
Begitu memasuki sedan mewah miliknya, Maya kembali memikirkan tentang sesuatu. Bahkan omongan Airin yang duduk di sampingnya pun sedari tadi tidak ia gubris.
Netra Maya memandang lurus ke kaca depan, seolah mencari-cari sebuah jawaban atas apa yang ia lihat tadi.
"May...."
"Hm? Oh sorry---kenapa Rin?" gagap Maya yang tersadar dari lamunannya.
"Lo mikirin apaan sih?"
"Hm? Oh-gue gak mikirin apa-apa kok, emang kenapa?"
Airin mencibir, memandang Maya penuh dengan ketidak percayaan.
"Bohong! Lo lagi mikirin cowo tadi kan?" tebak Airin.
"Siapa? Cowo? Ah ngaco lo ah. Mana ada gue mikirin cowo lain selain Sam, suami gue?" Kini giliran Maya mencibir lucu.
"Lha itu tadi, cowo guanteng di baby shop tadi siapa?"
"Oh-itu Dean Sanjaya. Klien nya Sam."
"Owh...." Airin hanya ber-oh-ria.
"Tapi keliatannya dia suka sama lo deh, May." lanjut Airin lagi.
Membuat Maya membolakan matanya melihat Airin.
"No way.... gak mungkin lah Rin."
"Why?"
"Lo liat gue, hello Airin.... gue bukan gadis lagi sekarang. Besides, I'm pregnant now.... early pregnancy. Gak mungkin dia suka sama gue. Jangan ngaco lo ah." Maya tidak mengerti kenapa Airin bisa mempunyai pikiran seperti Samuel.
Sam pun mempunyai pendapat yang sama soal Dean. Bahwa pria itu menyukainya.
Dan menurut Maya hal itu sangatlah konyol. Bagaimana mungkin laki-laki tampan dan mapan mencintai perempuan yang bersuami, apalagi dia sedang hamil besar saat ini.
"Stop ngomongin hal-hal gak masuk akal kek gini deh."
"Ya udah, sorry....." Airin meraih pundak Maya.
"Never mind--- it's ok." Maya menjeda sejenak.
"Masih ada pernak-pernik aksesoris kamar baby yang harus gue beli. Lo mau ikut kan?"
Airin mengangguk.
"Ok, we going there now...."
Maya menekan tombol engine hingga suara mesin mobil menderu halus.
Beberapa detik kemudian Maya menekan gas mobil hingga sedan mewah itu melaju meninggalkan basement parkiran mall.
....
Maya membuka knop pintu ruangan Samuel secara perlahan tanpa membuat suara gaduh, kepalanya pun ia julurkan sebagian guna melihat apakah sang empunya ruangan tengah sibuk ataupun tidak.
Netra perempuan itu berbinar ketika melihat Samuel yang tengah duduk di kursi kebesarannya sembari memandangnya dan tersenyum.
"Hei sayang....." ucap Sam. Ia melepas pandangannya dari arah laptop kerjanya. Lalu berdiri dan berjalan mendekati Maya.
"Gimana shoping nya?" Sam memeluk tubuh Maya dan mengecup kening wanita-nya lembut lalu mengambil alih beberapa paper bag dari tangan Maya.
"Melelahkan, Sam."
Maya menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang dan bersandar dengan dua kaki yang ia jelujurkan naik ke sofa.
Sam tersenyum sebentar, kemudian mendekat ke arah Maya. Mengangkat kedua kaki Maya untuk berpindah posisi dalam pangkuannya.
Sam memijit kedua betis mulus istrinya yang kini terlihat sedikit besar karena kehamilannya.
"Capek?"
"He em...."
Kembali Sam tersenyum kecil dengan jemari tangan yang masih sibuk memijit perlahan betis Maya.
"Untung ada Airin yang bantuin. Tau gak sayang, aku sampai gak enak sama dia."
"Gak enak kenapa?"
"Tadi malah Airin yang sibuk bolak balik ke kasir buat transaksi belanjaan aku," terang Maya. Ia tersenyum melihat perlakuan Samuel yang masih setia memijit kedua betis yang kini lebih terlihat mirip talas Bogor.
"Ya gak apa-apa lah, kan dia sahabat kamu. Pasti dia gak keberatan bantuin kamu, sayang."
Maya mengangguk. "Hm-iya sih."
"Sam...."
"Iya?"
Maya terdiam sejenak, terlihat bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan soal pertemuan dia dengan Dean dan hadiah yang Dean berikan ketika keduanya bertemu di baby shop.
"Kenapa? kok diem?" tanya Samuel heran.
"Tadi--- aku ketemu sama klien kamu."
"Klien kamu--- Dean Sanjaya."
Mendadak Sam menghentikan pijitan nya.
"Dimana?" tanya Samuel tanpa ekspresi.
"Di baby shop." Maya melihat perubahan wajah Samuel, perlahan ia menarik napas dalam-dalam.
"Dean memberikan hadiah buat baby kita," lanjutnya lagi dengan hati-hati.
"Hadiah? hadiah apa?"
Sam bahkan terlihat tidak menyukai dengan apa yang Maya jelaskan barusan.
"Sepasang sepatu mungil, lucu deh Sam. Dia bahkan mengetahui warna apa yang cocok untuk bayi laki-laki dan perempuan," ucap Maya spontan. Maya bahkan tidak menyadari ucapannya barusan membuat Samuel kesal.
"Ngapain kamu terima?"
Ekspresi wajah Sam kini benar-benar kaku. Dia bahkan menurunkan kedua kaki Maya dari pangkuannya dan berdiri menjauh dari Maya.
"Terus aku mesti gimana Sam? Aku udah berusaha menolaknya tapi dia bersikukuh ingin memberikan hadiah itu."
Jika sikap Samuel seperti ini terus bagaimana ia akan melakukan rencananya? batin Maya.
"Sayang, lagipula aku liat niat dia baik kok gak ada maksud apa-apa, lagian dia kan klien kamu-- aku gak enak aja jika aku tolak tadi." Maya melanjutkan mencoba membujuk Sam untuk tidak marah.
Sam kali ini sedikit melunak, memandang ke arah Maya dan berjalan kembali mendekati istrinya.
"Okey-aku ngerti," jawab Samuel akhirnya.
Sam mendaratkan ciuman kecil pada puncak kepala Maya.
"Kamu gak marah kan?"
Sam menggeleng perlahan lalu kembali berjalan menuju meja kerjanya.
"Sam....."
"Apa lagi, hm?"
"Gimana jika kita undang Dean untuk makan malam di rumah kita?" ucap Maya lagi.
Sam spontan menoleh kembali ke arah Maya dengan sikap yang kembali dingin, seolah tidak mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
Oh c'mon Maya apa yang ada dipikiran kamu sih? batin Samuel.
"Aku hanya ingin berterima kasih sama dia Sam, itu aja kok. Lagi pula aku lakuin ini supaya hubungan kerjasama kalian juga baik-baik aja."
Ucap Maya seolah mengetahui apa yang ada dipikiran suaminya.
"Suami.... gimana? bisa kan?"
Sam akhirnya mengangguk perlahan. Bagaimana pun ia tidak pernah bisa menolak apa yang jadi kemauan istrinya itu.
Maya tersenyum kecil ketika melihat sikap dan persetujuan Samuel akan rencananya.
"Oh ya sayang, bilang juga sama Dean jika dress code makan malam nanti pakaian casual aja, kaos yang berlengan pendek," lanjut Maya lagi.
Sam kali ini memelototkan kedua matanya ke arah Maya. "May.... masa iya aku ngatur-ngatur dia pakai pakaian apa? Yang benar aja kamu..." jawab Samuel kesal.
Sementara Maya hanya terkekeh kecil. "Iya-iya... maaf..." kerucut Maya lucu.
Sam hanya geleng-geleng kepala melihat permintaan Maya yang dirasa sangat tidak masuk akal.
Terlebih lagi, Sam harus mempersiapkan hati dan juga emosinya menghadapi Dean nanti malam.
Sementara Maya, menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran sofa. Semoga saja Dean nanti malam memakai pakaian yang ia harapkan. Maya membatin dalam hati.
"Kamu mau makan atau minum? Aku pesenin ya?" Sam menawarkan.
Maya menoleh ke arah Samuel dan mengangguk pelan. "Aku pengen pizza dengan banyak mozarela, Sam."
"Lapar?" tanya Samuel
"He-em hehehehe." Maya terkekeh lucu.
"Padahal tadi udah lunch bareng Airin lho, gak tau nih kenapa jadi lapar lagi."
"It's okay, aku pesenin sekarang."
"Makasih suami....." ucap Maya manja.
Samuel lalu melakukan panggilan ke sekretarisnya, memintanya untuk memesankan pizza di gerai pizza terkenal di Indonesia.
"Aku lanjutin kerjaan aku ya, kamu istirahat aja dulu di sofa."
"Hm-iya."
Maya kali ini merubah posisinya menjadi berbaring di atas sofa, dengan salah satu tangannya yang mengelus-elus lembut perut buncitnya. Sementara jemari yang lainnya menari di atas layar pipih ponselnya.
Mengirim pesan kepada mbak Pur agar bibik menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan malam nanti.
to be continue....