangan kerjanya dengan langkah gontai dan keringat dingin yang mengucur membasahi pelipisnya. Ini sudah kesekian kalinya Samuel memuntahkan seluruh isi perutnya.
Cukup melelahkan juga harus mondar mandir di toilet untuk memuntahkannya.
Samuel melonggarkan dasinya dan duduk bersandar pada kursi kebesarannya, bersamaan dengan Bayu yang masuk dengan cup latte panas di tangannya. Hari ini ia sengaja tidak meminta tolong Freya. Sam tidak ingin menambah ruwet masalah antara dia dengan Freya.
"Sudah berapa hari lo kayak gini?" ujar Bayu seraya memberikan cup latte itu kepada Samuel.
"Baru pagi ini," jawab Sam sembari menyesap latte panas dari Bayu.
"Saran gue sih, mending lo periksa."
Samuel menghembuskan napas lelahnya, "Gue gapapa."
Bayu menyeringai kecil dengan beberapa kali gelengan di kepalanya. "Bukan lo tapi Maya," jawab Bayu yang menciptakan kerutan dalam di dahi Samuel.
"Ini cuma dugaan gue aja ya. Tapi kayaknya Maya hamil deh, Sam," ujar Bayu yang sukses membuat Samuel tertegun.
"Sok tau lo, nikah aja belom."
"Eh gak percaya ni si bos. Kenapa gak lo coba aja sih?"
Maya hamil? Sam berharap itu benar, namun jika kecurigaan Bayu salah? Apa tidak akan membuat Maya semakin terluka nantinya? pikir Samuel.
"Kakak gue juga gitu saat istrinya hamil. Jadi yang ngidam itu bukan istrinya tapi kakak gue." Bayu menjeda sebentar kalimatnya, kali ini giliran ia yang menyesap latte di tangannya.
"So, gak da salahnya kan kalian coba periksa ke dokter kandungan?" Bayu melanjutkan.
Perkataan Bayu kembali mengusik benak Samuel.
Benarkah? batin Sam sedikit sangsi.
to be continue.....