MySam

MySam
Sam terbangun



Theresia hampir saja meraih ponsel dari saku baju seragam susternya.


Ia begitu bersemangat untuk memberitahukan kepada Daniel jika Samuel, saudaranya telah terbangun dari koma-nya.


Namun sedetik kemudian niatnya terhenti.


Oh.... dia lupa jika ia belum sempat menanyakan nomor ponsel milik Daniel.


Beberapa kali mereka saling bertegur sapa dan berbincang namun baik dirinya ataupun Daniel tidak ada yang berinisiatif untuk meminta nomor ponsel masing-masing.


Theresia tersenyum kecil, ia tersadar akan kebodohannya sendiri.


Bukan.... bukan menertawai soal dia lupa bertanya berapa nomor ponsel Daniel. Tetapi Theresia menertawai tentang apa yang terbersit dalam pikirannya saat ini.


Menghubungi Daniel.... ??Seorang Ceo muda pemilik dari beberapa perusahaan besar?


Theresia tersadar siapa dirinya dan siapa Daniel. Mereka bahkan bagai bumi dan langit.


Begitu berbeda. Bahkan begitu banyak perbedaan yang akan membentangkan jarak keduanya.


Theresia menghembuskan napas panjangnya. Lalu kembali fokus bekerja menangani Samuel yang kini telah sepenuhnya sadar.


....


"Suster.... di ruangan apa pasien ICU atas nama Samuel ditempatkan saat ini?" tanya Daniel kepada suster jaga ruang ICU dengan napas yang begitu memburu.


Daniel pun sedikit heran, kenapa hari itu ia tidak melihat Theresia yang biasa berjaga di ICU.


"Oh tuan Perdana ditempatkan di ruang Bougenvile nomor lima, Tuan. Nyonya Anita yang meminta saat kami menginformasikan tentang keadaan tuan Perdana."


Daniel menata sebentar napasnya yang masih terengah-engah.


"Terima kasih...." jawab Daniel singkat.


Hampir saja dia berjalan berbalik arah, Daniel kembali memanggil suster dengan tubuh mungil tadi.


"Oh-ya Sust.... dimana Tessa?"


Daniel menyadari ekspresi heran sang suster di hadapannya ketika ia menyebutkan nama panggilan suster Theresia. Dan kejadian ini terjadi untuk kedua kalinya.


"Oh-eemm-maksud saya-- suster Theresia-- dimana dia?" Ucap Daniel canggung.


"Oh-suster Theresia yang mempersiapkan kamar rawat inap tuan Perdana. Jadi dia saat ini mungkin masih berada di ruangan tuan Perdana."


Daniel mengangguk pelan tanda mengerti.


"Baik, terima kasih Suster..."


"Sama-sama Tuan."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Daniel kini berjalan menuju lift rumah sakit untuk pergi ke ruang Bougenvile di lantai tiga rumah sakit Centra Medika.


....


Daniel semakin mempercepat langkah kakinya begitu sampai di lantai tiga rumah sakit.


Kebetulan sekali ia melihat Theresia yang baru saja keluar dari sebuah kamar rawat inap.


Senyum Daniel mengembang sesaat.


"Tess.....!"


Ia pun sedikit berlari menuju ke arah Theresia yang berjalan dengan membawa stetoskop dan beberapa alat-alat suntik serta obat.


Theresia menoleh ke arahnya dan lalu disambut senyuman kecil suster cantik itu.


"Bagaimana keadaan Sam?" tanya Daniel sedikit terengah-engah.


Theresia terlihat semakin mengembangkan senyuman kecilnya.


"Saudara kamu sudah stabil," jawab Theresia.


Satu senyuman lega kembali Daniel perlihatkan.


"Thank's God...."


Daniel bergumam sembari menghembuskan napas lega.


"Namun kamu atau keluarga kamu lainnya jangan dulu menanyakan hal-hal yang berat ke pasien."


Theresia menjeda sejenak kalimatnya.


"Pasien baru saja sadar dari koma selama beberapa hari dan dia masih sedikit mengalami trauma di memori ingatannya."


Daniel kini terlihat sedikit bingung.


"Tapi ingatan dia tidak hilang kan, Tess?"


Theresia menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.


"Syukurnya pasien tidak mengalami amnesia. Hanya saja dia belum siap dengan semua pertanyaan-pertanyaan atau pun pembicaraan yang terlalu berat."


"Oh-syukurlah....." Daniel kembali menghela napas lega.


"Terima kasih, Tess...."


"Hm, sama-sama...." Theresia tersenyum ke arah Daniel.


Untuk sepersekian detik tatapan keduanya kembali bertumbuk.


Daniel kembali merasakan getaran-getaran aneh ketika dia bersama dengan suster cantik bernama Theresia itu.


"Oh-ya maaf aku tidak menghubungi kamu mengenai keadaan saudara kamu, karena---"


"Karena apa?" Daniel bertanya saat Theresia menjeda ragu-ragu kalimatnya.


"Karena aku gak punya nomor telepon kamu...." senyum Theresia.


Gadis itu tersenyum gugup, pipi putihnya pun merona kemerahan ketika berhadapan dengan Daniel.


"Kamu bawa ponsel saat ini?" tanya Daniel.


Kedua alis tebal Theresia saling bertaut bingung.


"Hm?"


"Kamu bawa ponsel kamu?" Daniel mengulang kembali pertanyaannya tadi.


"I-iya...."


"Coba bawa sini...."


Daniel tertawa kecil saat melihat wajah bingung Theresia.


"Bawa sini cepat ponsel kamu."


Untuk ke sekian kali, Daniel kembali mengulang ucapannya.


"Ayolah... jangan khawatir aku gak akan mencuri ponsel kamu."


Tawa kecil Daniel terbentuk. Entah kenapa, wajah cantik Theresia ketika ia sedang malu-malu seperti saat ini, terlihat semakin mempesona? pikir Daniel geli.


Theresia dengan ragu-ragu pun meraih ponsel dari saku seragam susternya dan menjulurkan ponsel kecil yang bisa dikatakan sudah ketinggalan jaman itu ke arah Daniel.


Untuk sesaat Daniel kembali heran melihat ponsel kecil berwarna hitam milik Theresia.


Daniel tidak ingin Theresia merasa tersinggung dengan ekspresi herannya ketika melihat ponsel milik gadis itu.


Ia pun kemudian dengan begitu saja menuliskan nomor selulernya ke dalam ponsel kecil tersebut dan kemudian ia menekan tombol untuk menyimpannya.


"Nomor aku dengan nama Daniel Permana."


Daniel menyerahkan kembali ponsel tersebut ke arah Theresia.


Theresia pun mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Senyuman kecil Theresia pun tercipta di balik tubuh rampingnya ketika ia berjalan membelakangi Daniel.


....


"Hey....."


Daniel masuk dan melambaikan tangan ke arah Samuel yang berbaring di atas brankar berukuran sedikit lebih besar dari brankar di ruangan ICU.


Sam tersenyum kecil membalas, tubuhnya yang masih lemas berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Lo gak usah bangun dulu, Sam..."


"It's ok.... gue juga bosen tiduran mulu."


Sam tetap mencoba untuk bangun dan duduk bersandar pada kepala brankar yang bisa di atur ketinggiannya itu.


"Segini cukup?" tanya Daniel yang membenarkan posisi brankar.


Samuel mengangguk pelan ketika dirasa ia telah nyaman dengan posisi brankar yang diatur oleh Daniel.


"Thank's....." ucap Samuel pelan.


Daniel mengangguk pelan.


"Sam...."


Daniel menjeda kalimatnya, ia kini hanya bisa memandangi wajah sang adik yang telah terpisah darinya selama hampir dua puluh tahun.


"Lo tau Dan? Gue bahkan masih merasa asing untuk menganggap lo kakak gue."


Kedua netra Daniel membola ketika mendengar Samuel berkata demikian.


"Lo ingat kejadian sebelum kecelakaan itu?" tanya Daniel.


"Tentu saja, bodoh....." Samuel terkekeh kecil. Melihat ekspresi wajah Daniel saat ini, sungguh membuatnya merasa jika laki-laki di hadapannya itu sangat lucu.


"Setelah sekian tahun, lo masih aja memiliki wajah bodoh lo itu....?" kekeh Sam lagi.


Sam terus saja terkekeh kecil melihat ekspresi melongo Daniel. Membuat Daniel pun membalas dengan senyuman kecil juga.


Ekspresi konyol keduanya pun kini mengikis ketegangan mereka sebelumnya.


"Gue seneng lo ingat semuanya, Sam...."


Samuel terdiam sejenak di tengah tawa kecilnya.


"Tentu saja gue mengingat semua kenangan kita dulu, Danny...." Sam menjawab. Untuk kali ini ekspresi wajah Sam terlihat serius.


"I'm sorry, Sam...."


"Sorry for what? Lo gak salah Dan...."


"Soal Maya...." Daniel kembali menjawab dengan hati-hati.


Sam terdiam sejenak.


"Bagaimana kabar Maya?"


"Dia begitu terpukul begitu mengetahui kecelakaan itu. Beberapa kali dia kesini saat kamu masih gak sadar."


Sam memandang ke arah Daniel lalu kedua netranya berotasi ke arah luar jendela kamar.


"Maya mencintai lo, Sam...."


Samuel masih terdiam.


"Gue emang pernah suka sama dia."


Kali ini Samuel kembali menatap wajah Daniel tajam.


"Tapi dia nolak gue, Sam.... Demi lo. Maya sungguh-sungguh mencintai lo, Sammy...."


Sam kini terlihat kembali menarik sudut bibirnya dan tertawa kecil.


"Hahahaha tentu saja....!! Karena gue lebih keren dari lo." Samuel kini mencibir lucu.


"Sialan lo....! Hahahaha!" Daniel membalas candaan dari Samuel.


Hampir saja dia melayangkan kepalan tinjunya ke lengan Samuel, namun niatnya ia urungkan begitu mengingat tubuh Sam yang masih sedikit lemah.


Mereka pun lalu tertawa bersama. Dan baru kali pertama ini baik Sam maupun Daniel tertawa lepas seperti sekarang.


Sebelumnya mereka bahkan selalu bertemu dengan suasana formal dan penuh ketegangan.


"Lo udah tau, kalo anak kalian udah lahir?" tanya Daniel.


Sam mengangguk pelan.


"Benua dan Samantha kan?" ucap Samuel pelan.


Daniel spontan mengerutkan keningnya, sehinga dua ujung alis tebalnya saling terhubung.


"Bagaimana lo tau? Mama yang kasih tau?"


"Gak...." Sam menggeleng pelan.


"Gue mimpi bertemu dua bayi. Laki-laki dan perempuan bernama Benua dan Samantha..."


Sam menjeda sebentar kalimatnya.


"Gue lupa apa yang terjadi dalam mimpi itu, tapi...."


Samuel kembali menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?"


"Mereka lah yang membawa gue kembali, Dan."


"Maksud lo.... kedua anak lo yang membuat lo terbangun?"


Samuel mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.


"Itu tandanya kalian memiliki ikatan cinta dan batin yang begitu kuat, Sam...."


"Gue pengen liat Maya, Dan."


Sam kini mencoba berdiri.


"Tapi lo masih lemah, dokter belum boleh mengizinkan lo pergi kemana-mana."


"Gue gak peduli, Dan...___ Gue kangen sama Maya dan pengen liat anak-anak gue."


"Sam....!!"


Daniel mencoba mencegah niat Samuel yang bediri dan berusaha melepas infus obat serta suplemen dari tubuhnya.


"Biar gue yang bawa mereka kemari."


Daniel mencoba menenangkan Samuel lagi.


"Lo di sini aja, biar mereka yang menemui lo."


"Thank's Danny...." Sam meraih punggung tangan Daniel.


"Ini udah jadi kewajiban Gue, Sammy...."


Keduanya kini saling tertawa lepas, sesekali Samuel bercerita soal kenangan mereka di masa kecil dulu.


Dan hal itu membuat Daniel seperti kembali kedalam lorong waktu puluhan tahun silam.


to be continue....